Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir · Oooh Indahnyaaa....

Obituari Oma

Sebuah proyek rahasia yang digagas dan dimotori oleh pemilik Dunia Pagi, Amela Erliana itu akhirnya purna sudah. Mengumpulkan sekian blogger dan melempar bermacam thema cerita lalu pada akhirnya memutuskannya tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Menyatukan sekian belas (ato puluh) blogger pada awalnya, dengan karakteristik yang berbeda, bahkan mungkin belum saling kenal apalagi kopdar bukan juga pekerjaan mudah. Namun itulah Amela, di sela kesibukannya mempersiapkan pernikahan (cihuuuiiii) akhirnya gadis manis yang suka bangun pagi ini mampu menyatukan sahabat-sahabat mayanya dan menyelesaikan buku “Obituari Oma”.

Dan inilah sepuluh orang bloggers yang naskahnya terkumpul dalam “Obituari Oma”:

AmellaIlham, Orin, Sulung, Ari Tunsa, Dhenok, Kakaakin, Ne’, Lea, dan tentu saja…ihik…ihik..uhuk…uhuk… aku sendiri ashamed0002 Free Emoticons   Shame

Simak ini:

“Marina Wijaya, seorang artis senior yang telah malang-melintang selama setengah abad di dunia perfilman Indonesia. Kematiannya yang tiba-tiba meninggalkan kesedihan yang mendalam di hati keluarga dan penggemarnya. Tapi tak semua orang merasa kehilangan. Tak semua orang mencintai si cantik Marina.
10 orang blogger, dalam 17 flashfiction, mengisahkan sosok Marina Wijaya dari berbagai sudut pandang, berusaha mengungkap sisi lain sang bintang.”
Nah, Kawan, tidakkah kau penasaran dengan isi buku ini? Kumpulan tulisan sepuluh orang blogger yang mempunyai gaya bercerita tersendiri? Menarik!
???????

Sebuah langkah kecil yang berani namun mampu memotivasi untuk langkah-langkah yang lebih besar di kemudian hari. Terimakasih Amela, untuk kesempatan yang kau berikan untukku. Dan tentu saja para penulis buku ini. Seperti kata Amela, “Semoga buku ini bisa menjadi kenangan indah atas persahabatan kita.”   love0062 Free Emoticons   Love 😉

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

[BeraniCerita #12]: Sepatu Dina

sepatu
credit

“Lepas sepatu itu, Dina!”

Suryo menghardik anaknya dengan keras. Dina menoleh terkejut. Wajahnya pias ketakutan.

“Tapi, Pa…..”

“Tidak ada tetapi, lepas!”

Gemetar Dina melepas sepatu merahnya yang sudah kumal dan berlubang di sana-sini.

“Ini pemberian Mama, Pa. Dina…Dina…,” isaknya tak berdaya.

“Jangan sebut kata Mama lagi di depan Papa!”

Gadis menjelang remaja itu mengisak lalu berlari menuju kamarnya. Suryo hanya bisa menahan amarah, nyaris ia menendang dan membuang sepatu itu jika tak ingat betapa Dina sangat menyayanginya. Amarahnya masih belum terkendali setiap mendengar atau melihat semua barang yang berbau Rani, istrinya. Tepatnya mantan istrinya. Apalagi sepatu itu sudah begitu kumalnya.

Hari Minggu yang terlanjur rusak. Sejatinya Suryo ingin mengajak Dina makan siang sekaligus mengenalkannya pada Vita, calon istrinya. Entah ini calon keberapa setelah yang sebelum-sebelumnya selalu ditolak Dina.

“Dina hanya ingin Mama.” Begitu selalu jawaban Dina setiap Suryo membawa pulang kekasihnya. Dan biasanya tak ada percakapan lebih lanjut selain suara pintu yang dibanting oleh Suryo.

Hujan tiba-tiba turun lalu menderas disertai angin yang menderu. Dina berlari-lari ke teras, menyelamatkan sepatu merahnya dari guyuran hujan lalu menghilang lagi ke kamarnya. Suryo sudah tak peduli. Hatinya geram bukan main, tetapi ia sedang malas ribut dengan gadisnya.

