Lukisan Cinta, Episode 17

Fiuuh, terlalu lama jedanya yaa. Yuuk marii, baca kisah sebelumnya dulu😳

Sandra mondar-mandir di ruang tamu rumahnya. Sudah hampir pukul sebelas, seharusnya Aryo sudah menjemputnya. Mereka ada janji dengan dua katering untuk food test. Seandainya ia tak meninggalkan mobilnya di rumah Tante Liz tentu tak menjadi masalah bila ia berangkat sendiri. Mama bahkan sudah menelponnya dua kali. Sementara Aryo tak juga menghubunginya. BBM tak dijawab, telepon tak diangkat. Ke manakah atau sedang mengapakah dia?

Sandra mengempaskan dirinya ke sofa, tepat ketika ponselnya berdering. Seperti sudah diduganya, Aryo yang menelpon. Dibiarkannya saja ponselnya terus berdering. Firasatnya sudah tak enak, pasti Aryo tak bisa menjemputnya karena bla…bla…bla… Hingga panggilan keempat barulah dijawabnya telepon kekasihnya.

“Sayaang, lama sekali. Sedang mandikah?” suara lembut Aryo di seberang. Mandi? Make up ku bahkan sudah luntur.

“Aku sudah mandi dan sudah siap berangkat,” sahut Sandra datar.  Aryo menghela napas panjang.

I’m really sorry, Babe. Meeting pagi ini benar-benar tak terhindarkan dan harus aku sendiri yang pimpin. Fuuhh, kamu marah, Sayang?”

“Tentu saja tidak. Bukankah demi masa depan kita?” jawab Sandra nyaris menangis. Hatinya sungguh bingung. Kemarin ia nyaris mengurungkan rencana pernikahan ini, tapi sekarang hatinya gundah hanya karena Aryo belum menjemputnya untuk food test.

“Ouh, maafkan aku, Sayang. Dan sepertinya aku harus mengecewakanmu lagi. Hon, aku sedang menunggu tamu penting dari perusahaan tambang Kalimantan. Mereka merencanakan liburan akhir tahun untuk direksi. Keliling Eropa, dan mereka memercayakannya pada perusahaan kita, Sayang. Bukankah ini amazing?” seru Aryo dengan antusias, seolah hal tersebut lebih penting dari pernikahan mereka. Sandra benar-benar meneteskan air mata sekarang.

“Sayang, bisakah kau…?”

“Aku mengerti. Aku akan pergi sendiri, selesaikan saja urusanmu,” potong Sandra dengan suara setenang mungkin.

“Ouh, Honey, maafkan aku. Aku percaya kok dengan semua pilihanmu. Apapun pendapatmu itu pendapatku juga. Aku suruh sopir kantor mengantarmu, ya. Tunggulah setengah jam lagi.”

“Gak usah, aku naik taxi saja. Bye….” Sandra menutup teleponnya. Setelah itu tangisnya tumpah ruah. Berkali-kali ia mengutuki dirinya sendiri mengapa mesti menangis seheboh ini? Bukankah ia perempuan mandiri yang terbiasa melakukan segalanya sendiri, mengapa sekarang cengeng begini? Ia segera menelepon Mama dan meminta Mama untuk menemaninya.

“Wah, kamu janji jam berapa? Mama ada meeting setelah makan siang. Bisakah kau tunda sampai jam empat? Susullah Mama di kantor ya, nanti kita sama-sama berangkat dari sini.”

“Mm, gak usah deh Ma, aku pergi sendiri saja. Gak apa-apa kok. Bye, Ma.”

Sandra mengakhiri pembicaraan dan menuju kamarnya. Ia memutuskan takkan pergi ke manapun. Dimatikannya ponselnya lalu ia merebahkan diri di tempat tidur, meraih remote TV kabel dan sebatang coklat dingin. Persetan dengan pernikahannya!

*****************

Pasien terakhir, seorang nyonya setengah baya pengidap Diabetes Mellitus. Berat badannya yang semula delapan puluh kilogram kini hanya tinggal lima puluh empat kilo. Tentu saja serasi dengan tingginya yang hanya seratus enam puluh senti. Sayangnya berat badan berkurang karena penyakit yang diidapnya sejak enam bulan lalu.

