Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Rindu Hujan

Tanah yang kuinjak ini meretak, membentuk bongkah-bongkah keras. Sementara debu dan pasir halus berbaur membentuk angin yang berputar-putar. Terpaksa kututup hidung dengan sapu tangan yang telah basah karena keringat. Tak kujumpai sedikitpun hijau di tanah ini. Semua kering dan mati. Ah, mengapa dia memintaku datang kemari?

Aku berteduh di satu-satunya pohon yang ada, yang telah meranggas. Panas matahari nyaris melelehkan isi kepalaku. Namun aku mencoba bersabar, menunggu dia yang yang kurindu. Yang telah pergi ke negeri seberang bertahun lamanya. Meninggalkan retakan di hati yang bahkan sebagian telah pecah. Masih kuingat akan janjinya untuk kembali menjemputku.

“Aku akan menjemputmu Sayang, setelah aku bisa membuktikan pada orang tuamu aku memang layak untukmu,” katanya waktu itu.

“Lamakah kau pergi?” Tanyaku sedih.

“Semoga tidak. Aku hanya ingin kau ada ketika aku kembali.”

“Aku akan selalu ada untukmu.”

Dan, inilah aku. Meski dia pergi bertahun lamanya tanpa kabar berita, aku masih setia menunggu. Bodoh? Yah, aku bodoh karena dia. Tapi aku tak menyesal, karena aku tahu dia pun akan setia padaku. Ini buktinya, dia memintaku datang hari ini di sini, di padang tempat kami memadu janji. Dia bilang akan memebrikan kejutan indah untukku. Ah, rinduku yang tak pernah habis ini kurasa persis seperti bongkahan tanah yang merindu hujan. Atau seperti pohon tua yang setia menanti rinai mengguyur. Inilah rinduku, abadi, dan tinggal selangkah lagi untuk terpuaskan.

Kudengar langkah kaki di belakangku. Tapi mengapa langkah itu begitu riuh? Seperti lebih dari satu orang? Aku menata jantungku yang seperti bongkahan tanah ini, kering, siap menunggu guyuran hujan. Perlahan aku membalikkan tubuh.

Lelaki itu, kekasihku itu, masih tampan, masih gagah, meski gurat di wajahnya terlihat dari kejauhan, meski jalannya sedikit terseok. Kurasa rambutku yang memutih pun tak membuatnya pangling. Ia berusaha berlari, sementara aku berjalan mendekatinya meninggalkan pohon meranggas ini.

Lalu kami berdekatan. Dia menyalamiku (mengapa tak memelukku?), menepuk bahuku dengan bahagia. Jutaaan tahun yang memisahkan membuatnya enggan memelukku? Lalu dia menarik seorang gadis remaja yang baru kusadari keberadaannya.

“Kenalkan Sayang, ini cucuku, kejutan yang kujanjikan untukmu,” katanya riang.

Dan hatiku yang telah meretak bertahun lamanya langsung pecah. Pecah. Pecah. Seperti tanah yang rindu hujan.