S*laria

Sebetulnya makan di S*laria buatku sudah agak membosankan ya. Hanya saja memang resto ini menyediakan aneka menu yang cukup variatif dan cukup murmer lah. Juga ada menu kesukaan malaikatku. Maka Sabtu kemaren, paska lebaran dan mbak lom pulang😛 kami memutuskan maksi di S*laria Metropolitan Bekasi. Semua meja penuh, untunglah kami mendapatkan satu meja kosong namun masih penuh piring dan gelas sisa makan pengunjung terdahulu.

Nah, di sinilah kisah ini berawal. Dengan halus (aku orangnya cukup halus lho😛 ), kuminta seorang pramusaji membereskan meja. Namun dia pura-pura tak mendengar. Memang sih di tangannya ada nampan penuh makanan siap disajikan. Tak lama dia kembali dan mengangkati piring dan gelas. See, berarti dia mendengar kan? Setelah itu dia memberikan daftar menu. Sampai kami selesai memilih menupun meja tak juga dilap. Kekasihku bilang, “Tuh ada lap, apa mo ngelap sendiri aja?” Hampir saja aku melakukan itu, tapi pas kutengok lapnya susah gak ada😀

Tak lama kemudian seorang pramusaji berseragam putih hitam (masih training) kupanggil. Tahukah apa jawabnya?

Ya, ya, ya!” Dengan nada tak sabar seperti berbicara pada anak kecil. Tapi dia tak datang, malah ke meja di belakangku. Kulihat wajah kekasihku sudah memerah, ini alamat gak bener ini! Maka aku memutuskan untuk pindah. Kekasihku segera ngeloyor keluar setelah aku bilang, “Udah, biar nanti aku yang marahin.”

Dan, begitu si mbak trainee ini ke mejaku, aku langsung menegurnya (pertama kali dalam hidup aku memarahi seorang pramusaji).

“Mbak, lain kali kalo menjawab yang sopan ya. Masa kamu jawab ‘ya, ya, ya’ dengan ketus begitu? Seperti ngomong dengan anak kecil saja.”

“Maaf Bu, soalnya sedang rame sekali,” potongnya. Wah, makin marah aku.

“Lho, saya tahu itu. Tapi kamu harus jawab dengan sopan dong, saya di sini bayar lho bukannya minta-minta! Kamu masih training kan? Nama kamu siapa, sorry ya tapi saya terpaksa melaporkan kamu ke manajer kamu (belagak liat name tag, padahal sekarang pun dah lupa😛 ). Kamu harus belajar sopan, sabar, bukan malah ketus begitu. Nih, saya gak jadi makan di sini, dan mungkin gak akan pernah datang ke sini lagi!” kataku sambil menyobek lembar pesanan hingga kecil-kecil dan meletakkannya di meja. Kuajak anak-anakku pergi. Si mbak pucat dan nyaris menangis serta berkali-kali meminta maaf. Sudah kumaafkan, tapi untuk kembali ke sana? No, thanks! Dan kamipun makan di Gokkana Teppan yang lebih profesional🙂

Aku tau kondisi di sana sangat ramai dan mungkin kekurangan tenaga. Tapi itu tidak berarti harus ketus bukan? Memang kulihat semua wajah-wajah pramusaji itu kelelahan, bahkan seorang pramusaji dengan cueknya membereskan piring lalu melempar-lempar sendok di bak cucian dengan nyaring, prang…prang… Duh, nyaman gak sih makan di tempat seperti itu?

Pelanggan adalah raja, itu duluuuu. Buatku pelanggan tak perlu diperlakukan sebagai raja, cukup diperlakukan dengan ramah dan sopan itu sudah membuahkan nilai plus! Nah, S*laria, sepertinya kau harus mendidik para karyawan dengan budi pekerti dan sopan santun😉 Atauuu, perlu nambah karyawan?

