Investigasi

Siang menjelang senja ini mendung sudah menggantung, angin pun lambat bertiup membuat udara lembab dan panas. Cemilan yang paling hot dalam cuaca begini tentu saja rujak Yu Minah. Maka sebelum hujan turun, aku segera menyambangi warung Yu Minah yang sudah lamaaaa tak kudatangi😀

Seperti biasa Yu Minah menyambutku dengan suaranya yang membahana sedikit mendirikan bulu kuduk.

“Eaallaah Jeeeng, sampeyan kok baru kelihatan to? Tak pikir sudah pindah ke manaaa gitu!” serunya sembari tak lupa mendaratkan bibirnya yang selalu basah ke pipi kanan kiriku. Weeeks, begitu dia berbalik langsung kuusap pipiku dengan lengan baju.

“Gak pindah Yu, cuma repot banget sejak gak punya asisten nih. Kalo ada waktu luang ya buat beres-beres rumah. Tolong buatkan rujak ulek Yu, biasa ya pedes tapi gak banget.”

Dengan sigap Yu Minah segera menyiapkan bahan-bahan sambal dan buah-buahan. Dan aku seperti biasa langsung mendarat di bangku favorit, dekat meja uleknya Yu Minah. TV di ruang tamu Yu Minah tampak menyala meski tak ada yang menonton.

“Sampeyan lagi nonton apa to, Yu? Kok tumben volumenya kenceng sampe kedengeran dari sini?” tanyaku iseng sembari melihat kelincahan Yu Minah menggoyang ulekannya. Melihatnya mengulek memang selalu membuatku takjub. Seperti ada keanggunan sekaligus kegarangan dalam setiap gerakan menggerusnya. Seperti membalas dendam terhadap sesuatu yang pernah menyakitinya. Keras dan kuat dengan gaya yang anggun! Semua bahan langsung lumat dalam waktu singkat.

“Itu lho Jeng, acara investigasi apaa gitu. Reportase investigasi kalo ndak salah. Pokoke acara yang menjelek-jelekkan pedagang kecil deh!”

“Kok menjelek-jelekkan gimana to, Yu?” tanyaku heran. Sepotong nanas segar kucomot sebelum jatuh ke timbunan sambal pedas itu.

“Lha ya iya, coba team investigasi itu ke sana ke mari mencari kecurangan-kecurangan pedagang makanan. Tuh lihat, yang katanya pakai formalin lah, boraks lah, pewarna tekstil lah. Trus si pelaku diwawancara dengan suara disamarkan macam kartun gitu, muka dibikin siluet. Kan gak bener itu?”

“Gak benernya di mana, Yu? Kan bagus, mereka menginformasikan ke kita tentang kecurangan itu. Kita jadi berhati-hati membeli makanan, mengingatkan anak-anak supaya jangan jajan sembarangan. Lha bagus to itu?” tanyaku heran.

“Lhadalah Jeng, sampeyan kok ndak nangkep maksud saya to? Itu sama saja pembunuhan karakter! (hayah, bahasane Yu Minah) Coba, disebutkan dari delapan dagangan yang diteliti, terdapat empat yang positif mengandung formalin. Berarti kan masih fifty-fifty to? Tapi dampaknya apa? Kasihan yang fifty ndak pake formalin itu!” seru Yu Minah berretorika. Lagi-lagi aku cemas menatap mulutnya, jangan-jangan ada yang lompat ke rujakku. Hiiy.

“Terus gimana, Yu? Kalo gak ada acara ini kan kita jadi gak tau,” sanggahku.

“Gini lho Jeng, boleh-boleh aja bikin program kayak gitu tapi mestinya diganti kontennya. Misalnya tips membedakan bakso yang pakai formalin sama yang tidak itu cirinya apa, mencari tahunya gimana, trus menghindarinya gimana, kalo termakan resikonya apa. Gitu aja cukup, gak usah pake diliatin cara bikinnya. Lha itu kan sama aja memberi inspirasi buat pedagang lain yang berniat curang to?”