*************

Bertahun-tahun setelah kejadian itu Suryo tak pernah lagi melihat Dina memakai sepatu kumalnya, bahkan tak pernah lagi melihat sepatu itu. Mungkin Dina telah membuangnya. Waktu memang selalu bisa menyembuhkan. Hingga suatu hari, Andre, kekasih Dina datang dengan membawa kotak sepatu.

“Hadiah ulang tahun untuk Dina, Om,” jelas Andre ketika Suryo bertanya. Suryo tertawa senang. Hampir saja ia membeli kado yang sama, untunglah tidak jadi karena ia tak tahu ukuran sepatu Dina.

“Tunggulah, sebentar lagi Dina turun,” kata Suryo. Ia menyukai Andre, anak muda yang sopan dan bisa diandalkan menjaga Dina. Meski belum mengenal keluarga Andre, tetapi Suryo siap memberikan restunya jika Andre ingin melamar Dina.

Mereka masih mengobrol ringan hingga terdengar langkah kaki menuruni tangga. Kedua lelaki beda generasi itu mendongak lalu tersenyum penuh cinta melihat Dina turun dengan gaun ungunya. Cantik. Suryo nyaris menitikkan air mata melihat gadisnya yang telah tumbuh dewasa dan … begitu mirip Rani!

“Hai, Pa, Andre,” sapa Dina malu-malu. Kedua lelaki itu berdiri menyambut putri cantik itu. Suryo dengan kecupannya di dahi, dan Andre yang hanya berani menyambut tangan pujaan hatinya.

Malam berlalu dengan menyenangkan, makan malam bertiga diiringi musik lembut dan obrolan penuh canda. Hingga saatnya membuka kado. Suryo memberi jam tangan cantik untuk putrinya. Sementara Andre segera mengambil kotak sepatunya.

“Ini kado untukmu, Sayang.” Andre memberikan bingkisannya. Dina membukanya lalu memekik girang. Sementara Suryo memucat. Sebuah sepatu kets merah sama persis dengan sepatu kumal yang dibencinya, hanya beda ukuran tentu saja. Dan wajahnya begitu muram ketika Dina memeluk kekasihnya dengan bahagia. Suryo tak berani berkata-kata.

*****************

“Keluarganya ingin berkenalan, Pa,” kata Dina takut-takut.

“Datang saja, kau atur waktunya, Nak,” sahut Suryo masih tetap memandangi koran paginya.

“Papa… gak akan marah dengan papanya kan?” bisik Dina ragu. Tentu saja Suryo terheran-heran.

“Mengapa Papa mesti marah pada Papa Andre?”

“Karena… Papanya …. adalah suami Mama.”

*******************

words: 500

Fiksi Kilat · Iseng Aja · Nimbrung Mikir

[BeraniCerita #11]: Kembalinya Cincin Ibu

YSL
Lha kok bukan gambar cincin? :mrgreen:

Sepasang betis putih mulus dengan stiletto keperakan meluncur turun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik.

“Tunggu sini ya, Pak. Saya tidak lama,” ujarnya pada sopirnya yang membukakan pintu mobil. Sejenak ia berdiri menatap jalan sempit yang ada di depannya, mencoba menata nyalinya. Tangannya mengerudungkan scarf Yves Saint Laurent di atas kepalanya, kemudian memakai kacamata hitam bermerk sama. Seperti teringat sesuatu, ia merogoh tas Hermes nya, memastikan keberadaan sebuah kotak kecil berlapis beludru. Oh, masih ada, batinnya lega.

Siang yang membara, bahkan angin pun enggan bertiup. Jalan kampung begini sepi, mungkin penghuninya lebih senang mendekam di dalam rumah menghindari panas dan debu. Ia merasa lega karenanya, tak perlu seorang pun tahu akan keberadaannya.

