Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

S*laria

Sebetulnya makan di S*laria buatku sudah agak membosankan ya. Hanya saja memang resto ini menyediakan aneka menu yang cukup variatif dan cukup murmer lah. Juga ada menu kesukaan malaikatku. Maka Sabtu kemaren, paska lebaran dan mbak lom pulang πŸ˜› kami memutuskan maksi di S*laria Metropolitan Bekasi. Semua meja penuh, untunglah kami mendapatkan satu meja kosong namun masih penuh piring dan gelas sisa makan pengunjung terdahulu.

Nah, di sinilah kisah ini berawal. Dengan halus (aku orangnya cukup halus lho πŸ˜› ), kuminta seorang pramusaji membereskan meja. Namun dia pura-pura tak mendengar. Memang sih di tangannya ada nampan penuh makanan siap disajikan. Tak lama dia kembali dan mengangkati piring dan gelas. See, berarti dia mendengar kan? Setelah itu dia memberikan daftar menu. Sampai kami selesai memilih menupun meja tak juga dilap. Kekasihku bilang, “Tuh ada lap, apa mo ngelap sendiri aja?” Hampir saja aku melakukan itu, tapi pas kutengok lapnya susah gak ada πŸ˜€

Tak lama kemudian seorang pramusaji berseragam putih hitam (masih training) kupanggil. Tahukah apa jawabnya?

Ya, ya, ya!” Dengan nada tak sabar seperti berbicara pada anak kecil. Tapi dia tak datang, malah ke meja di belakangku. Kulihat wajah kekasihku sudah memerah, ini alamat gak bener ini! Maka aku memutuskan untuk pindah. Kekasihku segera ngeloyor keluar setelah aku bilang, “Udah, biar nanti aku yang marahin.”

Dan, begitu si mbak trainee ini ke mejaku, aku langsung menegurnya (pertama kali dalam hidup aku memarahi seorang pramusaji).

“Mbak, lain kali kalo menjawab yang sopan ya. Masa kamu jawab ‘ya, ya, ya’ dengan ketus begitu? Seperti ngomong dengan anak kecil saja.”

“Maaf Bu, soalnya sedang rame sekali,” potongnya. Wah, makin marah aku.

“Lho, saya tahu itu. Tapi kamu harus jawab dengan sopan dong, saya di sini bayar lho bukannya minta-minta! Kamu masih training kan? Nama kamu siapa, sorry ya tapi saya terpaksa melaporkan kamu ke manajer kamu (belagak liat name tag, padahal sekarang pun dah lupa πŸ˜› ). Kamu harus belajar sopan, sabar, bukan malah ketus begitu. Nih, saya gak jadi makan di sini, dan mungkin gak akan pernah datang ke sini lagi!” kataku sambil menyobek lembar pesanan hingga kecil-kecil dan meletakkannya di meja. Kuajak anak-anakku pergi. Si mbak pucat dan nyaris menangis serta berkali-kali meminta maaf. Sudah kumaafkan, tapi untuk kembali ke sana? No, thanks! Dan kamipun makan di Gokkana Teppan yang lebih profesional πŸ™‚

Aku tau kondisi di sana sangat ramai dan mungkin kekurangan tenaga. Tapi itu tidak berarti harus ketus bukan? Memang kulihat semua wajah-wajah pramusaji itu kelelahan, bahkan seorang pramusaji dengan cueknya membereskan piring lalu melempar-lempar sendok di bak cucian dengan nyaring, prang…prang… Duh, nyaman gak sih makan di tempat seperti itu?

Pelanggan adalah raja, itu duluuuu. Buatku pelanggan tak perlu diperlakukan sebagai raja, cukup diperlakukan dengan ramah dan sopan itu sudah membuahkan nilai plus! Nah, S*laria, sepertinya kau harus mendidik para karyawan dengan budi pekerti dan sopan santun πŸ˜‰ Atauuu, perlu nambah karyawan?

