Film Soegija

Jumat sore, aku nonton film Soegija – Uskup Mgr. A. Soegijapranata, SJ🙂 Motivasiku nonton film ini adalah jelas untuk mengetahui sisi kepahlawanan beliau. Mengingat meskipun aku penganut Katolik, aku hanya tahu beliau sebagai Uskup pribumi pertama di Indonesia. Dan namanya diabadikan sebagai jalan di Solo dan universitas di Semarang😀

Nah, Kawan, ternyata tak sesuai harapanku! Sisi kepahlawanan beliau dalam film ini tak terlalu ditonjolkan. Tertutup oleh kisah-kisah lain yang lebih dramatis. Film ini lebih mengisahkan keseharian Romo Kanjeng (sebutan untuk beliau) yang terpanggil untuk mensupport rakyat, menjadi pengayom. Tak diceritakan bagaimana beliau sempat bertemu dengan Presiden Sukarno atau ketika turut pada pertemuan-pertemuan kenegaraan lainnya. Lebih banyak dinarasikan saja kepahlawanan beliau. Namun pandangan-pandangannya mengenai perbedaan dan pemikiran-pemikirannya akan negara banyak ditampilkan. Keheroikan beliau hanya tampak ketika pendudukan Jepang, ketika mereka berniat menjadikan gereja sebgai markas militer. Saat itu Romo berkata,”…………. penggal dulu kepala saya jika hendak menjadikan gereja ini sebagai markas militer!” Kira-kira gitulah😀 Namun kisah ketika beliau mendapat telegram dari Roma yang menunjuk beliau menjadi Uskup pribumi pertama di Indonesia, lalu ketika beliau membawakan misa sebagai uskup, dikisahkan dengan sangat baik.

Ada tiga adegan yang mengganjal. Menurutku perlu sentuhan yang lebih eleikhan (minjem istilahnya Om NH ntah nulise bener ato gak🙂 ) Mari kita simak😀

Pertama, adegan di mana Romo sedang periksa di rumah sakit. Lalu Mariyem menyampaikan bahwa banyak tentara Belanda datang hendak mencari para pejuang. Romo berkata, “….di sini adalah rumah sakit, isinya orang sakit. Tidak ada kawan dan tidak ada lawan.” Kira-kira lagi gitu. Nah, sayangnya yang menyampaikan pada Robert si Londo itu ya Si Mariyem ini.

Alangkah heroiknya kalo yang menghadapi adalah Romo Soegija sendiri dengan segala kewibawaannya meski dalam keadaan sakit, dan Si Belanda takut gitu yaaa…

Kedua, adegan saat Ling Ling berdoa bersama Mariyem di gereja. Mariyem berkata, “Ibu Maria adalah Ibu bagi semua ibu. Maka jika kita berdoa melaluinya, semua ibu akan mendengarnya.” Kira-kira lagi deh😛 Oh ya, Ling Ling ini terpisah dari ibunya yang dibawa oleh tentara Jepang. Lalu Ling Ling segera membuka kotak piringan hitamnya dan memutar lagu kesukaannya dan mamanya. Selagi berdoa tiba-tiba Ling Ling menoleh ke belakang. Dan mak jegagik, Mamanya sudah ada di sana lalu mereka berpelukan. Bukankah akan lebih indah jika adegannya begini:

Ling Ling berdoa diiringi musik kesayangannya dan mamanya. Sementara,  ratusan kilometer jauhnya dari Ling Ling, dalam tawanan tentara, ibunya tiba-tiba menangis, seolah mendengar musik dansa itu dan ia membayangkan sedang berdansa bersama putri semata wayangnya. Saat itu dadanya terasa sakit menahan pedih.

Nah, kalo gitu pasti akan lebih dramatis dan menguras air mata daripada tiba-tiba mak bedhunguk ada di belakang Ling Ling😛 Itu menurutku lho yaaa😀

Ketiga, ketika para pemain musik gereja yang sedang memainkan lagu di jalanan, tiba-tiba ada serangan bom dekat mereka. Namun pemimpin orkes mengatakan untuk terus bermain, jangan berhenti karena mereka harus bermain musik sampai akhir. Mengingatkan akan film apa hayooo? Titanic!😛 Seharusnya gak perlu yaa, cari aja adegan lain yang tak harus meniru begitu.

