Lukisan Cinta, Episode 12

Kisah sebelumnya😀

Episode 12

Ini bukan Sandra lhoo….😀

Setelah hujan deras kemarin sore, sore ini langit begitu cerah. Pantai begitu tenang seolah tak pernah ada kejadian apapun kemaren. Sandra bersandar di pagar dermaga sendirian menatap laut dengan gelombang-gelombang kecil yang lembut. Baru saja Aryo menelponnya, minggu depan ia akan datang. Ia ingin mengajak Sandra kembali ke Jakarta untuk membicarakan rencana pernikahan mereka. Seharusnya Sandra senang, namun entah mengapa setengah hatinya merasa bimbang. Sudah hampir satu bulan ia jauh dari Aryo, namun bisa dihitung dengan sepuluh jarinya pria itu menelponnya. Sandra tahu, Aryo begitu sibuk dengan pekerjaannya toh itu semua juga demi masa depan mereka.

Pandangan Sandra melayang jauh ke tengah samudera. Sesungguhnya ia takut pada laut, pada keluasannya dan pada ketakterbatasannya. Meski gelombang-gelombang kecil itu begitu tenang, air berwarna biru di kejauhan, namun siapa yang tahu apa yang tersembunyi di dalamnya? Kemarin sore gelombang begitu ganas, sehingga membalikkan perahu nelayan yang hendak pulang. Sandra sempat mendengar obrolan beberapa penjaja makanan di pantai. Begitu berat perjuangan seorang nelayan tradisional untuk sekedar mengambil sedikit kekayaan samudera.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya lembut tapi nyaris membuatnya terlompat.

“Aduuuh, kau membuatku terkejut!” Seru Sandra begitu tahu siapa yang menepuk bahunya. Pria itu tersenyum lebar.

“Sedang apa di sini?” Tanya Sandra. Pria itu tersenyum menggoda.

“Tentu saja sedang mencarimu. Dr. Liez mengatakan kau pergi ke pantai, jadi yah aku menyusulmu ke sini,” jelas Frans lalu turut bersandar di samping Sandra.

“Mana kameramu? Jarang kulihat kau tak membawa benda kesayanganmu itu,” lanjut Frans.

“Malas, aku sedang tidak ingin melakukan apapun. Aku hanya ingin sendirian saja,” desah Sandra menghela napas panjang.

“Heii, kalau begitu kedatanganku mengganggumu ya?” Tanya Frans .

“Oh, tentu saja tidak. Tadi aku hanya ingin sendiri, tapi mungkin sekarang jadi lebih baik karena ada kamu,” ujar Sandra tak enak hati. Frans tertawa lalu menggamit lengan Sandra.

“Kalau begitu, mari kita jalan-jalan menyusuri pantai,” ajak Frans. Sejenak Sandra ragu tapi kemudian mengikuti Frans meninggalkan dermaga dan berjalan menuju pantai. Ia melepas sandalnya dan membiarkan kehangatan pasir menyelusup ke telapak kakinya. Mereka mengobrol dengan santai, membicarakan laut, angin, sampai akhirnya pada hal-hal yang menjurus ke pribadi. Frans, pria berusia hampir empat puluh tahun dengan postur sedang, wajah biasa-biasa saja namun mempunyai otak yang luar biasa, sedang mencoba mengorek pribadi Sandra. Ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dan mencoba untuk menjalin hubungan dengannya.

“Oh, jadi kau suka pada laut?” Tanya Frans sambil sesekali melirik Sandra.

“Antara suka dan tidak. Aku suka laut karena pantainya selalu indah dan hangat. Mau dengan pasir hitam atau putih, selalu ada kehangatan. Tapi aku juga tak suka laut terutama jika sedang mengamuk. Kau tahu misterinya, Frans? Di sini, di pantai sini, sepertinya laut begitu tenang tapi siapa tahu di tengah samudera sana? Mungkin sedang ada gelombang yang bermeter-meter tingginya, dan begitu banyak nelayan atau kapal lain sedang berjuang melawannya?” ujar Sandra panjang. Tiba-tiba terlintas di benaknya, sebuah perahu kokoh dengan para nelayan yang sudah turun-temurun menguasai samudera, terombang-ambing badai dan akhirnya hancur, tanpa seorangpun kembali ke daratan. Ayah Ningrum-ayah Poseidon!

