Lukisan Cinta, Episode 16

Baca kisah sebelumnya dulu yaaa😉

Senja kian memerah dengan semburat-semburat jingga dan kelabu. Agung memandangi mentari emas yang dengan perlahan namun pasti mulai ditelan samudera yang menghitam. Kedua tangannya terselip di saku jeans, wajahnya seperti biasa, tanpa ekspresi dengan kedua alis hitam yang nyaris bertaut. Lekuk dagunya semakin kentara ketika bibirnya merapat. Namun siapa sangka hatinya kini tengah galau? Sudah hampir tiga minggu ia tak melihat Sandra. Sebelum itu, hampir setiap hari ia melihat gadis itu berjalan menyusuri pantai. Kadang sendiri, sesekali dengan Ningrum, atau bahkan dengan lelaki berwajah buaya itu. Ke manakah perginya Gadis Kota yang telah mengusik hatinya itu? Sakitkah ia? Atau marah karena peristiwa malam itu? Sesaat Agung berdebar membayangkan malam itu. Tak mungkin Sandra marah, karena ia pun membalas ciumannya. Lalu mengapa ia menghilang begitu saja? Bahkan Ningrum pun tak tahu kemana Gadis Kota itu pergi.

Kini mentari telah benar-benar tenggelam. Agung menendang ombak kecil yang menjilat mata kakinya. Setengah marah setengah merana. Marah pada dirinya sendiri karena ia hanya seorang nelayan sementara gadis itu begitu modern dan terpelajar. Merana karena tenyata ia telah jatuh hati padanya. Agung meninggalkan pantai dengan hati hancur. Persetan dengan Sandra! Toh ia takkan pernah bisa mendapatkannya, kecuali bila mentari telah terbit dari Barat!

Sementara itu, ratusan kilometer dari tempat Agung berdiri, Sandra tengah bersandar di tepi jendela kaca. Melihat jalan Rasuna Said yang dipenuhi antrian mobil-mobil yang nyaris tak bergerak. Iapun tengah melihat lautan yang berbeda dengan laut milik Poseidon. Lautan di sini tak ramah, meski laut Poseidon pun pernah tak ramah padanya, namun setidaknya menjanjikan cinta dan kehangatan.

Sandra menghela napas panjang. Dari ruang meeting di lantai dua belas ini, ia sedang menantikan Aryo. Pukul tujuh nanti mereka akan menerima team Wedding Organization yang telah ditunjuk oleh kekasihnya itu. Alunan music lembut dari speaker semakin membuat Sandra merana. Mengapa ia makin tak yakin dengan pernikahan ini? Karena Agung kah? Atau karena Aryo yang semakin sibuk dengan dunianya? Ah, dari dulu pun Sandra tahu Aryo tak selalu ada untuknya. Tidak, bukan karena itu! Karena ciuman itukah? Sandra meraba bibirnya, ah sebuah kekeliruan yang indah, batinnya. Posedionku, sedang apakah kau di sana?

Pintu terbuka, suara kekasihnya membahana mendominasi seluruh ruangan sepi ini.

Babe, mereka telah datang. Sorry Hon, membuatmu menunggu terlalu lama,” kata Aryo lalu mengecup pipi Sandra sekilas. Sekelompok pria dan wanita mengikuti Aryo yang lalu menyilakan mereka duduk mengelilingi meja meeting.

“Kenalkan Hon, ini Benny temanku sang pemilik WO, Santi, Susan, dan Rudi. Guys, ini Sandra, calon ratuku,” ujar Aryo mengenalkan mereka pada Sandra. Gadis itu menjabat tangan mereka satu persatu. Benny bertubuh tegap dan berwajah tampan, namun entah mengapa Sandra yakin seratus persen bahwa pria ini seorang gay. Santi dan Susan berdandan modis minimalis, menyenangkan sekali melihat mereka. Sementara Rudi adalah seorang banci sejati dengan gayanya yang melambai dan kemeja merah jambunya. Sandra mengikik dalam hati melihat tampang-tampang mereka.

“Nah, Sandra, konsep pernikahan seperti apa yang kau inginkan?” Pertanyaan Benny mengejutkannya. Konsep? Oh, bahkan ia sama sekali belum mempunyai ide apa-apa. Sejenak ia melongo. Tangan Aryo yang sejak tadi berada dalam genggamannya meremas jemarinya.

