Cintaku · I feel blue

Papa, In Memoriam: Peka

Papa adalah pribadi yang sangat peka, terutama bila menyangkut istri, anak, dan cucu. Peka dalam artian tahu apa yang kami rasakan. Sedang sedihkah, sakitkah, marahkah, bahkan jika sedang gak punya uang 🙂

Ada satu atau bahkan banyak cerita lucu menyangkut kepekaan Papa ini. Pernah suatu kali aku datang ke rumah Papa seperti biasa. Oh ya, aku sering menunggui Papa seharian di hari Sabtu. Atau setengah hari di hari Minggu. Nah, pada saat itu kok ya penggajian dari kantorku terlambat, yang seharusnya Jumat tetapi aku belum terima gaji. Masih ada siy sebetulnya kalo hanya untuk bertahan hidup 😛 Tetapi gak enak juga kan pegang uang pas-pasan 😀

Siang itu Papa minta antar ke ATM. Papa memang pada dasarnya senang berjalan-jalan, meski cuma isi bensin, cuci mobil atau sekedar putar-putar dengan mobil tua kesayangannya. Maka aku pun pergi mengantar Papa. Tentu saja aku yang mengambilkan, karena stroke Papa sudah susah beraktifitas. Apalagi usianya yang sudah sepuh. Selesai ambil uang, masih di dalam mobil tiba-tiba Papa memberiku sebagian uang itu. Tentu saja aku menolak. Tapi Papa memaksa, kata Papa untuk jajan sama anak-anak. Padahal lumayan banyak lho 😀

Ya ampuuuun, aku terharu sekali. Kok Papa tahu ya aku lagi bokek? Apakah tercermin di wajahku? Maka dengan penuh terimakasih dan suka cita aku terima uang pemberian Papa meski hati ini agak gak rela. Bukankah seharusnya aku yang selalu memberi Papa? Bahkan Papa berkata,

Nek kowe butuh, ora usah sungkan matur Papah. Wong Papah iki seneng banget nek iso mbantu anak-anak.” Papa berkata demikian sambil mengelus-elus kepalaku.

Duh, nangis gak sih? Dengan memberi, Papa masih merasa dibutuhkan, masih merasa dihargai. Memang Papa terkena stroke ketika masih berada di puncak karir, bahkan sudah dipromosikan oleh senior Papa sebagai Asisten Gubernur. Karenanya Papa sempat lama depresi, merasa tak berguna karena tak bisa lagi memanjakan keluarganya. Padahal Pah, lihatlah, dengan pensiunmu dan tabunganmu, kami berempat bisa menyelesaikan kuliah. Apalagi Mbakayune yang sudah lebih dulu mentas dengan tulus ikhlas membantu kami adik-adiknya yang masih banyak butuh biaya sekolah. Tentu saja kekompakan ini berkat didikan Papa dan Ibu kan?

Lain kisah, suatu kali aku hendak meminjam mobil Papa untuk ke kantor. Lagi-lagi aku hanya membawa uang pas-pasan. (Kok kalo dipikir-pikir aku sering pas-pasan gini ya?). Lha kok Papa malah memberiku uang untuk beli bensin dan makan siang. Aku bilang biar saja aku yang beli bensin wong aku yang pakai kok. Tapi seperti biasa Papa memaksa. Ya sudah, aku terima dengan sukacita. Bukankah Papa pernah berkata senang jika bisa membantu anak-anak? Tapi, swear, aku gak menjadikan ini modus lho! 😀 Papa emang murah hati kok. Wong kadang-kadang aku lagi gak ngapa-ngapain dan masih punya uang juga dikasih kok sama Papa kalo pamitan 😀 Atau lagi-lagi karena wajahku agak-agak memelas gitu ya? Ah, Papaaa, baiknya engkau.

Namun kepekaan terbesar Papa adalah ketika memutuskan siapa boleh menjadi pasangan hidupku. Dulu aku sempat berpacaran dengan seseorang bertahun lamanya. Mulai dari kuliah (aku kuliah di Yogya) sampai aku kerja (di Jakarta). Kebanyakan LDR siy, maka jika pulang ke Semarang kumanfaatkan untuk bertemu. Tentu saja di rumah sambil menemani Papa nonton TV. Wis, pokoke sepertinya gak ada masalah. Ketika keluarga X melamarku, Papa menerima dengan baik, namun mengatakan bahwa X boleh menikahiku asalkan mau menyelesaikan kuliah dulu. Oh ya, X sudah bekerja dan tak menamatkan kuliahnya. Maka X pun melanjutkan kuliah.