Langkahnya kemudian terhenti pada sebuah rumah kecil yang catnya nyaris mengelupas semua. Pintunya setengah terbuka, seperti mengharap embusan angin untuk meredakan panas yang membakar. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk dan mendapati seorang perempuan paruh baya sedang tiduran di dipan lapuk, menonton televisi tua yang telah buram.

“Ibu…,” panggilnya lirih. Air matanya nyaris tumpah. Lima tahun ia pergi tanpa pamit, tanpa pernah berkabar. Ingatkah sang bunda padanya? Ia menurunkan kerudung dan membuka kacamatanya.

Perempuan tua itu bangkit, memandang terkejut pada wanita mewah di hadapannya.

“Ini aku, Bu,” katanya dengan suara tercekat. Segera ia bersimpuh dan menangis di pangkuan ibunya. Perempuan itu terpana, sesaat kemudian iapun turut menangis bersama anaknya.

“Maafkan aku, Ibu,” tangisnya menyayat. Ibunya tak mampu berkata-kata selain mengelus rambut anaknya dengan takut-takut. Rambut sehalus sutra dan seharum melati.

Setelah reda tangisnya, ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Membukanya dan mengeluarkan sebentuk cincin emas belah rotan tua, emas pasar dengan kadar paling rendah.

“Ini Bu, cincin yang…yang pernah aku curi,” isaknya. Ia mengambil tangan ibunya, menyusupkan cincin itu ke jari manisnya. Cincin yang pernah ia gadaikan untuk ongkos merantau ke ibukota, yang hanya seharga satu kali tiket bus dan dua kali makan di Jakarta.

Sang Ibu menatap haru anaknya, memandangi jari manisnya yang kini berhias satu-satunya perhiasan yang pernah ia miliki seumur hidupnya.

Namun kemudian matanya nanar menatap pesawat televisi. Sosok wajah cantik yang sejak tadi disiarkan itu mirip sekali dengan anaknya. Wanita yang dikabarkan menjadi simpanan seorang politikus.

“Kau sudah bosan hidup susah, Nak?” Bisiknya nelangsa.

****************

Words: 363

Gambar pinjam Google 😉

Nimbrung Mikir

Cerita: Tertipu

Kisah ini terjadi kira-kira dua ratus dua belas tahun yang lalu. Waktu itu aku masih pengantin baru ashamed0002 Free Emoticons   Shame dan masih tinggal di kos. Sebetulnya sih udah ada rumah sendiri, tapiii jauuuuuuh dari tempat kerja (itu alasan diplomatisnyaaa, alasan benernya mah lom ada pager, dapur, kasur :mrgreen: ). Nah, berhubung masih kos tentu saja makan masih beli, ndak mungkin masak sendiri to? (Lagi-lagi alasan diplomatis, benernya siy ya emang gak iso mangsak 😛 ) Untuk urusan isi perut ini, kami punya tempat-tempat favorit. Maklumlah, buat kami berdua yang tergolong “gerombolan si berat” ini, makan adalah salah satu rekreasi yang menyenangkan 😀 Untuk makan siang kalo lagi libur dan lagi malas ke mana-mana (Halah, diplomasi maning! Tanggal tuwo to?), kami punya langganan warteg yang wuenak, dekat, bersih dan murmer tentu saja.

Pada suatu hari, dengan alasan lelah dan sok manja ihik…ihik…. (kan manten anyaaar), aku gak ikut ke warteg hanya kekasihku sendiri yang berangkat.

“Mau lauk apa?” Begitu kekasihku bertanya.

“Apa aja. Apapun yang kamu pilihkan aku suka kok.” Ituuu waktu masih manten anyaarr cool0003 Free Emoticons   Cool

Kalo sekarang?

“Rujak cingur yaa, tapi jangan pake cingurnya. Awas, jangan lupa lho! Kalo gak ada ya bakso, pake soun nya dikiiiit aja, jangan pake saos. Sambelnya minta banyakan yaa, oh ya ama kasih kecap dikiit. Jangan lupaaa kuahnya juga banyakan.” sign0023 Free Sign Emoticon Dan biasanya tanpa mendengar pesanku yang tiga meter itu kekasihku langsung ngacir hihihihihi….

