Papa, In Memoriam: Peka

Papa adalah pribadi yang sangat peka, terutama bila menyangkut istri, anak, dan cucu. Peka dalam artian tahu apa yang kami rasakan. Sedang sedihkah, sakitkah, marahkah, bahkan jika sedang gak punya uang🙂

Ada satu atau bahkan banyak cerita lucu menyangkut kepekaan Papa ini. Pernah suatu kali aku datang ke rumah Papa seperti biasa. Oh ya, aku sering menunggui Papa seharian di hari Sabtu. Atau setengah hari di hari Minggu. Nah, pada saat itu kok ya penggajian dari kantorku terlambat, yang seharusnya Jumat tetapi aku belum terima gaji. Masih ada siy sebetulnya kalo hanya untuk bertahan hidup😛 Tetapi gak enak juga kan pegang uang pas-pasan😀

Siang itu Papa minta antar ke ATM. Papa memang pada dasarnya senang berjalan-jalan, meski cuma isi bensin, cuci mobil atau sekedar putar-putar dengan mobil tua kesayangannya. Maka aku pun pergi mengantar Papa. Tentu saja aku yang mengambilkan, karena stroke Papa sudah susah beraktifitas. Apalagi usianya yang sudah sepuh. Selesai ambil uang, masih di dalam mobil tiba-tiba Papa memberiku sebagian uang itu. Tentu saja aku menolak. Tapi Papa memaksa, kata Papa untuk jajan sama anak-anak. Padahal lumayan banyak lho😀

Ya ampuuuun, aku terharu sekali. Kok Papa tahu ya aku lagi bokek? Apakah tercermin di wajahku? Maka dengan penuh terimakasih dan suka cita aku terima uang pemberian Papa meski hati ini agak gak rela. Bukankah seharusnya aku yang selalu memberi Papa? Bahkan Papa berkata,

Nek kowe butuh, ora usah sungkan matur Papah. Wong Papah iki seneng banget nek iso mbantu anak-anak.” Papa berkata demikian sambil mengelus-elus kepalaku.

Duh, nangis gak sih? Dengan memberi, Papa masih merasa dibutuhkan, masih merasa dihargai. Memang Papa terkena stroke ketika masih berada di puncak karir, bahkan sudah dipromosikan oleh senior Papa sebagai Asisten Gubernur. Karenanya Papa sempat lama depresi, merasa tak berguna karena tak bisa lagi memanjakan keluarganya. Padahal Pah, lihatlah, dengan pensiunmu dan tabunganmu, kami berempat bisa menyelesaikan kuliah. Apalagi Mbakayune yang sudah lebih dulu mentas dengan tulus ikhlas membantu kami adik-adiknya yang masih banyak butuh biaya sekolah. Tentu saja kekompakan ini berkat didikan Papa dan Ibu kan?

Lain kisah, suatu kali aku hendak meminjam mobil Papa untuk ke kantor. Lagi-lagi aku hanya membawa uang pas-pasan. (Kok kalo dipikir-pikir aku sering pas-pasan gini ya?). Lha kok Papa malah memberiku uang untuk beli bensin dan makan siang. Aku bilang biar saja aku yang beli bensin wong aku yang pakai kok. Tapi seperti biasa Papa memaksa. Ya sudah, aku terima dengan sukacita. Bukankah Papa pernah berkata senang jika bisa membantu anak-anak? Tapi, swear, aku gak menjadikan ini modus lho!😀 Papa emang murah hati kok. Wong kadang-kadang aku lagi gak ngapa-ngapain dan masih punya uang juga dikasih kok sama Papa kalo pamitan😀 Atau lagi-lagi karena wajahku agak-agak memelas gitu ya? Ah, Papaaa, baiknya engkau.

Namun kepekaan terbesar Papa adalah ketika memutuskan siapa boleh menjadi pasangan hidupku. Dulu aku sempat berpacaran dengan seseorang bertahun lamanya. Mulai dari kuliah (aku kuliah di Yogya) sampai aku kerja (di Jakarta). Kebanyakan LDR siy, maka jika pulang ke Semarang kumanfaatkan untuk bertemu. Tentu saja di rumah sambil menemani Papa nonton TV. Wis, pokoke sepertinya gak ada masalah. Ketika keluarga X melamarku, Papa menerima dengan baik, namun mengatakan bahwa X boleh menikahiku asalkan mau menyelesaikan kuliah dulu. Oh ya, X sudah bekerja dan tak menamatkan kuliahnya. Maka X pun melanjutkan kuliah.

Tapi ternyata dari Ibu aku tahu bahwa Papa sebetulnya tidak sreg dengan X. Ya ampun, padahal sudah seiman, sama-sama orang Jawa, usia lebih tua 3 th dariku. Aku sempat sedih sekali bahkan sempat marah pada Papa. Menurut pendapat Papa, X kurang prospek, kurang ambisius sehingga kelak takkan bisa memenuhi semua keinginanku. Papa memang tahu banget aku. Meski aku marah tapi aku menurut. Eee, tapi gak langsung putusin X dong. Mesti cari cadangan dulu😛

Kembali ke Jakarta, tiba-tiba ada anak baru di kantorku. Dan dia naksir berat padaku (qiqiqiqiqi…huweeekk…:mrgreen: ). Singkat cerita, kami pun memproklamasikan sebagai pasangan kekasih, tepat ketika Si X menanyakan kelanjutan hubungan. Berhubung aku sudah punya gantinya maka akupun menyudahinya😛 Lha gimana lagi, dia juga gak jadi nerusin kuliah kok. Padahal kan itu syarat utama dari Papa.

