Iseng Aja · Nimbrung Mikir

BBM vs WhatsApp

Sore nan cerah cenderung panas. Telepon di mejaku berbunyi. Ouh, rupanya dari customer lama sebut saja namanya Miss. N, mo ngasih kerjaan nih. Uhuiii…. πŸ˜€Β  Setelah berbasa-basi, yuuk simak percakapan menarik ini, Kawan.

“Mbak Choco, BB nya dah gak aktif ya? Kok status gak berubah?” Tanyanya.

“Oh iyaaa, BB ku jatuh dan hancur lebur.”

“Waduuuh, sayang bangeeet. Kasih aku PIN yang baru dong.”

“Hehehhe, aku sudah gak pake BB, Jeng,” sahutku.

“Helloow, hari gene gak pake BB?” Ujarnya dengan nada merdu. Aku pun membalas dengan suara yang tak kalah merdu dengan nada dasar C diiringi alunan seruling bambu.

“Ooowwhh, pliz deh, hari gene masih pake BB?”

:mrgreen: πŸ˜› evilgrin0039 Free Emoticons   Evil

Untuk sekedar chat, aku sudah menemukan yang baru selain BBM. WhatsApp! Yeah, dengan fungsi yang sama dengan BBM aku gak perlu mengeluarkan uang lebih. Jika sekedar BBM an, aku perlu merogoh kantong 50 ribuan untuk mendapatkan fasilitas chat and gaul, yang isinya BBM, FB, twitter, YM, mmm apalagi ya? πŸ˜€ Kalo mo email dan browsing ya musti beli paket full service yang harganya 100 ribuan itu.

Kalo mo pakai WAM cukup mengaktifkan paket data yang 25 ribu saja untuk sebulan. Sudah bisa chatting berbagai gaya, browsing, email, bahkan blogging! Serunya jika kau menggunakan Nokia, kau bahkan tak perlu membeli paket data. Asal ada pulsanya dijamin bisa pakai WAM. Promo Nokia ini berlaku setahun. Cool kan? Maklumlah, emak-emak kan musti berhitung innocent0007 Free Emoticons   Innocent

Chatting dengan WAM tak kalah seru kok dengan BBM. Bisa bikin group, kirim gambar, bikin status, wis apa aja yang kau lakukan dengan BBM bisa juga dengan WAM. Bahkan emoji lebih banyak dan lebih lucu πŸ˜€ Emang siy BBM terasa lebih privacy karena harus mengetahui PIN untuk bisa chatting. Sedangkan WAM hanya dengan mengetahui nomor telepon saja. Tapi kita kan juga gak sembarangan memberi nomor telepon ya? Hanya kepada orang-orang tertentu saja kita memberi dan bertukar nomor telepon. Jadi yaaa, sama aja privacy nya to? Kalau gak mau kelihatan pakai WA bisa diblokir juga kok nomor yang kita hindari :mrgreen: Bahkan dengan WA kita gak susah jika berganti ponsel. Beda dengan BB yang pasti PIN nya juga berubah dan yah hanya bisa pakai blackberry semata to? πŸ˜›

Mari kita lihat tampilan WA yang menarik ini πŸ˜€ Yuuukk….

Lanjutkan membaca “BBM vs WhatsApp”

Iseng Aja

Gratis!

Mendapat gratisan yang enak-enak tentu saja enak ya πŸ˜€ Kenapa yang enak-enak? Karena kebanyakan gratisan itu gak enak lho. Di Jakarta dan sekitarnya itu banyak gratisan yang gak mengenakkan. Bau sampah gratis yang hawer-hawer (opo jal?) tercium dari Bantar Gebang, asap gratis produksi bus Maya Sari Bakti (eh, masih ada gak ya?) ato bus-bus lain yang astaganaga itemnyaa, irama membahana bajaj gratis juga lho. Lha nek udah gak enak masih disuruh bayar kan kebangetan ya, Bro! Eeh, tapi ada lho! Air PDAM yang item itu aku masih disuruh mbayar, listrik byar pet tapi tarifnya kok merangkak naik, tol macetnya udah kayak jalan darat kok masiiiih aja suruh mbayar. Ck…ck…ck…

