Papa, In Memoriam: Wasiat

Aku lupa kapan tepatnya, mungkin akhir tahun lalu atau justru awal-awal tahun ini. Suatu siang, Papah memanggilku untuk ngobrol di teras. Sambil memegang lenganku Papa berkata,

Papa      : Pit, nanti kalo Papah meninggal…

Aku langsung memotong perkataan Papa.

Aku       : Papah ini bicara apa sih? Aku gak mau ngomongin itu!

Papa     : Iki wasiat. Kowe rungokno wae, nek perlu dicatet. Mung kowe sing tak percoyo njalanke iki.

Aku nyaris menangis, hati menyangkal. Semua orang pasti akan kembali padaNya. Namun bagiku, Papa masih akan hidup 1000 tahun lagi. Aku gak mau kehilangan Papa. Namun karena Papa begitu serius, maka aku mendengarkan.

Papa     : Nek Papa dipanggil Tuhan, usahakan Papa dikubur ning Yojo (Yogya), ning Sagan. Kuwi ono dana ning ATM nya Papah. Kanggo ambulance, biaya pemakaman, kiro-kiro sekian juta cukup to?

Waktu itu aku sedih banget. Papah, masa sih sampai mikir biaya segala? Masih ada kami, anak-anakmu. Lalu Papah masih bicara lagi tentang mobil, rumah, dan lain-lainnya. Yang sayangnya aku sudah lupa semua. Yang kuingat hanya keinginan Papa untuk dimakamkan di Yogya. Siang itu juga aku langung share di BBM keluarga. Mbakayune bahkan langsung menghubungi keluarga Yogya (sepupu) untuk memesan tempat untuk Papa di Sagan. Ternyata sudah penuh, tak ada lagi tempat. Tapi kami tak memberitahukan Papa, karena meskipun kami tahu semua orang akan kembali padaNya, tapi buat kami Papa masih akan lama sekali menunggui kami. Penyangkalan ini membuat kami tak serius menanggapi wasiat Papah. Ditambah lagi BB ku kemudian rusak. Nanti akan kucoba buka memorinya, semoga masih bisa terbaca.

Dan ketika saatnya tiba, di tengah kebingungan dan kepanikan, tiba-tiba ada pertanyaan, “Bapak mau disareke (dimakamkan) di mana?”

Yang kuingat hanya Yogya! Saat itu aku masih sendiri bersama Ibu. Mbakayune masih dalam perjalanan dengan kereta dari Tegal. Aku bilang ke Ibu, bahwa keinginan Papah terakhir adalah Sagan. Maka Ibu segera menelepon sepupuku untuk bisa diupayakan. Saat itu Om meneleponku, menasehatiku bahwa sebaiknya Papa dimakamkan dekat saja, supaya Ibu, anak-anak, dan cucu-cucu bisa kapan saja nyekar dan ziarah. Nyaris aku tergoda. Demikian juga Omku yang lain juga menyarankan, bahkan akan mengusahakan agar Papa dimakamkan di Bogor. Ada satu tempat seperti San Diego tapi khusus untuk PNS. Begitu dekatnya. Om juga menawarkan boleh memakai tempat Om dulu (yang sudah memesan sepasang).

Rasa cintaku pada Papa justru membuatku ingin menerima saran mereka. Setidaknya seminggu sekali aku tetap bisa mengurus dan mengunjungi makam Papa. Bahkan Mbakayune juga mengijinkan. Tapi, sudah bertahun-tahun Papa ingin pulang ke Yogya. Tak satupun dari kami mau mengantar Papa. Selain menimbang kesehatan Papa juga menimbang kesehatan Ibu. Bisa saja naik pesawat, tetapi di sana bagaimana? Dan toh ternyata pada akhirnya kami semua mengantar Papa ke Yogya, untuk terakhir kalinya. Hiks…maafkan kami, Pah😥 Kini aku tahu mengapa Papa hanya mengatakan wasiat itu padaku seorang. Karena Papa yakin, aku akan memperjuangkan dan mengusahakan keinginan Papa.

Maka akupun kembali bertahan untuk memakamkan Papa di Yogya. Kabar dari Yogya sangat kunantikan. Sementara itu aku terus mengatakan bahwa keinginan Papa terakhir adalah Yogya, tanah kelahiran Papa. Puji Tuhan, keajaiban itu datang. Pukul 9 an kami mendapat kepastian bahwa ada tempat untuk Papa di Sagan, tidak bisa di dalam pagar makam Mbah Kung dan Mbah Tie, tetapi di luarnya. Ini luar biasa. Papah mendapat tempat persis di depan makam ayahandanya dan dekat dengan ibundanya. Di sampingnya malah makam kakak iparnya. Sungguh Tuhan memberi kemudahan untuk segalanya. Bahkan di kemudian hari kami mengetahui bahwa makam Papah sangat bersih. Tak ditemukan hambatan apapun selama penggalian. Juga tak ditemukan sedikitpun tulang dari sebelah-sebelahnya. Padahal biasanya mereka menemukan sisa-sisa tulang. Betapa Papah diberi kemudahan luar biasa. Terimakasih, Tuhan.

