Pujangga Cinta

Lagu irama Melayu mendayu-dayu yang terdengar dari rumah Bang Zulham membuat langkah Ashraff terhenti. Ah, mengapa tepat benar lagu itu dengan perasaan hatiku? Gumamnya lirih. Kepalang basah, kakinya telah pula masuk halaman Bang Zulham.  Maka ia pun berseru mengucap salam.

“Assalammualaikum, Bang!” Ditingkah lagu Elia Kadam yang menyesak itu, tentu tak terdengar salam yang diucap Asraff. Maka ia pun berseru sekali lagi.

Bang Zulham yang sedang meminyaki rambutnya dengan minyak kelapa campur odo kolonyo agar wangi, sejenak menghentikan kegiatannya. Samar-samar terdengar salam dari luar. Benarlah, ada tamu nampaknya. Maka sambil meneriakkan salam balasan, Bang Zulham segera menyelesaikan jambul ombak tebalnya. Lalu ia rapikan krah bajunya yang setinggi telinga. Sejenak ia elus jambang tebalnya. Sempurna! Ia segera menyambut tamunya.

“Ah, kau rupanya, Asraff! Masuk, masuklah,” sambut Bang Zulham.

“Haha…mengapalah kau bermuram? Seperti tiada buang air seminggu rupamu itu hahahaha….,” goda Bang Zulham. Asraff tersenyum kecut. Si Tuan Rumah tak sedikitpun mau mengecilkan volume tape nya, hingga rasa hati Asraff kian merana.

“Nah, ada apa kau datang? Tiada jauhlah pasti urusan perempuan, bukan?”

Asraff tersipu. Pandai sekali laki-laki ini menebak urusan percintaan. Tak salah maka ia selalu berjaya dalam urusan yang satu ini. Pujangga Cinta orang kampung sini menyebutnya.

“Iya, Bang. Laila tiada lagi mau menjumpaiku,” desah Asraff.

“Laila? Laila anak Cik Noor itu?” tanya bang Zulham ragu. Asraff mengangguk-angguk.

“Ah, Laila. Memang manis anak itu, hei aku tiada tahu jika kau menjalin asmara dengannya?”

“Baru tiga bulan saya dekat dengannya. Itu pun diam-diam sahaja, karena Mak Cik selalu awasi Laila. Apa yang harus saya buat, Bang. Sekarang Laila tiada lagi mau jumpa. Setiap saya lewat depan rumahnya, ia menghilang ke dalam,” keluh Asraff. Rupanya sakit cinta membuatnya tak berdaya. Bila tak malu, tentu air mata sudah turun ke pipi.

“Hmm, Laila…Laila… Gadis rupawan elok menawan. Banyak kumbang mengitari, lakunya jinak-jinak merpati,” gumam Bang Zulham. Tangannya yang penuh cincin batu mengusap-usap janggutnya.

“Bagaimana, Bang?” desak Asraff tak sabar melihat Bang Zulham malah bersyair.

“Kau sungguh cinta padanya, Bujang?”

“Iyalah, Bang. Rasanya hanya dia gadis yang membuat saya jungkir balik begini.”

“Tapi Bujang, menurut pengalamanku jika anak gadis tiada lagi mau jumpa, itu berarti ia sudah tiada cinta. Lebih baik kau cari yang lain sahaja.”

Asraff terperanjat mendengar jawaban Bang Zulham. Tak pernah laki-laki beristri empat itu memberi nasihat demikian. Dahulu saja Kasran, sahabatnya, diberi semangat mati-matian sehingga akhirnya berjaya menyunting Puti. Mengapa kini Bang Zulham menyerah?

“Dia masih cinta saya, Bang. Hanya sahaja Mak Cik tiada merestui kami.”

“Nah, itu pula. Mengapa tiada kau dekati sahaja Aida? Parasnya lebih elok, tubuhnya lebih molek, dan orang tuanya lebih bijak.”

“Ah, Abang ini bagaimana? Saya hanya cinta sama Laila,” keluh Asraff.

“Sedarlah, Bujang. Kau baru menjalin asmara tiga bulan, jika orang tuanya pun tiada setuju mengapa pula kau kejar-kejar? Hidupmu tiada akan bahagia, malah nanti sial menimpa,” nasehat Bang Zulham.