Setahun kemudian aku memperkenalkan Kekasihku pada Papa. Heran sungguh heran, meski keluarga lain agak-agak menentang dan banyak menasehatiku, Papa malah merestui. Entah sih aku gak tahu bagaimana hati Papa sebenarnya, tapi Papa mengijinkan. Bayangkan, Kekasihku itu beda suku dan agama bahkan usia lebih muda 2 th dariku. Tapi memang dia lebih macho dan lebih prospek daripada X😳

Ternyata restumu gak salah, Pa. Meski banyak ombak dan badai seperti layaknya orang membina rumah tangga, tapi kami tetap bahagia. Apalagi dikaruniai kedua malaikat lucu yang sangat kau sayangi. Terimakasih, Pa. Kepekaanmu adalah radar untuk kebahagiaan kami semua. I miss you, Pah. Rest in peace.

13 thoughts on “Papa, In Memoriam: Peka

  1. yustha tt November 30, 2012 / 7:14 am

    Haha…suka tulisan ini…
    Restu orang tua memang mujarab ya Sist… ^^,

    Iya, Jeng. Apalah artinya hidup tanpa restu orang tua. Makasiy support nya Di WA ya, Jeng. Sangat mengurangi penyesalanku🙂

  2. nareswara November 30, 2012 / 9:34 am

    Terima kasih untuk serial tulisan tentang papa-nya. Membantu saya buat memahami orang tua saya juga.

    Saya masih akan menulis banyak, Mas. Dan semoga berguna bagi sahabat lain. Terimakasih yaa

  3. Lidya November 30, 2012 / 10:44 am

    yang penting restu orang tua ya mbak, gak usah didengar omongan keluarga lainnya. papahnay dekomratis banget ya orangnya

    Iya Jeng, sebisa mungkin langkah kami direstui orang tua. Apalah artinya kita senang jika orang tua menderita🙂

  4. niqué November 30, 2012 / 11:20 am

    Kepekaan seorang ayah (orang tua) memang gak nalar kadang2 mbak
    aku juga mengalami demikian, ketika kakak tertuaku nyodorin calonnya, bapa bilang JANGAN … tapi keukeuh minta dikawinkan … ya sudah dikawinkan .. dan hasilnya memang persis seperti yang digambarkan bapa ku
    sebaliknya aku, dapat persetujuan dan kami baik2 saja .. memang sih baru 3 tahun.
    tapi menurutku orang tua pasti punya RADAR yang sangat tajam, sehingga bisa mengendus sesuatu yang tak tampak oleh kita anak2nya hehehe

    semoga Papanya mbak Choco bahagia disana yaaa

    Restu orang tua adalah berkat ya, Jeng. Terimakasih doanya yaa

  5. honeylizious November 30, 2012 / 12:05 pm

    ahhhhh so sweet penutupnya🙂

    Makasiy, Hon🙂

  6. silver account Desember 2, 2012 / 8:13 am

    Selain karakternya yang tidak hangat, papa saya pun bersikap sangat protektif terhadap anak-anaknya. Banyak sekali larangan untuk kami yang didasari alasan agama ataupun kekhawatirannya yang kadang berlebihan. Larangan-larangan ini mulai terasa mengganggu bagi saya ketika mulai menginjak masa remaja, di mana saya sedang ingin bebas menikmati waktu bersama teman-teman. Ingin menginap di rumah teman? Tidak boleh! Sahabat saya berulang tahun dan mengadakan perayaan di malam hari? Harus mengajukan ‘proposal’ minimal seminggu sebelumnya dan itupun belum tentu ‘gol’. Dibandingkan dengan teman-teman yang relatif lebih dibebaskan oleh orang tuanya, papa saya sungguh tidak ‘asik’. Habis Maghrib saya harus sudah ada di rumah dan alasan apa pun, walaupun jalanan macet yang dia sendiri tahu tidak mengada-ada, akan dihadiahi kuliah panjang mengenai bagaimana seharusnya anak perempuan bersikap. Yang mengesalkan, pada saat itu kakak saya yang juga perempuan sudah mulai kuliah dan sebagai anak pertama, Ia dianggap lebih bisa dipercaya. Sementara adik saya laki-laki dan dia bisa bebas pulang ke rumah jam berapa saja dan bergaul dengan siapapun. Saya merasa diperlakukan tidak adil dan perlahan-lahan saya mulai memberontak.

    Percayalah, apa yang Papamu lakukan itu demi kebaikanmu. Kelak saya juga akan menuliskan kisah Papa saya yang over protective. Tapi setelah sekarang menjadi orang tua, saya pun memahami apa yang dulu Papa lakukan kepada saya. Sangat sulit untuk memahami ketika kita masih dalam masa peralihan, namun sangat bisa kita pahami setelah kita menjadi orang tua.
    Maafkan Papamu, semua itu dilakukannya demi kasih kepada anak-anaknya🙂

  7. prih Desember 11, 2012 / 8:15 am

    Restu Papah sebagai kepanjangan tangan berkat Tuhan ya Diajeng, menjadi kenangan dan pondasi kuat dalam keluarga. Diajeng, kekasih, ganteng dan cantik mutiara Papah tiada tara. Salam doa kami.

    Betul, Mbakyuu. Untuk itu segala langkah sebaiknya mendapat restu orang tua. Maturnuwun, Mbakyuu🙂

  8. LJ Desember 17, 2012 / 8:47 pm

    nengokin Bude.. lagi apa..?

    Hiks…belum bisa ngapa-ngapain, Mak😦

  9. Imelda Januari 18, 2013 / 9:48 am

    waktu aku mau menikah dengan Gen, juga papa yang menyetujui. Bahkan ketika ibuku : “Tapi dia bukan katolik, dan orang Jepang”. Dijawab oleh papa…”So what?”
    Aku tahu mama kecewa karena harus berpisah dengan anak tertuanya, karena itu aku berjanji utk pulang setahun sekali, minimum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s