Iseng Aja · Serial Yu Minah

Daster Kotak-Kotak

Tak sengaja lewat depan rumahmuuuu, ku melihat ada tenda biruuuu. Eh, maksudnya kemaren tak sengaja lewat depan warung Yu Minah, dan ternyata sudah buka. Tanpa berpikir dua kali aku mampir ke warungnya. Kangen juga hampir setengah bulan tak menyantap rujak Yu Minah.

Kulihat Yu Minah sedang mengulek dengan goyangannya yang heboh. Kuteriakkan salam padanya.

“Eeeehh, Jeeeng, waduuuh kangen banget aku. Maaf lahir batin yaa, muah..muah…” Dan kecupan Yu Minah yang basah-basah itu mendarat di pipiku.

“Sama-sama, Yu. Maaf lahir batin juga. Gak mudik to, Yu?” Tanyaku lalu duduk di bangku favorit.

“Ya mudik to, Jeng. Tapi gak lama-lama, cuma nyekar ke makam ayahnya Tole sama syukuran sedikit. Tole kan diterima di negri, Jeng, fakultas hukum sesuai keinginannya,” sahut Yu Minah berbinar-binar.

“Waah, hebaatt! Semoga kelak Tole jadi hakim yang bijak ya, Yu, sesuai cita-citanya.”

“Amin, Jeng. Eh, ngomong-ngomong mau pesan apa nih? Saya lagi bikin pesanan 20 bungkus rujak ulek. Kalo pesennya sama nanti tak barengin, Jeng.”

“Boleh, rujak ulek dua, Yu. Pedes tapi gak banget ya,” sahutku. Lalu Yu Minah meneruskan goyangannya. Sejenak kupandangi Yu Minah, kok seperti ada yang beda. Apa ya? Setelah lima menit baru kusadari. Yu Minah pakai daster kotak-kotak! Kotak keci-kecil yang kayak punya Pak Joko itu.

“Yu, sampeyan kok bisa punya daser gitu?” Tanyaku takjub. Kok ada ya versi dasternya? Jangan-jangan ada juga versi kebaya atau kaftan?

“Hehehehe… waktu mudik ke Solo kemaren saya beli, Jeng. Keren to? Inovatif banget ya kotak-kotak dibikin daster gini. Bisa memenuhi hasrat penggemar daster kayak saya gini,” jawab Yu Minah. Walah, pake inovatif segala Yu Minah ini πŸ˜€

“Memangnya sampeyan mendukung Pak Joko, Yu?” Tanyaku iseng.

“Hehehehe… wong sekampung, jeh. Lagian Jeng, sepertinya Pak Jokowi ini bagus ya, lihat saja prestasinya sebagai walikota Solo. Makin betah jadinya saya di sana. Meski saya agak kurang sreg dengan pasangannya.”

“Gak sreg gimana, Yu? Gak boleh SARA, lho.”

“Bukan SARA, Jeng, cuma kayaknya kok kebanting gitu sama Pak Joko. Piye, gituu.”

Halah, Yu Minah ini gak jelas banget sih?

“Memang pasangan ini kontroversi ya, Yu. Tapi kabarnya (aku tengak-tengok sekeliling) sstt… ada korupnya juga lho, Yu,” bisikku. Yu Minah menghentikan ulekannya.

“Jangan kemakan isyu, Jeng! Belum terbukti kan? Pak Joko itu kan pengusaha sukses, hartanya jelas. Lho kalo kekayaan bertambah ya wajar, kalo kita punya aset bertahun-tahun yo pasti manak to, Jeng? Yang namanya harta itu kan ndak harus duit to? Kekayaan beliau itu kalo diitung-itung ya masih masuk akal, masih bisa diterima nalar!” Yu Minah menggebu-gebu. Lagi-lagi aku kuatir ada yang muncrat ke cobek yang penuh buah itu.

“Kan katanyaa, Yu. Aku juga gak tau,” kilahku. Kalo Yu Minah sudah meradang, mesti cooling down.

