Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 14

Yuuukk, mariiii baca yang lalu dulu 😉

BAB EMPAT

SAMUDERA TANPA BATAS

 

Ketika tanya itu datang pada samudera

Jawab tiada kunjung datang

Meski angin dan deru ombak turut lantang

Samudera tetap diam seribu bahasa”

Ombak menggulungnya tanpa ampun, Sandra menggapai-gapai mencari pegangan. Tak ada apapun, napasnya mulai sesak, paru-parunya penuh air. Megap-megap ia mencari sosok Agung. Tapi lelaki itu sama sekali tak nampak, tak ada di mana-mana. Sandra benar-benar tak mampu lagi bernapas, ia nyaris tenggelam tepat ketika cahaya menyilaukan menerpa matanya. Sayup ia mendengar suara.

“San, Sandra, bangun, Nak.”

Berkerjap-kerjap Sandra membuka mata. Di hadapannya tampak wajah kabur Tante Liez. Sandra berusaha bangkit, namun kepalanya berdentam-dentam sakit.

“Sst, berbaringlah,” ujar Tante Liez lembut dan mendorong tubuh Sandra kembali rebah. Sandra melihat berkeliling, asing.

“Di mana ini, Tan?” Tanyanya lemah.

“Di rumah sakit, Sayang. Kamu demam tinggi sejak pagi kemarin,” jelas Tante Liez. Sandra memejamkan mata mencoba mengingat apa yang terakhir dialaminya.

Agung membawa kapal itu kembali tanpa bicara. Sementara Sandra duduk di peti kayu dalam kabin. Ia memandangi pria itu dari belakang, melihat betapa hebatnya ia mengendalikan gelombang dan melawan angin. Hatinya masih tak karuan. Sesekali ia membantu Agung menimba air keluar dari kapal. Namun pria itu melarangnya, dan menyuruhnya duduk diam.

Lewat tengah malam ketika akhirnya mereka berlabuh. Masih dengan tubuh menggigil kedinginan ia diantar Agung menuju parkiran. Tak sekalipun Agung melepaskan tangan Sandra dari genggamannya, mencoba mengalirkan sisa-sisa kehangatan tubuhnya pada gadis itu. Bahkan ia menawarkan diri mengantar Sandra pulang. Tapi Sandra melihat betapa pria itu pun sama lelahnya dengan dirinya, maka ia pun melaju sendirian. Sempat dilihatnya dari kaca spion pria itu tak beranjak sampai ia benar-benar tak kelihatan.

Sesampai di rumah, ia langsung mandi air hangat dan tidur tanpa terbangun lagi. Dan di sinilah ia sekarang.

“Aku kenapa, Tan?” Tanyanya lirih.

“Nah, mengapa kau bertanya? Lihat, kamu demam tinggi dan menggigil terus-menerus. Bagaimana bisa, Nak? Kamu pulang lewat tengah malam dengan badan kuyup, bahkan masih dengan jaket pelampung pula. Memangnya kamu dari mana?” Omel Tante Liez sambil memijit lembut lengan kemenakan tersayangnya.

“Kamu Tante bawa ke sini dalam keadaan setengah sadar dan meracau terus. Aduuuh, kalo Mamamu tahu bisa digantung Tante!”

Sandra tersenyum kecil melihat kepanikan Tantenya. Digenggamnya tangan wanita itu.

“Aku naik kapal, Tan. Tahu-tahu ada badai, yah begini deh jadinya,” ujarnya lemah.

“Naik kapal? Malam-malam? Aduh, Sandra…Sandra…bandel banget sih? Memangnya mau ngapain naik kapal, hujan deras pula. Ih, kamu nih benar-benar cari masalah!”

Sandra hanya tersenyum dan memandang jendela di sampingnya. Udara nampak cerah, sedang apakah Poseidonku? Bisiknya dalam hati, dan pipinya pun merona.

“Nah, nah, sekarang malah senyum-senyum sendiri. Huh, kayak punya kemenakan ABG aja Tante ini. “

“Ah, Tantee….”

