Cintaku · I feel blue

PiM: Blue Christmas

Meski Natal ini tak sama lagi, dan takkan pernah sama
Tak ada lagi Papa yang lebih dulu rapi dan siap
Tak ada lagi Papa yang ganteng dengan kemeja batiknya
Tak ada lagi kursi roda yang menyempil di barisan umat
Aku akan mencoba bersuka

Apa pun, ini adalah Natal
Selayaknya kita bergita
Kuselipkan ah tidak, bahkan kudaraskan
Doa untukmu, Pa
Agar bahagia menyambutmu di surga

“Selamat Natal bagi Kawan yang merayakan.

Damai dan sukacita beserta kita semua”

Cintaku · I feel blue · Nimbrung Mikir

Selagi Masih Bisa

Sudah beberapa tulisan kubuat untuk mengenang Papa tercinta. Bukan bermaksud meratapi kepergiannya atau tidak ikhlas melepasnya. Tulisan-tulisan yang kubuat adalah salah satu terapi untuk mengobati rasa kehilanganku. Aku memang sangat dekat dengan Papa. Namun justru menjelang kepulangannya aku malah kurang peka dan tak mengunjunginya.

Kawan, selagi kau masih bisa memeluk orang tuamu, maka peluklah. Selagi kau masih bisa bercanda dengan orang tuamu, maka tertawalah. Selagi kau masih bisa mencium tangannya, maka ciumlah. Dan selagi kau masih bisa mengunjungi mereka, maka kunjungilah. Jika jarak menjadi masalah, maka teleponlah. Karena orang tua kita semakin tua, dan maut datang bagai pencuri. Tak pernah ada yang tahu dan tak pernah ada yang bisa mempersiapkannya.

Ada komentar menarik dari sahabat di beberapa tulisanku mengenang Papa. Ada yang berterimakasih karena mengingatkannya untuk berusaha memahami orang tua. Ada juga yang bercerita mengenai ayah yang over protective. Semua itu pun aku sudah alami. Aku bersyukur, sekeras apapun ayahku mendidikku, beliau tak pernah menggunakan tangannya. Dan rasanya aku memang jarang dimarahi Papa, baik sewaktu kecil apalagi setelah dewasa. Maka rasanya tak ada kenangan buruk tentang Papa.

Namun tentu tak semua keluarga mengalami hal demikian. Ada juga kekurangharmonisan antara ayah dan anak, atau ibu dan anak. Maka Kawan, sebelum segalanya terlambat aku berbagi kepadamu.

Jika orang tuamu berlaku keras padamu, pahamilah. Kelak setelah menjadi orang tua, kau akan mengerti.

Jika orang tuamu turut andil dalam ketidakbahagiaanmu, maafkanlah. Sebenarnya tujuan mereka hanya kebahagiaanmu.

Jika orang tuamu merasa paling tahu akan hidupmu, mengertilah. Mereka yang membesarkanmu dan tentu lebih berpengalaman darimu.

Jika orang tuamu mengekang langkahmu, ampunilah. Mereka hanya tak ingin kau terjerumus dalam kesusahan.

Jika orang tuamu mengatur kehidupanmu, maklumilah. Bagi mereka, kau akan selamanya menjadi anak tersayangnya.

Jika orang tuamu menyakiti hatimu, bukalah pintu maaf selebar-lebarnya. Mereka hanya tak tahu bagaimana mengungkapkan cinta sesuai keinginanmu.

Percayalah Kawan, meski kita takkan pernah tahu kapan maut menjemput, tetapi setidaknya kita tahu bahwa kematian adalah sebuah kepastian. Karenanya, sayangilah orang tuamu, pasanganmu, anak-anakmu, dan sahabat-sahabatmu. Berpikirlah sebelum kau menyakiti hati mereka. Karena, biarlah yang indah saja yang akan menjadi kenangan untuk mereka, ketika pada akhirnya aku, kau, atau mereka yang akan lebih dulu meninggalkan kita.

Pulang nanti, peluklah ayahmu, ibumu, pasanganmu, saudara-saudarimu, dan anak-anakmu. Lupakanlah segala perbuatan yang tak berkenan padamu. Rendahkan hati untuk memaafkan. Maka, hidup ini akan indah dan terasa ringan. Percayalah!

Cintaku · I feel blue

Papa, In Memoriam: Teka-teki

Menjelang dua hari memperingati 7 hari berpulangnya Papa, Ibu mengirim WAM kepada kami. Tulis Ibu: Teka-teki itu terjawab sudah!Tentu saja kami bingung, teka-teki apa yang dimaksud oleh Ibu. Lalu Ibu menjelaskan kepada kami. Dan kami sangat terharu dan berterimakasih.