Tapi hari Kamis lalu aku mendapat gratisan yang menyenangkan, Kawan. Ceritanya ketika pulang kudapati mata kanan Cantik semakin memerah (malam sebelumnya emang udah bersemu merah). Waduh, sakit mata nih. Tapi Cantik gak mau kubawa ke dokter. Maka aku diantar kekasihku menuju apotek terdekat di sekitar kompleks. Sebetulnya apotek ini sekaligus praktek dokter, sayangnya Cantik gak mau sih. Padahal aku agak ragu, cukup mengertikah nanti si Nona penjaga apotek tentang obat sakit mata anak-anak? 😦

Sesampai di dalam, hanya ada seorang Bapak yang melayani, biasanya seorang nona dan nyonya πŸ˜€

“Ada obat tetes mata untuk anak-anak, Pak?” Tanyaku.

“Ada. Kenapa matanya, Bu?”

“Agak merah, cuma sebelah sih.”

“Belekan, gatal atau bengkak gitu?”

“Oh, gak sih, hanya merah aja.”

Si Bapak lalu mencari-cari obat yang pas.

“Untuk anak-anak sih, Pak,” kataku kuatir Si Bapak mengambil obat yang salah.

“Kalau obat mata sama aja kok untuk anak atau dewasa, bahkan bayi. Hanya dosisnya saja yang berbeda.”

“Ooo, anak saya 8 th,” kataku masih ragu.

“Wah, itu sih sudah gak dianggap anak lagi, anak itu hitungannya kalau masih balita,” ujar Si Bapak. Aku tertawa saja. Tahukah kau Pak, bagi seorang Ibu, meski kelak anaknya sudah bisa bikin anak dan beranak, selamanya akan tetap dianggap anak-anak :mrgreen:

Lalu Si Bapak masih menanyakan hal-hal klinis seputar sakit mata Cantik barulah memberi tahu dosis tetes yang harus diberikan. Lama-lama aku curiga deh! Maka aku pun bertanya.

“Err, Bapak ini dokter ya?”

“Iya, Bu.”

O lala, saya dapat konsul gratis nih!” Seruku spontan dan jelas malu-maluin. Si Pak Dokter tertawa.

“Ibu belum pernah berobat ke sini ya?”

Memang belum pernah. Biasanya aku ke mari jika ingin membeli obat saja πŸ˜€

Nah Kawan, inilah yang kumaksud gratis dan enak! Dapat konsultasi dokter gratis buat Cantik πŸ˜†

Maka tanpa ragu seperti sebelumnya, kuobati Cantik dengan obat tetes tadi. Keesokan harinya mata Si Cantik sudah jernih kembali, berkilau seperti bintang-bintang di malam hari πŸ˜€

Makasiy, Pak Dokter πŸ˜€

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Rindu Hujan

Tanah yang kuinjak ini meretak, membentuk bongkah-bongkah keras. Sementara debu dan pasir halus berbaur membentuk angin yang berputar-putar. Terpaksa kututup hidung dengan sapu tangan yang telah basah karena keringat. Tak kujumpai sedikitpun hijau di tanah ini. Semua kering dan mati. Ah, mengapa dia memintaku datang kemari?

Aku berteduh di satu-satunya pohon yang ada, yang telah meranggas. Panas matahari nyaris melelehkan isi kepalaku. Namun aku mencoba bersabar, menunggu dia yang yang kurindu. Yang telah pergi ke negeri seberang bertahun lamanya. Meninggalkan retakan di hati yang bahkan sebagian telah pecah. Masih kuingat akan janjinya untuk kembali menjemputku.

“Aku akan menjemputmu Sayang, setelah aku bisa membuktikan pada orang tuamu aku memang layak untukmu,” katanya waktu itu.

“Lamakah kau pergi?” Tanyaku sedih.

“Semoga tidak. Aku hanya ingin kau ada ketika aku kembali.”

“Aku akan selalu ada untukmu.”

Dan, inilah aku. Meski dia pergi bertahun lamanya tanpa kabar berita, aku masih setia menunggu. Bodoh? Yah, aku bodoh karena dia. Tapi aku tak menyesal, karena aku tahu dia pun akan setia padaku. Ini buktinya, dia memintaku datang hari ini di sini, di padang tempat kami memadu janji. Dia bilang akan memebrikan kejutan indah untukku. Ah, rinduku yang tak pernah habis ini kurasa persis seperti bongkahan tanah yang merindu hujan. Atau seperti pohon tua yang setia menanti rinai mengguyur. Inilah rinduku, abadi, dan tinggal selangkah lagi untuk terpuaskan.