Tapi ternyata dari Ibu aku tahu bahwa Papa sebetulnya tidak sreg dengan X. Ya ampun, padahal sudah seiman, sama-sama orang Jawa, usia lebih tua 3 th dariku. Aku sempat sedih sekali bahkan sempat marah pada Papa. Menurut pendapat Papa, X kurang prospek, kurang ambisius sehingga kelak takkan bisa memenuhi semua keinginanku. Papa memang tahu banget aku. Meski aku marah tapi aku menurut. Eee, tapi gak langsung putusin X dong. Mesti cari cadangan dulu 😛

Kembali ke Jakarta, tiba-tiba ada anak baru di kantorku. Dan dia naksir berat padaku (qiqiqiqiqi…huweeekk… :mrgreen: ). Singkat cerita, kami pun memproklamasikan sebagai pasangan kekasih, tepat ketika Si X menanyakan kelanjutan hubungan. Berhubung aku sudah punya gantinya maka akupun menyudahinya 😛 Lha gimana lagi, dia juga gak jadi nerusin kuliah kok. Padahal kan itu syarat utama dari Papa.

Setahun kemudian aku memperkenalkan Kekasihku pada Papa. Heran sungguh heran, meski keluarga lain agak-agak menentang dan banyak menasehatiku, Papa malah merestui. Entah sih aku gak tahu bagaimana hati Papa sebenarnya, tapi Papa mengijinkan. Bayangkan, Kekasihku itu beda suku dan agama bahkan usia lebih muda 2 th dariku. Tapi memang dia lebih macho dan lebih prospek daripada X 😳

Ternyata restumu gak salah, Pa. Meski banyak ombak dan badai seperti layaknya orang membina rumah tangga, tapi kami tetap bahagia. Apalagi dikaruniai kedua malaikat lucu yang sangat kau sayangi. Terimakasih, Pa. Kepekaanmu adalah radar untuk kebahagiaan kami semua. I miss you, Pah. Rest in peace.

Cintaku · I feel blue

Papa, In Memoriam: Wasiat

Aku lupa kapan tepatnya, mungkin akhir tahun lalu atau justru awal-awal tahun ini. Suatu siang, Papah memanggilku untuk ngobrol di teras. Sambil memegang lenganku Papa berkata,

Papa      : Pit, nanti kalo Papah meninggal…

Aku langsung memotong perkataan Papa.

Aku       : Papah ini bicara apa sih? Aku gak mau ngomongin itu!

Papa     : Iki wasiat. Kowe rungokno wae, nek perlu dicatet. Mung kowe sing tak percoyo njalanke iki.

Aku nyaris menangis, hati menyangkal. Semua orang pasti akan kembali padaNya. Namun bagiku, Papa masih akan hidup 1000 tahun lagi. Aku gak mau kehilangan Papa. Namun karena Papa begitu serius, maka aku mendengarkan.

Papa     : Nek Papa dipanggil Tuhan, usahakan Papa dikubur ning Yojo (Yogya), ning Sagan. Kuwi ono dana ning ATM nya Papah. Kanggo ambulance, biaya pemakaman, kiro-kiro sekian juta cukup to?

Waktu itu aku sedih banget. Papah, masa sih sampai mikir biaya segala? Masih ada kami, anak-anakmu. Lalu Papah masih bicara lagi tentang mobil, rumah, dan lain-lainnya. Yang sayangnya aku sudah lupa semua. Yang kuingat hanya keinginan Papa untuk dimakamkan di Yogya. Siang itu juga aku langung share di BBM keluarga. Mbakayune bahkan langsung menghubungi keluarga Yogya (sepupu) untuk memesan tempat untuk Papa di Sagan. Ternyata sudah penuh, tak ada lagi tempat. Tapi kami tak memberitahukan Papa, karena meskipun kami tahu semua orang akan kembali padaNya, tapi buat kami Papa masih akan lama sekali menunggui kami. Penyangkalan ini membuat kami tak serius menanggapi wasiat Papah. Ditambah lagi BB ku kemudian rusak. Nanti akan kucoba buka memorinya, semoga masih bisa terbaca.

Dan ketika saatnya tiba, di tengah kebingungan dan kepanikan, tiba-tiba ada pertanyaan, “Bapak mau disareke (dimakamkan) di mana?”

Yang kuingat hanya Yogya! Saat itu aku masih sendiri bersama Ibu. Mbakayune masih dalam perjalanan dengan kereta dari Tegal. Aku bilang ke Ibu, bahwa keinginan Papah terakhir adalah Sagan. Maka Ibu segera menelepon sepupuku untuk bisa diupayakan. Saat itu Om meneleponku, menasehatiku bahwa sebaiknya Papa dimakamkan dekat saja, supaya Ibu, anak-anak, dan cucu-cucu bisa kapan saja nyekar dan ziarah. Nyaris aku tergoda. Demikian juga Omku yang lain juga menyarankan, bahkan akan mengusahakan agar Papa dimakamkan di Bogor. Ada satu tempat seperti San Diego tapi khusus untuk PNS. Begitu dekatnya. Om juga menawarkan boleh memakai tempat Om dulu (yang sudah memesan sepasang).

