Kesurupan

Menjelang tengah hari kok tiba-tiba membayangkan rujak Yu Minah yang pedes seger itu ya? Kebetulan hari ini aku gak masuk kerja karena gak enak body, maka akupun meluncur ke warung Yu Minah. Siapa tahu setelah menyantap rujak seger itu keadaanku menjadi lebih baik😀

Setelah menyerukan salam dengan merdu serak-serak becek, aku segera duduk di bangku favorit.

“Lho, tumben ndak ngantor, Jeng?” Tanya Yu Minah keheranan.

“Lagi gak enak badan, Yu. Buatkan rujak ulek ya, pedes tapi gak banget, banyakin nanasnya,” sahutku. Yu Minah tertawa kecil sambil mulai meramu bahan rujak.

“Ndak enak badan kok ngepas Senen to, Jeng? Kapan hari itu kok ya pas hari Jumat, kadang malah pas hari kejepit,” godanya. Hih, kalo gak ingat rujaknya yang tiada duanya ini aku dah males aja ke sini. Tanpa meladeni godaannya aku mengambil surat kabar langganan Yu Minah, Mbogor Minggir Dikit Pos. Head line nya menarik dengan judul “KESURUPAN MASSAL”. Weits, mulai lagi, nih!

“Wah, kesurupan massal lagi nih, Yu? Dulu sempet ngetren trus ngilang eh ini ada lagi.”

“Hush! Kesurupan kok tren? Ini serius lho, Jeng, urusannya sama dunia lain. Kalo ndak ati-ati bisa-bisa sampeyan yang kena lho, amit-amit nuwun sewu, Mbah,” ujar Yu Minah bisik-bisik, seolah ada yang mendengar. Aku tertawa geli.

“Mbah siapa, Yu? Mbah Surip?”

“Sssstttt, sembrono! Sampeyan ini sembrono tenan, Jeng?” Hardik Yu Minah. Aku makin geli melihat wajahnya yang seperti orang kebelet sesuatu.

“Jadi sampeyan percaya, Yu, kalo anak-anak sekolah ini kesurupan bener?”

“Lho, ya sudah jelas gitu lho! Katanya di sekolahnya baru nebang pohon ndak permisi, ya penghuninya kabur to, lalu nemplok ke anak-anak ini. Buktinya habis didoain dan disembur langsung pada sembuh anak-anak itu, ” jelas Yu Minah sambil menggilas gula jawa dengan tenaganya yang “wow”.

“Kalo saya gak percaya, Yu. Itu histeria massal, dimulai oleh seseorang lalu lainnya tersugesti untuk melakukan hal yang sama, teriak-teriak, meronta, memang sih orang mengenalnya dengan kesurupan,” jelasku.

“Eehh, sampeyan ini jangan keminter, wong jelas-jelas gara-gara nebang pohon kok! Lha kalo bukan gara-gara –nuwun sewu, mbah– makhluk dunia lain lalu apa?”

“Gini lho Yu, coba perhatikan biasanya yang kesurupan itu remaja perempuan atau wanita muda kan? Karena apa? Karena perempuan itu lebih labil, lebih mudah tersugesti dan histeris. Nah, umumnya si pelaku utama kesurupan itu ada beban atau kecemasan luar biasa yang ditekan di bawah sadarnya. Ketika dia sudah tak mampu lagi menahan, kecemasan itu bisa meledak di luar kendalinya. Ya itu, teriak-teriak, atau bahkan bisa keluar suara yang bukan suaranya, seperti suara laki-laki atau bahkan suara mbah-mbah,” jelasku. Yu Minah melongo.

“Itu ilmu darimana, Jeng? Sejak jaman dulu, kalo ada orang suaranya berubah lalu minta kopi atau rokok atau apa, itu namanya kesurupan!”

“Itu kepribadian gandanya nongol, Yu! Kadang seseorang yang sangat tertekan atau depresi berat, bisa melahirkan pribadi lain di mana ia bisa menyembunyikan dirinya di situ. “

“Ah, ngawur! Lalu kok bisa anak-anak lainnya ikut teriak-teriak gitu?”

“Seperti kubilang tadi, tersugesti. Anak-anak lain yang mempunyai tekanan jiwa yang sama, biasanya ikut tersugesti untuk melakukan hal yang sama. Itu namanya histeria massal.”

Wis jan, sampeyan ini, coba nanti sore saya tak nanya Pak Ustad, bener ndak ocehan sampeyan ini. Memangnya anak sekolah itu punya beban apa yang sampai bikin histeris gitu?” Tanya Yu Minah sambil memotong-motong buah dengan kecepatan seorang ninja:mrgreen:

“Lho, kita mana tahu, Yu? Mungkin beban pelajaran yang terlalu berat, tuntutan menjadi yang terbaik, atau ada masalah di rumah, atau baru putus dengan pacar. Kalo wanita dewasa biasanya masalahnya lebih kompleks, apakah masalah ekonomi, sosial, keluarga,” jelasku.

“Ah, kalo memang cuma masalah kejiwaan kok bisa terjadi di mana-mana bahkan lain pulau segala?”

“Itulah peran TV, Yu, koran, radio. Jadi bisa ditiru. Coba TV gak nyiarin yo gak nular ke mana-mana dalam waktu yng berdekatan begini, Yu.”