Kudengar langkah kaki di belakangku. Tapi mengapa langkah itu begitu riuh? Seperti lebih dari satu orang? Aku menata jantungku yang seperti bongkahan tanah ini, kering, siap menunggu guyuran hujan. Perlahan aku membalikkan tubuh.

Lelaki itu, kekasihku itu, masih tampan, masih gagah, meski gurat di wajahnya terlihat dari kejauhan, meski jalannya sedikit terseok. Kurasa rambutku yang memutih pun tak membuatnya pangling. Ia berusaha berlari, sementara aku berjalan mendekatinya meninggalkan pohon meranggas ini.

Lalu kami berdekatan. Dia menyalamiku (mengapa tak memelukku?), menepuk bahuku dengan bahagia. Jutaaan tahun yang memisahkan membuatnya enggan memelukku? Lalu dia menarik seorang gadis remaja yang baru kusadari keberadaannya.

“Kenalkan Sayang, ini cucuku, kejutan yang kujanjikan untukmu,” katanya riang.

Dan hatiku yang telah meretak bertahun lamanya langsung pecah. Pecah. Pecah. Seperti tanah yang rindu hujan.

Nimbrung Mikir

Metamorfosa Hero

Menyambut undangan Bunda Niken untuk menuliskan pengalaman pribadi From Zero to Hero, maka akupun nekat mengisahkan masa laluku uhuk…uhuk… sick0026 Free Sick Emoticons Tentu saja menjadi hero untukku sendiri lho, kalau menjadi hero untuk orang lain kan ndak boleh ngomong-ngomong, nanti dikira sombong Eh, tapi kalo berhasil nyomblangin kawan itu termasuk hero gak ya? Secara aku sudah pernah dua kali menjadi mak comblang yang membuahkan pernikahan dan kebahagiaan. Sementara untuk yang ketigakalinya gagal total karena “comblang makan tanamaninnocent0007 Free Emoticons   Innocent

Dulu, aku adalah pribadi yang tidak mandiri (persis kayak Jeng Dewi yang lagi memendam rindu). Sejak SD sekolah selalu diantar, setidaknya langganan becaklah. Kalaupun tidak, pulang sekolah harus menunggu Mbakayune di SMP (she is the real hero!love0085 Free Emoticons   Love ), karena kami bersekolah di sekolah yang ada TK, SD, dan SMP nya. Bahkan sampai mendaftar kuliah pun diantar ortu ashamed0002 Free Emoticons   Shame Enggak bangget ya? Setelah mendaftar, Ayahanda segera mencarikan kost yang jaraknya hanya selemparan sendal jepit ke kampus. Alias di samping kampus :mrgreen: Jika Sabtu tiba, Ayahanda akan menjemput pulang ke Semarang dan tentu saja aku membawa cucian seminggu. Astagaaaa, jika mengingat itu sungguh malu diriku. Padahal Mbakayune melanjutkan SMA di Yogya bersama MbahKung dan MbahTie. Dan betapa mandirinya dia, berprestasi, dan tegar! That’s why dia begitu sukses meraih puncak karir πŸ˜€

Nah, ternyata kecengenganku sudah keterlaluan, sehingga Tuhan memberi cobaan. Menginjak semester tiga, Ayahanda terserang stroke! Maka keadaan pun berbalik 180Β°! Dari hidup serba enak menjadi serba prihatin. Perjuanganku paling awal adalah ketika harus pindah dari kost dan bergabung bersama Mbakyune di rumah MbahKung. Dan itu Kawan, sangat jauh dari kampusku! Aku harus berjalan kaki, lalu naik bus 3x baru sampai kampus. Ugh! Dan setiap Sabtu aku dan Mbakyune pulang naik travel ke Semarang. Kalo gak dapat, maka harus naik bus! Maka bakat kami berdua yang pemabuk pun mulai tergali πŸ˜€ Dan semua itu akhirnya harus kujalani sendiri karena Mbakyune yang tiga tahun lebih tua dariku telah lulus kuliah dan bekerja di Ibukota. Hiks…hiks…

