Lukisan Cinta, Episode 18

Maafkan, lanjutannya terlalu lama ya😦 Mari tengok ke belakang dulu🙂

bg-big2

Stasiun Gambir begitu sibuknya meski pagi masih belum sepenuhnya terjaga. Aryo menggenggam tangan dingin kekasihnya. Ia masih enggan berbicara meski tangannya begitu protektif menggenggam Sandra. Kereta jurusan Cirebon akan datang sepuluh menit lagi. Waktu yang sangat sempit, setelah melalui 25 menit yang panjang dan diam dalam mobil tadi.

“Kamu sudah hubungi Tante Liz, Hon?” Akhirnya Aryo mengalah, menyuarakan pertanyaan yang sudah dua puluh empat kali ia tanyakan. Sandra hanya mengangguk.

“Hmm, kapan kamu kembali?” Tanya Aryo, pertanyaan yang juga sudah enam belas kali ia tanyakan. Sandra hanya melenguh panjang.

Sorry, Hon, aku gak mau kamu pergi dalam keadaan marah,” ujar Aryo tak berdaya.

“Aku gak marah. Aku hanya meminta waktumu nanti, nanti setelah semua kesibukanmu reda. Kita mulai lagi dari awal,” ucap Sandra datar. Aryo menghela napas panjang, tangannya meremas tangan Sandra sedikit keras.

“Hanya tinggal beberapa bulan pernikahan kita, Honey, aku janji akan segera membereskan urusanku dan kita urus perkawinan kita, oke?” Janji Aryo. Kekasihnya hanya tersenyum tipis, kalimat itu juga sudah enam puluh kali keluar dari mulut Aryo.

Kereta yang akan membawa Sandra sudah berhenti di hadapan mereka. Aryo memeluk erat kekasihnya. Air mata Sandra menetes, membasahi kemeja Aryo.

“Sshh, jangan menangis, Sayang. Seminggu lagi aku akan menjemputmu, maafkan aku ya?” bisik Aryo.

Sandra bahkan tak tahu untuk apa lagi dia menangis setelah air matanya habis tertumpah sejak kemaren. Namun ia mengangguk dan segera memasuki kereta. Ia ingin menenangkan diri di rumah Tante Liz. Sesungguhnya ia tak begitu marah karena Aryo tak mengantarnya untuk food test, ia justru marah pada dirinya sendiri karena hatinya telah berkhianat. Keraguan itu semakin dalam justru ketika proses persiapan pernikahannya sudah di depan mata. Oh Poseidon, kau telah menghancurkan hubunganku dengan Aryo! Bisik hatinya perih.

Kereta melaju perlahan, meninggalkan Aryo, tunangannya, yang tak hentinya melambaikan tangan dan mengirimkan kecupan jarak jauh. Akan rindukah aku padamu, Sayang? Akan kuuji hatiku untukmu. Sandra membalas lambaian itu dengan sedih.

*********************

Tepat pukul satu siang sopir Tante Liz menurunkannya di pintu lobby rumah sakit. Sejenak Sandra melupakan keresahannya. Ia segera menuju kantin di basement, Tantenya sudah menunggu di sana.

“Haii, mmuaahh…keponakanku yang satu ini, ada apa lagi kamu kabur?” goda Tante Liz setelah mengecupnya. Sandra tertawa lepas. Ia segera memesan semangkuk mie bakso dan seporsi mpek-mpek.

“Hah? Gak salah nih? Calon pengantin kok makannya gak diukur?”

“Masih lama, Tan. Ntar kalo dah deket baru diet lagi,” jawab Sandra geli. Jam istirahat rupanya sudah usai, sehingga kantin begitu sepi.

“Nah, ada apa kamu ke sini?”

“Yee, emang gak boleh, Tan? Aku kan mau ambil mobil, membawa sisa-sisa barangku yang tertinggal,” kilah Sandra.

“Jangan bohong, Nak. Tante tahu, kalo kamu gak punya masalah, gak akan deh kamu ke sini.”

“Idih Tante, gaklaah. Lagian kan Tante baru tahun kemaren ditugaskan di sini, gimana aku mau kabur ke sini?”

“Nah, tuh kan, ini dalam rangka kabur juga kan?”

Sandra tak bisa mengelak lagi. Ia hanya tertawa dan menyantap makanannya dengan nikmat. Tante Liz hanya memandanginya dengan sayang, membiarkan keponakannya menghabiskan pesanannya dengan lahap. Setelah perut kenyang maka perasaan Sandra pun ikut nyaman.

“Aku lagi kesal sama Aryo, Tan. Sama Mama juga,” ujarnya setelah menyeruput es tehnya.

“Kenapa?”

“Mereka adalah orang yang paling kucintai tapi justru paling tak punya waktu untukku,” keluh Sandra.

Tante Liz mengelus punggung tangan Sandra.

“Aryo yang memintaku untuk segera mempersiapkan pernikahan. Mama juga juga yang mendesakku untuk segera meresmikan hubungan. Tapi apa? Tak satupun dari mereka yang punya waktu untuk menemaniku mengurus ini itu. Aryo sibuk dengan para bule itu, sementara Mama meeting hampir setiap hari. Aku kesal, Tan. Bayangkan, ketika semua pasangan saling berbisik mesra fitting, mencicip katering, memilih gedung, aku seperti orang hilang yang mau menikah tapi tak tahu dengan siapa!” omel Sandra.