Rasa cintaku pada Papa justru membuatku ingin menerima saran mereka. Setidaknya seminggu sekali aku tetap bisa mengurus dan mengunjungi makam Papa. Bahkan Mbakayune juga mengijinkan. Tapi, sudah bertahun-tahun Papa ingin pulang ke Yogya. Tak satupun dari kami mau mengantar Papa. Selain menimbang kesehatan Papa juga menimbang kesehatan Ibu. Bisa saja naik pesawat, tetapi di sana bagaimana? Dan toh ternyata pada akhirnya kami semua mengantar Papa ke Yogya, untuk terakhir kalinya. Hiks…maafkan kami, Pah 😥 Kini aku tahu mengapa Papa hanya mengatakan wasiat itu padaku seorang. Karena Papa yakin, aku akan memperjuangkan dan mengusahakan keinginan Papa.

Maka akupun kembali bertahan untuk memakamkan Papa di Yogya. Kabar dari Yogya sangat kunantikan. Sementara itu aku terus mengatakan bahwa keinginan Papa terakhir adalah Yogya, tanah kelahiran Papa. Puji Tuhan, keajaiban itu datang. Pukul 9 an kami mendapat kepastian bahwa ada tempat untuk Papa di Sagan, tidak bisa di dalam pagar makam Mbah Kung dan Mbah Tie, tetapi di luarnya. Ini luar biasa. Papah mendapat tempat persis di depan makam ayahandanya dan dekat dengan ibundanya. Di sampingnya malah makam kakak iparnya. Sungguh Tuhan memberi kemudahan untuk segalanya. Bahkan di kemudian hari kami mengetahui bahwa makam Papah sangat bersih. Tak ditemukan hambatan apapun selama penggalian. Juga tak ditemukan sedikitpun tulang dari sebelah-sebelahnya. Padahal biasanya mereka menemukan sisa-sisa tulang. Betapa Papah diberi kemudahan luar biasa. Terimakasih, Tuhan.

Lihat Pah, begitu banyak tamu dan kerabat yang menjengukmu, mendoakanmu. Misa berjalan penuh keharuan, didukung lagu-lagu yang dibawakan oleh koor membuat hatiku sedih luar biasa. Selepas misa requiem kami mempersiapkan semuanya. Aku, Ibu, Netty dan Cantik naik pesawat. Sementara para pria mengiringi ambulance. Mbakayune juga naik mobil karena anaknya yang paling kecil takut naik pesawat.

Pukul 3 dini hari Papa tiba di Yogya, di rumah masa kecilnya. Dan luar biasa, di sana semua sudah disiapkan. Bunga, lilin, kursi, semua, semua sudah siap. Karangan bunga begitu banyaknya. Lihatlah Pah, semua sudah menunggu kedatanganmu. Dan meski keluarga Papa muslim, tetapi kami diijinkan mengadakan misa di sana.

Yang melayat luar biasa banyak. Begitu banyak yang mendoakanmu, Pah. Justru di saat kau tak butuh lagi siapa-siapa, begitu banyak yang menengokmu. Betapa banyak yang mengasihimu. Tamu mengalir tiada habisnya. Papa bahagia kan, Pah?

Terus aku menyalahkan diriku. Mengapa tak kuantar Papah ke Yogya dulu-dulu? Sejak pindah ke Bogor, Papah belum pernah lagi pulang ke Yogya. Dan kini justru pulang untuk selama-selamanya. Maafkan aku, Pah. Bagaimana caraku agar kau mau memaafkanku? Aku menyesal. Aku kangen Papah 😥

Cintaku · I feel blue

Papa, In Memoriam: Mie Rebus dan Laron

14 November 2012

Belum terlalu sore, mendung luar biasa hitam. Aku pulang cepat, dan membelokkan mobil ke jalan rumah Papah. Aku memang mau mampir karena ada perlu dengan Ibu. Begitu surprise Papah melihatku yang datang di luar hari biasanya. Papah tertawa senang lalu minta diambilkan koran hari ini. Ternyata Papah mau lihat tanggal dan hari. Papah lupa bahwa ini baru hari Kamis, dikira Papah besok adalah Sabtu.

Hujan mulai turun dengan deras. Aku duduk nonton TV di luar, tepat di hadapan pintu kamar Papah. Lalu Papa menengok dan memandangiku.

Papa   : Pit, kono nek arep nggawe mie, maem sik.

Aku    : Belum lapar kok Pah, nanti aja maem di rumah.

Papa   : Oo yooo…

Aku    : Atau Papah kerso mie? Aku buatin ya.

Papa   : Yo keno

Aku    : Goreng atau kuah, Pah?