25 thoughts on “S*laria

  1. Tebak Ini Siapa Agustus 30, 2012 / 11:39 am

    Aku juga gak suka sama S*laria.
    Udah dua kali aku ke S*laria dan gak jadi makan di sana. Kan nunggu di depan, nunggu si mbak-mas waiter ngasih aku tempat duduk. Kok nggak ada yang nyamperin aku ya… Udah kupanggil-panggil, aku liat-liat. Beberapa mbak-mas waiter udah ngeliat aku, tapi ya ngeliat doang! Gak nyamperin gitu, ngeserve po piye ngunu. Bisa sih, aku pilih tempat duduk sendiri, tapi ntar jangan-jangan pas aku udah duduk dia gak nyamperin juga? Wew…
    Mending aku makan di tempat lain deh T.T

    Nek resto yang pake nama asing emang biasanya disamperin, Na. Ato malah yang tradisional sekalian. Tapi nek nanggung-nanggung gini ya golek kursi dewe😀

    • niqué Agustus 30, 2012 / 11:54 am

      Na, aku kalau ke resto itu gayanya udah SKSD aja. Langsung ke mejanya, ngambil kertas menu dan pensil. Begitu selesai pilih2, langsung panggil pelayannya, tak samperin tak gamit tangannya ke mejaku, kalau lambaian tanganku tak berhasil menggiringnya ke mejaku😀 selama ini cara ini masih sukses membuatku makan di sana.

      satu lagi, biasanya kalau sudah penuh pisan, aku memilih absen di resto itu, daripada naik darah hehehe …

      Sama, Jeng. Apalagi sampai nungguin orang makan, weks gak lah. Warteg juga sedap kok😀

  2. niqué Agustus 30, 2012 / 11:51 am

    eh saya tidak mengalaminya di resto itu mbak, tapi di P*zza Hu*
    wah gak ngenakin abis, lalu kutulis ya di fb nya, disuruh kirim email
    setelah aku kirim email, apa yg terjadi?
    GAK ADA😀
    Padahal email terkirim. ya sudahlah, males juga.
    dah ilfil, tapi mau boikot pizza itu susah, abis 2 ponakan punya favorit masing2.
    akhirnya ya aku cari pizza yg memang welcome dan pelayannya pun baik.

    betul kata mba Choco, memang pepatah lama bilang pembeli adalah raja, tapi kita juga ga mau kok diperlakukan kayak raja2, sing penting sopan dan ramah. Cukuplah. wong ke situ mau makan, bukan bikin tambah lapar hehehe dan untuk ini aku langsung ingat sama yang melayani kami di resto woku2 tempo hari, ramah pisanlah pokoknya😀 bikin nagih hahaha

    Positif thinking: emailnya masuk SPAM, Jeng😆
    Kadang kita memang harus mengalahkan ego demi anak-anak ya😀 Semoga si P*zza Hu* ini belajar dari pengalaman ya

  3. Imelda Agustus 30, 2012 / 12:55 pm

    hmmm itulah kenapa aku tidak suka makan di resto “sejuta umat”, mending minta delivery, makan di rumah. Nyaman bisa pake baju daster😀 Sayang sekali memang bisnis resto di Indonesia, dipikir karena semua BUTUH MAKAN, jadi pelayanan tidak diperhatikan. Kalau di sini jarang sekali ketemu hal-hal seperti itu. Bahkan kemarin ada acara TV yang meliput “monitor” restoran yang bertugas menilai restoran tersebut. Di sini begitu nilainya jelek, masuk TV, langsung bangkrut. NGERI! Mkanya mereka ramah2 terhadap pembeli, dan dari sononya emang udah ramah juga sih.

    Setuju, BuEm. Delivery emang paling nikmat😀
    Kalo di sini gak masuk TV, tapi masuk blog aja😛

  4. IbuDzakyFaiRaffa (@fitrianita13460) Agustus 30, 2012 / 1:42 pm

    wah ..saking sibuknya, pelayannya sampe gitu ya..ck ck ck ….malas sekali makan kalo dapat pelayanan seperti itu …

    Lebih baik langsung pindah resto lain saja😀

  5. Applausr Agustus 30, 2012 / 3:04 pm

    wah saya juga tidak terlalu suka dengan restaurant yagn satu itu.. terlalu ramai sudah banyak komplain mengenai mereka.

    tapi itu tergantung di pelayannya juga sebenernya mungkin sudah di training tapi kalau lagi sibuk ya judes deh…

    Seharusnya sesibuk apapun selama mereka bekerja di bidang jasa ya gak boleh judes ya, MasApp🙂

  6. marsudiyanto Agustus 30, 2012 / 3:23 pm

    Sudah menjadi kebiasaan di negara kita, pelayanan sangat dipengaruhi oleh situasi…
    Kalo lagi rame, pengunjung nggak mendapat pelayanan yang baik.
    Intinya tak pernah ada standar pelayanan, apalagi di tempat makan…

