Tahi Lalat (the different ending)

Parasnya sungguh elok menawan ditunjang dengan kulit yang halus langsat. Siapapun akan sulit mengalihkan pandangan ketika melihatnya. Bibirnya merah merekah meski tanpa polesan pewarna. Juwita namanya, Pak Lurah bapaknya, tentu saja Bu Lurah ibunya. Aku sudah mengincarnya sejak lulus sekolah menengah. Dan kini tinggal selangkah untuk bisa memilikinya. Siapa tak girang, mengalahkan sekian banyak pemuda dari segala penjuru kecamatan?

Namun sayang disayang, sesekali kecantikannya menghilang hanya karena sebuah tahi lalat! Tidak, bukan tahi lalatnya, itu tak masalah. Besarnya hanya sebesar kacang hijau, letaknya pun malu-malu agak di bawah dagu. Tapi sehelai rambut yang tumbuh di atasnya, oh sungguh membuatku sesekali hilang rasa! Dulu rambut itu tak begitu nampak (atau aku tak pernah memerhatikan?), namun karena tak pernah dipotong, sekarang panjangnya hampir lima senti. Menjuntai lemas ke bawah, sesekali ikut bergoyang bila ia tertawa. Duuh, entah mengapa itu bisa membuat hasratku terbang menguap melayang-layang!

“Mari aku gunting saja, Sayang, agar tak mengganggumu,” usulku suatu kali ketika kami sedang berduaan di teras rumahnya (tentu saja dengan Pak Lurah yang mendadak terserang bronchopneumonia karena tak henti-hentinya batuk tiap kami berdua terdiam).

“Ah, aku tidak terganggu kok,” jawabnya halus.

“Tapi ehh… sepertinya kamu akan lebih cantik kalau kamu gunting rambut itu,” desakku masih mencoba membujuknya.

“Biar saja begini. Kamu gak suka ya?” tanyanya setengah merajuk. Pandangannya yang polos dengan mata bulat dan bibir merah sedikit mengerucut membuatku meleleh seketika.

“Ah, aku gak pernah tak suka padamu, Sayang,” elakku sambil mencoba untuk tak menatap ke arah helai rambut yang menjuntai itu.

“Kalo begitu biarkan saja begini. Kan katanya kamu mencintaiku apa adanya dan mau menerimaku dengan segala kekuranganku,” sambungnya masih sedikit merajuk. Maka kuraih jemarinya dan kugenggam erat.

“Tentu saja aku menerimamu apa adanya, Sayang,” bisikku dekat ke telinganya. Tepat pada saat itu angin malam bertiup, menyibakkan rambutnya sehingga membuat helai rambut di tahi lalatnya ikut berkibar tepat di hadapanku. Hasratku yang memuncak untuk mengecupnya langsung turun hingga titik beku. Ditambah pula suara batuk Pak Lurah yang mendadak kumat tiap aku berkunjung!

***************

Pernikahan hanya tinggal menghitung hari. Malam ini adalah malam terakhir aku boleh bertemu sebelum Juwita dipingit. Kali ini Pak Lurah dan Bu Lurah tak ada di rumah. Maka aku lebih leluasa merayu Juwita di teras rumahnya yang tertutup rimbun pepohonan, sehingga tak terlihat dari jalanan.

“Aku sudah tak sabar membayangkannya, Sayang,” kataku sambil memainkan jemarinya yang lentik.

“Ih, membayangkan apa sih?” tanyanya dengan semburat merah di pipinya.

“Kecantikanmu. Pasti kamu cantik sekali dengan riasan pengantin nanti,” godaku sambil menggeser dudukku agar lebih rapat kepadanya.

“Iihh….,” desahnya malu-malu.

“Tapi, tidakkah kamu mau menggunting rambut di dagumu itu?” tanyaku hati-hati. Juwita menoleh memandangku. Mengamati wajahku, menembus mataku hingga aku gelagapan. Sekian detik pandangannya tak beralih dari mataku, lalu dia tertunduk.

“Jika itu mengganggumu, aku akan mengguntingnya,” bisiknya sendu. Aku girang bukan kepalang, tanpa sadar kupeluk ia erat-erat.

