Lukisan Cinta, Episode 19

Yuuuuk, baca yang maren duluu… 🙂

ocean-storm-wallpaper

Bocah empat tahun itu tak henti-hentinya menangis. Badannya panas namun menggigil. Rini terus memeluknya, mencoba menghangatkan Elang dengan tubuhnya, sementara Neneknya hanya ikut menangis sambil terus mengompres cucu satu-satunya.

“Mengapa tak kau telpon Frans, Rin? Dia bapaknya dan dokter pula. Mama gak tega melihat Elang seperti ini. Ini sudah hari ketiga, Rin!” Tegur Suryati di sela tangisnya.

“Sst, sudahlah, Ma. Frans gak akan mau direpotkan hal-hal seperti ini. Nanti dia marah.”

“Dia bapaknya, Rin! Dia harus tahu apa yang terjadi pada anaknya!” Teriak Suryati kesal. Mendengar teriakan Neneknya, Elang yang sejenak tertidur karena kelelahan kaget dan menangis lagi.

Please, Ma. Aku akan hubungi dia besok. Kita tunggu saja sampai malam nanti. Shh…sshh…diam ya, Nak. Yuk, mimik susu ya.”

Rini mencoba memberi minum pada Elang, namun bocah itu malah muntah. Suryati sudah tak tahan lagi, ia mengambil ponsel Rini dan mencari-cari sebuah nomor. Rini merebut ponselnya.

“Jangan, Ma. Beri aku waktu. Aku janji akan menelponnya sebentar lagi. Dia masih praktek, Ma, dia akan sangat marah…seperti biasanya,” keluh Rini pedih. Suryati terdiam. Hatinya sedih sekali melihat cucunya mengigau karena demam.

******************

Sandra gugup bukan main, seperti anak kecil yang ketahuan mencuri mangga sementara masih bertengger di atas dahan pohonnya. Tak bisa bergerak, tak bisa pula melarikan diri.

“Mau jalan-jalan?” Suara baritone itu kembali mengejutkannya. Poseidon menepi dari hadapan Sandra, memberi ruang gerak pada gadis itu untuk melangkah maju menuju pinggir pantai.

“Yuk,” jawab Sandra spontan. Mereka berjalan bersisian. Tak ada percakapan, tak ada saling memandang, hanya sesekali berhenti untuk menahan ombak pasang yang menerpa kaki-kaki mereka. Debur ombak begitu merdu terdengar, buih-buihnya seperti jari-jari nakal yang menggelitik pergelangan kaki. Meski tanpa tujuan, namun Sandra takkan melupakan senja ini. Berjalan menikmati angin dan harum lautan bersama pria yang telah menggoyahkan hatinya.

“Kau tak melaut?” Tanya Sandra berbasa-basi, tak tahan pada kesunyian meski sesungguhnya hatinya sangat berisik ingin menanyakan banyak hal.

“Tidak.”

“Oh, mengapa?”

“Ning sakit.”

Sandra menghentikan langkahnya.

“Sakit apa?”

“Entah. Sudah tiga hari panas.”

“Sudah ke dokter?”

Agung menggeleng.

“Mengapa?”

Agung tak menjawab. Ia hanya membuang muka kepada matahari yang semakin tenggelam.

“Mau kuantar?”

“Tidak.”

“Agung, ijinkan aku menjenguknya. Boleh ya?” Sandra memang ingin sekali bertemu Ningrum. Banyak sekali percakapan yang ingin ia sampaikan pada gadis ramah itu. Agung menatap bola mata Sandra tajam.

Please, aku takkan membuat keributan. Aku hanya ingin bertemu Ning,” bujuk Sandra. Sekilas tangannya menyentuh lengan Agung. Lelaki itu menghela napas panjang lalu mengangguk. Tanpa komando keduanya mempercepat langkah menuju kampung nelayan. Entah mengapa Sandra merasa kuatir, Ning sudah panas tiga hari tapi tidak juga dibawa ke dokter.

“Sudah lebih dari tiga hari, seharusnya kau bawa ke dokter, Gung,” kata Sandra dengan nada mengomel di antara langkah-langkah kaki mereka.

“Ning tidak mau,” jawab Agung singkat. Ah, seharusnya dipaksa, batin Sandra. Siapa sih yang mau ke dokter? Tapi jika sakit harus bukan?

Tak berapa lama keduanya sudah memasuki perkampungan. Tepat ketika seorang gadis berlarian menyongsong Agung.

“Mas, Ning, Mas..,” seru gadis itu. Agung berlari mendekati Lastri.

“Kenapa Ning?”

“Ning gak sadar, Mas. Dia tadi mengigau tapi lalu sekarang diam saja, gak ngomong gak ngeluh. Terkulai gitu aja, merem,” jelas Lastri dengan napas memburu. Agung segera berlari menuju rumahnya, sementara Lastri mengikutinya setelah sejenak memandang aneh pada Sandra.