“Lagipula, Jeng. Jaman sekarang ini ndak ada pejabat yang bersih! Berani potong kupingku kalo sampeyan bisa kasih tau pejabat yang ndak korup. Bagaimanapun mereka mesti balik modal. Nah, Insya Allah kita bakal punya pemimpin yang bersih, yang moga-moga bisa mengemban amanah,” tambah Yu Minah.

Aku tersenyum kecut mentang-mentang sak kampung dibelain mati-matian nih.

“Kalo pasangannya piye, Yu? Bersih juga gak?’ Pancingku. Yu Minah gelagapan.

“Eh… lha ya itu… Jeng, kan saya bilang masih ndak sreg. Piyeeee, gitu,” elaknya. Aku tertawa geli.

“Sik to Yu, memangnya sampeyan punya KTP DKI? Mau ikut milih putaran kedua nanti?” Tanyaku. Sesaat Yu Minah terbelalak, lalu pipinya yang tembem itu merah merona di mana-mana. Dia menunduk lalu mulai membungkus rujakku.

“Eh, hihihihi…..hehehehehe…. yo ndak punya to, Jeng. Saya kan warga Bogor kayak sampeyan,” ujarnya malu-malu. AKu tak bisa menahan diri dan tergelak.

“Lha terus ngapain sampeyan menggebu-gebu gitu? Wong gak ngaruh kok buat kita?’ Tanyaku di sela-sela tawaku. Yu Minah menyerahkan bungkus rujak padaku.

“Yah, namanya jugak sekampung, Jeng. Yo mesti dibela-belain to?” Jawabnya masih tersipu. Kubayar rujaknya.

“Sampai beli daster kotak-kotak ya, Yu. Punya berapa lusin, Yu?” Godaku.

“Welhadalah, Jeeeng, seneng banget sih sampeyan nggodain sayaaa?” Teriaknya mulai meradang. Aku pun segera melarikan diri.

:mrgreen:

PS. Daster kotak-kotak ini hanya imajinasiku saja, ntah ada ntah tidak. Kalo emang ada, kirimin dooong πŸ˜›

Iseng Aja · Tak Enak

Seperti Anak Sekolah

Karena kantorku bergerak di bidang jasa, maka libur lebaran hanya pada tanggal merah saja. Tidak ada cuti bersama seperti kantor-kantor lainnya. Nah, tentu saja cuti pun segera diatur. Sudah kutetapkan bahwa tiap departemen harus bergiliran cuti. Ada yang sebelum hari raya,Β  ada juga setelah hari raya. Sehingga ada perwakilan di tiap departemen. Pengaturannya disepakati bersama dan dikoordinir oleh para koordinator. Selesai.

Pada suatu hari, sehari setelah hari raya, ada nomor asing menghubungi ponselku. Sebetulnya aku malas, tapi kuatir dari klien maka diangkatlah. Suara seorang Bapak yang sudah berumur terdengar. Rupanya beliau ayah dari salah satu staf, sebut saja Miss. R. Ngapain telpon? Meminta ijin agar anaknya boleh memperpanjang cuti sampai hari Minggu karena masih sakit. Kutanya, apakah dirawat di RS? Ternyata tidak, hanya di rumah saja. Gubrak bin gedebruk deh! Padahal seharusnya dia sudah masuk hari Kamis kemaren. Lha nambahnya banyak amat πŸ˜†

Bukannya berpikiran negatif, tapi memang ini adalah modus operandi beberapa staf di kantor πŸ˜† Gak brani nelpon sendiri, maka ortunya yang diminta menelpon. Sesakit apakah dia sehingga tak sanggup menelpon? Atau sekedar sms? Jadi ingat semasa sekolah dulu, jika gak masuk sekolah maka ortu menitipkan surat πŸ˜† Atau sekarang ini, kalau anakku sakit maka segera menelpon sekolah mengabarkan tidak dapat masuk.

