Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

[BeraniCerita #4] New Life, The Sequel

Jakarta, 20 Januari 2013

“Kamu yakin dengan keputusanmu?”

“Aku gak punya pilihan bukan?”

“Selalu ada pilihan, Sayang. It’s depends on you.”

“Bagiku tak ada pilihan, Ann. Aku terjebak. Aku gak bahagia!”

Diam. Hanya hela napas panjang yang saling bersautan.

“Orang tuamu tahu akan hal ini?”

“Orang tuaku sudah membuangku! Aku bukan lagi anak mereka!”

Oh, Dear, I’m sorry about that.”

It’s ok. Resiko ini sudah ku ambil.”

“Tidakkah kamu mau mempertimbangkannya lagi?”

Hey, it’s my life! Tak seorangpun bisa mengaturku! No one! Even you, Ann!”

“Jangan marah. Aku hanya minta kamu pertimbangkan lagi. Ini… ini sebuah keputusan besar. Aku gak ingin kamu menyesal nanti.”

“Kamu tahu, aku sudah memimpikannya sejak umurku masih lima tahun! Begitu lamanya aku menderita. Aku tersiksa, Ann, ini jalan satu-satunya menuju kebahagianku!”

Anne menatap wajah sahabatnya dengan penuh kasih sekaligus sedih.

Sorry, aku ingin bertanya sesuatu. Tidakkah kamu takut … takut dosa?”

Oh, shit, Ann! Jangan mulai lagi! I just wanted to ask you, you coming with me or not?”

“Tapi….”

Just answer!”

“Baiklah, aku akan menemanimu. Aku sayang kamu. You’re just the best friend I have.”

Thanks, Ann. I really appreciate it.”

Bangkok, 04 Maret 2013

“Kapan jadualnya?”

“Lusa, pukul tiga. Aku takut.”

“Aku tahu. Mari kupeluk.”

Bangkok, 05 Maret 2013

“Kamu sedang apa?”

Diam tak ada jawaban.

Dear, what are you doing? You have to do some medical test right now. “

“Aku sedang berdoa. I haven’t done since I knew that I was sick.”

Oh, that’s nice, Dear. Never too late to pray.”

Bangkok, 06 Maret 2013.

14.00  @Hospital Room

“Salahkah apa yang akan aku lakukan ini, Ann?”

Ia menggenggam tangan sahabatnya yang lebih dingin dari suhu kamar.

“Aku gak tahu. Ini hidupmu, kamu bebas menorehkan apapun dalam lembarannya. Dengan tinta emaskah atau tinta hitamkah? Hanya kamu yang berhak, no one else, Dear.”

Oh, I’m very scared. I’m cold.”

Sshh, here, let me hug.”

14.55 @Operating Room

Ann, help me! No! Don’t do this to me! Go away, Doc! Don’t do this to me! Anne, help me…..God, help me…. Noooo!!!

15.38 @Hospital Room

Dear…?”

“Ann, oh, Ann, what happened to me? Did they do it? Oh, aku gak mau, Ann! Aku gak mau melakukannya…aku…”

“Ssshh, don’t cry. Mereka belum melakukan apapun padamu. Kamu histeris luar biasa. Mereka terpaksa menidurkanmu.”

“Ann…? Aku…aku belum berubah? Aku masih seperti yang dulu?”

“Ya, Ellen, kamu masih seperti yang dulu.”

Ellen bangkit dari pembaringannya dan memeluk sahabatnya erat-erat dengan air mata bercucuran.

“Mulai sekarang, panggil aku Dony, Ann.”

*******************

words: 397

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

[BeraniCerita #3] Tak Kusangka!

changing room

Antrian itu cukup panjang, tapi Rio tak bosan menemaniku mengantri. Obrolan jenakanya membuatku betah meski harus mengantri di belakang lima perempuan lain di depanku. Ah, betapa menyenangkannya lelaki yang baru dekat denganku tiga bulan ini.

“Kamu gak bosan kan?” Tanyaku sedikit cemas.