“Itu sudah resiko mereka, San. Semua profesi selalu ada resiko yang harus ditanggung. Itulah sebabnya kita harus menjalani apa yang sudah menjadi pilihan kita dengan serius dan berhati-hati,” kata Frans.

“Yah, aku tahu itu. Hanya saja aku melihat pekerjaan mereka terlihat begitu berat dan berbahaya.”

Tanpa terasa mereka telah berjalan jauh, Sandra baru tersadar ketika berpapasan dengan Ningrum yang sedang berjalan dengan beberapa teman perempuannya. Sandra segera berseru memanggilnya, gadis remaja itu langsung menghampiri Sandra dan tersenyum lebar. Frans kebingungan.

“Inikah adikmu itu?” Tanyanya. Sandra tertawa lalu menggandeng tangan Ningrum.

“Adik ketemu besar,” sahut Sandra. Frans menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ning, aku kemaren ke rumahmu,” kata Sandra setengah berbisik.

“Iya Kak, Mas Agung becerita padaku. Tapi, kok album fotonya gak ketemu ya, Kak?”

“Aku bawa pulang lagi. Habis kesal, aku ditinggalnya begitu saja di rumahmu. Ia malah pergi dengan gadis siapa namanya, Las…Las gitu?”

Ningrum tertawa kecil.

“Itu Mbak Lastri. Kemaren memang sedang ada musibah, Kak. Ayahnya Mbak Lastri kan sudah beberapa hari melaut tapi gak pulang, nah kemaren itu dia dan beberapa orang lainnya kembali. Ayah Mbak Lastri masih hidup, syukurlah, tapi dua orang lainnya gak ditemukan,” jelas Ningrum. Mendadak Sandra merinding.

“Oh, meninggalkah mereka?”

“Belum tahu, tapi menurut ayah Mbak Lastri mereka hanyut, kecil kemungkinan untuk masih hidup.”

“Duh, kasihan,” desah Sandra. Frans bersedekap mengikuti pembicaraan mereka. Ia hanya heran saja, mengapa Sandra begitu berempati dengan para nelayan itu?

“Lalu, eh…mengapa Lastri eh…meminta tolong kakakmu?” Tanya Sandra sedikit memerah pipinya.

“Oh, kan Mbak Lastri itu deket banget sama Mas Agung. Bahkan katanya dulu Bapak dan Bapaknya Mbak Lastri pernah berniat menjodohkan mereka,” jelas Ningrum. Perut Sandra langsung bergolak, seperti ditonjok petinju kelas berat.

“Lagipula, di kampung kami Mas Agung yang paling pintar berperahu, makanya semua selalu meminta tolong Mas Agung jika ada masalah,” lanjut Ningrum. Sandra tersenyum kecut. Tiba-tiba terlintas ide di benaknya, minggu depan ia sudah harus kembali ke Jakarta. Tak ada salahnya jika ia nekat melakukan sebuah rencana. Maka ditariknya Ningrum sedikit menjauh dari Frans.

“Sorry, Frans, ada yang hendak kubicarakan sedikit,” katanya. Frans hanya mengangkat bahu lalu berpaling memandangi cakrawala.

“Ning, minggu depan aku akan kembali ke Jakarta.”

“Oh, terus gak kembali ke sini lagi?” Tanya gadis remaja itu yang mendadak merasa kehilangan.

“Belum tahu. Nah, aku mau minta tolong padamu, sekali saja.”

“Apa itu, Kak?”

“Kapan ada waktu di mana kakakmu tidak melaut, antarkan aku ke perahunya. Aku mau mengambil gambar di sana, memotret untuk kenang-kenangan,” kata Sandra. Ningrum tersentak, di wajahnya terbayang ketakutan.

“Takut, Kak. Kak Sandra kan tahu sendiri bagaimana Mas Agung,” tolaknya.

“Makanya, carilah waktu di mana Mas Agung tidak akan datang ke sana,” bujuk Sandra. Ningrum terdiam, sejenak berpikir keras.

“Hari Rabu nanti, Mas Agung mau ke kota, hmm…biasanya malam baru kembali. Mungkin kita bisa ke sana sore Kak, setelah aku pulang sekolah,” kata Ningrum dengan setengah hati. Sandra tersenyum senang.