Papa   : Sak karepmu, opo wae manut

Aku    : Kuah aja ya, Pah, anget hujan-hujan gini

Papa   : Boleh, tapi kuahe ojo okeh-okeh yaa mengko ndak ora ono rasane

Maka sementara Ibu mandi sore, dengan suka cita aku memasak mie instan untuk Papah. Mie kesukaan Papah adalah mie yang direbus sampai lama hingga empuk banget. Tumben-tumbenan aku sabar sekali menunggui di depan kompor. Biasanya kutinggal untuk melakukan hal-hal lain. Selesai langsung kuhidangkan, rupanya agak terlalu asin sehingga Papah minta nasi sedikit. Papa makan dengan lahap. Mie buatan anak wedok, meki bumbu instan pastiiii rasanya beda. Karena ada banyak cinta ketika merebus.

Karena hari sudah menjelang maghrib, maka aku pamit pulang sebelum Papa selesai makan. Padahal entah mengapa, hari itu aku ingin berlama-lama di rumah Papah. Meski hanya duduk di luar kamar, tapi aku bisa memandangi Papah. Tidak seperti sekarang, Papah gak ada di kurinya 😥

Kebahagiaan Papah sangat sederhana, hanya meihat anak dan cucunya aja. Apalagi jika dilayani, diajak ngobrol, disapa. Maafkan aku, Pah.

15 November 2012

Aku gak datang ke rumah Papah. Padahal libur 😥 Hanya pagi mengantar lontong sayur padang untuk Papah. Meski kesiangan karena Papah sudah sarapan. Tapi siang hari aku WA Ibu, lonsay tetap didahar untuk siang 🙂 Ibu juga mengabarkan kalo dada kiri Papah sakit tapi sudah digosok minyak kayu putih.

17 November 2012

Sore aku datang ke rumah Papah. Membawakan nasi padang yang tumben-tumbenan Papah mau pakai rendang. Padahal ini lauk yang paling dihindari karena gigi Papah sudah otw habis. Papah hanya makan nasi dan sayurnya dan meninggalkan rendangnya dengan sedikit nasi. Kuhabiskan saja. Menjelang malam aku pulang karena Guanteng sudah minta pulang. Aku berpamitan. Papah sedang menonton bola kalo gak salah Ina vs Khamerun?

18 November 2012

Entah mengapa, hari itu aku malas sekali hendak ke Villa (rumah Papah). Dan Papah pun tumben tak meneleponku seperti biasa jika aku gak datang-datang. Eh sore Papah menelepon jam 15.51 menanyakan aku datang atau tidak. Menjelang maghrib aku baru tiba. Hujan sedikit. Laron beterbangan di mana-mana. Sejak kecil Guanteng memang takut laron. Maka gada setengah jam aku berpamitan. Andai aku tahu itu terakhir aku melihat Papa, maka aku akan berlama-lama. Papa hanya tertawa mendengar alasanku berpamitan, karena Guanteng takut laron. Aku bahkan gak mencium Papah seperti biasanya karena Gaunteng udah nangis. Aku hanya melambaikan tangan tanpa masuk kamar Papah. Maafkan aku, Pah 😦 Andai aku tahu…. , terakhir melihat wajah tampan Papah 😦

22 November 2012

Pukul 19.41 Papah meneleponku untuk yang terakhir. Pembicaraan hanya 55 detik. Hiks… maaf ya, Pah..

Kulihat di log HP ku, ternyata aku sering sekali mengabaikan telepon dari Papah. Karena kadang Papah menelepon di saat aku sedang meeting atau bertemu orang/klien. Seharusnya aku menelepon balik, tapi jarang sekali kulakukan.

Kini, gak ada lagi Papah yang selalu mengingatkanku untuk makan siang. Gak ada lagi Papah yang merindukanku. Seperti inikah rasanya jika Papah menantikan kehadiran kami anak-anaknya? Ternyata sakit ya, Pa. Aku bahkan tak kuat menanggungnya. Aku tak setabah engkau, Pah. Aku rindu 😥

Cintaku · I feel blue

Aku Tak Akan Pernah Siap

22 November 2012

15.30 Aku pulang lebih cepat dari biasa, karena ada meeting di Bekasi. Mendung sangat gelap. Ketika dekat jalan ke rumah Papah aku sempat berfikir untuk mampir sejenak. Karena sejak kemaren Papah agak demam dan batuk. Namun kuurungkan karena kedua malaikatku mau latihan taekwondo dan aku sudah sangat ingin bertemu mereka. Maka jalan menuju rumah Papah pun aku lewati.

19.3. Kekasihku menyuruhku ke rumah Papah karena dengar Papah sakit. Hujan masih cukup rinai.

Kekasihku           : Kamu tengok Papah gih. Kasihan, lagi sakit kan?

Aku                : Iya, tapi kemaren sudah dikonsulin ke dokter sama Mas Tinon dan udah dikasih obat kok.

Kekasihku           : Ooo.