Hayah, menurutku Yu Minah agak lebay. Masa iya memberi inspirasi?

“Trus misalnya membuat cincau yang dicampur bedak keong itu, masa disiarin sampai detail cara bikinnya, campurannya, sampai perbandingannya. Lha itu sama aja ngajari to?” lanjut Yu Minah sambil mengaduk buah dan bumbu sambalnya.

“Lagipula Jeng, kalo niat si TV ini memang baik, sudah nemu pelakunya ya laporin polisi. Bukannya dijadiin kartun trus diwawancara, kalo sudah dikasih uang. Memangnya kita yakin, si tokoh kartun itu pelaku beneran ato justru orang bayaran? Saya kasihan sama pedangang lain yang jujur. Gara-gara tayangan ini kan jadi pukul rata. Semua pedagang dicurigai, padahal gak semua orang mampu makan di restoran mahal yang dijamin bersih dagangannya to?”

Waduh, Yu Minah ini kalau sudah terpancing bisa panjang lebar ceramahnya. Gayanya yang sok menggurui itu kadang membuatku tak ingin kembali. Tapi rujaknya lazzat banget!

“Yah, selama rating masih tinggi acara ini akan tayang terus, Yu. Kalo gak suka ya ndak usah nonton,” kataku.

“Bukan masalah nonton ndak nonton, Jeng. Wong acara ini yang nonton sak Indonesia Raya jeh. Saya kasihan sama Kang Supri, sepupu saya yang punya pabrik roti rumahan. Sejak ada kecurigaan roti pizza pakai formalin, peminat pizza nya turun drastis. Padahal dia jujur, wong hari ini bikin pizza kalo sampe malem gak laku yo basi kok. Saya nonton tuh acaranya di TV lain, bukan yang ini. Saya jadi heran, berarti semua TV menayangkan acara memojokkan ini ya?”

Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku. Maka aku pun segera menyiapkan uang.

“Mungkin mereka menganggap cara ini yang paling tepat untuk mencerdaskan bangsa, Yu. Supaya masyarakat kritis dan sadar akan kesehatan,” kataku sok bijak.

“Ya ndak gitu caranya, Jeng! Masih banyak cara lain untuk mencerdaskan dan mengkritiskan bangsa dari bahaya bahan-bahan ini. Mosok segitu banyak orang pintar di TV gak ada yang punya ide lain?” sergah Yu Minah sembari mengangsurkan rujak padaku.

“Eh Yu, rujak sampeyan aman kan? Ndak pake formalin kan?” Godaku sambil bersiap melarikan diri.

“Weelhadalaah, apanya yang mau di formalin, Jeng? Bengkoangnya, lomboknya? Ngawur sampeyan ini!” teriaknya kesal sambil mengacungkan ulekannya.

:mrgreen:

17 thoughts on “Investigasi

  1. LJ Februari 3, 2013 / 5:59 am

    yu Minah selalu kritis dan keren..!

    Dan selalu nyemprot😦
    Makasiy, Mak😀

  2. honeylizious Februari 3, 2013 / 12:34 pm

    selalu menunggu Yu Minah😀

    Makasiy, Jeng😀

  3. Annie Tjia Februari 3, 2013 / 7:35 pm

    Iya sih mbak, menurutku juga terlalu berlebihan. Tujuannya baik tapi lama-lama kok jadi kayak dibuat-buat gitu ya. I mean, moso yo kabeh nganggo formalin, boraks opo lah jenengane. Ngunu-ngunu kuwi yo piye dhadine? Mumet arep maem yo bingung. (sok jawani. Nyahaha..)😛

    Iyo, kayaknya kok kabeh makanan gak aman ngono😦

  4. Haya Februari 4, 2013 / 2:23 am

    hahaha untung ulekannya cuma diacungin mbak😀. Setuju juga sama yu minah harusnya nggak perlu detail sampe ke cara membuatnya ya.