    Sayang ya, Om, itulah sebab kita kalah bersaing dengan resto buatan luar😦

  7. nh18 Agustus 30, 2012 / 6:54 pm

    Menurut pendapat saya …
    Jika ingin standart pelayanan tidak berkurang …
    Sang pengusaha harus menambah karyawan … atau paling tidak tenaga lepasan … kontrakan misalnya …
    supaya kejadian yang dialami bu Choco sekeluarga tidak kejadian …

    Pelayan juga manusia … (apa lagi masih trainee)
    Kadang kala lelah membuatnya emosional … sehingga melupakan tata krama … at least tata krama yang standart saja …

    Dan satu lagi kemungkinan … (tapi mudah-mudahan saya salah …) … ada yang kurang pas dari segi “remunerasi” nya … (entah telat … entah jumlah … entah janji yang tidak tertunaikan)

    Salam saya

    Mungkin lemburannya telat ya, Om😀

  8. Lidya Agustus 30, 2012 / 9:23 pm

    aku pernah mbak pesan di solaria udah 1 jambelumdatang pesanannya, setelah itu pelayannya datang tanya tadi pesan apa ya ,haloooo kemana aja tadi akhirnya aku minta uang kembali kesel aku bilang aku tulis loh dimedia akhrinya uangnya dikembalikan🙂

    Waduh, 1 jam? Kalo aku 30 menit aja pasti dah tak colek mbaknya😀

  9. sulunglahitani Agustus 30, 2012 / 9:34 pm

    “Pelanggan adalah raja, itu duluuuu. Buatku pelanggan tak perlu diperlakukan sebagai raja, cukup diperlakukan dengan ramah dan sopan itu sudah membuahkan nilai plus!” Bener banget, mbak.. disambut dengan senyuman saja sebenarnya sudah cukup buat kita sbg konsumen😀

    btw, saya kapok makan di resto tsb. Soalny prnah makan nasi gorengnya gitu, habis itu ga berhenti pergi k belakang. Entah apa yg salah, mungkin bumbunya yg berlebihan. Sjak itu ga mau lagi makan di sana dan selalu menolak kalau diajak teman makan di sana😀

    Jangan-jangan kemasukan sesuatu tuh:mrgreen:

  10. monda Agustus 30, 2012 / 9:57 pm

    Jarang banget makan di situ, bisa diitung jari deh berapa kali datang, bukan favoritnya anak2

    Fish and chip nya lumayan, BuMon😀

  11. Yuanita Okti Anggarini Agustus 31, 2012 / 3:47 am

    klo aku sih emg jarang kesana soalnya pasti pelayannya jutek2..
    mungkin gajinya kurang kali ya..padahal kerjaannya capek..hehehe
    btw mba choco, gmn caranya klo mau komen pake blog selain wordpress.com? *maklum agak gaptek*😀

    http://www.titaokti.com

    Hahahaha…moga-moga UMR yaa😀
    Bisa kok, isi URL nya dengan alamat blogmu, Say😀

    • Yuanita Okti Anggarini September 4, 2012 / 2:11 am

      beneran ga bisa mba..pilihannya cuma ada 3, WP, twitter, sm FB..
      ngubek2 kotak isian URL ga nemu2..😀

      Waduh, piye yo? Nanti tak tanyakan bojoku sik yaa😀

  12. umielaine Agustus 31, 2012 / 7:38 am

    kalo S*laria mah udah terkenal mbakkkk. pelayannya gak ramah, lambat, kadangkala nemu yang kotor juga. menurutku sih poinnya karena kurangnya pelayan. aku sampe mbatin, nih yang punya pelit amat sih, pelayan dikit, kerjaannya seabrek. udah lama aku nggak kesini, daripada kelaparan, mending cari yang lain. gokkana teppan enak juga ya? sayang di pekanbaru belum nemu.

    Iya sih, kayaknya keramaiannya tida diimbangi dengan jumlah karyawan. Sayang ya. Gokana Teppan fav nya anak-anak, Mi, lumayan siiy😀

  13. Myra Anastasia Agustus 31, 2012 / 8:47 am

    kirain cuma saya aja yg ngerasain kayak gitu ya.. Kekurangan yg paling nyebelin dr Solaria adalah pelayannya yg gak ramah. Dan kayaknya gak cuma yg lagi training aja mbak, tp semua pelayannya.. Udah byk Solaria yg saya datengin tp teteeeeuuuuppp sama aja kayak gitu pelayanannya..