“Eh, oh, err sudah ada ide di benakku, tapi barangkali kalian punya contoh yang sudah ada?” elak Sandra. Rudi segera menyambungkan laptopnya ke proyektor. Segera muncul di layar berbagai tema untuk pernikahan. Sandra jemu melihat semuanya, rasanya sudah sangat umum dan sering ia mengunjungi pesta semacam itu. Pesta kebun, kolam renang, resto mewah, hotel, kapal pesiar bahkan yang ekstrim sekalipun seperti menikah sambil menyelam, terjun payung, arung jeram.

Ah, Sandra membayangkan pernikahan di atas perahu kayu berwarna biru. Melaju dengan lembut di tengah samudera di bawah bulan bulat. Dan para tamu berdansa diiringi debur ombak dan desir angin. Sementara sang pengantin pria yang berkulit sewarna madu memeluknya erat. Bibirnya tersenyum, lengannya yang begitu kokoh menjanjikan perlindungan.

Honey, Babe, jadi bagaimana? Heii, kok malah senyum-senyum sendiri?” Tegur Aryo mengagetkan. Sandra tergagap, pipinya merah merona.

“Sorry, Hon. Err….semuanya tampak mempesona. Kalau kau suka yang mana?” Sandra meremas tangan Aryo.

“Hmm, entahlah, seperti katamu semua bagus. Nah, kau saja yang memilih.”

Sandra menghela napas panjang. Hatinya berdebar tak karuan mengingat apa yang berkelebat di benaknya barusan. Sementara Benny mulai berceloteh tak karuan.

“Kata Aryo kau suka pantai, San? Kalau aku usul kau bisa berpesta dengan kapal pesiar. Lanjut dengan honey moon di tengah samudera. Wow, amazing! Pernikahan yang indah bukan?” Usul Benny. Kau bisa membaca hatiku, Ben? Sayangnya aku tak ingin yacht, aku hanya ingin perahu nelayan berwarna biru. Oops!

“Boleh juga. Gimana Babe, kau setuju?” Tanya Aryo. Sandra memandang kekasihnya dengan perasaan sedih dan bingung. Namun ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Aryo berseru puas.

Begitu Sandra mengangguk, Benny langsung mempresentasikan konsep pernkahan mereka. Sandra tak lagi bisa berkonsentrasi. Benaknya dipenuhi peperangan batin. Aryo, sungguh aku mencintaimu. Tapi mengapa penikahan ini terasa begitu membingungkan? Aku tak siap menikah denganmu. Aku tak siap menikah dengan siapapun! Aku hanya ingin sendiri. Sandra mencoba menahan air mata yang siap menetes.

Pertemuan itu selesai hampir pukul sembilan malam. Kemacetan telah terurai meski masih padat. Sandra memandang keluar jendela, mencoba mengalihkan perhatian dari lirikan kekasihnya.

“Sebenarnya ada apa denganmu, Hon? Sejak tadi kau kurang konsentrasi, seperti ogah-ogahan dengan pertemuan tadi,” ujar Aryo sedikit menegur. Sandra menelan ludahnya.

“Aa..ku gak apa-apa kok. Hanya…err sedikit tegang menghadapi pernikahan kita, Babe,” elak Sandra sambil menyentuh punggung tangan kekasihnya yang sedang menyetir.

“Tegang? Yah, memang menegangkan, Sayang. Waktu kita kurang dari delapan bulan lagi. Tapi kau tak usah kawatir, aku janji semuanya akan baik-baik saja,” hibur Aryo yang mengira Sandra cemas akan rencana pernikahan mereka. Sandra menghela napas panjang.

“Babe…,” panggil Sandra lirih. Kekasihnya menoleh lalu tersenyum.

“Hmm…,” sahutnya.

“Cintakah kamu padaku?”

Aryo tertawa, sebelah tangannya yang bebas menggenggam tangan Sandra.

“Pertanyaan aneh, tentu saja aku cinta padamu. Kalau tidak, untuk apa rencana pernikahan ini?”

Sandra tersenyum sedih. Akupun mencintaimu, Sayang, tapi mengapa perasaanku begini aneh?

“Kalau sampai…err… pernikahan ini batal, apa yang akan terjadi?” Keluh Sandra.

“Batal? Mengapa bisa batal? Ah, sudahlah, kau tak perlu ragu atau berpikir yang tidak-tidak, Honey. Kuulang sekali lagi, aku janji semua akan baik-baik saja. Okay? Kita akan segera menikah, lalu tak lama lagi kau akan hamil dan kita akan mempunyai banyak anak yang lucu-lucu. Nah, kau tak ragu lagi bukan?”