“Lho, sudah ada EO nya kan? Yang dulu kamu ceritakan itu?”

“Iya, tapi aku juga gak sepenuhnya lepas tangan kan? Mauku, kami bareng-bareng seperti pasangan yang lain, Tan.”

“Mengapa kamu gak ajak siapa tuh, sahabatmu? Windy?”

“Windy sudah pindah ke Bogor, Tan. Aku gak mungkin merepotkannya.”

Obrolan mereka terhenti ketika sebuah tepukan hangat mendarat di bahu Sandra. Gadis itu terkejut.

“Ah, kembali kemari juga Si Gadis Pantai ini,” sapa Frans renyah. Tanpa diundang ia segera mengambil tempat di antara mereka.

“Hai Frans, apa kabar?”

“Tak pernah sebaik ini ketika melihatmu, San,” jawabnya. Tante Liz melihat bahwa dirinya sudah tak dibutuhkan lagi maka ia segera pamit.

“Baiklah, kita bicara lagi nanti malam ya. Tante ke atas dulu,” ujarnya sembari mengedipkan sebelah mata pada Sandra.

Thanks, Dr. Liz. Akan kujaga Sandra di sini,” kata Frans. Tante Liz tertawa dan segera meninggalkan mereka.

“Nah, Cantik, kapan kamu datang dan kapan kamu mau menemaniku ke pantai?” Tanya Frans beruntun. Sandra tertawa.

“Aku baru saja tiba, Frans. Dan rencana ke pantai, hmm…entahlah. Aku masih lelah, Sabtu mungkin?”

No problem, selalu ada waktu untukmu, Cantik.”

“Jangan panggil aku seperti itu ah, gak enak kalau ada yang dengar.”

“Memangnya kenapa? Kamu memang cantik kok, masa harus aku panggil Jelek?”

“Yee, panggil namaku saja, Dok,” rajuk Sandra. Internis itu semakin terpesona melihat wajah Sandra.

“Hahahaha… baiklah. Tapi sesekali ijinkan aku memanggilmu Cantik, okay?”

Sandra hanya mengangkat bahu sambil tersipu.

**********************

Baru beberapa minggu Sandra meninggalkan pantai ini, namun terasa sudah seabad. Bahkan ketika ia baru memarkir mobilnya, deburan ombak serasa menyiram hatinya. Pantai ini, selalu menimbulkan kenangan manis di hatinya. Meski hanya sekedar merasakan hangatnya pasir di telapak kakinya, kehangatan itu seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Mengingatkannya pada Dewa Laut yang pernah dengan mesra memeluknya. Poseidon! Pipi Sandra memerah.

Senja ini begitu cerah, langit bersih tanpa seonggok awan pun. Sandra tak langsung menuju dermaga untuk menyambut mentari senja, melainkan melangkahkan kakinya menuju daerah terlarang bagi Ning dan baginya. Di kejauhan ia melihat persiapan para nelayan yang akan melaut nanti malam. Sudah beberapa minggu angin dan cuaca sama sekali tak bersahabat, demikian Sandra membaca koran lokal. Hingga hari ini laut tampak cerah dengan angin yang bertiup sangat bagus untuk melaut.

Sandra sengaja menolak ajakan Frans untuk segera ke pantai. Ia ingin menikmati kerinduannya pada pantai sendiri saja. Pada pantai, laut, atau penguasa lautan? Sandra tersenyum menanggapi pikirannya sendiri. Ia mencoba mencari perahu kokoh berwarna biru. Dilepasnya sandalnya lalu berjalan ke arah bukit pasir agar bisa melihat lebih jauh. Baru saja ia  melangkah, sebuah suara baritone mengejutkannya.

“Mencari apa?”

Sandra membalikkan badannya. Seketika wajahnya merah padam. Seraut wajah luar biasa tampan dengan senyumnya yang datar, menatapnya dengan pandangan yang sukar dilukiskan.

“Agung? Eh….”

**********************

Kyaaa….bersambung lagi deehhh….. hiks…hiks….:mrgreen:

6 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 18

  1. LJ April 8, 2013 / 5:50 pm

    horeee, mas Agung akhirnya kembali..!

    bude bikin deg2an lagi nih..😛

    Poseidon ngangenin ya, Mak😛

  2. Lidya April 8, 2013 / 10:50 pm

    Ya baru juga nongol mbak Agungnya, udah bersambung🙂 mudah-mudahan gak lama sambungannya hehehe. Lagi sibuk nih mbak? Makasih ya sudah dikasih tau tadi

    Sama-sama, Jeng, Berasa punya utang aku rasanya hihihihi….
    Iya semoga cepet nih😀

  3. Imelda April 18, 2013 / 5:37 pm

    horeeee eng ing eng…..

    Hahahaha… ada apa selanjutnya?😀

  4. Wong Cilik Mei 14, 2013 / 2:13 am

    asyik lanjut lagi …😀

    Kelamaan yo, Mas?😛

  5. prih Juli 13, 2014 / 7:11 pm

    Asyiik episode 18…lanjut lageee diajeng…

    Siappp, Mbakyuu😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s