Jiyan! Wong sudah dewasa, seharusnya bersikap profesional bukan? Aku malah jadi tidak bersimpati pada anak ini (meski andai sakit beneran) dan yang pasti mengurangi nilainya bukan? Kukatakan saja pada ayahnya, semoga lekas sembuh dan nanti potong cuti tahunan saja πŸ˜†

Nah, Miss. R, selamat menambah liburan ya. Jika nanti cutimu sudah habis, yaaah terpaksa deh cuti di luar tanggungan πŸ˜›

Cintaku · I feel blue · Tak Enak

Lebaran di Rumah Sakit

Mengawali bulan puasa, Papa sempat dirawat di RS. Dirawat selama satu minggu akhirnya Papa sembuh dan boleh pulang. Tentu saja kami semua lega, terlebih aku yang menemani keluarga berpuasa jadi tidak terlalu repot lagi mondar-mandir πŸ˜€ Dan kami pun merencanakan untuk berbuka bersama di rumah Papa pada tanggal 17 Agustus lalu. Yah, meski yang berpuasa hanya aku dan keluargaku, tapi Papa ingin sekali berbuka bersama πŸ˜€

Tapi apa daya, sebelum rencana terlaksana, Papa kembali masuk RS. Bahkan kali ini harus menjalani operasi ringan. Tentu saja sedih sekali. Jika biasanya setelah kekasihku dan kedua malaikatku shalat Ied dan kami berlebaran di rumah Ibu mertua, aku mengirim ketupat, gulai ayam dan rendang ke rumah Papa, maka kali ini kami tak lakukan itu. Aku hanya membawakan untuk Ibundaku saja untuk makan di rumah 😦 Padahal Papa paling senang ketupat dan gulai buatan Nenek πŸ˜€ Apalagi katupek sipuluik πŸ˜›

Maka di hari raya, kami juga Nenek menjenguk Papa. Idul Fitri ini tentu saja agak sedih, karena tak bisa berlebaran bersama, saling megunjungi Papa Ibu dan Nenek. Tapi tak apa, saat ini harapan terbesar kami adalah kesembuhan Papa. Agar kami bisa berkumpul lagi di rumah, makan-makan seluruh keluarga, dan tentu saja Ibu jadi tak takut sendirian di rumah πŸ˜€

Cepat sembuh ya Pa, doa kami selalu menyertaimu. We love you so much…..

Oooh Indahnyaaa....

chocoLand

Seluruh keluarga besar chocoVanilla di chocoLand, menghaturkan

Selamat Idul Fitri 1433 H

Mohon maaf lahir dan batin

Salam sayang selalu dari penghuni chocoLand,

  • choco, Guanteng, Cantik, Kekasihku
  • Marni – Om Bimo
  • Yu Minah, Tole
  • Sandra, Poseidon, Aryo, Frans

 

 

Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Dirgahayu RI!

Selamat ulang tahun ke 67 Indonesiaku tercinta. Semoga kita terbebas dari segala bentuk penjajahan! Karena meniru pendapat Zoole van Gedubrak dari OVJ, bahwa segala sesuatu itu terkelompok menjadi 3 jenis, maka penjajahan juga terdiri dari tiga jenis.

Mari kita bahas tiga jenis penjajahan itu.