Sandra menggeleng, dihapusnya air mata yang entah kapan turun membasahi pipinya. Aryo meraih Sandra dan mendekapnya dengan satu tangan. Sandra mengutuk Poseidon yang telah memutarbalikkan hidupnya. Aku akan menikah dengan Aryo yang baik dan segera punya banyak anak. Enyah kau, Poseidon! Aku mencintaimu.

*********

Pokoknya kalo belum 100 halaman, berarti masih to be continued:mrgreen:

Ohya, gambar minjam dari Google😉

13 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 16

  1. yustha tt September 11, 2012 / 11:26 pm

    Paling suka kalimat pink di bawah… ^^
    semangat Sist!! Besok kalo udah jd novel jgn lupa aku dikirimi yaa..,

    Hehehehe…baru uji coba kok, Jeng😀
    Amiieen, doain yaa, nanti kalo berhasil tak kirimi sing akeh😀

  2. Lidya September 11, 2012 / 11:26 pm

    akhirnya nongol juga nih lanjutan ceritanya mbak:). hmmm masih menggantung ya apakah pernikahan arto dan sandra akan terus atau batal. gak ada clue nih mbak?🙂 btw smsku sampai kah mbak?

    Gak ada, Jeng. Lha aku aja masih bingung jeh😳
    Lom nyampe lho, Jeng. Jangan-jangan salah nomor?

  3. Wong cilik September 12, 2012 / 12:01 am

    tulisan sebelumnya di password ya mbak. limited edition donk …😀

    Gak limited sih, cuma agak dewasa dikiiit😛
    Dikau masih “cilik” to? Hehehehehe…..
    (kalo memang ngikuti nanti saya kasih password nya🙂 )

    • Wong cilik September 13, 2012 / 1:26 am

      ya sudah, saya nikmati yg nggak di pasword dulu, sambil nunggu saia besar … ha.ha.ha.

      Nanti kalo dah akil balik ke sini lagi yaa😆

  4. umielaine September 12, 2012 / 12:40 pm

    brarti sekarang sudah halaman ke berapa mbak? hehehehe.
    kebayang banget deh aryo ni, orangnya hectic banget.
    gOod job mbak!.

    Maklum, pengusaha, Mi😀
    Waaa, baru 60 halaman, masih jauuuuhhh hiks…

  5. kabutpikir September 12, 2012 / 1:33 pm

    Jangan seratus dong, Mbak….
    1000!!! hehe….

    Waduh, 100 hal aja udah berkabut gimana 1000 ya, Kang?😦

  6. Imelda September 12, 2012 / 2:11 pm

    hmmm asyik pula, dna pasti bisa lebih dari 100 halaman nih😀

    Lebih-lebih dikiiiiiit😀

  7. fadecancer September 13, 2012 / 9:32 am

    buruaaaan dunk jadiin buku ini cerita ,Mbak Choco
    jadi bunda bisa langsung baca dari awal sampai akhir…. ( penasaran akut)😛

    pokoknya begitu bukunya terbit, bunda langsung dikasih tau ya , dah pasti langsung pesen dua buah .🙂
    satunya buat koleksi sendiri, satunya lagi buat kasih kado ….
    salam

    BundoLy, penyemangatku😀 Kalo terbit aku kirimi, gratis! Makasiy, Bun…

  8. prih September 13, 2012 / 7:43 pm

    Lanjut Diajeng, perwajahan novel sudah membayang nih, siap menanti terbitan perdananya. Salam semangat.

    Wah, ndak pede, Mbakyuu. Paling jadi e book lagi hehehehe….

  9. Orin September 18, 2012 / 12:45 pm

    Hoalah…aku kok kelewat baru baca episod inih.
    “Psstt..jangan nikah sm Aryo San, ga ada yg bisa ngalahin Poseidon lho!” *devil mode : ON*

    Qiqiqiqiqi… jangan-jangan malah sama Frans entar, oohhh noooo…..

  10. ~Amela~ Oktober 19, 2012 / 10:37 am

    Sandraaa.. jangan sia2kan mas aryo yang baik dan tajir ituuu.. nanti diembat orang lho.. hehehe

    Yang ngantri ampek Monas padahal, Mellaa😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s