“Nah, obat masih sama dengan bulan lalu, hanya saja mulai saya kurangi dosisnya. Nampaknya gula sudah mulai stabil,” jelas Frans sambil mengetikkan resep online ke apotek dari PC nya.

“Iya Dok, saya diet ketat. Kalau biasa sarapan roti mentega dua tangkap sekarang hanya setangkap tanpa mentega. Tapi kopi masih boleh kan, Dok?” Tanya Si Nyonya malu-malu.

“Sehari sekali tidak apa, pakai gula diet saja ya. Dan terutama hindari stress, baik karena pekerjaan maupun lainnya.”

“Aduuuh, itu yang susah, Dok. Bagaimana tidak stress, suami berlayar hanya pulang tiga bulan sekali, anak sudah kuliah di luar kota. Saya benar-benar sendirian Dok, kesepian. Mana sudah pula berhenti kerja karena desakan suami. Aduuh, jadi gak ada kegiatan,” keluh Si Nyonya sambil memainkan ujung kuku-kukunya. Frans menghela napas panjang. Akupun kesepian Nyonya, sayangnya kau bukan tipeku!

“Yang penting Ibu tidak terlalu banyak berpikir berat dan tetap olah raga ringan. Okay?” ujar Frans mencoba mengakhiri pembicaraan.

Setelah Si Nyonya keluar ruangannya, Frans segera meraih ponselnya dan menghubungi Sandra. Tidak aktif. Frans melemparkan ponselnya ke meja. Frans bukannya tidak tahu kepulangan Sandra ke Jakarta untuk apa. Hanya saja ia pantang menyerah, tak mungkin Sandra tak tertarik padanya. Kerinduan dan kegairahannya pada Sandra sudah tak terbendungkan lagi. Ia harus memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu Sandra kembali sebelum pernikahan gadis itu terlaksana. Sekali lagi ia meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.

“Kau ada di mana?” Tanyanya.

“Owh, Dockie, tentu saja aku ada di rumah dan sangat…sangat…kesepian,” desah sebuah suara menggoda di seberang.

“Oke, lima belas menit lagi aku sampai.”

“Oohh, datanglah Sayang, aku menunggumu, Tampan…”

Dan Frans melampiaskan rindunya pada Sandra, pada suara mendesah itu. Rini.

*****************

Lagi-lagi bersambuuuuungg… oohhh….. (eh, gak mendesah lho😛 )

Gambar ndonlot dari sini😉

6 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 17

  1. LJ November 16, 2012 / 5:36 pm

    kirain author cerbung ini lagi berlayar.. lama sekali gak ada kisah ttg sandra.. #siapa tau bude diculik mas Agung.

    Qiqiqiqiqi….akunya mau diculik Mak, tapi doinya yang gak mauuuu😆

  2. Wong Cilik November 19, 2012 / 11:10 am

    keren …
    kesepian, sepertinya itu mimpi terburuk memang…

    Hehehehe… makasiy MasWong, semoga kita semua tak pernah kesepian yaa😀

  3. Lidya November 19, 2012 / 11:37 pm

    apa kabar mbak? akhirnya ya keluar juga sandra🙂

    Kabar baik, Jeng. Maaf lom sempat BW, kerjaan akhir tahun😦
    Hehehe…kelamaan ya, Jeng😛

  4. fadecancer November 20, 2012 / 5:48 pm

    waaaaa…..gak rela …gak relaaa….
    kok, gitu sih Frans??
    hedeh hedeh mana Aryo itu sok sibuk banget sih, masa’ utk pernikahannya sendiri, smp gak bisa nyisihin waktu ….
    ( emak mak mulai ngomel deh jadinya tuh …………………hahaha )😀😀
    Eh, tapi ….. Agung kemanaaaa……………yaaa………

    (to be continued juga deh komennya …..hihihih…)😛
    salam

    Hihihihi…. Aryo emang cinta sama Sandra, tapi ternyata lebih cinta sama pekerjaannya😦
    Mas Aguuung, ke mana siiiy kok ndak nongol-nongol😀 Nantikan lanjutannya ya, Bund😀

  5. prih November 24, 2012 / 7:13 pm

    Meski penoreh lukisan cinta sedang sibuk, yang ngantri baca karyanya tetap menunggu. Duh Sandra, menunggu siapa yang ditunggu …… Terus berkarya Diajeng, Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s