Lihat Pah, begitu banyak tamu dan kerabat yang menjengukmu, mendoakanmu. Misa berjalan penuh keharuan, didukung lagu-lagu yang dibawakan oleh koor membuat hatiku sedih luar biasa. Selepas misa requiem kami mempersiapkan semuanya. Aku, Ibu, Netty dan Cantik naik pesawat. Sementara para pria mengiringi ambulance. Mbakayune juga naik mobil karena anaknya yang paling kecil takut naik pesawat.

Pukul 3 dini hari Papa tiba di Yogya, di rumah masa kecilnya. Dan luar biasa, di sana semua sudah disiapkan. Bunga, lilin, kursi, semua, semua sudah siap. Karangan bunga begitu banyaknya. Lihatlah Pah, semua sudah menunggu kedatanganmu. Dan meski keluarga Papa muslim, tetapi kami diijinkan mengadakan misa di sana.

Yang melayat luar biasa banyak. Begitu banyak yang mendoakanmu, Pah. Justru di saat kau tak butuh lagi siapa-siapa, begitu banyak yang menengokmu. Betapa banyak yang mengasihimu. Tamu mengalir tiada habisnya. Papa bahagia kan, Pah?

Terus aku menyalahkan diriku. Mengapa tak kuantar Papah ke Yogya dulu-dulu? Sejak pindah ke Bogor, Papah belum pernah lagi pulang ke Yogya. Dan kini justru pulang untuk selama-selamanya. Maafkan aku, Pah. Bagaimana caraku agar kau mau memaafkanku? Aku menyesal. Aku kangen Papah😥

10 thoughts on “Papa, In Memoriam: Wasiat

  1. Emanuel Setio Dewo November 29, 2012 / 10:53 am

    Papah itu tulus jika mengasihi dan memaafkan, apalagi kepada ibu & kita putera-puterinya. Sudah tidak terbilang kita menyakiti Papah & membuatnya khawatir, namun Papah selalu memaafkan kita. Pasti sekarang pun Papah sudah memaafkan kita semua.

    Aku yakin itu, Papah selalu memaafkan dan selalu bahagia melihat kita😥

  2. Orin November 29, 2012 / 6:19 pm

    Duh aku jd sedh bacanya bu Cho…tapi papah sudah berbahagia di sana sekarang ya..

    Iya, semua keinginannya yang belum terwujud pastilah sudah tergenapi di sana

  3. applausr November 29, 2012 / 11:11 pm

    pasti dimaafkan kesalahan dirimu… wah godaan untuk menjalankan wasiat berat juga ya… untuk dirimu bisa melaluinya dengan baik ya….

    Sangat berat, MasApp, apalagi jika ego sudah ikutan bicara. Untunglah saya berusaha dengan dibantu seluruh keluarga. Terimakasih yaa

  4. Lidya November 29, 2012 / 11:28 pm

    hiks sedih mbak bacanya. setidaknya mbak chocho sudah meperjuangkan makam papanya di yogya

    Iya Jeng, apapun keinginan Papa akan saya coba wujudkan

  5. IbuDzakyFaiRaffa (@fitrianita13460) November 30, 2012 / 9:07 am

    Panggilannya samaan ya jeng, Papaku stroke juga dulu itu, beliau dah wafat hampir 10 taun lalu diusia 53, hiks jadi ikutan sedih.

    Teringat Papa ya, Bu? Mari kita doakan agar ayah-ayah kita diterima Allah dan dihapuskan segala dosanya di dunia.

  6. prih Desember 11, 2012 / 8:08 am

    Papah ngendika tentang wasiat pemakaman kepada Diajeng dan terlaksana dengan segala kebaikanNya, bekti sang putri jati. Sugeng kondur Papa ke rumah abadi. Salam

    Inggih, Mbakyuu. Segala daya upaya kami lakukan, agar terpenuhi semua keinginan beliau, meski mungkin sudah tak berarti lagi😦

  7. Imelda Januari 18, 2013 / 9:53 am

    beruntunglah Choco karena papa hanya mengatakan padamu keinginan utk dimakamkan di mana. Mama hanya mengatakan pada adikku bahwa dia mau dikremasi, karena setiap dia katakan soal meninggal kepadaku selalu aku tanggapi dengan bercanda😦
    Memang sebaiknya kita penuhi keinginan almarhum ya

  8. Jual Penjernih Air Juli 19, 2016 / 10:55 am

    sedih baca ceritanya bu cho, ada hikmah yang bisa diambil ya bu, syukurlah keinginan terakhir papa bisa terpenuhi

  9. Jual Filter Air Juli 19, 2016 / 10:59 am

    sabar dan kuat ya mbak, sudah lama berlalu tapi pasti kenangan bersama papa gak akan pernah hilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s