“Lagi-lagi aku dicuekin, huh!” keluh Sandra dalam hati. Namun ia segera menyusul keduanya. Sesampai di rumah Agung, ia mendapati Ning terdiam di kamarnya, sementara Ibu menangis tergugu. Agung mencoba membangunkan Ning. Tanpa meminta persetujuan siapapun Sandra segera menelpon Frans.

*****************

Frans tengah berjalan ke ruang prakteknya setelah visit barusan ketika ponselnya berbunyi. Senyumnya melebar begitu melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.

“Hallo, Cantik….”

“Hai Frans, kau ingat adik yang pernah kukenalkan padamu bukan?”

“Hmm, Ningrum ya kalo tidak salah? Ada apa?”

“Dia sakit tak sadarkan diri. Panas tiga hari dan hanya minum obat warung saja. Sekarang sepertinya pingsan, bagaimana ini Frans?”

Sejenak Frans terdiam ketika sebuah nada sela mengganggu percakapan ini.

“Frans?”

“Oh, bawa saja kemari, San. Kau perlu ambulance? SMS kan saja alamatnya.”

“Gak usah, aku bawa mobil biar aku antar. Tapi dia pingsan, harus diapakan?”

Nada sela itu begitu mengganggu Frans, tapi dia tak memedulikan dan memberikan instruksi pada Sandra apa yang harus dilakukannya. Tiga menit kemudian pembicaraan ditutup. Frans melihat ponselnya. Lima panggilan tak terjawab. Semua dari Rini. Ah, paling dia minta uang lagi, pikir Frans dan tak mencoba menghubungi kembali.

Sementara itu, di tempat lain, Rini dengan panik membanting teleponnya. Elang kejang! Dia memang seorang mntan perawat, tapi ketika menghadapi anak sendiri, Rini menjadi panik dan bingung. Segera ia menenangkan pikiran dan mencoba menangani Elang. Dimiringkannya tubuh anaknya dan mencoba mengendorkan apapun yang membelitnya.

“Maaa, Mamaaa, kita bawa Elang ke dokter. Bukakan pagar, cepat, Maa!” Teriak Rini. Setelah Elang agak tenang Rini segera membopong Elang ke dalam mobil dan menidurkannya di pangkuan Suryati di jok belakang.

“Jaga kompresnya, Ma,” perintah Rini pada ibunya lalu ia segera melarikan mobilnya ke rumah sakit.

***************

“Aku sudah menelpon kenalanku, seorang dokter. Kita bawa Ning, ke rumah sakit,” ujar Sandra pada Agung. Pria itu tampak panik namun kesombongan masih menguasai wajahnya.

“Tidak. Di ujung jalan ada Puskesmas, biar kubawa ke sana saja.”

“Gung! Ini sudah menjelang malam, mana ada puskesmas buka? Ibu, biar saya bawa Ning, Bu, dia membutuhkan pertolongan dokter.” Sandra berbalik pada Ibu yang terus menangis.

“Kata Mas Agung ke puskesmas saja, mungkin masih ada dokter,” sela Lastri.

“Ning pingsan, dia membutuhkan pertolongan dokter spesialis atau terlambat semuanya!” Teriak Sandra kesal, “Aku ambil mobil ke sini!” Tanpa menunggu jawaban Sandra segera menghambur keluar. Namun sebuah tangan kekar menarik lengannya.

“Mana kuncinya, biar aku yang ambil,” kata Agung datar. Sejenak Sandra bingung tapi lalu segera merogoh tas dan menyerahkan kunci mobilnya pada Agung.

“Aku parkir di….”

“Aku tahu,” potong Agung lalu berlari keluar. Bagaimana dia tahu? pikir Sandra.

“Ehh, memangnya Agung bisa menyetir?” Tanya Sandra entah pada siapa.

“Memangnya harus punya mobil untuk bisa menyetir?” Gumam Lastri halus namun sempat membuat Sandra kaget mendengar kesinisannya. Ia tak peduli dan segera meminta Ibu menyiapkan beberapa baju ganti Ning dan ia sendiri.

“Sekedar berjaga, Bu, sepertinya Ning perlu dirawat,” katanya sambil terus mengompres Ning.

Tak lama kemudian deru mobil berhenti di depan pintu. Agung segera masuk dan membopong Ning masuk ke dalam mobil. Ibu memangku kepala Ning yang rebah di jok belakang, sementara Sandra menempatkan diri di jok di samping supir.

“Mas?” panggil Lastri ketika Agung bergegas mengambil tempat di belakang kemudi.

“Aku bawa Ning dulu, Las. Makasih ya,” ujar Agung lalu segera menjalankan mobilnya. Lastri memandangi mobil yang melaju meninggalkannya dalam malam. Wajahnya kecewa nyaris menangis.

Dalam diam yang sesekali terdengar isak tangis Ibu, Agung melarikan mobil dengan kecepatan penuh namun terkendali. Tanpa sadar Sandra memegang seat belt nya.