Dan menjelang akhir kuliah, setiap bulan aku harus mengambil darah MbahKung untuk dibawa ke RS periksa gula. Karena MbahKung tercinta sudah tidak mungkin lagi pergi sendiri ke RS. Aku bukan calon dokter, Kawan. Tapi setiap bulan aku harus “menusuk” MbahKung untuk ambil darah. Hiks…. dengan meringis ngeri dan takut menyakiti, serta sambil meminta maaf yang bertubi-tubi (MbahKung malah selalu tertawa geli melihat tingkahku), aku mengambil darah dan memasukkannya ke tabung. Ya ampun, dulu belum ada rapid test yang digital itu ya? Sebelum ke kampus, aku ke RS dulu lalu pulang kuliah mampir RS untuk mengambil hasilnya dan mengonsulkan ke internis. Namun tiada merasa berat, karena kulakukan untuk orang yang paling kucintai setelah ortu πŸ˜€

Perjuangan kuliah pun akhirnya selesai. Tiba waktunya akupun bekerja di Ibukota. Tahukah Kawan, rupanya sang hero belum sepenuhnya muncul dalam diriku. Hari pertama pulang kerja, aku salah naik bus dan kesasar! Sampai di kost aku menangis sepuasnya sad0049 Free Sad Emoticons Ternyata naik bus di Jakarta lebih kejam daripada di Yogya. Ditambah lagi pelecehan-pelecehan akibat berdesakan sad0144 Free Sad Emoticons Belum lagi kalau hari Jumat malam pulang naik kereta. Kalo gak dapat tiket duduk di sambungan gerbong pun aku jalani, agar bisa berkumpul bersama ortu dan adik-adik di rumah hiks….hiks…. Aku gak betaaaahh!

Tapi semua harus kujalani, kepada siapa lagi aku bergantung jika tidak pada diri sendiri? Sedikit demi sedikit perjuanganku di Jakarta menjadi tidak terlalu berat. Pindah kantor berkali-kali dengan jarak yang semakin jauh dari kost. Herannya kost ku agak pindah-pindah πŸ˜€ Karena sebetulnya bukan kost-kostan, tetapi sebuah keluarga yang dulu sebelum menikah Mbakayune kost di situ. Jadi sudah seperti saudara saja. Aku pindah kost setelah menikah πŸ˜€

Itulah Kawan, mungkin buat sebagian orang pengalamanku ini bukan apa-apa. Cemen, segitu doang! Tapi untukku, ini adalah sebuah metamorfosa yang membanggakan. Entah seperti apa diriku sekarang jika Ayahanda tidak sakit. Mungkin masih tetap menjadi anak manja yang menyebalkan dan gak bisa apa-apa. Perubahan juga terjadi pada seluruh keluargaku. Yang dulu kami penakut dan manja, sekarang telah menjadi pahlawan-pahlawan setidaknya di keluarga masing-masing dan keluarga besar kami πŸ˜€ Sudah tentu aku kini harus terus menjadi tegar, menjadi super hero, untuk kedua malaikatku πŸ˜€

Benar seperti kata Mbak Carey,

….. And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And then you’ll finally see the truth
That a hero lies in you
Dalam diri setiap orang, selalu ada pahlawan yang bersemayam. Meski kadang kepahlawanan itu hanya untuk diri sendiri dan baru muncul jika kepepet, seperti diriku πŸ˜€
Ahaiii, ngontes lagiii. Wish me luck πŸ˜‰

Cari Solusi · Nimbrung Mikir

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Tawuran itu sama dengan perang dalam skala kecil. Nah, kalo sudah bicara soal perang, pasti banyak pihak yang dirugikan. Pada dasarnya perang adalah akibat dari ambisi, ego, dan keserakahan segelintir penguasa yang akhirnya melibatkan orang-orang yang tak mengerti apa-apa, hanya sekedar mematuhi perintah. Tawuran sama bukan?

Mari kita tengok sejenak. Peserta atau pelaku tawuran hampir 100% dilakukan oleh laki-laki. Baik tawuran sekolah maupun warga. Mengapa? Karena makhluk berjenis laki-laki ini dianugerahi energi yang luar biasa besar (sayangnya energi ini kadang tak diimbangi dengan hati dan otak yang besar :mrgreen: ). Selain energi, juga harga diri dan ego yang sama tingginya. Jika harga diri dan ego yang tinggi ini terluka, maka energi yang luar biasa itu akan meledak dan butuh penyaluran. Untuk melukai harga diri ini cukup mudah. Hanya butuh ejekan dan sedikit hasutan. Maka, BLARRR!! Dan jika ada sekumpulan energi eksplosif yang meledak, maka tak ayal lagi pecahlah tawuran.