    Bikin kapok ya, Jeng😦 Padahal aku juga seudah sering mengalaminya tapi di situ menunya variatif siy…

  14. fadecancer Agustus 31, 2012 / 10:34 am

    biasanya anak2ku yg suka makan disitu ,Mbak
    aku sendiri baru sekali aja nyoba makan disana, tapi ya kurang cocok dgn seleraku😦

    sebaiknya mungkin management resto itu, hrs menambah tenaga waiter/waitres nya , krn kalau rame, malah keteteran dan hasilnya jadi menyebalkan bagi para pelanggan….
    mereka kelelahan dan hilang kontrol…lantas lupa bahwa keramahan adalah bagian dr sebuah pelayanan…….
    salam

    Iya Bundo, sekarang mikir-mikir lagi kalo mo ke sana😦

  15. Orin Agustus 31, 2012 / 3:17 pm

    Aku udah lamaaaa bgt ke makan di situ bu Cho, emang udah kecewa stadium kecamatan *halah*. Semoga aja ada ‘level managemen’ sang resto baca trus melakukan perbaikan ya, kalo ngga kita doain rame2 aja biar cepet tutup *ups* hihihihihi

    Untung belum tingkat kabupaten ya, Orin wkwkwkw….Moga aja mereka mau membenahi diri🙂

  16. Emanuel Setio Dewo Agustus 31, 2012 / 9:53 pm

    Mungkin itu pelayan infaal

    Wkwkwkwkw…gak cuman baby sitter ato PRT ya😆

  17. Rawins September 1, 2012 / 12:39 am

    aku kurang suka kesana
    abisnya ga ada smoking area padahal aku bawa bayi. mereka yang ngerokok kadang ga mau tau kalo diminta matiin rokoknya. tau itu sudah jadi standar solaria atau cuma di jogja doang…

    Di beberapa tempat di Jkt, Bks ada smoking area nya, Mas, tapi ya gitu namanya sak ruangan ya tetep aja kesebar asepnya😀

  18. ilhammenulis September 1, 2012 / 8:03 am

    kalo saya gak pernah tega mbak.. padahal udah beberapa kali dapet perlakuan buruk di restoran.. tapi cuman bisa senyum aja :’)

    Aduuuh, sabar sekali kau, Nak😀
    Eh, tapi aku juga baru sekali kok. Kan demi perbaikan untuk mereka juga (ngeles😛 )

  19. helgaindra September 1, 2012 / 9:54 pm

    saya sering loh mbak negur mbak-mbak atau mas-mas pramu saji yang kerjanya gak profesional gitu.
    apalaghi kalo makanannya dateng telat banget pasti saya tegur.
    bodo amat lah orang saya bayar.
    hehehe

    Memang sebaiknya ditegur agar mereka pun mau memperbaiki diri yaa😀

  20. Zippy September 2, 2012 / 6:29 pm

    Wihiii, dahsyat bener ya pelayanannya😀
    Bagus tu mbak digituin, biar nyaho dan jadi pelajaran berharga.
    Syukur saya belum pernah makan disana.
    Lha di Jayapura emang belum ada Solaria, wkwkwk :))

    Wah, semoga gak pernah mengalaminya yaa😀
    Wah, dapat kawan baru dari jauh nih😀 Salam…

  21. Pengamat Sosial September 3, 2012 / 9:39 pm

    Kalau ramai memang mereka kalang kabut, namun harus profesional, menebar senyum dan berkata sopan.
    Pembeli memang bukan raja lagi sekarang jeng, mosok raja makan cari yang murmer.
    Saya juga gemar makan di Solaria lho.

    Selain itu, lain kali kalau makan di resto jangan menghitung uang di dompet di muka umum , apalagi di depan pramusaji.

    Salam hangat selalu

    Raja Ketoprak, Pakdee, nyari yang murmer😆
    Saya gak pernah ngitung duit di dompet lho, Pakdee, wong gak pernah bayar😀

  22. niauly Oktober 2, 2012 / 11:36 am

    saya termasuk yg sering makan di solaria mbak…soale suami udah kepincut sm masakannya…dan porsinya yg lumayan banyak…cuma emang itu…nunggunya ngga nahaaaan lamanya…..pelayannya memang kurang ramah..kelihatan sekali mrk seperti itu krna kecapekan…..sepertinya ngga seimbang antara pekerjaan dan gajinya….kasihaannn….

    Iya, Mam. Menunya cukup variatif. Apa kabar, Mam?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s