Kawan, tak seorangpun tentu punya pengalaman kehilangan orang yang dicintai. Jikapun ada yang sudah pernah mengalami kehilangan lebih dari sekali, tetap saja takkan pernah bisa mengurus segala hal. Seperti pernah ditulis oleh OmNH ketika Ayahandanya berpulang, para tetanggalah yang banyak membantu. Itu juga yang kami alami.

Pada hari kepergian Papa, aku tak beranjak dari kamar Papa sampai ada kekasihku dan adikku datang. Begitu mereka datang dan bergantian menjaga Papa, akupun mandi. Dan betapa terkejutnya aku ketika keluar kamar Papa. Di depan rumah Papa tiba-tiba sudah banyak kursi dan sudah pula pasang tenda. Lalu ruang tamu juga sudah ditata agar bisa menerima banyak tamu. Karena kami penganut Katolik, maka dari lingkungan Katolik mempersiapkan bunga, memanggil Romo, memesan peti, dll. Hal yang sama sekali tak terlintas di kepala untuk memikirkan itu semua. Sementara dari tetangga yang muslim, sungguh luar biasa. Inilah yang menjadi teka-teki buat Ibu.

Siang hari, selesai misa atau bahkan sebelumnya, aku gak tahu, tiba-tiba di meja makan sudah terhidang makanan. Ada aneka lauk-pauk yang entah darimana datangnya. Makanan ini dipersiapkan bagi kami dan keluarga yang datang dari jauh, bahkan juga untuk para tamu yang setia mendampingi kami hingga Papa diberangkatkan ke Yogya. Hal yang lagi-lagi tak terpikirkan oleh kami. Bahkan meski begitu banyak hidangan, tak bisa aku menelan. Rupanya aneka hidangan ini disiapkan oleh ibu-ibu dari lingkungan RT. Dimana sebagian besar dari mereka adalah muslim. Darimana kami tahu? Karena mereka mendatangi Ibu dua hari menjelang misa 7 hari untuk Papa. Ibu-ibu yang semuanya berkerudung itu menyerahkan sisa dana dari masak-memasak kepada Ibu. Tak kuasa Ibu menahan tangis. Karena selama ini Ibu bertanya-tanya siapakah yang menyiapkan makanan itu? Bahkan mereka menyerahkan pula dana sisa memasak. Padahal darimana dana itu pun Ibu gak tahu. Sungguh kehidupan bertetangga yang luar biasa.

Demikian juga ketika sore hari Ibu dan kami para anak perempuan mesti bergegas ke bandara. Lalu para anak laki mengiringi jenasah berangkat ke Yogya, siapa yang membereskan segalanya? Para Bapak itulah tentu yang mengkoordinir segala sesuatunya.

Aku melihat betapa indahnya hidup saling berbagi seperti ini. Tanpa memandang agama, suku, semua bersatu membantu yang kesusahan. Para Bapak yang koor, tentu mereka ijin dari kantor untuk bisa mengunjukkan misa bagi Papa. Para Bapak beragama muslim yang dengan setia membantu segala sesuatunya, mereka juga pasti ijin tidak masuk kantor. Para Ibu yang tentu saja meninggalkan kegiatan rumah tangganya demi membantu kami. Dan ketika misa dimulai, kekasihku dan para tamu muslim meminta pamit untuk melaksanakan shalat Jumat karena waktu yang nyaris bersamaan.

Lihatlah, Pah, banyak yang mendoakanmu. Ini tentu buah dari kebaikanmu sejak dulu, yang tak pernah mempermasalahkan siapa beragama apa atau siapa bersuku apa. Bahkan menantu Papa pun beraneka macam bukan? 😀 Sehari-hari kehidupan Papa juga ramah dengan tetangga. Selalu menyapa siapapun yang lewat jika Papa duduk-duduk di teras.

Dulu ketika Papa jatuh dan harus operasi di Bekasi, tetangga pula yang mengantar Papa dengan ambulance, karena tak satupun dari putramu ada di Semarang. Bahkan Pak Sahid yang mengantar Papa jauh lebih sepuh dan lebih dulu pula dipanggil Tuhan. Persahabatan itu indah ya, Pah. Saling setia dan saling mendampingi itulah prinsip yang diajarkan Papa.

Terimakasih Pah, atas pelajaran berharga ini. Kami pun tak pernah mempermasalahkan agama, karena keyakinan adalah hubungan pribadi dengan Tuhan Allah. Tak seorangpun boleh memaksakan kehendak atau saling mengusik.

Maka, kami sekeluarga sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu melancarkan kepergian Papa. Ibu dan kami tak sempat juga menyampaikan rasa terimakasih satu per satu. Namun, kami berdoa bagi semua agar Tuhan membalas kebaikan Bapak Ibu dan seluruh pihak. Dan semoga persahabatan ini abadi hingga maut memisahkan. Terimakasih. Rest in peace, Pah.