  1. Penjajahan indoor, di mana penjajahnya adalah tuan rumah sendiri. Para penguasa yang menjajah rakyat. Baik menjajah fisik maupun mental. Penjajahan yang menggerogoti dari dalam, membuat bangsa ini keropos dan rusak perlahan-lahan. Kesenjangan sosial ekonomi semakin dalam, bagai jurang yang tak mungkin lagi dijembatani. Yah, untuk contoh dan bentuknya silakan direnungkan sendiri yaaa πŸ˜€
  2. Penjajahan outdoor, kita sudah pernah mengalaminya bukan? Bagimana negara luar dengan semena-mena menjajah dan memeras bangsa kita. Namun dengan perjuangan gigih para pendahulu kita mampu memerdekakan bangsa kita tercinta.
  3. Penjajahan door to door. Nah ini, agak sulit menerjemahkan penjajahan jenis ini :mrgreen: Namun bisa diambil contoh begini. Indonesia adalah negara yang terkenal ramah, terbuka, dan “mudah” menerima kedatangan bangsa lain. Mereka dari berbagai belahan dunia mengetuk pintu kita untuk bisa masuk. Bisa dari berbagai pintu. Pintu wisata, ekonomi, sosial, budaya, bahkan militer. Mestinya penjagaan di pintu-pintu ini diawasi dan diperketat, sehingga tak sembarangan orang bisa menembus dan masuk melaluinya. Bukan parno, tapi bukankah sudah terbukti bahwa mereka yang datang tidak 100% bertujuan baik? Tahukah Kawan, bahaya dari pintu-pintu ini? Separatisme, free sex, budaya liar, narkoba, telik sandi, dll. Hiiiiyyy…. bukankah ini berarti penjajahan juga? Karena kita tanpa sadar menjadi budak-budak kebebasan! Bukan berarti kita menutup diri, namun mengawasi. Boleh kan? πŸ˜€

Nah, itulah tiga bentuk penjajahan yang semuanya berbahaya karena berpotensi merusak. Mari kita bersatu padu mempertahankan kemerdekaan, mengisinya, dan terus membangun menuju kemakmuran yang merata (mungkinkaaaahh... kita kan slalu bersamaaa).

Dirgahayu Indonesiaku! Seperti apapun negriku, aku tetap mencintainya. MERDEKA!

PS. Bendera dipinjam dari sini.

Cari Solusi · Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Motivasi Berwarna untuk Emak Galau


Berpikirlah positif dalam segala hal, karena dengan berpikir positif akan memberi energi positif pula bagi diri sendiri dan orang lain.


Percayalah pada orang yang memberi janji, karena dengan memercayainya maka dia akan sepenuh hati menepati janjinya.


Kalimat motivasi di atas jelas penuh penghiburan bagi diriku sendiri. Mengapa? Yah, tadi pagi aku mengantar Mbak ke terminal, mudik sad0049 Free Sad Emoticons Gak apa siy dia pulang, memang sudah sewajarnya bukan? Tapi…tapiiii… Ada 3 hal (minjem ya, Om NH πŸ˜€ ) yang membuatku galau. Mari kutunjukkan alasannya.

  1. Mbak menolak ketika kuberi seluruh gaji bulan ini. Alasannya takut habis, maka ia hanya mengambil setengahnya saja. Awalnya aku senang bukan buatan, bukankah ini semacam garansi bahwa ia akan kembali? Tapi lalu sobatku merusak suasana. Dia bilang, justru jangan-jangan Mbak emang gak berniat kembali, maka ia hanya mengambil 1/2 gajinya sad0118 Free Sad Emoticons
  2. Karena alasan di atas, maka aku cek lemarinya. Dan ternyata memang dia tak meninggalkan sepotong bajupun! Tapi aku berpikir positif, mungkin memang baju Mbak gak banyak sehingga ia perlu membawa semuanya karena akan di kampung agak lama.
  3. Sewaktu melepas kepergiannya aku berpesan untuk sms jika sudah sampai tujuan. Namun hingga malam tiba dia tak mengabari. Dan ketika aku sms dia tak menjawab 😦 Ah, mungkin Mbak kehabisan pulsa dan tak sempat membelinya. Mungkin besok dia akan mengabari.

Nah Kawan, betapa pentingnya berpikir positif bukan? Karena dengan pikiran yang selalu positif maka hidup akan lebih tenang, tidak parno dan tidak cemas setiap saat. Meski seandainya nanti hasil tidak seperti yang diharapkan, setidaknya kita tidak selalu memikirkan hal buruk yang akan membuat hidup selalu galau.

