Selagi Masih Bisa

Sudah beberapa tulisan kubuat untuk mengenang Papa tercinta. Bukan bermaksud meratapi kepergiannya atau tidak ikhlas melepasnya. Tulisan-tulisan yang kubuat adalah salah satu terapi untuk mengobati rasa kehilanganku. Aku memang sangat dekat dengan Papa. Namun justru menjelang kepulangannya aku malah kurang peka dan tak mengunjunginya.

Kawan, selagi kau masih bisa memeluk orang tuamu, maka peluklah. Selagi kau masih bisa bercanda dengan orang tuamu, maka tertawalah. Selagi kau masih bisa mencium tangannya, maka ciumlah. Dan selagi kau masih bisa mengunjungi mereka, maka kunjungilah. Jika jarak menjadi masalah, maka teleponlah. Karena orang tua kita semakin tua, dan maut datang bagai pencuri. Tak pernah ada yang tahu dan tak pernah ada yang bisa mempersiapkannya.

Ada komentar menarik dari sahabat di beberapa tulisanku mengenang Papa. Ada yang berterimakasih karena mengingatkannya untuk berusaha memahami orang tua. Ada juga yang bercerita mengenai ayah yang over protective. Semua itu pun aku sudah alami. Aku bersyukur, sekeras apapun ayahku mendidikku, beliau tak pernah menggunakan tangannya. Dan rasanya aku memang jarang dimarahi Papa, baik sewaktu kecil apalagi setelah dewasa. Maka rasanya tak ada kenangan buruk tentang Papa.

Namun tentu tak semua keluarga mengalami hal demikian. Ada juga kekurangharmonisan antara ayah dan anak, atau ibu dan anak. Maka Kawan, sebelum segalanya terlambat aku berbagi kepadamu.

Jika orang tuamu berlaku keras padamu, pahamilah. Kelak setelah menjadi orang tua, kau akan mengerti.

Jika orang tuamu turut andil dalam ketidakbahagiaanmu, maafkanlah. Sebenarnya tujuan mereka hanya kebahagiaanmu.

Jika orang tuamu merasa paling tahu akan hidupmu, mengertilah. Mereka yang membesarkanmu dan tentu lebih berpengalaman darimu.

Jika orang tuamu mengekang langkahmu, ampunilah. Mereka hanya tak ingin kau terjerumus dalam kesusahan.

Jika orang tuamu mengatur kehidupanmu, maklumilah. Bagi mereka, kau akan selamanya menjadi anak tersayangnya.

Jika orang tuamu menyakiti hatimu, bukalah pintu maaf selebar-lebarnya. Mereka hanya tak tahu bagaimana mengungkapkan cinta sesuai keinginanmu.

Percayalah Kawan, meski kita takkan pernah tahu kapan maut menjemput, tetapi setidaknya kita tahu bahwa kematian adalah sebuah kepastian. Karenanya, sayangilah orang tuamu, pasanganmu, anak-anakmu, dan sahabat-sahabatmu. Berpikirlah sebelum kau menyakiti hati mereka. Karena, biarlah yang indah saja yang akan menjadi kenangan untuk mereka, ketika pada akhirnya aku, kau, atau mereka yang akan lebih dulu meninggalkan kita.

Pulang nanti, peluklah ayahmu, ibumu, pasanganmu, saudara-saudarimu, dan anak-anakmu. Lupakanlah segala perbuatan yang tak berkenan padamu. Rendahkan hati untuk memaafkan. Maka, hidup ini akan indah dan terasa ringan. Percayalah!

17 thoughts on “Selagi Masih Bisa

  1. Emanuel Setio Dewo Desember 3, 2012 / 12:58 pm

    Setuju.

    Semoga kita bisa menjalin komunikasi yang bisa dimengerti anak yaa, belajar dari pengalaman menjadi anak dan menjadi ortu😀

  2. applausr Desember 3, 2012 / 2:47 pm

    tulisan yang luar biasa… no comment deh kali ini… kagum saya… kalau tulisan yang begini suka sedih saya..

    Jangan sedih, MasApp, kan masih bisa berjumpa ortu to?🙂

  3. Gusti 'ajo' Ramli Desember 3, 2012 / 6:39 pm

    Terima kasih telah mengingatkan… Setiap orang tua selalu ingin anaknya bahagia.. Namun, terkadang ada cara-cara yang belum dimengerti oleh anak. Padahal maksudnya untuk kebaikan anak..
    @garammanis

    Iya Jo, bahasa ortu seringkali tak dimengerti oleh anak, demikian sebaliknya🙂

  4. Lidya Desember 3, 2012 / 9:05 pm

    bapakku juga agak keras mbak, tapi setelah menikah aku juga baru mengerti

    Iya Jeng, biasanya kita menyadari setelah mengalami jadi orang tua🙂

  5. zedeen Desember 4, 2012 / 7:08 am

    Jika orang tuamu berlaku keras padamu, pahamilah. Kelak setelah menjadi orang tua, kau akan mengerti.