“Nah, kamu gak usah takut, Ning. Aku hanya perlu waktu sebentar, cuma mau mengambil gambar perahu dan jika mungkin dalamnya.”

“Tapi, kalau sampai ketahuan bagaimana, Kak?” Tanya Ningrum ragu. Raut wajahnya ketakutan bahkan hanya dengan membayangkan kepergok kakaknya.

“Psst, jangan takut. Aku yang bertanggungjawab, lagipula kita gak akan ketahuan kok.”

“Tapi kalau ada yang melihat terus melapor bagaiman?” Tanya Ningrum ragu.

“Kalau begitu ktia menyusup, menunggu suasana sepi baru ke sana. Oke?”

Ningrum memandangi Sandra dan melihat keyakinan di sana, maka iapun mengangguk dan berpamitan kembali kepada teman-temannya. Sandra tersenyum puas. Ia lalu kembali berada di samping Frans.

“Pulang yuk?” Ajaknya. Wajah Frans berkerut, baru sebentar bertemu sudah mau pulang.

“Masih sore, kita makan dulu di restoran itu bagaimana?” Tanyanya sambil menunjuk sebuah restoran di dekat deramga. Sandra berikir sejenak tapi lalu mengiyakan. Hatinya terlalu senang membayangkan rencana memotret perahu biru menawan itu, sehingga rasanya ingin makan banyak meski malam belum lagi turun.

****************

Yaaaah, masih panjaaaaaangg….😛😀

12 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 12

  1. Applaus Romanus Juni 4, 2012 / 2:13 pm

    iya mungkin lebih baik jika ada kamu sekarang… walau aku mau sendiri…ciyeee wanita banget tuh…

    Owh, aku gak lhoooo….😛

  2. Imelda Juni 4, 2012 / 2:26 pm

    ah sandra cari masalah aja siiih😀

    Biar seru, BuEm:mrgreen:

  3. Ngai Juni 4, 2012 / 3:34 pm

    adik ketemu besar itu yg kayak gmn sih bude..?
    adiknya bongsor gitu yah..?

    Iyah, bongsor tapi masih ngompol😛

  4. Dewi Fatma Juni 4, 2012 / 3:46 pm

    Yaaahh.. nggak ada poseidon😦

    Besok agak panjangan dikit dong, Mbak.. Pliiissss….
    *gigit ujung bibir, mata memelas sedikit berair*

    Sabar Sayang, ada satu episode nanti yang isinya cuma Sandra ama Poseidon doang kok😀

  5. Orin Juni 4, 2012 / 4:37 pm

    Frans itu hampir empat puluh taun? errr…terlalu matang sptnya buat Sandra, iya kan bu Cho? *pembacasoktau* hihihihi

    Kan makin tua makin matang, Say😛

  6. Lidya Juni 4, 2012 / 10:03 pm

    terjawab sudah pertanyaanku ya mbak tentang Las🙂 hmmm kayanya bakal ketauan Mas agusng deh kalau sandra mendekati perahunya

    Belum ketinggalan kan, Jeng😀
    Mmm, biar rame, Jeng😛

  7. Oyen Juni 5, 2012 / 4:06 am

    kapan neh dibikin novel, entar Oyen ngikut testimoninya deh… *halah, sopo sing njaluk

    modelnya cape tuh?😛

    WKwkwkwkwk…palingan jadi e book, Mpok, mang mau kasih endorsement nye? Makasiy klo gitu😀
    Itu Cantiknya aye, Mpok, nggemesin pan kayak aye😳

  8. prih Juni 5, 2012 / 7:57 pm

    Woo skenario Sandra mendekati perahu kehidupan Agung,
    Ini murni lukisan cinta kan Diajeng, tidak ada skenario pencalonan diri sebagai ketua DPP pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) (hehe dibumbui biar pedas…). salam

    WKwkwkwkw….ini murni masalah asmara kok, Mbakyu, ndak ada bumbu politiknya nanti malah marai mumet:mrgreen:

  9. apikecil Juni 7, 2012 / 8:19 am

    yg jadi model potonya siapa Mbak?
    Menunggu kisah selanjutnya🙂

    Itu Si Cantikku, Say😀

  10. irmarahadian Juni 7, 2012 / 10:13 pm

    jadi inget pernah foto disitu mam…
    hehehehe

    Indah yaaa…. :DD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s