“Pokoknya saya ndak percaya sama sampeyan, Jeng. Itu akibat nebang pohon tanpa slametan, ndak permisi dulu!” Yu Minah masih ngeyel saja. Ia mulai membungkus rujakku. Akupun segera menyodorkan uang.

“Ya terserah sampeyan, Yu. Tiap orang boleh memilih mana yang diyakini kok, sama kayak sampeyan yang meyakini kotak-kotak to?” Godaku. Yu Minah tersipu.

Tanpa menggodanya lagi aku segera meninggalkan warung Yu Minah. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara Yu Minah berteriak-teriak. Dengan terkejut aku segera berbalik.

“Yu…Yu… kenapa, Yu? Ada apa? Sampeyan kesurupan?”

“Welhadalah, bukaaaaan, Jeng, mata saya kecipratan sambeeelll, aduuh pedessss,” teriak Yu Minah kalang kabut mengusap matanya dengan lengan daster kotak-kotaknya.

“Ooo, tiwas mau tak gebyur air jeh, aku kira kesurupan,” godaku cekikikan.

“Lhadalaaaahh, disembur, Jeeengg, bukan digebyuuuuurrr!”

:mrgreen: :P:

12 thoughts on “Kesurupan

  1. Wong Cilik September 17, 2012 / 8:44 pm

    Daster kotak-kotaknya Yu Minah wajib dipakai terus sampai tanggal 20 kali ya, biar ada perubahan …😀

    Pssst, Yu Minah punya satu yang ada kumis kecil di setiap kotaknya lho, Mas😆

    • niqué September 18, 2012 / 5:49 am

      asemnya kayak apa tuh klo dasternya dipakai terus sampai tgl 20 hahaha

      Sstt, jangan bilang Yu Minah kalo saya yang crita yo, Jeng. Yu Minah itu punya daster kotak-kotak sak lusin! Rupa-rupa warnanya pula. Ada yang biasa, model bat wing, model you can see (everything), long dress, malah ada yang mini segala, lho:mrgreen:

      • niqué September 18, 2012 / 12:42 pm

        saya kok gak bisa mbayangin yg model you can see everything itu ya mbak … modelnya kayak apa gerangan?😀

        Itu kalo lagi gak dipake, Jeng, alias Yu Minah lagi mandi😆

  2. Lidya September 17, 2012 / 9:33 pm

    bener ya mbak kesurupan masal kebanyakan perempuan apalag anak2 sekolah itu masih labil. sebagai contoh mungkin mereka kosong jadi mudah terbawa

    Iya, jiwa labil yang perlu pendampingan dan kesabaran orang tua dalam mendidiknya😦

  3. Applausr September 17, 2012 / 11:36 pm

    ternyata jadwal bolosnya sama seperti diriku ga senin ya jum’at bener bener deh…

    saya paling suka cerita yuk minah ini…

    Lho, aku gak bolos, MasApp, sakit beneran kok:mrgreen:

  4. niqué September 18, 2012 / 5:50 am

    hehehe wallahu’alam sih apa penyebabnya
    pernah nemuin langsung kasusnya tapi gak tau juga penyebabnya😀

    Pembantu sobatku pernah kesurupan juga, selidik punya selidik ternyata baru putus cinta😛

  5. Emanuel Setio Dewo September 18, 2012 / 9:20 am

    Disembur pake rujak, lha tambah kepedesan, hehehe…

    Hehehehe… gebes-gebes😆

  6. Pakde Cholik September 18, 2012 / 11:36 am

    Kesurupan merupakan istilah sejak jaman dulu kala dan berlangsung hingga kini dan mungkin sampai nanti. Anehnya masyarakat masih mempercayai hal2 ghoib ya jeng.
    Di Jaman internet ini katanya..katanya lho ya..blog yang lumuten dan banyak sarang laba-labanya jangan dkunjungi karena menjadikan kita kesurupan.

    Salam sayang selalu

    Wkwkwkwkwk….singit ya, Pakdee😆
    Blog saya biar jarang dikunjungi tapi sering disembur lho, Pakdee, jadi aman😆

  7. fadecancer September 18, 2012 / 11:57 am

    iya ya Mbak Choco , ini kok ya ngetrend lagi anak2 sekolah kesurupan, massal lagi …hedeh…hedeh…🙄
    kayaknya guru BP perlu tambahan tenaga ini, biar bisa lebih fokus menangani masalah anak2 sekolah ini

    Mbak Chocoooooooooooooo……..
    tanggung jawab dong akh, tiap kali cerita rujaknya Yuk Minh, sukses bikin bunda ngiler sampe ngencessss…..😦
    mbok ya dikirimin kesini sebungkus , ato Yuk Minah suruh keliling aja dagangnya, jangan mangkal disana terus…. hahaha…🙂
    ( maksadotcom) 😀😀😀
    salam

    Kapaaaaan yaa ada kesempatan ngerujak ama BundoLy, tak perlu rujak Yu Minah, tujak buatanku juga enak lho, Bun😳

  8. Orin September 18, 2012 / 12:17 pm

    Lho? bu Cho ga ikutan tersugesti untuk kemasukan sambel jg tah? qiqiqiqi

    Hihihihihi…. gak ah, aku kan gak menyembunyikan beban berat, Say:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s