Si Mbak pun berjanji akan kembali, maka aku pun memercayainya. Bukankah kerjasama yang harmonis dan serasi berdasarkan saling percaya? Jika tak ada lagi rasa saling percaya maka hidup akan menjadi mencemaskan bukan?

Baiklah, aku akan selalu berpikir positif bahwa Mbak akan kembali tepat pada waktunya nanti πŸ˜‰

Sambil menyelam minum banyu, semoga tidak kembung.
Postingan ini kubuat dengan seru, untuk bisa bergabung:

“Motivasi Berwarna untuk marsudiyanto.net

Wish me luck πŸ˜‰

Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Belajar Gitar

Sewaktu SMA, kira-kira 214 tahun yang lalu, aku pernah dibelikan gitar oleh Ayahanda. Dan sempat pula diajarin Ayahanda πŸ˜€ Jadi dulu sempat bisa nyanyi Willingly, Burung Kakak Tua, Naik-naik ke Puncak Gunung, dll πŸ˜€ Eeehh lah kok yang jago gitar malah si Om Dewo, sampai nge band pula 😳 Rupanya bakat tak ada padaku hehehehe πŸ˜›

Nah, pada suatu hari Jendral G minta dibelikan ukulele karena yang lama sudah kuberikan pada orang :mrgreen: Tiba di Gramedia dia mencoba gitar dan berkomentar, “Kok suaranya lebih enak gitar ya, Bundaa?” Ya iyalaaaah πŸ˜€ Maka dia berubah pikiran mau gitar. Ya sudahlah, karena akupun ingin belajar lagi maka kuijinkan. Jendral G bisa main gitar? Tentu saja beluumm πŸ˜€ Tapi nanti sehabis Lebaran Insya Allah akan aku kursuskan biar bisa.

Oleh si pramuniaga aku minta si stel sekalian. Dan ternyata suaranya masih sember aja πŸ˜› Akhirnya aku minta tolong Om Dewo buat stel kalo datang nanti. Dan jadilah hari Sabtu kemaren kuserahkan pada Om Dewo. Gak sampe 5 menit suara si gitar langsung merdu. Dan betapa ndesonya aku, ternyata untuk membantu stel suara ada namanya “tuner“. Alat ini kecil, dengan microphone untuk menyerasikan senar-senar gitar pada nada pas.

Jika kita petik senar paling atas, maka nanti akan keluar “A” (eh, apa ya kemaren? πŸ˜› “E” kali yak? :mrgreen: ). Bila sudah tepat, garis penunjuk akan menunjuk pas di tengah dan lampu hijau menyala. Jika belum tepat, lampu merah yang menyala πŸ˜€ Mudah ya? Tapi tetap butuh feel seorang pemusik untuk mendapatkan nada pas dengan cepat πŸ˜€

Dan sekarang, aku sudah mulai lagi belajar main gitar, meski masih lagu anak-anak TK yang kunyanyikan :mrgreen: πŸ˜† Ujung-ujung jemariku pun on the way kapalan, sakiiiittt…. Nanti jika Jendral G sudah bisa, aku akan minta diajari πŸ˜€ Thanks ya, Om Dewooo…. πŸ˜€

Oh ya, Om Dewo ngadain giveaway lhooo, untuk pertama kalinya. Yuuukk mariii kita ikutan….

Giveaway: ArduinoΒ Leonardo

Dear Friends,
Ini adalah acara giveaway pertama saya. Dalam waktu dekat saya akan memesan 2 board Arduino Leonardo. Satu sudah dipesan oleh teman saya dan satunya akan saya jadikan acara Giveaway. Tujuan dari giveaway ini adalah untuk memperkenalkan Arduino yang open source dan diharapkan menjadikan penerimanya semakin terpicu untuk kreatif dalam memanfaatkan teknologi dalam kehidupan.

Silakan ikut meramaikan yaaaa…….

