Iseng Aja · Serial Yu Minah

Daster Kotak-Kotak

Tak sengaja lewat depan rumahmuuuu, ku melihat ada tenda biruuuu. Eh, maksudnya kemaren tak sengaja lewat depan warung Yu Minah, dan ternyata sudah buka. Tanpa berpikir dua kali aku mampir ke warungnya. Kangen juga hampir setengah bulan tak menyantap rujak Yu Minah.

Kulihat Yu Minah sedang mengulek dengan goyangannya yang heboh. Kuteriakkan salam padanya.

“Eeeehh, Jeeeng, waduuuh kangen banget aku. Maaf lahir batin yaa, muah..muah…” Dan kecupan Yu Minah yang basah-basah itu mendarat di pipiku.

“Sama-sama, Yu. Maaf lahir batin juga. Gak mudik to, Yu?” Tanyaku lalu duduk di bangku favorit.

“Ya mudik to, Jeng. Tapi gak lama-lama, cuma nyekar ke makam ayahnya Tole sama syukuran sedikit. Tole kan diterima di negri, Jeng, fakultas hukum sesuai keinginannya,” sahut Yu Minah berbinar-binar.

“Waah, hebaatt! Semoga kelak Tole jadi hakim yang bijak ya, Yu, sesuai cita-citanya.”

“Amin, Jeng. Eh, ngomong-ngomong mau pesan apa nih? Saya lagi bikin pesanan 20 bungkus rujak ulek. Kalo pesennya sama nanti tak barengin, Jeng.”

“Boleh, rujak ulek dua, Yu. Pedes tapi gak banget ya,” sahutku. Lalu Yu Minah meneruskan goyangannya. Sejenak kupandangi Yu Minah, kok seperti ada yang beda. Apa ya? Setelah lima menit baru kusadari. Yu Minah pakai daster kotak-kotak! Kotak keci-kecil yang kayak punya Pak Joko itu.

“Yu, sampeyan kok bisa punya daser gitu?” Tanyaku takjub. Kok ada ya versi dasternya? Jangan-jangan ada juga versi kebaya atau kaftan?

“Hehehehe… waktu mudik ke Solo kemaren saya beli, Jeng. Keren to? Inovatif banget ya kotak-kotak dibikin daster gini. Bisa memenuhi hasrat penggemar daster kayak saya gini,” jawab Yu Minah. Walah, pake inovatif segala Yu Minah ini 😀

“Memangnya sampeyan mendukung Pak Joko, Yu?” Tanyaku iseng.

“Hehehehe… wong sekampung, jeh. Lagian Jeng, sepertinya Pak Jokowi ini bagus ya, lihat saja prestasinya sebagai walikota Solo. Makin betah jadinya saya di sana. Meski saya agak kurang sreg dengan pasangannya.”

“Gak sreg gimana, Yu? Gak boleh SARA, lho.”

“Bukan SARA, Jeng, cuma kayaknya kok kebanting gitu sama Pak Joko. Piye, gituu.”

Halah, Yu Minah ini gak jelas banget sih?

“Memang pasangan ini kontroversi ya, Yu. Tapi kabarnya (aku tengak-tengok sekeliling) sstt… ada korupnya juga lho, Yu,” bisikku. Yu Minah menghentikan ulekannya.

“Jangan kemakan isyu, Jeng! Belum terbukti kan? Pak Joko itu kan pengusaha sukses, hartanya jelas. Lho kalo kekayaan bertambah ya wajar, kalo kita punya aset bertahun-tahun yo pasti manak to, Jeng? Yang namanya harta itu kan ndak harus duit to? Kekayaan beliau itu kalo diitung-itung ya masih masuk akal, masih bisa diterima nalar!” Yu Minah menggebu-gebu. Lagi-lagi aku kuatir ada yang muncrat ke cobek yang penuh buah itu.

“Kan katanyaa, Yu. Aku juga gak tau,” kilahku. Kalo Yu Minah sudah meradang, mesti cooling down.

“Lagipula, Jeng. Jaman sekarang ini ndak ada pejabat yang bersih! Berani potong kupingku kalo sampeyan bisa kasih tau pejabat yang ndak korup. Bagaimanapun mereka mesti balik modal. Nah, Insya Allah kita bakal punya pemimpin yang bersih, yang moga-moga bisa mengemban amanah,” tambah Yu Minah.

Aku tersenyum kecut mentang-mentang sak kampung dibelain mati-matian nih.

“Kalo pasangannya piye, Yu? Bersih juga gak?’ Pancingku. Yu Minah gelagapan.

“Eh… lha ya itu… Jeng, kan saya bilang masih ndak sreg. Piyeeee, gitu,” elaknya. Aku tertawa geli.

“Sik to Yu, memangnya sampeyan punya KTP DKI? Mau ikut milih putaran kedua nanti?” Tanyaku. Sesaat Yu Minah terbelalak, lalu pipinya yang tembem itu merah merona di mana-mana. Dia menunduk lalu mulai membungkus rujakku.

“Eh, hihihihi…..hehehehehe…. yo ndak punya to, Jeng. Saya kan warga Bogor kayak sampeyan,” ujarnya malu-malu. AKu tak bisa menahan diri dan tergelak.

“Lha terus ngapain sampeyan menggebu-gebu gitu? Wong gak ngaruh kok buat kita?’ Tanyaku di sela-sela tawaku. Yu Minah menyerahkan bungkus rujak padaku.

“Yah, namanya jugak sekampung, Jeng. Yo mesti dibela-belain to?” Jawabnya masih tersipu. Kubayar rujaknya.

“Sampai beli daster kotak-kotak ya, Yu. Punya berapa lusin, Yu?” Godaku.

“Welhadalah, Jeeeng, seneng banget sih sampeyan nggodain sayaaa?” Teriaknya mulai meradang. Aku pun segera melarikan diri.

:mrgreen:

PS. Daster kotak-kotak ini hanya imajinasiku saja, ntah ada ntah tidak. Kalo emang ada, kirimin dooong 😛