Lanjooot, kekasihku pun berangkat ke warteg. Sementara aku menunggu di kamar kos dengan manis dan pasrah. Tak berapa lama dia pun kembali. Jika biasanya aku menyambut kepulangannya dengan tari hula-hula sick0022 Free Sick Emoticons kali ini cukup dengan senyum manis dan lemes karena wis ngelih. Kami pun menikmati nasi bungkus lazat itu.

Di tengah-tengah makan aku ngintip miliknya (nasinya maksude). Ih, curang kok ada yang beda dengan punyaku?

“Itu apa?” Tanyaku sembari menunjuk bulatan-bulatan besar berwarna kecoklatan.

“Oh, eh..ini jamur.”

“Kok aku gak dibeliin juga?” Tanyaku sedikit merajuk sambil memalingkan pipi sok-sok ngambek (idiiih, pengen nggebuk bukan?)

“Tadi tinggal dikiiit, tinggal segini doang,” jawabnya rada tergagap.

“Enak gak?” Tanyaku siap-siap nyomot untuk mencoba.

“Gak…gak enak. Kayaknya udah menjelang basi gitu. Tapi sayang ah kalo dibuang,” kilahnya. Tentu saja aku gak jadi nyobain. Herannya, katanya otw basi tapi kok abis bersih begitu?

Setelah itu, ketika kami sudah menempati rumah sendiri, ibunda mertua pun mulai sering menginap. Dan tentu saja selayaknya putri Minang, Nenek sangat pandai memasak. Dan salah satu andalannya adalah Jariang Tumbuk Lado! Perlu kau ketahui Kawan, seumur-umur aku melihat dan kenal jengkol itu ya setelah beberapa lama tinggal di ibukota. Gara-garanya ibu kos adalah seorang JFC. Tapi karena katanya bau aku gak berani cobain. Dan waktu masih pacaran pun kekasihku itu gak pernah mengenalkan jengkol padaku, bahkan katanya gak suka.

Ternyata! Setelah sekian ratus tahun menikah dan beranak-pinak, barulah dia mengaku bahwa “bulatan-bulatan coklat” yang katanya “jamur” dulu itu ternyata semur jengkol! Dan ternyata pula, kekasihku ini juga anggota JFC! Lhadalaaahhhh tertipu akuuuu…..!

Tapi ya priben maning, karena sudah cinta yaa terima saja. Paling-paling kalo doi abis makan jengkol, kami pisah ranjang sejenak, kalopun seranjang yaaa diam sejenak :mrgreen: animal0019 Free Emoticons   Animals

Tulisan ini untuk ikutan Hari Jengkol ketiga

Wish me luck 😉

semur jengkol
Sogokan buat Jenab :mrgreen:

Gambar minjem google 😉

 

Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

[BeraniCerita #10]: Forbidden Love (3)

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat.

“Liza,” katanya, “Aku sedang mencarimu. Masuklah ke ruang kerjaku.”

Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya. Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

Namun semua buyar ketika ayahnya mengeluarkan tumpukan surat merah muda dari laci meja kerjanya.

“Apa ini?” Tanya ayahnya dingin. Bibir Liza gemetar.

“Tapi Liza tak pernah mengirimkannya, Pa,” sahutnya lirih.

“Mengirimkannya atau tidak tetap saja tidak patut kamu menulis ini!” Bentak ayahnya.

“Siapa Bowo?” Lanjut ayahnya masih dengan amarah.

“Gu…guru matematika,” jawab Liza menahan tangis.

“Kamu…sungguh tidak pantas!”

“Tapi…tapi Liza mencintainya, Pa.”

“Cinta? Tahu apa kamu soal cinta, hah? Kamu baru delapan tahun, Liza!”

Pecahlah tangis Liza.

words: 146

Gambar pinjam dari Google 🙂