Misalnya ketika ada serangan udara, mereka sedang bermain musik, lalu kena bom semua😛 Toh hasil akhir sama, mereka tetap main musik hingga maut tiba😀

Namun secara keseluruhan film ini sangat bagus. Bahasa yang digunakan ada bahasa Indonesia, Jawa (Jowo banget, bahkan akupun banyak yang gak ngerti😛 ), Belanda, Jepang. Dan yang hebat, semua pemerannya wong asli! Maksudnya asli Jawa, Londo, Jepang. Gak seperti film Sang Penari di mana sosok Srintil diperankan oleh orang Batak, sehingga dialek yang keluar dimedok-medokan, gak asli😀

Selain itu setting yang dibuat luar biasa! Aku takjub pada peralatan yang begitu kuno. Seperti kotak piringan hitam, kamera, perangkat siaran radio, cangkir, bahkan gayung pun kuno banget. Lalu setting gedung, gereja, suasana misa yang begitu lampau. Keren!

Dan di atas segalanya, yang membuat aku merinding dan nyaris mengeluarkan air mata adalah lagu-lagu rohani yang dilantunkan. Lalu misa dalam bahasa Jawa yang dibawakan Romo Soegija. Owh, betapa membuatku rindu akan Yogya, rindu akan….. gereja sad0118 Free Sad Emoticons Dulu, mengikuti misa pagi di gereja ketika udara masih dingin, membuatku serasa dekat sekali dengan Sang Pencipta😥

Satu lagi yang keren, para pemainnya! Darimana ya Om Garin ini mendapatkan Londo-londo keren ituh😳 Robert yang bengal, Hendrick yang manis😛 Lalu para Jepang itu. Aku sempat bercanda dengan sobatku, wah ini para boss Jepang di EJIP, Jababeka, MM2100 pada main film:mrgreen: Pemeran Romo Soegija (Nirwan Dewanto) persiiiiis kayak Romo beneran😀

Nah Kawan, aku sangat merekomendasikan film ini. Meski apa yang kucari tak ada, namun film ini cukup menghibur dengan segala kisah sejarahnya, latar yang luar biasa, para pemain keren, belum lagi komedi yang lutju (Pak Butet keren dah, juga penyiar radio Pak Besut😆 ), dan tentu saja ada adegan mengharu biru. Tak heran jika katanya film ini berbiaya sangat mahal😀

Ada satu perkataan Romo yang membuatku tersentuh.

“Tak perlu menyediakan makan untuk para imam. Utamakan dulu rakyat. Jika rakyat sudah kenyang, biarlah para imam menjadi orang paling akhir yang kenyang. Dan jika rakyat kelaparan, biar para imam menjadi orang pertama yang merasakan kelaparan.”

Bukankah demikian seharusnya seorang pemimpin? Bukan malah menimbun duluan baru mikirin rakyat😆

Aku gak protes kok, karena film ini adalah fiksi yang berlatar belakang sejarah dan bukan film sejarah yang dibumbui fiksi (lhah?:mrgreen: )

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ

Sumber foto(pinjam yaaa…):

1. http://www.21cineplex.com/soegija-movie,2843,02SOJA.htm

2. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Albertus_soegijapranata.jpg&filetimestamp=20090207082053

20 thoughts on “Film Soegija

  1. Applaus Romanus Juni 9, 2012 / 3:04 am

    wah reviewnya bagus sekali … belum sempat nonton. walau sudah dapat tiket 20ribu gratis.. hehehehe… filemnya diproduksi mahal sekali ya.. ternyata masih ada sedikti kekurangan disana sini ya…

    Buruan nonton, Mas, bagus kok😀

  2. Imelda Juni 9, 2012 / 3:29 am

    Aku tidak berharap banyak dari sebuah film, karena tidak bisa membuat semua orang “happy”, dan ada faktor ekonomi juga tentunya (selain dari kehati-hatian agar tidak dituduh kristenisasi🙂 )

    Hehehehe…iya juga sih. Tapi yang ini gak Kristenisasi kok, BuEm, hanya fiksi berlatar belakang kisah Romo Soegija😀

  3. LJ Juni 9, 2012 / 6:45 am

    banyak londo keren ya bude..? xixi..
    film om Garin.. pastinya keren
    sekeren ripiew bude ini.

    selamat berakhir pekan wat bude sekeluarga.

    Di Singkarak juga lagi banyak Londo ya, Mak?😛

  4. Nchie Hanie Juni 9, 2012 / 7:45 am

    Jadul banget ya..
    Kayanya seruu tuh Mba Piet..
    Keren Riviewnya..
    *rayu Papa Olive buat nonton ini*

    hepi wiken Mba..