    betul mbakyu..saya sangat setuju

    bapak dan ibu saya dulu guuuaaallllaaaaaakkkk poooolllll….
    baru paham manfaatnya setelah saya merantau😀

    Apalagi nanti klo punya anak wedok, Mas🙂

  6. MF-Abdullah Desember 5, 2012 / 4:49 pm

    wah emank susah kalau ndak bisa iya kan brooo

  7. Dina Aprilia Desember 10, 2012 / 1:38 pm

    hiks…jadi pengen nangis baca tulisannya…
    tiap hari ketemu ortu tapi jarang ngabisin waktu bareng mereka…😦

    Maka, mulai sekarang, jika ada waktu senggang ajaklah ortu ngobrol atau jalan-jalan😀

  8. prih Desember 11, 2012 / 8:28 am

    Terima kasih Diajeng, melalui kedukaan Diajeng menjadi saluran berkat pengingat … selagi bisa … Saat Diajeng membaca komen beruntun dari Sal3, inilah kesaksian kasih sayang Papah yang digendongNya hingga memutih rambutnya. Salam doa kami.

    Sekedar berbagi, Mbakyuu, agar sahabat yang masih mempunyai orang tua lengkap dapat selalu memeluk mereka, agar mereka menjalani masa tua dengan penuh kebahagiaan. Maturnuwun, Mbakyuu🙂

  9. Akhmad Muhaimin Azzet Desember 13, 2012 / 3:10 pm

    iya, sangat setuju saya, selagi masih bisa
    sebab saya pun pernah ditinggalkan yang tercinta
    akhirnya, menulis puisi tentangnya jadi semacam
    terapi, agar cinta dan rindu yang penuh di dada
    tak sesak malah menjadi gulana

    Betul Bang, terapi yang pada awalnya menyesakkan namun akhirnya menajdi kelegaan🙂

  10. Necky Effendy Desember 24, 2012 / 6:53 am

    mari berlomba-lomba meluangkan waktu kita untuk orangtua. Alasan ga ada waktu buat mereka ga bisa jadi excuse apalagi kalau tinggal satu kota. Kalau ingin mampir ke rumah mereka jangan ditunda-tunda…langsung mampir. Berbahagialah kpd mereka yg masih memiliki orangtua….

    Betul Bang, apalagi jika satu kompleks. Jangan sampai menyesal sepertiku hiks…hiks…

  11. Imelda Januari 18, 2013 / 9:35 am

    aku terus menerus mengingatkan pada diriku bahwa aku sudah berusaha yang terbaik untuk mama. Sudah berusaha pulang minimal setahun sekali, sudah berusaha telepon hanya kepada dia dan bercakap-cakap selama satu jam dengannya saja. Sampai pada beberapa telepon yang terakhir, dia berkata…. “Yah aku sudah tua. Tinggal tunggu” dan kukatakan…”Ma, semua orang akan menjadi tua dan itu harus kita jalani saja…” dan kami berdua terdiam….
    Justru dua tahun sebelumnya aku pernah memeluk mama, di suatu malam ketika dia mengajak aku tidur di sebelahnya. Dan kami menangis berdua. Dia tahu dan aku tahu, waktunya tidak lama…..Dan dia tahu kalau kita terlalu sering berada berduaan saja, kita pasti akan menangis terus, dan akan semakin sulit untuk berpisah.

    Waktu itu akan datang, dan aku puas karena aku pernah memeluknya… tanpa kata.
    Aku tidak menyesal karena dia sendirian waktu maut menjemputnya, karena aku tahu, dia menginginkannya, dia ingin menyendiri dan tidak mau menyusahkan orang lain.

    • chocoVanilla Juni 16, 2015 / 8:53 am

      Iya BuEm, ketika semua telah terjadi, rasanya ingin memutar waktu agar bisa memeluk mereka sepuas hati😦

  12. yerapermatasari April 3, 2013 / 7:04 am

    Reblogged this on Kotak Mungil and commented:
    Mungkin kita baru mengerti ketika kita berada pada posisi mereka, nanti.

    Semoga dengan tulisan ini gak harus menunggu untuk seperti mereka untuk memahami yaa🙂

  13. Jual Penjernih Air Agustus 11, 2016 / 11:53 am

    makasih ya mba cho sudah mengingatkan kita semua, semoga orang-orang yang kita sayangi diberikan kesehatan dan umur panjang, amiinnn🙂

  14. Jual Penyaring Air Agustus 11, 2016 / 12:02 pm

    penyesalan memang selalu datang terlambat, jadi berbuatlah hari ini juga supaya tidak ada penyesalan ke depannya nanti. Makasih mba cho udah mau sharing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s