Asraff tercenung. Ia memang cinta Laila, tapi bila tak ada restu untuk apa diteruskan? Mungkin benar apa kata Bang Zulham. Dan ia takut tertimpa sial.

“Baiklah, bila itu saran Abang. Saya tiada akan lagi kejar Laila, mungkin ia bukan jodoh saya,” gumam Asraff lalu beranjak pergi. Bang Zulham tertawa lalu menepuk-nepuk bahu Asraff.

“Yakinlah kau, Bujang, perempuan bukan Laila sahaja. Satu dua minggu kau akan merana karena sakit cinta. Tapi setelah itu, kau akan segera berjaya hahahaha…..”

“Asalammualaikum, Bang,” pamit Asraff lesu.

“Waalaikum salam, Aida menunggumu, Bujang hahahaha…..”

Kau pergi tanpa pesan
Ku nanti tiada datang
Di mana kau kini
Di mana kau kini
Aku tiada berkawan lagi
Aduh…! Aduh..!
Aduh.. duh.. duh..

Apakah kau tak sedar
Janji suci kau patahakan
Di mana ku cari
Di mana ku cari
Aku tiada terdaya lagi
Aduh…! Aduh..!
Aduh.. duh.. duh..

Selesai sudah lagu Elia Kadam. Sekali lagi Bang Zulham berdiri di depan kaca lalu merapikan rambutnya yang telah wangi dan kaku. Badai laut pun takkan menggoyahkan jambulnya.

“Laila pujaankuuu, tunggu Abang di situu. Segala bujang tiada akan berdaya, memberi cinta seperti Abang punya, Sang Pujangga Cinta hahahaha…..”

************

9 thoughts on “Pujangga Cinta

  1. LJ Maret 13, 2013 / 4:17 pm

    aihh baaannggg.. kmrn abang baru dr rumahku, menyatakan cinta dibawah jendela sambil memetik gitar.. sekarang sudah pindah pulak ke rumah si Laila.. begh!!

    Bagaimana Abang nak bertahan, Sayaang, jika kau lempar Abang dengan sepatu tujuh sentimu? Aachh, pedih hati Abang, pedih pula jidat Abang…

    (😆 )

  2. Wong Cilik Maret 13, 2013 / 4:57 pm

    Pantas saja Laila tiada mau kusapa, ternyata sudah sama si Abang …

    Aahh, siapa pula tak terpesona oleh Abang? Dengan jambul anti tsunami dan cambang anti badai ini?:mrgreen:

  3. Orin Maret 13, 2013 / 5:11 pm

    Bu Chooooo…mo ngasih tau dulu, aku punya ‘rumah’ baru : http://www.beranicerita.com/🙂

    Waaaahh, kereeeennn…. SIpp sipp aku meluncur ke sana yaaa😀

  4. prih Maret 13, 2013 / 6:06 pm

    Aduh Abang jambul, jangan kauretakkan hati Laila keponakanku…

    Akan Abang suntiang keponakan Bibi nan jelita itu😆

  5. penuliscemen Maret 13, 2013 / 7:23 pm

    asik nambah lagi blog yang nulis cerita pendek dan fiksi. salam kenal ya Mbak. kayaknya saya bakal rajin mampir kesini🙂

    Dengan senan hati😀 Makasiy yaa sudah berkunjung😀

  6. Lidya Maret 13, 2013 / 9:42 pm

    jadi pingin ikutan nyanyi nih mbak baca cerita ini🙂 mbaaaak aku kangen kelanjutan cerbungnya nih🙂

    Addduuuuhh, maaf ya Jeng, otak lagi buntu banget nih😥 Sesegera mungkin aku publish yaaa😀

  7. ~Amela~ Maret 14, 2013 / 8:44 am

    aaah.. dikerjain bang zulham nih si asraf..
    mau jadi istri ke berapa itu laila? lima berarti ya mbak?

    Hihihihihihi…. iya Mella, kelima😆

  8. Arie Pudjiarso Maret 16, 2013 / 10:58 pm

    Mau tanyak! Ini nulisnya sambil nyanyi juga, ya?😀

    Taunya cuma pas bagian aduh..aduh..itu aja:mrgreen:

  9. wijayaanita78 Maret 18, 2013 / 9:14 pm

    yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

    Iya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s