Fiksi Kilat · Iseng Aja

Perfume

Bocah itu mengikutiku sejak tadi. Tidak persis di belakangku, agak sedikit jauh. Namun aku tahu sekali dia mengikutiku. Setiap aku berhenti memandangi gaun-gaun di etalase, dia juga berhenti. Lalu ketika aku berhenti untuk minum bir dingin di teras kafe, dia pun berhenti. Aku berusaha memanggilnya namun ia selalu membuang muka setiap kutoleh. Heran! Maunya apa anak ini?

Kutaksir usianya sekitar tujuh tahun. Berkemeja kotak-kotak, rambut pirang keemasan, bersepatu karet, dan berjeans sedikit kebesaran. Setelah kubayar minumanku dengan sisa uang di kantong jeans, akupun kembali melangkah. Aku masih harus mencari parfum karena punyaku sudah habis. Jajaran toko di kiri kananku memang mampu menggoyahkan iman perempuan manapun di dunia ini. Sejenak aku melupakan bocah itu dan sibuk memandangi aneka gaun musim panas yang warna-warni dan sangat modis. Ah, bila tak ingat isi dompet tentu sudah kuborong semua gaun cantik itu.

Dan voila, inilah toko parfum langgananku! Kubuka pintu kaca yang langsung berdenting ketika aku masuk. Karen, si penjual langsung menyambutku dengan pipi merahnya yang chubby.

“Hai Jane, kehabisan parfum kau?” sapanya ramah. Aku memang selalu membeli parfum padanya. Selain harganya lebih murah dari dept store manapun di kota ini, aku juga menyukai anaknya. Ups! Seorang pria tampan berambut coklat yang bekerja sebagai pialang saham. Dan sayangnya hanya sekali dua aku bertemu dengannya, meski hampir setiap bulan aku selalu membeli parfum di sini.

“Ya, Karen. Berilah aku wangi yang agak ringan,” sahutku lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menghirup udara wangi yang sedikit memabukkan. Maka dengan bersemangat Karen menawariku aneka wewangian yang lembut dari merk-merk terkenal. Ketika akhirnya aku menjatuhkan satu pilihan, Karen berseru.

“Ha, kau tak salah pilih, Nona. You know, this perfume is my son’s favorite! His wife always use this! Dan tahukah kau, George tak begitu suka bau parfum kecuali yang ini. Hahahaha…. anak seorang penjual parfum yang tak tahan bau wangi,kekehnya sambil membungkus parfum itu.

Bagai disambar petir aku mendengarnya. Jadi anakmu telah beristri, Karen? Ah, mendadak aku lemas dan mual mengingat wangi parfum itu. Membatalkannya? Tentu tak mungkin. Karen sudah membungkusnya dan aku tak mau mengecewakannya. Kurogoh isi tasku mencari-cari dompetku. Biarlah nanti kuberikan pada siapapun yang kutemui di jalan. Hatiku sudah patah, mana mau pula memakai parfum yang sama dengan perempuan yang telah mencuri George ku? Hei, ke mana dompetku, mengapa tak kutemukan juga? Wajahku mulai pucat.

“Mengapa, Jane? Apa yang kau cari?” Tanya Karen melihatku menumpahkan seluruh isi tasku ke meja kasir.

“Dompetku! Aku tak menemukan dompetku!” Sahutku gelisah. Tak mungkin aku meninggalkannya di rumah. Aku membeli sepasang sandal tadi dan kembaliannya memang hanya kumasukkan kantong jeans. Tapi dompetku sudah kumasukkan kembali ke dalam tas. Oh, shit! Bocah laki-laki itu! Yang mengikutiku sedari tadi, pasti dia mencopetnya!

I’m so sorry, Karen, rasanya aku tak bisa membelinya sekarang. Dompetku hilang,” kataku lemas. Karen tersenyum.

“Bawalah dulu, Jane. Kau bisa kembali kapan saja untuk membayarnya,” kata Karen lalu menyerahkan bungkusan itu. Andai parfum itu bukan kesukaan menantumu, tentu aku akan menerima tawaranmu, Mam. Dengan mengucap terimakasih aku menolak tawaran Karen dan berlalu dari toko mungil itu. Mungkin aku takkan pernah kembali ke sana, karena hatiku sudah patah dan aku tak mau Karen memberiku parfum sialan itu.

Kakiku gontai melangkah menyusuri jalan pulang. Sekelebat kulihat seorang bocah laki-laki berambut pirang, berkemeja kotak-kotak, dan berumur tujuh tahun, mengikuti seorang wanita. Hampir saja aku berlari meneriakinya ketika aku tersadar. Bocah itu telah menyelamatkanku dari bau busuk parfum istri George. Maka dengan senyum kecut kubiarkan bocah itu mengikuti terus wanita itu. Mungkin wanita itu akan diselamatkan pula olehnya entah dari apa, meski harus kehilangan beberapa lembar dollar dan beberapa kartu dari dompetnya.

Ah, it’s not a big deal, isn’t it?