Misteri di Balik Layar – Teror Suzana Kapoor

Cakil1-207x300
Om Cakil vs Mas Arjuna

Kisah ini melanjutkan kisah misteri Wayang Orang BlogCamp Budhoyo yang sedang tayang di Kampong BlogCamp

Rikmo Sadhepo histeris ketika mengetahui lawan mainnya sudah tak bernyawa. Jeritannya membahana mengalahkan teriakan Inspektur Suzana Kapoor yang mencoba mensterilkan TKP untuk penyidikan.

“Tak mungkin! Tak mungkin Kang Mudho mati! Bukan aku yang membunuhnya! Kaaangg…..,” teriakan Rikmo sebelum akhirnya iapun pingsan. Beberapa sinden segera mencoba membangunkan Rikmo. Suasana sungguh sangat ruwet dan kisruh. Untunglah anak buah Suzana segera datang dan melakukan semua instruksi Sang Inspektur yang cantik tanpa seragamnya.

“Amankan Saksi Utama, bawa ke ruang tertutup,” perintah Suzana sambil menunjuk Rikmo yang sudah sadar dan terus mengisak. Dua orang Polwe (Polisi Wedok) yang manis dan semlohay segera mengamankan Rikmo. Sementara barang bukti berupa keris berdarah 9 luk telah dibawa ke lab forensik untuk penyidikan.

**************

Suzana Kapoor masih memandangi layar monitor di kantornya meski waktu sudah lewat tengah malam. Wanita single berdarah Bantul – India – Jerman – Belanda – Istambul  ini bahkan tak menyadari bahwa ia hanya sendirian di kantornya. Peristiwa kematian Sang Buto Cakil yang meski antagonis namun merupakan pemain andalan Wayang Orang BlogCamp Budhoyo itu membuatnya sedih sekaligus geram. Siapa yang tega membunuh pria tampan menawan yang selalu tersembunyi di balik topeng itu? Dugaan sementara mengarah pada Raiwagu, seorang anggota wayang yang memang terkenal sebagai saingan berat Mudhoiso. Bertahun-tahun Raiwagu pemeran Gatotkaca ini mengincar peran Buto Cakil. Karena entah mengapa Si Buto ini justru lebih populer daripada Gatotkaca Sang Pahlawan. Mungkin sosok Mudhoiso yang tampan namun tertutup topeng half face itu justru membuat penasaran kaum hawa.

Penyidikan petang tadi sungguh mengecewakan. Rikmo sama sekali tidak bisa ditanya. Setiap kali ditanya setiap kali pula dia mengisak. Bila tak ingat sekeliling ingin rasanya Suzana menamparnya agar diam.

“Saya hiks…tidak tahu…hiks…kalo kerisnya hiks…beneran, Bu Polisiii huwaaaaa……..”

“Memangnya tidak terasa berat atau berbeda gitu?” tanya Suzana geregetan. Rikmo itu nangis atau cegukan sih?

“Gak terashahaha…kerisnya sama pershishishishis…, memang agak lebih berhahahahat…., tapi ada tandatangan Kang Mudho di gagangnyahahaha…huwaaa…..” Suzana pun menyudahi pertanyaannya.

Sementara Raiwagu cukup kooperatif. Dia dan dua puluh kru wayang lainnya menjawab semua pertanyaan dengan runtut. Namun masih juga belum ditemukan petunjuk pembunuh Mudhoiso.

Tiba-tiba Suzana terbelalak memandangi layarnya. Mudhoiso mengiriminya pesan lewat Yahoo Messenger! Suzana dan Mudhoiso memang sempat terlibat hubungan asmara yang rumit. Itulah sebab ia tak pernah absen menyaksikan pentas Wayang Orang BlogCamp Budhoyo. Sekejap bulu kuduknya berdiri. Namun logikanya segera menguasai sel-sel di tengkoraknya. Suzana membaca pesan YM itu tanpa membalasnya.

mudhoiso_qrn: Haii, Suzie…

mudhoiso_qrn: Kok diam saja? Aku kirim lirik untukmu yaa…

                               We sit together on the sofa
                               With the music way down low
                               waited so long for this moment
                               It’s hard to think it’s really so
                               The door is locked there’s no one home
                               They’ve all gone out we’re all alone
                               Suzana, Suzana
                               Suzana I’m crazy loving you

mudhoiso_qrn: Do you remember that song? Do you miss me?