“Tapi maukah kamu berjanji, kamu tetap mau menerimaku apa adanya? Dengan segala kekuranganku?” tanyanya terbata. Oh Juwita, bahagianya aku. Maka aku mengiyakan dan membungkam mulutnya dengan bibirku. Jangan ada lagi pertanyaan Sayang, aku mencintaimu apa adanya.

***************

Hari yang kutunggu itu datang juga. Tak sabar hati ini melihat Juwita yang jelita. Maka ketika saatnya tiba, aku justru tak sabar untuk mengakhirinya. Aku sudah tak sabar untuk segera berdua saja dengannya. Oh lihatlah, gadisku tertutup cadar sutera, hanya matanya saja yang sesekali mengerling. Nyaris tak kuingat segala prosesi itu. Yang kuingat hanya ketika malam tiba, kami hanya berdua dalam kamar yang sejuk.

“Kamu cantik sekali hari ini,” pujiku sambil mendekat padanya. Juwitaku hanya tertunduk. Perlahan kulepas cadar sutera itu, rindu sekali aku menatap cantiknya. Dia menahan tanganku, ah Juwitaku, engkau pandai sekali mempermainkan hasratku yang telah memuncak ini.

“Sabar Sayang, kamu masih ingat janjimu untuk menerimaku apa adanya?” tanyanya ragu.

“Sayangku, masihkah kamu ragu sementara janji sehidup semati telah kuucapkan?” balasku bertanya. Dia memandangiku sesaat, lalu menuntun tanganku untuk melepas cadar suteranya.

Seketika aku terpekik! Tahi lalat sebesar kacang hijau itu sudah tak nampak, karena tertutup berhelai-helai rambut yang rimbun seperti pepohonan di halaman depan! Semua menjuntai lemas ke bawah, lebih kurang lima senti panjangnya.

“Kenapa…kenapa tahi lalatmu?” tanyaku panik.

“Kamu yang menyuruhku untuk menggunting helainya,” bisiknya parau.

Hasratku pun terbang menguap, melayang-layang entah ke mana.

****************

PS. Qiqiqiqiqiqi….berhubung menurut eMak kurang “seram” endingnya, maka kuubah seperti di atas😆 Terimakasih untuk Kawan yang telah membaca sebelum di update😀

12 thoughts on “Tahi Lalat (the different ending)

  1. chocoVanilla Januari 23, 2013 / 4:33 pm

    Wuahahahahaha…. ra mutu blaz!😆

    Yo ben! Sing penting ndoboz dan update😛

  2. Imelda Januari 23, 2013 / 4:38 pm

    hahahaa aduh untung hanya fiksi😀 Bukan kisah nyata kan bu choco?😀

  3. Wong Cilik Januari 23, 2013 / 4:52 pm

    horee, dobozan baru muncul lagi … ha.ha.ha…
    biar hasrat nggak menguap, itu bisa diambil kan ya? pake operasi gitu …

  4. LJ Januari 23, 2013 / 5:53 pm

    eyampuunn budeee.. tadi aku sudah mbayangin hal yg lebih serem lagi.. klo hanya tai lalat segede kurma itu sih gpp toh.. kan katanya cinta.😛

    • LJ Januari 24, 2013 / 11:53 am

      nah begini lebih nendang, bude.. #ngakak jungkir balik

  5. Lidya Januari 23, 2013 / 7:18 pm

    harus tanggung jawab dengan janjinya dong🙂

  6. zedeen Januari 23, 2013 / 11:39 pm

    untung lalat, ngga kebayang kalo kebo, tahi kebo😀

  7. Pakdhe Cholik Januari 24, 2013 / 5:26 am

    Selamat pagi sahabat, Semoga kesehatan,kesejahteraan dan kebahagiaan senantiasa tercurahkan untuk anda sekeluarga.
    Semoga hari ini lebih baik dari kemarin. Amiiin

    Saya sampaikan kabar gembira bahwa komentar anda terpilih untuk mendapatkan buku.
    Silahkan mengirimka nama dan alamat lengkap.

    Untuk jelasnya cek di:http://jatuhcinta.me/buku/komentar-terpilih-artikel-kandas

    Terima kasih
    Salam hangat dari Surabaya

  8. prih Januari 24, 2013 / 8:27 pm

    Loh Diajeng, kaidah gunting satu tumbuh seribu nih ….

  9. umielaine Januari 28, 2013 / 3:15 pm

    kali ini I kagak garti maksudte… hiks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s