Papa, In Memoriam: Mie Rebus dan Laron

14 November 2012

Belum terlalu sore, mendung luar biasa hitam. Aku pulang cepat, dan membelokkan mobil ke jalan rumah Papah. Aku memang mau mampir karena ada perlu dengan Ibu. Begitu surprise Papah melihatku yang datang di luar hari biasanya. Papah tertawa senang lalu minta diambilkan koran hari ini. Ternyata Papah mau lihat tanggal dan hari. Papah lupa bahwa ini baru hari Kamis, dikira Papah besok adalah Sabtu.

Hujan mulai turun dengan deras. Aku duduk nonton TV di luar, tepat di hadapan pintu kamar Papah. Lalu Papa menengok dan memandangiku.

Papa   : Pit, kono nek arep nggawe mie, maem sik.

Aku    : Belum lapar kok Pah, nanti aja maem di rumah.

Papa   : Oo yooo…

Aku    : Atau Papah kerso mie? Aku buatin ya.

Papa   : Yo keno

Aku    : Goreng atau kuah, Pah?

Papa   : Sak karepmu, opo wae manut

Aku    : Kuah aja ya, Pah, anget hujan-hujan gini

Papa   : Boleh, tapi kuahe ojo okeh-okeh yaa mengko ndak ora ono rasane

Maka sementara Ibu mandi sore, dengan suka cita aku memasak mie instan untuk Papah. Mie kesukaan Papah adalah mie yang direbus sampai lama hingga empuk banget. Tumben-tumbenan aku sabar sekali menunggui di depan kompor. Biasanya kutinggal untuk melakukan hal-hal lain. Selesai langsung kuhidangkan, rupanya agak terlalu asin sehingga Papah minta nasi sedikit. Papa makan dengan lahap. Mie buatan anak wedok, meki bumbu instan pastiiii rasanya beda. Karena ada banyak cinta ketika merebus.

Karena hari sudah menjelang maghrib, maka aku pamit pulang sebelum Papa selesai makan. Padahal entah mengapa, hari itu aku ingin berlama-lama di rumah Papah. Meski hanya duduk di luar kamar, tapi aku bisa memandangi Papah. Tidak seperti sekarang, Papah gak ada di kurinya😥

Kebahagiaan Papah sangat sederhana, hanya meihat anak dan cucunya aja. Apalagi jika dilayani, diajak ngobrol, disapa. Maafkan aku, Pah.

15 November 2012

Aku gak datang ke rumah Papah. Padahal libur😥 Hanya pagi mengantar lontong sayur padang untuk Papah. Meski kesiangan karena Papah sudah sarapan. Tapi siang hari aku WA Ibu, lonsay tetap didahar untuk siang🙂 Ibu juga mengabarkan kalo dada kiri Papah sakit tapi sudah digosok minyak kayu putih.

17 November 2012

Sore aku datang ke rumah Papah. Membawakan nasi padang yang tumben-tumbenan Papah mau pakai rendang. Padahal ini lauk yang paling dihindari karena gigi Papah sudah otw habis. Papah hanya makan nasi dan sayurnya dan meninggalkan rendangnya dengan sedikit nasi. Kuhabiskan saja. Menjelang malam aku pulang karena Guanteng sudah minta pulang. Aku berpamitan. Papah sedang menonton bola kalo gak salah Ina vs Khamerun?

18 November 2012

Entah mengapa, hari itu aku malas sekali hendak ke Villa (rumah Papah). Dan Papah pun tumben tak meneleponku seperti biasa jika aku gak datang-datang. Eh sore Papah menelepon jam 15.51 menanyakan aku datang atau tidak. Menjelang maghrib aku baru tiba. Hujan sedikit. Laron beterbangan di mana-mana. Sejak kecil Guanteng memang takut laron. Maka gada setengah jam aku berpamitan. Andai aku tahu itu terakhir aku melihat Papa, maka aku akan berlama-lama. Papa hanya tertawa mendengar alasanku berpamitan, karena Guanteng takut laron. Aku bahkan gak mencium Papah seperti biasanya karena Gaunteng udah nangis. Aku hanya melambaikan tangan tanpa masuk kamar Papah. Maafkan aku, Pah😦 Andai aku tahu…. , terakhir melihat wajah tampan Papah😦

22 November 2012

Pukul 19.41 Papah meneleponku untuk yang terakhir. Pembicaraan hanya 55 detik. Hiks… maaf ya, Pah..

Kulihat di log HP ku, ternyata aku sering sekali mengabaikan telepon dari Papah. Karena kadang Papah menelepon di saat aku sedang meeting atau bertemu orang/klien. Seharusnya aku menelepon balik, tapi jarang sekali kulakukan.

Kini, gak ada lagi Papah yang selalu mengingatkanku untuk makan siang. Gak ada lagi Papah yang merindukanku. Seperti inikah rasanya jika Papah menantikan kehadiran kami anak-anaknya? Ternyata sakit ya, Pa. Aku bahkan tak kuat menanggungnya. Aku tak setabah engkau, Pah. Aku rindu😥

9 thoughts on “Papa, In Memoriam: Mie Rebus dan Laron

  1. Lidya November 28, 2012 / 1:40 pm

    kenangan papanya selalu ada ya mbak, sabar ya mbak

    Iya Jeng, aku dan Om Dewo akan mencoba mengabadikan kenangan itu. Makasih ya, Jeng..

  2. honeylizious November 28, 2012 / 1:56 pm

    Hani malah lebih dekat sama kakek😥

    Maka bahagiakan kakek selagi masih ada, Hon

  3. LJ November 28, 2012 / 5:37 pm

    aku modifikasi dr postingan mamih:

    Bude boleh ingat kembali semua kenangan itu dan jadikan sebagai rasa terima kasih buat Papah. Apa yang telah beliau berikan tetap hadir pada kehidupan Bude yang masih harus dilalui hingga batas yang tidak dapat ditentukan.

    oceeyyy… #pelukkenceng

    Hiks… iya Mak. Aku mencoba mengabadikan kenangan akan Papah, agar kelak bisa dibaca anak cucu sebagai pembelajaran. Makasiy ya, Mak.

  4. Wong Cilik November 29, 2012 / 1:22 am

    yang tabah ya mbak …

    Iya Mas, meski masih sering merasa kehilangan😦

  5. Emanuel Setio Dewo November 29, 2012 / 10:48 am

    Tabahkan hatimu, Kak. Papah sudah dijemput langsung oleh Tuhan Yesus. Berarti Tuhan berkenan & mengasihi Papah.

    Iya, cuma masih gelo dan sering menyalahkan diri sendiri😥 Semoga Papah mau memaafkanku.

  6. Orin November 29, 2012 / 6:22 pm

    bu Choooooo *speechless* *peluk bu Cho*

    Pelukanmu sangat menguatkanku, Orin

  7. prih Desember 11, 2012 / 8:02 am

    Keteladanan dan kasih Papah menyemangati Diajeng dan keluarga, Salam

    Beliau memang selalu memotivasi tiap kami anaknya down🙂

  8. Imelda Januari 18, 2013 / 10:06 am

    Jika sudah waktunya tak ada yang bisa mencegah… simpanlah kenangan yang terbaik dari papa, untuk selalu dikenang. Dan jangan menyesal, karena memang sudah harusnya begitu.
    Papa pasti senang sekali makan mie atau nasi padang darimu. Jamuan makan terakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s