Suzana geram bukan buatan. Seseorang telah mempermainkannya! Tak seorangpun memanggilnya Suzie, meski itu Mudhoiso! Ia segera melakukan panggilan ke bagian forensik untuk memastikan jenasah Mudhoiso masih ada di tempatnya. Pertanyaan yang konyol memang, tapi ia selalu memastikan semua pada tempatnya.

mudhoiso_qrn: BUZZ!!!

mudhoiso_qrn: Kau tak mau tahu siapa pembunuh mantan kekasihmu?

Suzana tak sabar lagi. Ia pun membalas pesan tersebut.

suzan_kapoor: Siapa Anda?

mudhoiso_qrn: Oh, Suzie…akhirnya muncul juga kau😀

mudhoiso_qrn: Tak penting siapa aku. I’m your secret admirer

suzan_kapoor: Mengapa Anda memakai nama Mudhoiso? Ada hubungan apa Anda dengan almarhum?

mudhoiso_qrn: It’s not important. Begini Suz, kau tak perlu repot mencari pelakunya, karena mungkin memang inilah yang diinginkan Mudhoiso

suzan_kapoor: Maksud Anda?

mudhoiso_qrn: Sorry, malam sudah larut. See you…

Dan percakapan itu terhenti dengan sign out nya Mudho…atau siapapun itu. Suzana membenamkan jemarinya yang lentik ke rambut ikal mayangnya. Rasanya kesal sekaligus penasaran. Namun malam tak lagi mau menghentikan waktu. Maka iapun berkemas dan pulang. Esok ia masih harus memeriksa para saksi dari pihak keluarga.

***************

Pria itu mirip sekali Mudhoiso. Rambut hitam tebal, mata jenaka meski kini nampak berkabut, postur tinggi dan besar. Yang membedakan hanya sebaris kumis tipis di atas bibirnya. Jika Mudhoiso berwajah licin dan mulus, maka pria ini agak sedikit kasar namun justru terlihat macho. Suzana agak berdebar, betapa miripnya dia dengan Mudhoiso, bagai pinang dibelah empat!

Suzana sudah siap memberi pertanyaan dengan Briptu Irna di sampingnya dengan komputer untuk mencatat semua pembicaraan.

“Nama Anda?” tanya Suzana. Pria di depannya menyilangkan tangan di dada. Matanya menatap Suzana.

“Yudhoiso,” jawab Yudho pendek dan berat.

“Hubungan Anda dengan korban?” tanya Suzana.

“Saya saudara kembarnya, tepatnya kakak kembarnya,” jawab Yudho yang sempat membuat Suzana terkejut. Briptu Irna melirik pria tampan di depannya itu. Suzana memang tahu Mudhoiso punya saudara, tetapi tidak tahu jika mereka kembar.

Masih ada 24,5 pertanyaan yang diajukan untuk Yudhoiso dan semuanya bisa dijawab dengan baik. Yudho baru datang dari Jember kemarin petang dan langsung pulang ke rumah. Ibunya menguatkan alibi Yudho sehingga tak ada kecurigaan mengarah padanya. Masih ada 5 saksi yang harus diperiksa. Suzana kembali ke ruang kerjanya untuk istirahat sejenak.

Dalam ruang yang dingin ia menghirup teh melati hangat dengan rasa jeruk nipis campur madu dengan nikmat. Pikirannya langsung relaks dan otot-otot tubuhnya melemas. Aliran darah mengalir memberi nuansa merah di pipinya yang putih mulus, jika ada lalat menclok pasti langsung kepleset. Namun kesegaran di wajahnya seketika hilang ketika melihat pesan di YM nya. Lagi-lagi Mudhoiso palsu itu.

mudhoiso_qrn: Lelah, Sayang?

mudhoiso_qrn: Ah Suzie, andai aku ada di sisimu tentu akan kupijat lembut

                                 I put my arm around your shoulder
                                 Run my fingers through your hair
                                 It’s a dream I can’t believe it
                                 It took so long it’s only fair

suzan_kapoor: Saya ingatkan Anda, jika masih mengganggu, kami akan menindak tegas

mudhoiso_qrn: Tenang, Sayang. Aku hanya mau menyampaikan, kau tak perlu setegang ini. Besok, pembunuh Mudhoiso akan terungkap