“Sepertinya kamu sudah membaik. Tante ke atas dulu ya, setengah jam lagi Frans akan visite, nanti Tante turun lagi. Okay?”

Sandra mengangguk. Tante Liez mengecup pipinya dan meninggalkan Sandra sendiri. Mendadak perutnya terasa sangat lapar. Ia melirik meja dorong di sampingnya, semangkuk bubur ayam, segelas susu hangat dan sepotong pudding tersedia di sana. Ah, benar-benar menu orang sakit. Tapi ia begitu lapar hingga tak terlalu peduli dengan menunya. Sandra mengangkat badannya mencoba bangun, namun kepalanya langsung sakit, seperti ada ribuan lebah mendengung tepat di otaknya. Ia rebah kembali sambil meringis kesakitan. Duh, Tante Liz, mengapa kau tak menawariku makan tadi? Batinnya kesal.

Putus asa, Sandra kembali memejamkan mata mencoba untuk tidur dengan kepala yang masih berdenyut-denyut. Entah berapa lama Sandra terlelap, antara sadar dan tidak, ia merasakan pergelangan tangannya ditekan dengan lembut. Seseorang berbicara pelan dengan seorang yang lain. Sandra membuka matanya.

“Hai, Cantik. Bagaimana keadaanmu hari ini?” Tanya Frans lembut. Sandra membalas senyumnya. Perawat yang mendampingi Frans meminta ijin untuk memeriksa tekanan darahnya. Sandra mengulurkan lengannya.

“Lumayan, meski masih lemas,” gumamnya.

“Nah, lain kali kalau mau memancing, pastikan cuaca cerah dan bukan justru di saat badai. Ikan pun pasti akan sembunyi ketakutan di dasar laut,” goda Frans. Sandra tertawa kecil.

“Sembilan puluh per enam puluh, Dok,” ujar Si Perawat.

“Hmm, kau masih harus istirahat beberapa hari di sini,” kata Frans sambil memeriksa denyut jantung Sandra. Tangannya sedikit gemetar, untunglah Sandra tak memperhatikan.

“Uuhh, aku sudah baik, Dok. Biarkan aku pulang nanti sore?” Keluh Sandra. Lusa Aryo datang, Sandra tak ingin melihatnya dalam keadaan begini. Pasti akan ada banyak pertanyaan yang susah dijawabnya.

“Hmm, kita lihat saja nanti. Kau bahkan tak menyentuh makananmu,” jawab Frans. Ia memberi isyarat agar perawat meninggalkannya dulu. Lalu ia meraih mangkuk bubur ayam yang sudah dingin itu.

“Mari sini, aku suapi,” kata Frans membuka plastik penutup mangkuk. Sandra merasa tidak enak.

“Ah, jangan, biar aku makan sendiri. Mana ada dokter ngetop yang menyuapi pasiennya?” Sandra berusaha bangkit. Kepalanya masih sedikit ringan tapi tak sesakit tadi.

“Mengapa tidak? Apalagi pasien istimewa sepertimu, nah buka mulutmu.” Frans menyuapkan bubur itu. Sungguh Sandra merasa tak enak, tapi Frans terus memaksanya hingga terpaksa ia membuka mulutnya. Baru tiga suap Sandra menyerah. Bubur dingin dan hambar malah membuatnya mual.

“Cukup, Frans. Thanks, aku sudah kenyang,”gumamnya.

“Kalau hanya tiga suap, bagaimana nanti sore mau pulang? Ayolah, makan lagi.”

Namun Sandra benar-benar sudah tak sanggup lagi untuk menelan bubur itu.

“Nanti aku minta Tante Liz bawakan sate ayam aja,” tolaknya. Frans tak memaksa lagi. Ia meletakkan kembali mangkuk itu, tepat ketika ponselnya berdering. Frans mengambil ponselnya dari saku jas dan wajahnya langsung berubah. Dibiarkannya ponsel itu terus berdering. Ia kembali duduk di tepi tempat tidur pasiennya.