19.41 Aku sedang mandi ketika kekasihku memberikan telpon padaku. Papah menelepon.

Papa                      : Hallo, Pipit. Piye kabarmu? Apik-apik wae to? Anak-anak piye?

Aku                     : Hallo, Papah. Iya Pah, aku baik-baik aja kok, anak-anak semua juga baik-baik. Papah gerah ya? Udah mendingan kan, Pah?

Papa                      : Iyo, wis mendingan.

Aku                        : Oh syukurlah. Aku ke sananya Sabtu ya, Pah.

Papah hanya diam lalu telepon terputus. Aku tahu Papah pasti kecewa. Belum-belum aku sudah bilang akan datang Sabtu. Mungkin memang Papah ingin aku datang.

Kekasihku           : Tuh kan dicariin. Ke sana gih.

Aku                        : Besok Kakak ulangan 2, Adek juga ulangan.

Kekasihku           : Gak papa, sebentar aja.

Aku                  : Nanti Sabtu aja deh. Kan tahu sendiri anak-anak kalo gak ada aku gak belajar.

Maka aku meneruskan aktifitas seperti biasa.

23 November 2012

05.49 Aku sedang menyuapi Ganteng sereal, kekasihku sedang mandi. Ibu menelepon.

Ibu                         : Pipit, Papah sepertinya sudah gak ada.

Aku                        : Gak ada? Gak ada gimana? Maksud Ibu apa? (aku berteriak)

Ibu                         : Sudah gak ada. Papah sudah dipanggil Tuhan.

Aku                        : Gak mungkin! Ibu salah, Papah semalam masih nelpon aku. Gak mungkin!

Ibu                         : Kamu ke sini ya, sekarang.

Aku masih shock. Gak mungkin, Ibu pasti salah. Semalam aku masih mendengar suara Papah. Meski semalam Papah tak menyuruhku datang tapi aku tahu Papah ingin aku datang. Oh Pah, andai aku tahu, andai waktu bisa diputar kembali, andai aku mau mendengar saran kekasihku.

Maka akupun ke rumah Papah. Kekasihku akan menyusulku bersama kedua malaikatku. Sepanjang jalan aku menyesali keputusanku untuk tidak ke rumah Papah kemaren. Kurekam terus kata-kata terakhir Papah di telpon. Kuulang, kuulang, kuulang isi pembicaran singkat itu. Oh Pah, maafkan aku. Aku menyesal. Aku menyesal. Aku kangen Papah.

Sesampai di rumah Papah aku langsung menuju kamarnya. Tuh kan Ibu salah, Papah masih tidur. Tidurnya sangat pulas dengan wajah tenang, seperti biasanya kalo Papah tidur. Maka kugoyangkan Papah dengan lembut. Pah, bangun Pah, aku datang. Tapi Papah diam saja. Tuhan, mengapa Papah diam saja? Biasanya sepulas apapun Papah tidur, kalo mendengar suaraku pasti terbangun. Maka kupeluk Papah, kucium pipinya, dahinya, hangat, tubuhnya hangat seperti biasa. Aku tak kuasa lagi berkata apa-apa. Ibu gak salah. Maafkan aku, Pah. Papaah…

Aku menangis seperti orang tak beriman. Namun aku punya banyak waktu dengan Papah. Ibu sedang mandi, Mas Tinon segera mengurus ini itu begitu aku datang. Tetangga belum ada yang tahu. Kakak adikku belum ada yang datang. Maka aku memeluk Papah. Membisikkan permohonan maaf, mengatakan bahwa aku ada di sisi Papah, aku bicara apa saja. Aku tak tahu Papah mendengar atau tidak. Tapi aku terus bicara dan bicara. Bahkan aku lupa untuk berdoa. Aku hanya ingin Papah tahu, bahwa aku ada di sisinya. Aku minta maaf pada Papah semalam gak datang, aku minta maaf pada Papah jika sering mengecewakan Papah, aku minta maaf pada Papah jika tak bisa selalu membahagiakan Papah.

Tangan Papah yang hangat terkulai di samping tubuhnya. Kulihat kuku Papah sudah panjang. Maka seperti biasa, seperti yang Papah selalu minta aku lakukan, aku memotong kuku Papah. Tangan, kaki, kubersihkan kuku-kuku itu. Sudah bersih Pah, kugenggam terus tangan Papah. Aku gak mau kehilangan kehangatannya.

Lalu Ibu masuk kamar. Isak kami pecah. Ibu bercerita, tadi pagi jam 4 Ibu terbangun. Lalu melihat Papah masih tidur. Ibu ke kamar mandi dan tidur kembali. Sekitar pukul 4.30 Ibu terbangun lagi karena memang Ibu biasa bangun jam segitu kemudian berdoa di kamar. Sekitar pukul 5.30 barulah Ibu kembali mengengok Papah. Tapi Ibu mendapati Papah dalam posisi kaki ternjuntai ke bawah, seperti hendak turun dari tempat tidur. Ibu lalu membetulkan posisi Papah sembari bertanya, “Papah mau duduk atau mau tiduran?” Papah tidak menjawab. Namun karena mata Papah terpejam dan wajah seperti tidur, Ibu hanya membetulkan posisi kaki Papah saja. Sepertinya Ibu mendapati hal aneh. Seperti kukatakan, sepulas apapun Papah tidur jika dibangunkan atau disapa Papah pasti terbangun. Ibu hanya berkata, “Kok Papah ditanya diam saja to?”