Suzana terkesiap. Rambutnya yang digelung rapi langsung diuraikannya, disibak ke belakang dan sedikit berkibar terkena AC. Seluruh bulu di tubuhnya meremang, jemarinya gemetar, bahkan sepatunya terlepas sebelah, lalu kaki jenjangnya disilangkan ke kaki satunya tak lupa sembari melempar sepatu yang sebelah lagi (iki ki ngopo to?).

suzan_kapoor: Sekali lagi saya ingatkan, jangan mempermainkan kepolisian. Jika Anda mempunyai petunjuk, silakan kontak saya secara resmi. Anda akan ada di bawah dept Perlindungan Saksi.

suzan_kapoor: Dan bisakah Anda menggunakan ID Anda sendiri dan bukan dengan nama korban?

mudhoiso_qrn: Suzie…Suzie… kau masih tak mengerti. Tentu saja aku tak terlibat dengan pembunuhan ini. Aku bahkan tak tahu apa-apa. Ini hanya feeling, sixth sense, indra keenam. Kau percaya itu bukan?

Sial! Suzana marah bukan buatan. Ternyata dia menanggapi omongan gila seorang dukun! Tanpa menulis apapun Suzana sign out. Besok ia akan mengganti email pribadinya!

*******************

Headline Surat Kabar “Suroboyo Nyus”:

Arjuna Mengalahkan Buto Cakil

Misteri kematian Buto Cakil terungkap sudah. Rikmo Sadhepo, sang pemeran Arjuna betul-betul telah mengalahkan Cakil dalam kehidupan nyata. Dengan mengganti keris pusaka dengan keris sungguhan, Arjuna mengiris leher Cakil tepat pada pembuluh darahnya mengakibatkan Mudhoiso sang pemeran Cakil tewas.

Sampai saat ini motivasi pembunuhan belum diketahui, karena setelah menyerahkan diri, Rikmo masih histeris. Dia mengakui membunuh Mudhoiso namun belum mau mengatakan alasan pembunuhan. Sementara Rikmo masih ditahan di kepolisian untuk keterangan lebih lanjut.

Bla…bla…bla…

Breaking News “Suroboyo Tipi”:

Pihak kepolisian telah mengamankan Rikmo Sadhepo yang tadi pagi menyerahkan diri. Wanita ayu itu mengaku telah sengaja membunuh Mudhoiso lawan mainnya dalam Wayang Orang BlogCamp Budhoyo. Namun hingga kini Rikmo masih belum mau mengungkapkan motivasinya menghabisi nyawa Mudhoiso yang diduga adalah kekasihnya. Untuk perbuatannya Rikmo terkena ancaman hukuman pidana 20 tahun penjara atau maksimal tahanan seumur hidup.

Sekian breaking news. Saya Sarden Malakinino, melaporkan.

Suzana menghela napas panjang. Ternyata benar ramalam dukun palsu itu. Ramalan atau sebuah rencana? Dalam hati kecilnya Suzana tak percaya Rikmo membunuh Mudhoiso, tak mungkin kasus ini selesai dengan mudahnya. Apalagi Rikmo tidak mau mengungkapkan alasannya membunuh Mudhoiso.

Suzana adalah generasi keempat dalam keluarganya yang berkarir di kepolisian. Kakek buyutnya, Inspektur Raaj Kapoor adalah polisi yang terkenal pemberani dan jujur. Kakeknya, Inspektur Vijay Kapoor adalah seorang polisi yang ditakuti di India. Sementara ayahnya, Inspektur Rahul Kapoor adalah guru terbaiknya. Maka naluri kepolisian yang mendarah daging itu tak memuaskan hatinya akan akhir dari kasus ini. Namun Suzana tak bisa lagi ingkar. Di tangannya, tergenggam sebuah smart phone milik Rikmo. Di dalamnya ada kontak Mudhoiso, dan ia masih bisa melihat arsip chatt nya dengan Mudhoiso palsu, yang ternyata adalah Rikmo sendiri.

Tetapi Suzana masih tak puas!