“Nah, kalau kau ingin buru-buru pulang, aku ijinkan besok siang, okay? Sore ini masih observasi sampai besok pagi.”

“Ouuhh, tapi baiklah. Aku yakin besok pagi pastiii sudah sembuh,” sahut Sandra tersenyum senang.

Ponsel Frans kembali berdering namun Frans tetap bergeming. Sandra merasa tidak enak.

“Eh, sorry, mungkin telpon itu penting, Frans? Mengapa tidak kau angkat?”

“Tidak ada yang penting. Baiklah, aku lanjutkan visite dulu. Kau istirahatlah, dan usahakan siang nanti kau habiskan makananmu, okay?” Ujar Frans menepuk lembut punggung tangan Sandra.

Thanks, Dok.”

Frans meninggalkan Sandra dengan telepon terus berdering. Sesampai di luar barulah ia angkat telepon itu.

Hello, Docky, aahhh… lagi-lagi kau malas mengangkat teleponku,” rajuk manja suara wanita di seberang. Wajah Frans merah padam.

“Ini jam kerjaku, sudah kukatakan berkali-kali jangan meneleponku di jam kerja!” Desis Frans marah luar biasa.

“Oh, Docky, tapi aku tak bisa menunggu sampai nanti malam, Honey. Aku menginginkanmu, Sayang,” desah Rini sama sekali tak terpengaruh oleh kemarahan Frans, “Bisakah kau datang sekarang? Atau aku saja yang datang?”

Keringat dingin mengalir di pelipis Frans. Mendengar desahan Rini tiba-tiba saja gairahnya timbul, kebuasan yang selama ini ingin ia redam dan lawan mendadak muncul lagi. Seperti singa lapar yang disuguhi anak kijang yang lincah. Seperti Mr. Hyde yang terperangkap dalam tubuh dr. Jekyll dan menuntut pembebasan.

“Setengah jam lagi aku tiba,” bisiknya parau lalu menutup pembicaraan.

 ********************

Yaahh, bersambung lagi yaa…. 🙂

10 tanggapan untuk “Lukisan Cinta, Episode 14

  1. tante sandra demam karena abis dipeluk sama poseidon kemarin itu kan bude..? iya kaannn..? ngaku aja deh.. 😛

    Sik…sik…sik…waaaah, eMak nih bocorin rahasia ke Ngai! Itu kan 21 th ke atas, Naaakkk…. ntar pengen lhooo… :mrgreen:

  2. ah sandra. pasti makin bingung disuruh memilih satu di antara 3 lelaki itu

    Bingung milih di antara 2 saja kok, Mellaa… yang satu ndak terlalu minat katanya 😛

  3. Sandra sama Poseidon ajah.. Jangan sama Frans.. Gak jelas itu orang..

    Ayo, Mba.. Lanjutannya jangan lama-lama, aku udah gak tahan *suara parau ala Frans*..hihihi…

    Wkwkwkwkwkw…. 😆 sumpeh, aku ketawa sendiri ngebayangin Jeng Defat bersuara parau macam Frans 😆

  4. wah…wah setengah jam lagi akan ada kejadian apa mbak? hiks sayang aku nunggu kelanjutannya bukansetengah jam ya 🙂

    Qiqiqiqqiqi… yang itu mah gak dicritain Jeng, medeni :mrgreen:
    Aku usahakan cepet ya, Jeng 😀

  5. Jalinan konflik makin memikat. siap tunggu episode berikutnya kedatangan Arya

    Mbakyuuuu, saya belom sempat sowan ke kebun 😦
    Eng..ing…eng…Aryo datang 😀

  6. Rini itu siapa bu Choooo? karakter Frans mulai seru nih keknya hohoho…
    ditunggu lho lanjutannya, jgn lama2 tapi oceh oceh? 😉

    Dijelaskan di episode berikut ya, Say 😀
    Siap, sesegera mungkin terbit 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s