    Rayuannya berhasil gak, Mam?😀

  5. Lidya Juni 9, 2012 / 8:39 am

    aku masih nahan2 diri iuntuk nonton bioskop mbak nunggu breaking dawn aja maklumharus nitipin anak-anak. aku pikir filmnya setype dgn angel demon eh beda ya😀 ketauan jarang nonton film indonesia hehehe ooops tapi tetep cinta indonesia kok

    Wah, kalo Angel & Demon itu seru abis, kalo ini drama saja😀

  6. Ni CampereniQue Juni 9, 2012 / 10:20 am

    ini tulisan ke2 yang saya baca tentang film ini
    malah bikin saya pengin beli bukunya agar lebih kenal pribadinya secara mendalam🙂
    thanks ulasannya ya mba Choco, sudah nge-tek suami buat nemenin nonton siang ini😀

    Gimana JengNi, udah nonton belom? Beli bukunya yang versi G. Budi SUbanar, SJ saja😀

    • Imelda Juni 10, 2012 / 9:48 pm

      Apa bedanya dgn bukunya Ayu Utami bu choco? Terlalu fiksi kah?

      Terus terang aku belum baca yang versi Ayu Utami, BuEm, tapi sekilas ngintip dalamnya sih kayaknya seperti yang di film, dilihat dari ilustrasinya semua adegan yang di film.
      Kalo versinya Pak Budi berisi catatan harian Romo Soegija dalam 3 versi bahasa, Indoenesia, Djawa, dan Belanda. Aku belum baca juga sih, tapi sudah masuk waiting list😀

  7. prih Juni 9, 2012 / 1:16 pm

    Trimakasih Diajeng dibuatkan ripiew, sehingga bisa nyambung dengan semaraknya buku tsbt di Gramedia, Selamat berakhir pekan

    Saya malah baru beli bukunya, tapi bukan yang versi Ayu Utami😀
    Sugeng week end, Mbakyuu…

  8. alamendah Juni 9, 2012 / 6:15 pm

    Membaca review di atas keknya ini bisa menjadi salah satu film terbaik di Indonesia. Memang Garin Nugroho top banget.

    Iya Mas, dia pandai memilih pemainnya😀

  9. marsudiyanto Juni 10, 2012 / 9:02 am

    Beruntung diangkat dalam film sehingga mereka yg hidup dijaman sekarang tau kepahlawanan Soegijapranata. Kayaknya selain jalan di Solo dan perguruan tinggi di Semarang, nama beliau nggak dikenal.
    Bahkan mahasiswa yg kuliah di Universitas Soegijapranata pun belum tentu tau sejarah

    Iya, Om Mars, saya aja gak tau banyak tentang beliau😀
    Tapi setidaknya gara-gara ingin tau saya jadi punya bukunya😛

  10. cheila Juni 10, 2012 / 9:56 pm

    review yg bagus mbak….temen saya sepertinya ada yg ikut dlm pembuatan film ini…..nonton ah :d

    Wah, seruuu… Sudah nonton, Say?😀

  11. Debby Juni 11, 2012 / 8:38 am

    baru tau saya ternyata sejarahnya Romo Soegija sangat berpengaruh ya….

    jadi pengen nonton filmnya juga ^__^

    Iya, diplomasinya top😀

  12. Oyen Juni 11, 2012 / 11:21 am

    ooo… beru ngeh nyang namanyah soegijapranata, soalnya di jawa ada univeristas entu tapi kagak ngarti ituh sapa…xixixixi *maklum sejarah nilainya sering juelek😦

    Ade, Mpok, deket tuh ama rumah aye di Semarang dulu😀

  13. secangkir teh dan sekerat roti Juni 11, 2012 / 6:43 pm

    well, saya berminat sekali tentang film ini, namun sayang disini tidak ada bioskop..😀

    Waaa, nyari DVD nya saja nanti, Bang😀

  14. esti sulistyawan Juni 11, 2012 / 9:24 pm

    Kayaknya bagus ya mbak
    Nonton ah…
    Apalagi Garin Nugroho…

    Secara keseluruhan bagus kok, Jeng🙂

  15. Deny Gnasher Juni 12, 2012 / 2:38 am

    Aaaaahh saza belum nonton😦

    Masih ada kok di bioskop😀

  16. fuadzaki19 Juni 12, 2012 / 10:45 am

    Saya belum sempat nonton film ini.

    Nanti kalo dah sempat saja, Mas😀

  17. Dewi Fatma Juni 13, 2012 / 4:19 pm

    Blom nonton, Mbak. Maklum tinggal dipedesaan nan tiada punya bioskop😀
    Untung di review dimari, kan aku jadi tau tentang Pak Soegija..

    Wah, kayaknya bisnis yang menggiurkan nih bikin bioskop di sana😀

  18. Tebak Ini Siapa Juni 19, 2012 / 4:49 pm

    Aku wis nonton ki…
    Kecewa sih… ngaranku kok neng film Soegijane ra ngopo ngopo yo @.@
    Tapi apik sih seneng aku liat settingnya, dialognya, bulenya… *eh*

    Iyo, padahal nek baca bukunya beliau cukup berperan. Bulene ganteng yo, Na😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s