*****************

Delapan musim telah berlalu. Rikmo yang ternyata hamil anak Mudhoiso tidak di penjara melainkan dirawat di RSJ karena gangguan jiwa berat. Dan tanpa disangka dan disengaja, karena kasus pembunuhan Mudhoiso membuat Suzana dekat dengan Yudhoiso. Semua mengalir begitu saja, tanpa direkayasa. Berawal dari ucapan terimakasih Yudho karena kasus telah ditutup (meski Suzana tetap tidak puas). Pertemuan berlanjut dengan makan malam, hingga akhirnya keduanya merasa telah saling jatuh hati. Salah satu rutinitas mereka adalah menikmati pertunjukan WO BlogCamp Budhoyo, selain karena keduanya mencintai wayang, namun juga untuk mengenang Mudhoiso. Dan akhirnya Raiwagu mendapatkan peran idamannya, sebagai Cakil.

“Ah, dompetku tertinggal. Mampir rumahku sebentar ya, Suz,” ujar Yudho setengah kesal. Bagaimana bisa dompetnya tertinggal? Suzana hanya tersenyum mengiyakan. Toh pertunjukan wayang masih dua jam lagi. Maka Yudho memutar mobilnya ke arah berlawanan, untunglah jarak rumahnya dari rumah Suzana tak terlalu jauh. Dan baru kali ini Suzana ke rumah Yudho.

Rumah itu tak terlalu besar, ruang tamunya resik dengan sofa bermotif kulit macan. Keseluruhan ruangan tampak maskulin, khas tempat tinggal pria muda. Yudho naik ke lantai dua menuju kamarnya sementara Suzana menunggu di ruang tamu. Ia duduk di love seat, mengamati foto keluarga di meja telepon.  Suzana beringsut hendak meraih pigura foto itu. Namun sesuatu menusuk pinggulnya. Suzana memekik kecil. Ia lalu meraba dudukan sofa, mencari tahu benda apa yang barusan menusuknya.

Sesuatu terselip di antara dudukan sofa. Suzana lalu merogoh ke bawah bantalan sofa dan menemukan sesuatu. Sebuah keris yang biasa dipakai pertunjukan! Suzana berdebar keras, keris itu ada tujuh luk dengan tandatangan Mudhoiso pada gagangnya. Tengah ia mengamati keris itu, terdengar langkah-langkah menuruni tangga. Cepat ia kembalikan keris tadi pada tempatnya.

Sorry, lama ya? Ternyata dompetku masih di saku jeans yang lama. Hahahaha dasar pelupa aku ini,” ujar Yudho.

“Eh… hahaha…untung kau ingat,” balas Suzana gugup. Ia segera meraih tasnya dan melangkah keluar, “Yuk kita berangkat.”

“Mengapa buru-buru, Suzie? Mari duduk-duduk dulu, pertunjukan masih lama bukan?”

Seperti mendengar teriakan “FREEZE“, Suzana membeku. Suzie?

******************

16 thoughts on “Misteri di Balik Layar – Teror Suzana Kapoor

  1. chocoVanilla Januari 15, 2013 / 10:40 pm

    Puanjaaang puoolll. Lha meneruskan kisah misteri itu susah jeh kalo ndak panjang. Moga diterima deh ama Pakdee, secara pernah ditolak karena kepanjangan hihihihihii…. (malah curcol).

    Tadinya mo pasang lagu Suzanna I’m crazy loving you, tapi dimarahin sama yang punya. Yo wis lagunya Rahul aja dah😛

    (ngopo to yo?)

    Mangkanyaaa kalo masang lagu ijin dong…. Kalo ndak dikasih ijin ya nyanyi dewek, orisinil gituu…

  2. Pakdhe Cholik Januari 16, 2013 / 2:21 am

    Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Akan dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    Maturnuwun Pakdee….😀

  3. ~Amela~ Januari 16, 2013 / 8:04 am

    huaaa.. kangen ama dongeng2nya mbak choco
    dan cerita yang ini sungguh mencekam..
    itu yudhoiso rumahnya jember sebelah mana mba? mugo2 bukan tetanggaku.. hihihi

    Qiqiqiqiqi… tenang Mellaaa…. rumahnya di Suroboyo kok, ke Jember itu cuma tempo-tempo saja😆