“Kalo nemenin kamu gak bakalan bosan. Tapi kalo nemenin nyonya yang itu tuh, baru aku bosaaaan,” bisiknya sembari mengerling ke seorang wanita bertampang judes dengan tiga potong pakaian dalam pelukannya. Aku tertawa tertahan.

Akhirnya tiba juga giliranku.

“Aku masuk dulu yaa,” ujarku pada Rio. Pria itu mengikutiku masuk.

“Aku ikut,” katanya. Tentu saja wajahku merah padam karena malu.

“Jangan, kamu tunggu sini aja,” bisikku.

“Ah, cewek di sana tadi juga dianterin cowoknya kok,” bujuknya. Perempuan-perempuan di sekelilingku mulai melirik ke arah kami. Demi tak mau membuat keributan maka aku ijinkan ia masuk. Memang betul kami sudah berpacaran tapi tidak berarti ia boleh melihat tubuhku kan?

“Balikkan badanmu,” gerutuku kesal. Rio tertawa lalu membalikkan badannya. Secepat kilat aku melepas bajuku lalu mencoba blouse cantik itu. Tak sempat lagi aku bercermin, bahkan tak berani aku berpaling dari punggungnya. Begitu selesai, aku membalikkan badannya ke arahku.

“Nah, cantik gak?” Tanyaku sambil bergaya di hadapannya.

“Cantik…cantik banget,” puji Rio. Aku tersipu malu.

“Tapi…tapi…apa itu?” Tanya Rio sembari menunjuk sesuatu di dadaku. Aku menunduk dan seketika memekik.

“Apa itu, Ellen?” Desak Rio. Tergesa aku mencoba merapikan bra ku yang miring dan menyembul dengan aneh. Karena panik busa penyumpalnya malah meluncur jatuh.

“Kau…?” Rio merenggut blouse itu dari tubuhku. Maka terpampanglah semua hal yang bisa dilihat olehnya.

“Ellen?” Desis Rio. Sedetik kemudian wajahnya merah padam.

“Tak kusangka, kamu penipu!” Geramnya lalu meninggalkanku dengan wajah jijik.

Akupun menangis seperti perempuan, meski sesungguhnya aku adalah laki-laki.

*****************

words: 280

Biar basi tetep lucu · Iseng Aja · Ketawa dulu

Kulering 2

Setelah mendulang ketidaksuksesan pada Kulering tahun lalu, maka kembali ditampilkan Kulering 2. Yuk mariii ber”kulering”. Kumpulan Lelucon Gariiiiingg….. 😆

Beli Pulsa

Mbaknya : Mas, beli pulsa dong!

Masnya    : Oke, Mbak. Berapa nomernya?

Mbaknya : Sik…sik…bentaaaar…

Masnya    : Oh, mbeliin pacar ya, Mbak? Hehehehe….

Mbaknya : Huh, sotoy! Beli buatku sendirilah.

Masnya    : Kok gak hafal nomer sendiri?

Mbaknya : Lhah, saya kan gak pernah nelpon diri sendiri. Yeeeee….. 😡

****************

Teman

Omnya   : Hallo, met malam.

Masnya  : Malam, Ooomm…. bisa bicara dengan Ani, Om?

Omnya   : Ini dari siapa?

Masnya  : Temannya, Oomm….

Omnya   : Ya iyalah temennya, masa musuhnya? Nama…namanya siaapppaaa???

Masnya  : Owh, saya Rhoma, Om. Saya emang calon musuhnya Ani, Om.

Omnya   : Lho? Kok bisa?

Masnya  : Iya, Omm, critanya kan guweh ama Ani ha te es an, Omm. Sekarang guweh maw mutusin Ani, Omm. Gitu loh!

Omnya   : BRAAKKK!!!

(Sumpah! Yang ini mah garing puoollll!!!)

****************

Saya Sendiri

Sono  : Hallo, bisa bicara dengan Ani?

Sini    : Iyaa, saya sendiri.

Sono  : Oh, saya berduaaa….