    Dilempar gak papa juga sih, soalnya saya pakai helm😆

  5. applausr Februari 4, 2013 / 5:28 pm

    Saya paling suka kalau sudah yuk minah nih… selalu menarik… baru saja kepikiran hal yang sama.. tv tv itu memang suka membunuh karakter orang orang.. manfaat, tapi caranya yang tidak pinter.

    Asal laku aja ya, MasApp😦

  6. Necky Effendy Februari 5, 2013 / 8:16 am

    saya punya saudara yang berjualan bumbu jadi di pasar. Gara2 penayangan seperti itu banyak langganannya yang jadi curiga sama dia. Saya sangat setuju dengan Yu Minah….hendaknya dikemas acaranya agar lebih mencerdaskan orang bukannya manakut-nakuti orang. Alhamdulillah sih yang namanya rizqi khan memang sudah diatur tapi lantaran tayangan tersebut bikin orang jujur menjadi khawatir kehilangan pelanggan….
    Be Wise…and Be Smart deh… untuk stasiun2 TV

    Saya juga suka jadi takut, Bang, terutama yang dikonsumsi anak-anak😦

  7. Nchie Hanie Februari 5, 2013 / 9:59 am

    salam buat Yu Minah

    Salam kembali, Jeng

  8. Orin Februari 5, 2013 / 10:45 am

    Untuuuung…si ulekan ga sampe dilempar bu Cho qiqiqiqi…
    tapi iya sih, aku jg jadi suka takut jajan kalo biz nonton acara ituh, tapi bagusnya, jadi masak deh biar yakin bersih dan bebas dr segala macem ini itu ono…😀

    Aiiihh, masakan Orin pasti lazzatt😀

  9. prih Februari 5, 2013 / 11:55 am

    Diajeng …. Yu Minah menganut falsafah “kena iwake tan buthek banyune”. Mau usul Yu Minah diangkat jadi direktur konsorsium stasiun TV digandhuli pelanggan fanatik rujak ulegnya. Salam

    QIqiqiqiiqi…nanti TV-TV malah ndak laku to, Mbakyuu😛

  10. zedeen Februari 5, 2013 / 12:16 pm

    Yu Minah sepemikiran dengan saya selama ini. Itu tukang rujak kok kritis gitu yak? gelarnya pasti SH MM kayak walikota saya

    Yu Minah, SH, MM, LLM (Lama-lama mati😆 )

  11. Fauzan Februari 5, 2013 / 1:27 pm

    Ya kalaupun rujaknya berformalin, kan lumayan nanti meninggal mayatnya awet kayak orang2 shaleh gitu gak dimakan ulat sama cacing😀

    Waduh, yang awet ususnya doang😛

  12. Lidya Februari 6, 2013 / 12:35 am

    rujaknya pakai formalin supaya awet setahun ya hehehe

    Hihihihihi….serem ah, Jeng😀

  13. akhmad muhaimin azzet Februari 7, 2013 / 10:02 am

    kalo sudah nyinggung rujak, bawaannya saya kangeeeeen banget untuk pulang ke jombang….

    Rujak buah apa rujak kangkung, MasAz?😀

  14. Pakde Cholik Februari 11, 2013 / 10:49 am

    Apa yang dikataka oleh Yu Minah itu ada benarnya
    Di sebuah stasiun TV ada yang mewancarai pemasok narkoba.
    Itu benar atau rekayasa ya ?
    Salam hangat dari Surabaya

    Nah itu dia, Pakdee, wong TV bisa wawancara kok polisi ndak isa nangkep hihihihihi….

  15. pesta ulang tahun Februari 19, 2013 / 12:52 pm

    menarik artikelnya😀 salam kenal yaaa😀

    Kayaknya wis kenal deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s