  4. LJ Januari 16, 2013 / 8:41 am

    aku tau budhe bakal bikin skenario lanjutan yang cihuy..
    kembaran yudhoiso ada satu lagi, budhe,, yudhoyono.😛

    Huusshh Maaak, wong aku aja ndak berani nyebut kok dirimu malah teriak itu lho:mrgreen:

  5. Emanuel Setio Dewo Januari 16, 2013 / 9:57 am

    Hahaha… aku ngakak mbacanya, “bantul”, “Raiwagu”, “Suroboyo Nyus”, dll… Khas kekocakan Mbak Choco…
    Semoga menang yaaa…

    Wong mBantul ayu-ayu lhoo😆 Tks yaa…😀

  6. 'Ne Januari 16, 2013 / 10:49 am

    waaahh panjang tapi enak diikutin mbak..
    keren ih mbak Choco bikinnya😀

    Smoga kau sabar mbacanya ya, ‘Ne😀
    Makasiy ya, Say…

  7. Orin Januari 16, 2013 / 12:18 pm

    Nah… cerita bu Cho ini nih yg bakalan menang. Wis lah aku ga ikutan, udah ga pede duluan qiqiqiqi

    Aaahhh Oriiiiin, jangan gitu ah…😳 Ayo ikutaaaan, pasti endingmu surprising😀

  8. Arie Pudjiarso Januari 16, 2013 / 4:08 pm

    Jadi ingat cerita-cerita zaman aku SD dulu….seruuuuu!😀

    Lhadalah, ini bukan bacaan SD lho, mesti BO😀
    Makasiy ya, Mas😀

  9. Wong Cilik Januari 16, 2013 / 7:41 pm

    wah ini salah satu calon juaranya … keren mbak …
    like this …

    Waah, ndak pede saya, MasWong. Tapii maturnuwun yaa😀

  10. marsudiyanto Januari 16, 2013 / 9:35 pm

    Banyak Dalang baru bertebaran, dan sebagian besar justru wanita…
    Salut untuk Mbak Choco…

    Biasanya yang suka ndobos dan didobosi itu wanita, OmMars😆
    Nek dalang wanita itu namanya apa ya, Om? Dalangrina ato dalangwati?
    Maturnuwun, OmMars😀

  11. monda Januari 17, 2013 / 3:49 am

    Mudhoiso itu koleksi tosan aji?
    Paling sedikit dia udah punya dua
    Yg 9 luk udah dijadiin barbuk, Satu lagi yg di kursi keris 7 luk, lha kok naro benda tajam di kursi ntar ketusuk dewe lho

    Qiqiqiqiqi… itulah penjahat kadang teledor, BuMon. Lupa nyimpen di tempat yang aman, maklum buru-buru😛
    Yang 7 luk itu asli yg biasa dipakai pertunjukan😆 Yg 9 luk punya Mas Yudho😆

  12. Bang Aswi Januari 17, 2013 / 9:46 am

    Dalem dalem dalem! Muantep tenan iki ceritane … semoga sukse ya, Mbak yuuu ^_^

    Bang Aswi, apa kabar? Sedalem sungai Ciliwung ya, Bang?😀
    Makasiy ya, Bang😀

  13. umielaine Januari 17, 2013 / 11:24 am

    curang2, harusnya mbak chocho nih jadi juri, bukan jadi peserta. lek gini lak mesti juwara toh yooo?
    *halah protes, pdhl gak bakalan ikut, angel eh.
    …ssttt, sandra pakabar mbak? P

    Ihik…ihik… jadi juri beban mental, Mi. Critane apik-apik kabeh, nek jadi peserta kan gak ono beban:mrgreen:
    Sandra isih galau, nanti Sabtu ini tak bujuki ben nongol yah😀

  14. Mechta Januari 19, 2013 / 9:03 am

    sedheeep….. calon jawara nih mbak….🙂

  15. prih Januari 19, 2013 / 8:52 pm

    Tercium aroma misteri terbungkus misteri nih Diajeng. selamat meramaikan GA Blogcamp. Salam

  16. Lidya Januari 21, 2013 / 1:29 pm

    semoga sukss dnegan GAnya pakde ya mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s