Fiksi Kilat · Iseng Aja

Hujan di Terik

Debu bergulung-gulung menyerbu trotoar yang penuh pedagang kaki lima. Bergegas pedagang makanan menutupi dagangan seadanya. Daun dan plastik dan sampah dan puntung mendesing-desing terbang. Lalat-lalat berlindung di dedaunan pohon kembang sepatu, bergerombol seperti tahi lalat memenuhi tubuh. Terik begitu menyengat, sebaris manusia yang sedang menunggu angkutan umum sibuk melap keringat, mengipas-ngipas, menutup hidung, meludah, merokok. Sementara jalanan penuh asap dan berbagai jenis kendaraan.

Seorang gadis duduk di depan warung kopi, tak peduli debu dan kotor. Semangkuk mie instan telah tandas disantapnya. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku jeans nya. Tak peduli panas dan keringat, ia mengisap dalam-dalam rokoknya lalu mengembuskannya penuh nikmat. Kakinya bersila di bangku panjang yang kosong. Ia berjeans hitam, berkaus hitam, bereyeshadow dan eye liner hitam, berlipstik hitam, dan tentu saja cat kuku hitam. Namun rambutnya yang pendek setelinga dicat pirang (sesungguhnya ia adalah seroang gadis yang cantik). Di sampingnya tergeletak ukulele kusam dengan senar yang sudah melar kemana-mana sehingga menimbulkan bunyi false parah. Terutama jika si gadis sudah membuka suara paraunya, rasanya ingin mengusirnya saja.

Setelah rokoknya tinggal 3 senti dan tak lagi bisa diisap, ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang untuk membayar makanannya. Dengan langkah bak macan lapar (sesungguhnya caranya berjalan seperti peragawati) ia bergabung bersama para pengantri angkutan umum. Sesekali ia memainkan ukulele nya dengan riang. Tak lama kemudian sebuah bus besar berhenti. Dengan sekali lompat ia masuk ke dalam bus, mencari posisi yang nyaman berebutan dengan para penumpang yang juga berdiri. Setelah dirasa posisinya nyaman dengan kuda-kuda yang kokoh, ia mulai bermonolog tentang alasannya mengamen.

“………….daripada saya mencuri atau merampok apalagi melacur, lebih baik saya mengamen demi sesuap nasi. Jangan remehkan kerjaan saya, ini pekerjaan halal dan tidak bermaksud mengganggu bapak ibu sekalian. Baiklah, sebuah lagu akan saya persembahkan.”

Dan melantunlah lagu Agnes Monica yang dengan semena-mena nadanya dirubah dan dihancurkan olehnya (sesunggunya ia memang tak pernah mengikuti pelajaran kesenian dulu). Dua lagu selesai diabwakannya. Ia berkeliling mengedarkan kantong bekas permen, meminta dengan memaksa dari satu bangku ke bangku lainnya.

Tiba di satu bangku, ia terpana. Lelaki itu juga terbelalak menatapnya. Beberapa detik keduanya saling menatap tanpa bisa berkata apa-apa. Namun si gadis segera sadar dan merangsek ke belakang, berteriak panik agar bus berhenti. Lelaki itu berusaha mengejar tapi terlambat. Si gadis telah melompat keluar dan menghilang di antara mobil-mobil lainnya. Lelaki itu mendesah sedih.

“Anggi, maafkan Bapakmu.”

Si Gadis terengah-engah di trotoar. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahannya. Bergerimis membasahi hatinya, mengusir debu-debu yang berkerak di jiwanya.

“Bapak, maafkan Anggi,” bisiknya.

Panas tepat di atas kepala, serasa melelehkan otak dan mendidihkan darah. Namun hujan di hati Anggi belum mau berhenti.

*****************

PS. Untuk gadis “punk” yang kutemui di jalanan kemaren sore. Pulanglah, Nak, siapa tau orang tuamu kehilanganmu 😦