Nimbrung Mikir

Cerita: Tertipu

Kisah ini terjadi kira-kira dua ratus dua belas tahun yang lalu. Waktu itu aku masih pengantin baru ashamed0002 Free Emoticons   Shame dan masih tinggal di kos. Sebetulnya sih udah ada rumah sendiri, tapiii jauuuuuuh dari tempat kerja (itu alasan diplomatisnyaaa, alasan benernya mah lom ada pager, dapur, kasur :mrgreen: ). Nah, berhubung masih kos tentu saja makan masih beli, ndak mungkin masak sendiri to? (Lagi-lagi alasan diplomatis, benernya siy ya emang gak iso mangsak 😛 ) Untuk urusan isi perut ini, kami punya tempat-tempat favorit. Maklumlah, buat kami berdua yang tergolong “gerombolan si berat” ini, makan adalah salah satu rekreasi yang menyenangkan 😀 Untuk makan siang kalo lagi libur dan lagi malas ke mana-mana (Halah, diplomasi maning! Tanggal tuwo to?), kami punya langganan warteg yang wuenak, dekat, bersih dan murmer tentu saja.

Pada suatu hari, dengan alasan lelah dan sok manja ihik…ihik…. (kan manten anyaaar), aku gak ikut ke warteg hanya kekasihku sendiri yang berangkat.

“Mau lauk apa?” Begitu kekasihku bertanya.

“Apa aja. Apapun yang kamu pilihkan aku suka kok.” Ituuu waktu masih manten anyaarr cool0003 Free Emoticons   Cool

Kalo sekarang?

“Rujak cingur yaa, tapi jangan pake cingurnya. Awas, jangan lupa lho! Kalo gak ada ya bakso, pake soun nya dikiiiit aja, jangan pake saos. Sambelnya minta banyakan yaa, oh ya ama kasih kecap dikiit. Jangan lupaaa kuahnya juga banyakan.” sign0023 Free Sign Emoticon Dan biasanya tanpa mendengar pesanku yang tiga meter itu kekasihku langsung ngacir hihihihihi….

Lanjooot, kekasihku pun berangkat ke warteg. Sementara aku menunggu di kamar kos dengan manis dan pasrah. Tak berapa lama dia pun kembali. Jika biasanya aku menyambut kepulangannya dengan tari hula-hula sick0022 Free Sick Emoticons kali ini cukup dengan senyum manis dan lemes karena wis ngelih. Kami pun menikmati nasi bungkus lazat itu.

Di tengah-tengah makan aku ngintip miliknya (nasinya maksude). Ih, curang kok ada yang beda dengan punyaku?

“Itu apa?” Tanyaku sembari menunjuk bulatan-bulatan besar berwarna kecoklatan.

“Oh, eh..ini jamur.”

“Kok aku gak dibeliin juga?” Tanyaku sedikit merajuk sambil memalingkan pipi sok-sok ngambek (idiiih, pengen nggebuk bukan?)

“Tadi tinggal dikiiit, tinggal segini doang,” jawabnya rada tergagap.

“Enak gak?” Tanyaku siap-siap nyomot untuk mencoba.

“Gak…gak enak. Kayaknya udah menjelang basi gitu. Tapi sayang ah kalo dibuang,” kilahnya. Tentu saja aku gak jadi nyobain. Herannya, katanya otw basi tapi kok abis bersih begitu?

Setelah itu, ketika kami sudah menempati rumah sendiri, ibunda mertua pun mulai sering menginap. Dan tentu saja selayaknya putri Minang, Nenek sangat pandai memasak. Dan salah satu andalannya adalah Jariang Tumbuk Lado! Perlu kau ketahui Kawan, seumur-umur aku melihat dan kenal jengkol itu ya setelah beberapa lama tinggal di ibukota. Gara-garanya ibu kos adalah seorang JFC. Tapi karena katanya bau aku gak berani cobain. Dan waktu masih pacaran pun kekasihku itu gak pernah mengenalkan jengkol padaku, bahkan katanya gak suka.

Ternyata! Setelah sekian ratus tahun menikah dan beranak-pinak, barulah dia mengaku bahwa “bulatan-bulatan coklat” yang katanya “jamur” dulu itu ternyata semur jengkol! Dan ternyata pula, kekasihku ini juga anggota JFC! Lhadalaaahhhh tertipu akuuuu…..!

Tapi ya priben maning, karena sudah cinta yaa terima saja. Paling-paling kalo doi abis makan jengkol, kami pisah ranjang sejenak, kalopun seranjang yaaa diam sejenak :mrgreen: animal0019 Free Emoticons   Animals

Tulisan ini untuk ikutan Hari Jengkol ketiga

Wish me luck 😉

semur jengkol
Sogokan buat Jenab :mrgreen:

Gambar minjem google 😉