Papa, In Memoriam: Teka-teki

Menjelang dua hari memperingati 7 hari berpulangnya Papa, Ibu mengirim WAM kepada kami. Tulis Ibu: Teka-teki itu terjawab sudah!Tentu saja kami bingung, teka-teki apa yang dimaksud oleh Ibu. Lalu Ibu menjelaskan kepada kami. Dan kami sangat terharu dan berterimakasih.

Kawan, tak seorangpun tentu punya pengalaman kehilangan orang yang dicintai. Jikapun ada yang sudah pernah mengalami kehilangan lebih dari sekali, tetap saja takkan pernah bisa mengurus segala hal. Seperti pernah ditulis oleh OmNH ketika Ayahandanya berpulang, para tetanggalah yang banyak membantu. Itu juga yang kami alami.

Pada hari kepergian Papa, aku tak beranjak dari kamar Papa sampai ada kekasihku dan adikku datang. Begitu mereka datang dan bergantian menjaga Papa, akupun mandi. Dan betapa terkejutnya aku ketika keluar kamar Papa. Di depan rumah Papa tiba-tiba sudah banyak kursi dan sudah pula pasang tenda. Lalu ruang tamu juga sudah ditata agar bisa menerima banyak tamu. Karena kami penganut Katolik, maka dari lingkungan Katolik mempersiapkan bunga, memanggil Romo, memesan peti, dll. Hal yang sama sekali tak terlintas di kepala untuk memikirkan itu semua. Sementara dari tetangga yang muslim, sungguh luar biasa. Inilah yang menjadi teka-teki buat Ibu.

Siang hari, selesai misa atau bahkan sebelumnya, aku gak tahu, tiba-tiba di meja makan sudah terhidang makanan. Ada aneka lauk-pauk yang entah darimana datangnya. Makanan ini dipersiapkan bagi kami dan keluarga yang datang dari jauh, bahkan juga untuk para tamu yang setia mendampingi kami hingga Papa diberangkatkan ke Yogya. Hal yang lagi-lagi tak terpikirkan oleh kami. Bahkan meski begitu banyak hidangan, tak bisa aku menelan. Rupanya aneka hidangan ini disiapkan oleh ibu-ibu dari lingkungan RT. Dimana sebagian besar dari mereka adalah muslim. Darimana kami tahu? Karena mereka mendatangi Ibu dua hari menjelang misa 7 hari untuk Papa. Ibu-ibu yang semuanya berkerudung itu menyerahkan sisa dana dari masak-memasak kepada Ibu. Tak kuasa Ibu menahan tangis. Karena selama ini Ibu bertanya-tanya siapakah yang menyiapkan makanan itu? Bahkan mereka menyerahkan pula dana sisa memasak. Padahal darimana dana itu pun Ibu gak tahu. Sungguh kehidupan bertetangga yang luar biasa.

Demikian juga ketika sore hari Ibu dan kami para anak perempuan mesti bergegas ke bandara. Lalu para anak laki mengiringi jenasah berangkat ke Yogya, siapa yang membereskan segalanya? Para Bapak itulah tentu yang mengkoordinir segala sesuatunya.

Aku melihat betapa indahnya hidup saling berbagi seperti ini. Tanpa memandang agama, suku, semua bersatu membantu yang kesusahan. Para Bapak yang koor, tentu mereka ijin dari kantor untuk bisa mengunjukkan misa bagi Papa. Para Bapak beragama muslim yang dengan setia membantu segala sesuatunya, mereka juga pasti ijin tidak masuk kantor. Para Ibu yang tentu saja meninggalkan kegiatan rumah tangganya demi membantu kami. Dan ketika misa dimulai, kekasihku dan para tamu muslim meminta pamit untuk melaksanakan shalat Jumat karena waktu yang nyaris bersamaan.

Lihatlah, Pah, banyak yang mendoakanmu. Ini tentu buah dari kebaikanmu sejak dulu, yang tak pernah mempermasalahkan siapa beragama apa atau siapa bersuku apa. Bahkan menantu Papa pun beraneka macam bukan?😀 Sehari-hari kehidupan Papa juga ramah dengan tetangga. Selalu menyapa siapapun yang lewat jika Papa duduk-duduk di teras.