Hampir semua tawuran diawali dari permasalahan segelintir orang yang lalu menghasut atau mencari dukungan orang lain atau kelompoknya untuk membelanya. Padahal kadang masalahnya sepele, hanya saling melihat atau melirik, kesenggol jempolnya, atau dendan kesumat yang turun temurun. Banyak cara untuk mencegah tawuran. Pembinaan, bimbingan rohani, pendalaman agama, keharmonisan rumah tangga pendidikan budi pekerti, dan lainnya. Sayangnya para pria ini, baik anak sekolah maupun yang sudah dewasa, tidak bisa distandarisasi baik perilaku, moral dan imannya bukan? Mau dibina kayak apa atau dibekali agama seperti apa jika sudah menyangkut emosi seringkali tak terhindarkan dari adu fisik. Bahkan fanatisme pun kadang bisa menimbulkan perselisihan. (Psst, kukira sesungguhnya semua berawal dari keputusasaan atau frustrasi masalah ekonomi sehingga mudah tersulut 😦 )

Namun tawuran ini bukannya tak tertanggulangi lho! Hanya dibutuhkan seorang PEMIMPIN yang kuat dan cerdas! Baik pemimpin kelompok, sekolah ataupun pemimpin warga. Ubah tawuran menjadi ajang SPORTIFITAS dengan menggalakkan OLAH RAGA. Intinya agar naluri mereka untuk UNGGUL dan MENANG dapat tersalurkan, di samping membuang energi yang membludak itu.

Jika ada perselisihan, tantang adu BASKET! Jika ada senggolan, tantang dengan SEPAK BOLA! Jika ada dendam kesumat turun temurun, tantang main CATUR tujuh turunan! Rebutan cewek? Yuk mari rebutan bola TAKRAW! (eh, tapi bukan cewek lho pialanya πŸ˜› ). Kalau pemimpinnya yang ribut, silakan adu TINJU atau PENCAK SILAT, one on one! Kalau takut kena Parkinson, ya sudahlah adu BULU TANGKIS ajah.

Sepertinya klise banget ya, atau impossible gitu. Tapi bukannya tak mungkin bukan? Sekali lagi hanya membutuhkan PEMIMPIN jenis unggul yang cerdas dan sportif πŸ˜€ Karena pada dasarnya tawuran terjadi jika sang pemimpin atau orang yang berpengaruh memutuskan: WAR or PEACE or SPORT! πŸ˜€

Tawuran itu hanya kelakuan bantji! Beraninya keroyokan. Mau distempel pemberani? Jangan harap! Yang pantas hanya stempel PENGECUT!

Mungkin pembinaan bisa dilakukan pada para pemimpin atau sesepuhnya yang menjadi decision maker itu. Karena biasanya mereka dinobatkan atau diakui menjadi pemimpin karena ada keunggulannya, entah di bidang apa. Ini yang mesti dibina πŸ˜› Semoga berhasil!

ArtikelΒ  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu:Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran.

Wish me luck πŸ˜‰

Cari Solusi · Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Selayang Pandang Demo Pekerja 03 Okt 2012

@Mulia Keramik, pic sent by OmEdo
@Jababeka II, pic taken by Me
@Jababeka I, pic taken by Me
@Jababeka I, terpaksa parkir di gedung yang belum jadi itu trus jalan 😦

Semoga, apa yang kalian perjuangkan benar-benar membawa kebaikan bagi semua. Jangan sampai apa yang kalian perjuangkan berhasil namun kelak akan ada masalah baru 😦 Entahlah. Wish all the best for you, guys πŸ™‚

Selamat berjuang dengan damai!

(sik…sik… trus ntar pulangnya gimana iniiii huwaaaaa…… sad0049 Free Sad Emoticons)

(ssst, aku juga foto sama mereka lho, pegang bendera pulak, sayangnya gak jelaaassss 😳 )

(tadi gak isa keluar tol karena tutup, semoga pulang nanti sudah lancar)