Cintaku · Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Hadiah Lebaran

Dibesarkan di keluarga yang tidak pernah menjalani puasa sebulan penuh, aku mengajarkan pada kedua malaikatku untuk melakukan puasa tanpa iming-iming apapun. Berpuasa di bulan puasa memang wajib dan harus dilatih sejak kecil. Meski diawali dengan puasa setengah dulu πŸ˜€

Maka hari ketiga puasa Cantik mulai rewel. Kalo siang hari kutelpon menangis haus, tapi disuruh buka gak mau πŸ˜€ Sungguh perjuangan yang berat. Sebetulnya aku juga gak sekeras itu kok, lha mereka kan baru belajar. Dan akupun gak pernah mengalaminya seusia mereka. Akhirnya hari itu Cantik menyerah dan hanya puasa setengah πŸ˜€

Tiba-tiba tanpa membicarakan terlebih dahulu, Kekasihku menjanjikan “hadiah” pada Cantik. Kontan saja aku yang masih idealis ini protes keras.

‘Nanti kabur makna puasanya. Kelak anak-anak akan berpuasa untuk hadiah dan bukan karena menjalankan perintah agama,” protesku.

“Gak laah, ini hanya stimulus saja. Kan mereka juga masih kanak-kanak, kelak semakin besar tentu sudah mengerti,” elak Kekasihku.

“Ya sudah, pokoknya aku gak ikut-ikutan,” kataku menyerah.

Dan tahukah Kawan? (gaaaaaaaaakk) Semenjak dijanjikan hadiahnya (yang boleh meminta sendiri), Cantik menjalani puasa dengan riang! Siang hari jika kutelpon gak pernah lagi rewel! Jika kutanya, “Haus, Nak?” Dia akan menjawab, “Iya, Bunda.” Dan ketika kuhibur dia gak menangis πŸ˜€ Manjur sekali trik kekasihku ini πŸ˜›

Dan Rabu kemarin, karena telah melampaui setengah bulan puasa Cantik memperoleh hadiahnya. Dengan syarat, jika puasanya tidak berlanjut, hadiah akan ditarik kembali πŸ˜€

Aku gak tahu, bolehkah menstimulus anak-anak dengan hadiah agar puasa penuh? Tapi setidaknya cara ini berhasil. Dan semoga Cantik berhasil hingga hari raya nanti πŸ˜€

Bagaimana dengan Jendral G? Aku yakin 100% padanya πŸ˜€ Tapi iapun telah memperoleh hadiahnya, bahkan baru seminggu berpuasa πŸ˜€

Dan aku sendiri? Akupun telah mendapatkan hadiahku, meski kata Kekasihku kalo bolong hadiah ditarik kembali πŸ˜› Hohohohoho….tidak bisaaaa… lha wong aku menghadiahi diriku sendiri kok, whee… πŸ˜†

Bagaimana dengan Kawan semua? Sudahkah mendapat hadiah? πŸ˜‰

Fiksi Kilat · Iseng Aja

Perfume

Bocah itu mengikutiku sejak tadi. Tidak persis di belakangku, agak sedikit jauh. Namun aku tahu sekali dia mengikutiku. Setiap aku berhenti memandangi gaun-gaun di etalase, dia juga berhenti. Lalu ketika aku berhenti untuk minum bir dingin di teras kafe, dia pun berhenti. Aku berusaha memanggilnya namun ia selalu membuang muka setiap kutoleh. Heran! Maunya apa anak ini?

Kutaksir usianya sekitar tujuh tahun. Berkemeja kotak-kotak, rambut pirang keemasan, bersepatu karet, dan berjeans sedikit kebesaran. Setelah kubayar minumanku dengan sisa uang di kantong jeans, akupun kembali melangkah. Aku masih harus mencari parfum karena punyaku sudah habis. Jajaran toko di kiri kananku memang mampu menggoyahkan iman perempuan manapun di dunia ini. Sejenak aku melupakan bocah itu dan sibuk memandangi aneka gaun musim panas yang warna-warni dan sangat modis. Ah, bila tak ingat isi dompet tentu sudah kuborong semua gaun cantik itu.