Dulu ketika Papa jatuh dan harus operasi di Bekasi, tetangga pula yang mengantar Papa dengan ambulance, karena tak satupun dari putramu ada di Semarang. Bahkan Pak Sahid yang mengantar Papa jauh lebih sepuh dan lebih dulu pula dipanggil Tuhan. Persahabatan itu indah ya, Pah. Saling setia dan saling mendampingi itulah prinsip yang diajarkan Papa.

Terimakasih Pah, atas pelajaran berharga ini. Kami pun tak pernah mempermasalahkan agama, karena keyakinan adalah hubungan pribadi dengan Tuhan Allah. Tak seorangpun boleh memaksakan kehendak atau saling mengusik.

Maka, kami sekeluarga sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu melancarkan kepergian Papa. Ibu dan kami tak sempat juga menyampaikan rasa terimakasih satu per satu. Namun, kami berdoa bagi semua agar Tuhan membalas kebaikan Bapak Ibu dan seluruh pihak. Dan semoga persahabatan ini abadi hingga maut memisahkan. Terimakasih. Rest in peace, Pah.

11 thoughts on “Papa, In Memoriam: Teka-teki

  1. niqué Desember 1, 2012 / 11:02 am

    Turut berduka ya mbak Choco
    Ketika membaca postingan sebelumnya, aku sama sekali gak peka😦
    kalau ternyata mbak Choco masih dalam suasana berkabung

    doa kami untuk Papahnya mbak Choco semoga diampunkan dosa dan diterima amal kebaikannya. aammin!
    buat mbak Choco sekeluarga, yang kuat yah …

    Terimakasih doanya, JengNi. Saya memang masih sangat sedih, tapi dengan menuliskan kenangan tentang Papa merupakan terapi buat saya.

  2. Emanuel Setio Dewo Desember 1, 2012 / 11:35 am

    Iya, mengharukan. Terima kasih para tetangga yang telah begitu baik hati kepada Papah & kita semua.

    Juga para blogger yang terus memotivasi untuk bangkit.

  3. Myra Anastasia Desember 1, 2012 / 11:30 pm

    maaf sy baru tau.. sy turut berduka cita ya mbak

    Terimakasih ya, Jeng.

  4. Lidya Desember 3, 2012 / 9:08 pm

    di RT ku sini tidak memandang agama kok mbak, memang sudah ada dana yang disediakan untuk keluarga yang sedang berduka. semua keperluan pemakaman ,tenda dan sedikit makanan sudah masuk kedalam budget

    Hebat ya, Jeng. Sungguh aku takjub, maklumlah selama ini ndak gawul sih😳

  5. prih Desember 11, 2012 / 8:21 am

    Rukun tetangga, rukun warga maupun persekutuan lingkungan yang mewujudnyata dalam kedukaan ya Diajeng. Keteladanan Papah membaur dalam lingkungan menjadi penghiburan bagi keluarga, jawaban teka-teki dalam kerukunan. Salam doa kami.

    Pelajaran berharga buat kami, agar selalu rukun dengan tetangga, karena kita memang tka bisa hidup sendiri. Maturnuwun, Mbakyuu🙂

  6. Orin Januari 7, 2013 / 4:53 pm

    Duh…aku jd agak2 khawatir nih bu Cho, aku termasuk yg kurang bersosialisasi sm tetangga, bukannya apa2, emang jarang di rumah kan😦

    Paling gak ikut arisan kan, Orin?😀

  7. Imelda Januari 18, 2013 / 9:40 am

    Apa yang ditanam, itu yang dituai.
    Rest in Peace

  8. Jual Penyaring Air Agustus 6, 2016 / 9:39 am

    aduh mba cho, aku merinding banget bacanya.. hebat ya papah sampai akhir hidupnya masih banyak orang yang baik ke papah. Tuhan berkati ya mba cho

  9. Jual Penjernih Air Agustus 6, 2016 / 9:41 am

    memang seharusnya kita hidup tanpa membedakan suku, agama, dan ras karena dimata Tuhan kita adalah sama. Kita sama sama ciptaan Nya. Makasih ya mba cho sudah bercerita pengalaman yang hebat dan luar biasa🙂

  10. Jual Filter Air Agustus 6, 2016 / 9:42 am

    papah pasti orang yang hebat ya mbak dan kalian sekeluarga wajib bangga dengan papah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s