Sini    : &(*&(*&(*&)(&^%%$$##

***************

Silakan mbacanya sambil gelitikan diri sendiri yaaa………… Garing puoolll! Mbuh ahh!!

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Pujangga Cinta

Lagu irama Melayu mendayu-dayu yang terdengar dari rumah Bang Zulham membuat langkah Ashraff terhenti. Ah, mengapa tepat benar lagu itu dengan perasaan hatiku? Gumamnya lirih. Kepalang basah, kakinya telah pula masuk halaman Bang Zulham.  Maka ia pun berseru mengucap salam.

“Assalammualaikum, Bang!” Ditingkah lagu Elia Kadam yang menyesak itu, tentu tak terdengar salam yang diucap Asraff. Maka ia pun berseru sekali lagi.

Bang Zulham yang sedang meminyaki rambutnya dengan minyak kelapa campur odo kolonyo agar wangi, sejenak menghentikan kegiatannya. Samar-samar terdengar salam dari luar. Benarlah, ada tamu nampaknya. Maka sambil meneriakkan salam balasan, Bang Zulham segera menyelesaikan jambul ombak tebalnya. Lalu ia rapikan krah bajunya yang setinggi telinga. Sejenak ia elus jambang tebalnya. Sempurna! Ia segera menyambut tamunya.

“Ah, kau rupanya, Asraff! Masuk, masuklah,” sambut Bang Zulham.

“Haha…mengapalah kau bermuram? Seperti tiada buang air seminggu rupamu itu hahahaha….,” goda Bang Zulham. Asraff tersenyum kecut. Si Tuan Rumah tak sedikitpun mau mengecilkan volume tape nya, hingga rasa hati Asraff kian merana.

“Nah, ada apa kau datang? Tiada jauhlah pasti urusan perempuan, bukan?”

Asraff tersipu. Pandai sekali laki-laki ini menebak urusan percintaan. Tak salah maka ia selalu berjaya dalam urusan yang satu ini. Pujangga Cinta orang kampung sini menyebutnya.

“Iya, Bang. Laila tiada lagi mau menjumpaiku,” desah Asraff.

“Laila? Laila anak Cik Noor itu?” tanya bang Zulham ragu. Asraff mengangguk-angguk.

“Ah, Laila. Memang manis anak itu, hei aku tiada tahu jika kau menjalin asmara dengannya?”

“Baru tiga bulan saya dekat dengannya. Itu pun diam-diam sahaja, karena Mak Cik selalu awasi Laila. Apa yang harus saya buat, Bang. Sekarang Laila tiada lagi mau jumpa. Setiap saya lewat depan rumahnya, ia menghilang ke dalam,” keluh Asraff. Rupanya sakit cinta membuatnya tak berdaya. Bila tak malu, tentu air mata sudah turun ke pipi.

“Hmm, Laila…Laila… Gadis rupawan elok menawan. Banyak kumbang mengitari, lakunya jinak-jinak merpati,” gumam Bang Zulham. Tangannya yang penuh cincin batu mengusap-usap janggutnya.

“Bagaimana, Bang?” desak Asraff tak sabar melihat Bang Zulham malah bersyair.

“Kau sungguh cinta padanya, Bujang?”

“Iyalah, Bang. Rasanya hanya dia gadis yang membuat saya jungkir balik begini.”

“Tapi Bujang, menurut pengalamanku jika anak gadis tiada lagi mau jumpa, itu berarti ia sudah tiada cinta. Lebih baik kau cari yang lain sahaja.”

Asraff terperanjat mendengar jawaban Bang Zulham. Tak pernah laki-laki beristri empat itu memberi nasihat demikian. Dahulu saja Kasran, sahabatnya, diberi semangat mati-matian sehingga akhirnya berjaya menyunting Puti. Mengapa kini Bang Zulham menyerah?

“Dia masih cinta saya, Bang. Hanya sahaja Mak Cik tiada merestui kami.”

“Nah, itu pula. Mengapa tiada kau dekati sahaja Aida? Parasnya lebih elok, tubuhnya lebih molek, dan orang tuanya lebih bijak.”