Dan voila, inilah toko parfum langgananku! Kubuka pintu kaca yang langsung berdenting ketika aku masuk. Karen, si penjual langsung menyambutku dengan pipi merahnya yang chubby.

“Hai Jane, kehabisan parfum kau?” sapanya ramah. Aku memang selalu membeli parfum padanya. Selain harganya lebih murah dari dept store manapun di kota ini, aku juga menyukai anaknya. Ups! Seorang pria tampan berambut coklat yang bekerja sebagai pialang saham. Dan sayangnya hanya sekali dua aku bertemu dengannya, meski hampir setiap bulan aku selalu membeli parfum di sini.

“Ya, Karen. Berilah aku wangi yang agak ringan,” sahutku lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menghirup udara wangi yang sedikit memabukkan. Maka dengan bersemangat Karen menawariku aneka wewangian yang lembut dari merk-merk terkenal. Ketika akhirnya aku menjatuhkan satu pilihan, Karen berseru.

“Ha, kau tak salah pilih, Nona. You know, this perfume is my son’s favorite! His wife always use this! Dan tahukah kau, George tak begitu suka bau parfum kecuali yang ini. Hahahaha…. anak seorang penjual parfum yang tak tahan bau wangi,kekehnya sambil membungkus parfum itu.

Bagai disambar petir aku mendengarnya. Jadi anakmu telah beristri, Karen? Ah, mendadak aku lemas dan mual mengingat wangi parfum itu. Membatalkannya? Tentu tak mungkin. Karen sudah membungkusnya dan aku tak mau mengecewakannya. Kurogoh isi tasku mencari-cari dompetku. Biarlah nanti kuberikan pada siapapun yang kutemui di jalan. Hatiku sudah patah, mana mau pula memakai parfum yang sama dengan perempuan yang telah mencuri George ku? Hei, ke mana dompetku, mengapa tak kutemukan juga? Wajahku mulai pucat.

“Mengapa, Jane? Apa yang kau cari?” Tanya Karen melihatku menumpahkan seluruh isi tasku ke meja kasir.

“Dompetku! Aku tak menemukan dompetku!” Sahutku gelisah. Tak mungkin aku meninggalkannya di rumah. Aku membeli sepasang sandal tadi dan kembaliannya memang hanya kumasukkan kantong jeans. Tapi dompetku sudah kumasukkan kembali ke dalam tas. Oh, shit! Bocah laki-laki itu! Yang mengikutiku sedari tadi, pasti dia mencopetnya!

I’m so sorry, Karen, rasanya aku tak bisa membelinya sekarang. Dompetku hilang,” kataku lemas. Karen tersenyum.

“Bawalah dulu, Jane. Kau bisa kembali kapan saja untuk membayarnya,” kata Karen lalu menyerahkan bungkusan itu. Andai parfum itu bukan kesukaan menantumu, tentu aku akan menerima tawaranmu, Mam. Dengan mengucap terimakasih aku menolak tawaran Karen dan berlalu dari toko mungil itu. Mungkin aku takkan pernah kembali ke sana, karena hatiku sudah patah dan aku tak mau Karen memberiku parfum sialan itu.

Kakiku gontai melangkah menyusuri jalan pulang. Sekelebat kulihat seorang bocah laki-laki berambut pirang, berkemeja kotak-kotak, dan berumur tujuh tahun, mengikuti seorang wanita. Hampir saja aku berlari meneriakinya ketika aku tersadar. Bocah itu telah menyelamatkanku dari bau busuk parfum istri George. Maka dengan senyum kecut kubiarkan bocah itu mengikuti terus wanita itu. Mungkin wanita itu akan diselamatkan pula olehnya entah dari apa, meski harus kehilangan beberapa lembar dollar dan beberapa kartu dari dompetnya.

Ah, it’s not a big deal, isn’t it?