Barulah Ibu meraba pergelangan tangan Papah. Tak ada pulse. Ibu segera menelepon Mas Tinon, suami kakak tertua yang tinggal sangat dekat. Ternyata Papah memang sudah pergi. Secepat itu Pah? Dan sendirian, tak ada yang mendampingi saat-saat terakhir Papah? Aku sedih Pah. Aku kangen Papah. Aku sudah merencanakan Jumat pulang cepat lalu mau ke rumah Papah. Mengapa Papah gak mau menungguku? Atau karena Papah lelah menungguku? Maafkan aku, Pah.

Tetangga mulai berdatangan. Aku tak beranjak dari sisi Papah. Ini Papaku, aku yang harus selalu ada di sampingnya. Lalu dokter datang dan menyatakan Papah memang sudah pergi. Aku lalu menyuruh ART untuk menyiapkan air hangat untuk mandi Papa. Pah, seperti dulu selalu kau lakukan ketika aku kecil, maka sekarang ini yang akan kulakukan untukmu. Aku akan memandikan Papa, semampuku, sebisaku, dengan air hangat berampur air mata. Kucukur jenggot dan kumis Papa yang mulai panjang. Aku ingat, Mbakayune yang sering melakukan ini. Biar kali ini aku yang melakukan. Kuusap dahi Papah lembut, sayang Pah, kau tak lagi merasakan usapan tanganku. Selesai mandi, Papah mengenakan baju batik kesayangannya, yang dibelikan Netty adikku. Papah tampan sekali. Kusisir rambutnya yang telah memutih semua. Mengapa Papah diam saja? Tubuhnya masih hangat hingga ke ujung kakinya. Tapi mengapa Papah diam saja? Mengapa matanya selalu tertutup? Tidakkah kau merasakan pelukanku, Pah?

Aku sedih, sangat kehilangan, terutama sangat kecewa karena tak bisa mendampingi Papah di saat terakhir. Bahkan ketika tulisan ini kuselesaikan hari ini di rumah Papah, aku masih tak percaya jika Papah sudah gak ada. Kemaren kurapikan kamarnya ku charge HP nya, kulap kacamatanya. Tapi hingga hari ini, kamar itu masih kosong. Aku gak melihat Papah di kursinya atau di tempat tidurnya. Aku tak mendengar suara TV nya. Aku merasa sepi, hampa. Tentu kau sudah di surga ya, Pah?

Purna sudah tugasmu sebagai suami dan ayah. Kini saatnya Papah isitrahat. Meski hidup ini takkan pernah sama lagi tanpamu, Pah, tapi kenangan akan cintamu akan terus hidup. Aku akan tetap ke sini tiap Sabtu atau Minggu, aku akan tetap berpamitan setiap hendak pulang ke rumah. Dan aku akan menjaga Ibu, cinta pertama dan terakhirmu. Aku kangen sekali, Pah. Aku kangen….

Iseng Aja · Ketawa dulu · Nimbrung Mikir

Wanita, Lebih Mudah Terpesona oleh Tokoh Khayalan

Lhadalah, judul kok panjang buanget 😆 Eh, tapi judul di atas tidak mewakili semua wanita lho. Hanya mewakili wanita yang segolongan denganku saja :mrgreen: Jadi Jeng, Mak, Mbak, Bude, yang tidak sejenis denganku silakan saja tidak setuju 😛 Opo to yo?

Tulisan ini tentu saja menyambung foto Si Ganteng Mas Craig yang baru saja ku posting 😳 Mengapa aku bisa terkagum-kagum bahkan terbirit-birit melihat gambarnya saja? Ini tentu saja karena tokoh yang diperankannya, Mas James Bond 😀

Dulu, sewaktu remaja aku pernah terbirit-birit melihat Mas Tom Cruise, gara-gara Top Gun (astagaaa, tua bener aku ya?) atau waktu kecil almarhum Pakde Christopher Reeve alias Superman membuatku semaput karena ganteng dan supernya (puber kecepetan). Lalu beranjak dewasa Om John Travolta di film Face Off. Atau lagi Om Kevin Costner di Dancing with Wolves. Tapi herannya, John Bon Jovi lewat aku gak noleh tuh? (gubraaakk, bo’ong bangget!) Apalagi andai masa itu ada SuJu yang wajahnya sama semua (cantik-cantik 😛 ), pasti ndak sampai brenti napas deh 😛