“Ah, Abang ini bagaimana? Saya hanya cinta sama Laila,” keluh Asraff.

“Sedarlah, Bujang. Kau baru menjalin asmara tiga bulan, jika orang tuanya pun tiada setuju mengapa pula kau kejar-kejar? Hidupmu tiada akan bahagia, malah nanti sial menimpa,” nasehat Bang Zulham.

Asraff tercenung. Ia memang cinta Laila, tapi bila tak ada restu untuk apa diteruskan? Mungkin benar apa kata Bang Zulham. Dan ia takut tertimpa sial.

“Baiklah, bila itu saran Abang. Saya tiada akan lagi kejar Laila, mungkin ia bukan jodoh saya,” gumam Asraff lalu beranjak pergi. Bang Zulham tertawa lalu menepuk-nepuk bahu Asraff.

“Yakinlah kau, Bujang, perempuan bukan Laila sahaja. Satu dua minggu kau akan merana karena sakit cinta. Tapi setelah itu, kau akan segera berjaya hahahaha…..”

“Asalammualaikum, Bang,” pamit Asraff lesu.

“Waalaikum salam, Aida menunggumu, Bujang hahahaha…..”

Kau pergi tanpa pesan
Ku nanti tiada datang
Di mana kau kini
Di mana kau kini
Aku tiada berkawan lagi
Aduh…! Aduh..!
Aduh.. duh.. duh..

Apakah kau tak sedar
Janji suci kau patahakan
Di mana ku cari
Di mana ku cari
Aku tiada terdaya lagi
Aduh…! Aduh..!
Aduh.. duh.. duh..

Selesai sudah lagu Elia Kadam. Sekali lagi Bang Zulham berdiri di depan kaca lalu merapikan rambutnya yang telah wangi dan kaku. Badai laut pun takkan menggoyahkan jambulnya.

“Laila pujaankuuu, tunggu Abang di situu. Segala bujang tiada akan berdaya, memberi cinta seperti Abang punya, Sang Pujangga Cinta hahahaha…..”

************

Cintaku · I feel blue

PIM: Soulmate

Hari ini adalah peringatan 100 hari meninggalnya Papa tercinta. Sayangnya, hanya Ibu dan Mbakyune yang bisa nyekar ke Yogya. Namun kami, adik-adik mengadakan sembahyangan di rumah Papa. Juga ujub misa di beberapa gereja untuk mohon doa bagi Papa. Aku ingin menulis mengenai Ibu di postingan kali ini. Ibu, belahan jiwa Papa.

Sejak kepergian Papa, Ibu seringkali sakit-sakitan. Ibu memang punya DM, namun terkontrol dan tak pernah terlambat berobat. Namun belakangan Ibu sering mengeluh pusing dan tensi pun lumayan tinggi. Ibu juga sering mengeluh tak bisa tidur jika malam tiba. Sempat tertidur tapi lalu terbangun tengah malam dan gak bisa bobok sampai menjelang subuh. Hingga akhirnya Mbakayune menyarankan Ibu untuk general medical check up. Kalo gak salah yang utamanya pengecekan cardiovascular. Ternyata hasil semua baik, kecuali gula sedikit tinggi. Jadi kemungkinan besar adalah karena pikiran 😦

Hari Minggu lalu aku sempat ngobrol dengan Ibunda. Dan Ibunda pun curhat bahwa meski sudah ikhlas, namun Ibunda masih kepikiran Papa terus. Ibu merasa kesepian dan sangat kehilangan. Aku sangat mengerti, sudah sangat lama mereka berdua tak terpisahkan. Dan terutama, ternyata Ibu takut tanpa Papa! Ibu merasa tidak aman, merasa tidak ada lagi yang melindungi, merasa tidak ada lagi yang mengayomi. Hiks…dan aku sangat mengerti itu.

