Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Sendiri

Djokjakarta, 19 Desember 1948

Akoe tak bisa mendengar apa-apa. Sedjak boenji jang begitoe keras meledak di telingakoe. Zoester itoe menoelis, moengkin telingakoe akan toeli sementara, bisa djoega toeli seteroesnja. Nanti setelah toean dokter datang, baroe ada kedjelasan. Sementara akoe djoega tak lagi bisa merasakan kaki kanankoe. Toelis zoester itoe djuga, kakikoe terkena ledakan. Di sampingkoe, seorang moeda sebajakoe menangis tak brenti. Lengan kanannja baroe sadja dipotong. Kena bom. Di depankoe terbaring pemoeda, lebih moeda darikoe. Pandangannja kosong, peroetnja robek terkena mortir.

Hospitaal ini penoeh orang jang loeka bahkan njaris mati. Sajangnja akoe tak bisa bertanja-tanja, bagaimana bisa, telingakoe tak maoe mendengar. Akoe hanja bisa menoelis oentoek mengisi waktoekoe. Ratoesan pradjoerit mati kena bom dan mitrailleur. Perintah Djenderal Soedirman dibatjakan lewat radio. Gerilja, masoek hoetan, naik toeroen goenoeng, boekit. Akoe tek mengerti, katanja soedah merdeka tapi mengapa mereka masih sadja menjerang?

23 Desember 1948

Pengasingan semoea pemimpin. Hari ini akoe masih di hospitaal, beloem boleh keloear. Telingakoe masih toeli, ditambah kaki kanankoe jang soedah dipotong. Tak ada jang menjengoek. Bapak Iboeke soedah mati. Sodarakoe entah di mana, berdjoeang di Djawa Timoer, ada jang ke Andalas. Akoe sebatang kara. Seharoesnja akoe mati sadja. Laki-laki toeli tanpa kaki, tak bisa lagi ikoet berdjoeang. Oentoek pertama kalinja, akoe ingin melempar diri ke randjaoe moesoeh!

13 Juni 2012

Ini anugerah atau apa? Njatanya aku masih hidup sampai sekarang. Meski sebatang kara, tak kawin tak beranak. Manalah ada perempuan berhasrat pada lelaki tuli dan buntung? Menulis tentang perjuangan, hanya itu yang bisa kulakukan. Bukuku laku pada jamannya. Harga dan royalti tak seberapa mampu menghidupiku hingga kini.

Tapi aku sudah lelah. Kawan-kawan seperjuanganku banyak yang tinggal di panti jompo, atau jadi beban anak cucunya, atau bahkan sudah banyak yang mati. Aku sendirian. Bosan. Penyakit sudah menumpuk. Tapi mengapa aku tak mati-mati?

Ini lencana terakhir yang kusematkan di dada. Tumpukan buku hasil karyaku ada di samping meja. Tongkat penopangku sudah rapi di samping kursi. Kupasang peci hijauku.  Aku merasa muda, masih berumur dua puluh dua, belum tuli, belum buntung. Gadis cantik di dapur umum itu melambaikan tangannya, senyumnya manis sekali. Aku membalas senyumnya. Terakhir, kutelan empat butir pil rutinku. Sudah selesai. Tuntas.

PS. Gambar dipinjam dari http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_II