“Jangan kuatir, sebelum ini aku pernah bekerja sebagai sopir pribadi, ” jelas Agung tanpa diminta. Sandra tersipu malu.

“Kapan itu, Gung?”

“Seabad yang lalu ketika aku masih bisa memegang buku,” jawab Agung agak sinis. Sandra tak berani bertanya lagi.

Tak sampai dua puluh menit mereka telah tiba di RS. Apollo. Team IGD rupanya sudah siap menyambut di pintu IGD. Sandra bersyukur dengan bantuan Frans. Ning segera dipindahkan ke IGD dan mendapat pertolongan dari Frans yang sudah menunggunya. Tepat pada saat itu seorang Ibu membopong sendiri anaknya menuju ruang IGD dan segera mendapat pertolongan dari dokter jaga.

“Tak adakah dokter spesialis malam ini, Dok?” Tanyanya panik kepada dokter jaga.

“Kami akan segera hubungi dokter anak setelah melihat kondisi putra Ibu.”

“Oh, Dok, anak saya sudah tidak sadar apalagi yang mau dilihat?” Ratap Rini.

“Sabar, Bu. Saya memberikan pertolongan pertama dulu setelah ini akan saya konsulkan. Kemungkinan putra Ibu harus masuk PICU.”

Rini tersedu sedan dalam pelukan mamanya. Tanpa dia tahu, tepat di ruang sebelahnya Frans baru saja memeriksa Ningrum dan memerintahkannya untuk segera masuk ruang rawat.

“Terimakasih banyak, Frans. Aku sangat menghargai bantuanmu,” ucap Sandra ketika beranjak menuju pendaftaran.

“Ah, untukmu apa saja akan kulakukan, Cantik,” sahut Frans mengedipkan matanya. Sandra tertawa kecil. Dari kejuhan tampak Agung yang baru menyusul setelah memarkir mobilnya. Sandra sungguh tak ingin keduanya bertemu, maka ia mendahului Frans.

“Aku urus pendaftaran dulu, Frans. Sekali lagi makasih, yaa. Aku berhutang padamu,” ujarnya menjauh.

“Sabtu nanti, jadi kan?” seru Frans. Sandra mengiyakan tanpa berpikir panjang. Frans tersenyum lalu menghampiri dokter jaga.

“Aku pulang dulu, Syl. Pasien barusan sudah sadar dan akan rawat beberapa hari,” katanya pada Sylvia, dokter muda yang kebagian jaga malam ini.

“Baik, Dok. Oh ya, ada pasien anak di sebelah, Dok. Demam kejang, dokter mau lihat?”

“Kau sudah hubungi siapa? Dr. Andre? Dr. Yulia?” Tanya Frans menyebut dokter anak kenalan baiknya.

“Dr. Andre akan segera datang, Dok.”

“Ya sudah, tunggu saja. Aku pulang dulu.”

“Baik, Dok.”

Frans melangkahkan kaki keluar IGD, sesaat sebelum Rini keluar menemui dr. Sylvia.

“Dok, kapan dokter anak datang?” Tanyanya panik.

“Sabar ya, Bu. Dr. Andre akan segera tiba. Beliau sudah memerintahkan untuk segera dibawa ke PICU, kami sedang mempersiapkannya. Ibu tenang ya,” bujuk dr. Sylvia menenangkan ibu muda yang panik ini. Rini hanya bisa mengangguk linglung.

**************

to be continued maning…. 😀

Gambar pinjam dari Google 🙂

Iklan

7 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 19

  1. Lidya Mei 10, 2013 / 2:08 pm

    Duh kasihan ELang semoga saja tertolong ya

    Entahlah Jeng, sakitnya sudah parah 😦

  2. Orin Mei 10, 2013 / 6:01 pm

    aaahhh,,,akhirnya ada sambungannya, yg terakhir keknya seabad yg lalu bu Cho *ups*, kangen berat neh sm si Poseidon hihihihi

    tambah penasaraaaaannnn…

    Masa sih seabad? Wong baru tujuh puluh tahun kok, Orin :mrgreen:

  3. LJ Mei 11, 2013 / 6:36 am

    pagi budee.. selamat berakhir pekan buat Bude dan mas Agung.. 😛

    Ahh, eMaaakkk….. 😳
    *ngeliat ke kamar, takut ketahuan Mas Ferry 😛

  4. prih Mei 13, 2013 / 12:46 pm

    Selamat siang Jeng Piet, ketambahan 2 pasien baru nih Jeng. Setia menanti sambungannya. salam

    Sugeng siang, Mbakyuu. HIhihihi…lagi musim demam sajaknya :D/p>

  5. Wong Cilik Mei 14, 2013 / 2:21 am

    makin seru … 😀

    Stay tune, bakal ada yang lebih seru, MasWong 😀

  6. Imelda Mei 28, 2013 / 8:46 am

    Nah kan! Frans udah tebar “bibit” ke mana-mana hihihi

    Iya nih! jangan-jangan ada cabang lain pulak :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s