Mengapa? Karena eh karenaa judi itu haraaammm semua pria macho itu memerankan tokoh heroik dalam film-filmnya. Bahkan Om John itu makin keren kalo jadi penjahat lho :mrgreen: Adalah sifat dasar wanita bila terkagum-kagum melihat aksi heroik yang 100% ngayal itu. Sama saja dengan kaum pria yang pasti tahan napas lihat kecantikan Mbak Angelina Jolie, Mbak Kate Winslet, trus Mbak Anne Hathaway, trus Mbak eh Angelina Jolie trus mmm Mbak Angelina Jolie, trus ehh.. lho kok taunya cuma itu ya? :mrgreen:

Nah, maka aksi Om Craig dalam film James Bond itu mampu membuat jutaan wanita termehek-mehek, meski mungkin Mas Craig ndak melakukan semua adegan itu sendiri. Sudah pasti dibantu para stuntman kan? Tapi karakter yang dibangunnya sungguh luar biasa. Bayangkan saja, pria segarang dan se macho itu bisa menangis juga. Sudah dua kali Mas Craig menangis, di film Quantum of Solace (kalo gak salah) dan Skyfall. Kontradiktif tapi justru memikat bukan? 😛 😳 Biarpun menangis tapi tetep macho, gak kayak banci-banci yang di TV dikit-dikit mewek itu :mrgreen:

Memang siiiy, semua itu karena tokoh yang diperankan. Coba saja Bang Sahruk Khan yang jenaka dan tampan itu gak main Kuch Kuch Hota Hai tapi juwalan kain di Pasar Baru. Lom tentu para wanita itu mau  ngantri beli tiketnya yang lumayan mahal 😛 Atau andai saja Mas Craig atau Mas Brosnan itu gak jadi agen Double O Seven tapi ngojek? Waaah, sudah pasti aku gak mau gak langganan ojeknya to? 😛 😆

Jadi, duhaiii para pria khususnya MasApp, MasZed, dan tentu saja Kekasihku, sampai kapanpun kalian gak akan menemukan di mana letak kegantengan Mas Craig ini 😆 Hanya kaum wanitalah yang akan menemukan di sudut manakah kegantengannya 😛 :mrgreen:

Nah, Diajeng Nique dan eMak, menurutku… menurutku lho yaaa… Mas Brosnan itu terlalu manis dan lembut untuk memegang senjata 😛 Sayang lho jika pipinya terserempet peluru atau lengannya tergores belati love0083 Free Emoticons   Love

Terlalu maniez dan terlalu macho 😛
Mau langganan ojeknya aahhh 😀
Cantik-cantik banget yaa 😀

Eh, ternyata seleraku jadul ya? Ato gak gawul sampe-sampe gak tau artis cantik sekarang ini 😛 (menurutku sih Megan Fox gak cantik 😛 )

Postingan gak mutu ini dimulai pada pukul 11.30 dan baru selesai pukul 15.15 😆 Tentu saja karena disambi-sambi kerja dan mencari gambar yang ganteng-ganteng itu 😳 😛

Semua gambar dipinjam dari sini dan sini juga sini trus sini eh sini jugak.

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah · Tak Enak

Terimakasih, Pak Camat

Mendung menggantung, udara justru panas seperti berada dalam termos. Aneh. Maka daripada keringat menetes sia-sia mendingan menyambangi warung Yu Minah yang sejuk, karena halaman depannya ada satu pohon mangga, satu pohon jengkol, dan satu mengkudu.

Sesampai di sana seperti biasa menyerukan salam dan langsung duduk di bangku kecintaan.

“Jeeng, sampeyan kok sekarang jarang ke mari to? Kan aku jadi rinduuu,” sambut Yu Minah. Aku sedikit gebes-gebes menerima rindunya yang menggebu itu. Idih banget kan? Aku segera mencium minyak kayu putih yang selalu kubawa.

“Capek Yu, kalo udah di rumah ya pengennya langsung santaiii gitu. Buatkan rujak serut satu, ulek satu. Biasa ya, pedes tapi gak banget,” sahutku seraya mengambil koran langganan Yu Minah. Baru saja membaca halaman depan, ponselku berdering. Walah, sore gini kok ya adaaa aja yang menelpon. Staf kantor, sebut saja namanya Ani (Sst, jangan bilang-bilang ya, ini nama sebenarnya).

“Yellooww,” sapaku dengan suara diberat-beratkan. Yelloow = Yes, hello 😛

Maka aku segera mendengarkan laporan Ani yang semakin menaikkan suhu, baik di luar maupun di dalam diriku.

“Gak bisa! Kan sudah dibilang, cek itu harus diajukan dulu ke Big Boss. Itu kan bukan uang kecil!” Seruku gak sabar. Yu Minah yang sedang menggerus bahan sambal melirikku. Ah, aku dah males pindah, dah PW. Biar saja dia mendengar obrolanku.