Ibu lalu bercerita. Dulu, sewaktu masih di Semarang, dengan rumah yang sangat luas dan hanya mereka berdua, Ibu tak pernah merasa takut. Bahkan suatu kali pernah tengah malam, hujan deras dan geludug besar tiba-tiba lampu mati. Maka hanya dengan lampu senter, Ibu turun ke garasi untuk mengecek sekering. Namun sebelumnya Ibu meminta Papa untuk menemani. Papa, dengan segala keterbatasannya, hanya bisa menunggui Ibu di ujung tangga. Tapi Ibu tidak takut turun dan merasa aman, meski Papa hanya berdiri di atas, di ujung tangga. Dan benarlah, ternyata setelah dibetulkan lampu kembali menyala.

Lalu pernah sekali waktu, di kebun samping, masih di rumah Semarang juga, Ibu menemukan ular kecil di dekat mesin cuci. Di atas rumah Papa memang ada rumah lama yang tidak dihuni dan semaknya luar biasa penuh. Kebetulan di daerah situ memang pembangunan rumahnya mengikuti kontur tanah. Sehingga ada yang di atas ada yang di bawah 🙂

Nah, Ibu lalu meminta tolong Papa karena Ibu takut. Papa dengan heroiknya, meski tertatih-tatih, mengusir ular itu dengan tongkatnya tanpa rasa takut sedikitpun. Lalu ular itu dibuang ke kebun bawah dan kabur keluar. Itu hanya beberapa contoh kecil. Namun dari situ aku tahu, bahwa Ibu dan Papa saling bergantung karena mereka hanya berdua saja. Papa, dengan stroke nya selalu berusaha menjadi lelaki kuat sandaran kekasihnya. Dan Ibu, dalam hal-hal tertentu sangat mengandalkan Papa sebagai pahlawannya. Hiks… (I’m crying, my friend 😥 )

Maka aku sangat mengerti ketakutan Ibu sekarang. Karena separuh jiwa Ibu telah berpulang. Separuh hidupnya telah kosong. Tak ada yang bisa menggantikan kehadiran Papa, meski kami anak dan cucu selalu mengunjungi Ibu di setiap kesempatan. Ibu juga bercerita, setiap malam ketika terbangun untuk pipis, Ibu selalu menengok kamar Papa. Dulu selalu ada Papa yang sedang menonton bola, selalu ada Papa yang sedang lelap. Ibu tak pernah takut. Tak pernah sepi meski hanya berdua.

Pernah aku datang ke rumah Ibu petang hari. Kudapati Ibu sedang makan malam. Sendirian di meja makan. Nyaris air mataku tumpah. Biasanya selalu makan dengan Papa, meski kadang Papa lebih memilih terlambat makan, tapi setidaknya Ibu tidak sendiri. Memang Ibu tidak benar-benar sendiri. Ada ART, tapi masih sangat muda sehingga lebih sering berteleponria di kamarnya. Duh, Ibu, aku sangat mengerti kesepianmu.

Sudah ratusan kali, kami meminta Ibu untuk tinggal bersama salah satu dari kami. Terserah mau berapa lama, bergantian Ibu mau tinggal di mana. Tapi Ibu tidak mau. Beliau lebih memilih tinggal di rumah kenangan. Ibu pernah bilang, nanti setelah seribu hari Papa, Ibu mau mempertimbangkan untuk tinggal di salah satu dari kami. Tapi untuk saat ini, Ibu belum mau. Meski hanya sehari dua hari. Karena Ibu takut jika sudah kembali ke rumah perlu beradaptasi lagi.

Ah, Ibuku Sayang, yang kuat ya. Kami semua juga sangat kehilangan Papa, tapi mungkin Ibu yang paling kehilangan. Kami selalu mendoakanmu, Ibu, hanya kau satu-satunya orang tua yang kami miliki sekarang. Kami akan menjagamu sepenuh hati, sekuat kami, semampu kami. Kami semua mencintaimu. Kuatlah untuk kami. Aku cinta padamu, Ibu…

IMG-20130120-WA0003
Selalu berusaha menghibur Yangtie di setiap kesempatan 😀