“Ya kamu bilang dong, masa dia gak mau ngerti? Ini kan perusahaan, bukan duit pribadi yang bisa keluar kapan saja?” Aku masih saja mengomel.

“Bilang minggu depan. Kalo dia maksa ancam saja laporin! Ya…ya…gak…gak bisa…oke. Rabu ya. Oke, thanks, An.”

Akhirnya aku menutup telepon dengan gemas. Dan sudah kuduga sebelumnya, naluri mau tahu Yu Minah langsung terbit.

“Ada apa to, Jeng? Kok sepertinya mengesalkan gitu?” Tanyanya dengan lagak sambil lalu, padahal mau tahuuu. Tapi anehnya aku kok ya mauu aja cerita padanya.

“Gini Yu, ceritanya kantorku itu mau memperluas jenis usaha, nah mesti ngurus ijin ke dinas terkait to. Ceritanya rekomendasi dari Kepala Desa sudah ada. Sekarang lanjut ke Pak Camat,” ceritaku sambil mencomot sepotong nenas segar.

“Terus?”

“Nah, Si Pak Camat ini minta biaya sekian juta. Dinego sama temanku. Tau Yu, negonya itu di dalam mobil Pak Camat dan di pom bensin! Dia gak mau di kantornya. Singkat cerita mentok di segitu juta plus 30 sak semen buat dana bedah rumah miskin (kok kayak acara TV manaaaa gitu ya?). Semen harus diantar ke kantor, uang harus masuk kantong.”

“Ediyan!” Sela Yu Minah gemas. Ketrampilannya mengiris buah dengan kecepatan seorang master Kung Fu itu tetap saja membuatku deg degan.

“Temenku gak berani mutusin dong, dia bilang mau diajukan dulu ke big boss. Eh, besoknya si Pak Camat telpon ke stafku yang lain, bilang kalo surat rekomendasi sudah jadi dan siap diambil. Berangkatlah si Ani ini ke kantor kecamatan dan dia mengambil surat rekomendasi itu! Blaik to?”

“Yo jelas blaik tenan itu!” Seru Yu Minah. Nah! That’s the point! Yu Minah yang bakul rujak saja mengetahui bener arti blaik itu. Mengapa Ani tidak? Dan boss juga tidak. Karena Ani mendapat restu dari boss untuk mengambil surat itu 😥

“Dan sekarang Pak Camat marah-marah, gak mau tahu pokoknya uang harus sudah ada sekarang! Kayaknya mau buat beli sapi tuh. Sementara boss belum ngomong sama big boss dan tentu saja belum turun ceknya. Aduuuuh, mumet aku, Yu!”

“Jelas sampeyan ada di pihak yang salah. Kalo surat sudah diambil, itu berarti sampeyan sudah menyetujui semua syarat yang diajukan Pak Camat, termasuk waktu pembayarannya,” ceramah Yu Minah, “Emangnya bisa ngebon dulu kayak belanja di Engkoh hehehehe…”

“Tapi Pak Camatnya juga gak mutu. Kalo kantor itu kan gak bisa sak deg sak nyet mengeluarkan uang, Yu. Harus bikin payment voucher, form investasi, belum lagi cek yang tandatangan dua orang, baru dicairkan. Ribet, gak mungkin hari ini pengajuan besok turun duitnya,” kataku kesal.

“Lagipula gak malu banget sih? Minta-minta duit untuk pekerjaan yang memang sudah menjadi pekerjaannya. Dan dia sudah digaji untuk itu kan? Itu uang buat apa coba? Minta semen pula, kok jadi beban pengusaha ya?” Cerososku.

“Kalau ada acara bedah rumah miskin segala itu sampeyan berhak minta proposalnya, Jeng. Kayak kalo minta sumbangan tujuh belasan gitu. Sekian juta untuk itu, segini juta untuk ini, segitu juta untuk anu. Nah, sudah ada dana berapa, sisanya dilempar ke pengusaha. Silakan menyumbang sesuai kemampuan.” Seperti biasa Yu Minah yang keminter itu mulai ceramah sembari membungkus rujakku.

“Terus yang sekian juta untuk Pak Camat itu gimana?” Tanyaku.

“Yo itu terserah sampeyan. Jangankan Pak Camat, wong boss nya Pak Camat aja pasti minta kok, bossnya boss teruuus sampe mana ya?  Hiihihihi…..”

Aku membayar rujakku dan segera berlalu.

“Woiii Jeng, sebentar…” Panggil Yu Minah. Aku berbalik.

“Ada apa , Yu?

“Ehh…hehehe…minta nomer hape Pak Camat nya, doong,” katanya kemayu.

“Hah? Buat apa, Yu?”

“Nganu, saya mau minta supaya rumah saya dibedah gitu, hihihihi….”

Halah! 😡