[BeraniCerita #11]: Kembalinya Cincin Ibu

YSL
Lha kok bukan gambar cincin?:mrgreen:

Sepasang betis putih mulus dengan stiletto keperakan meluncur turun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik.

“Tunggu sini ya, Pak. Saya tidak lama,” ujarnya pada sopirnya yang membukakan pintu mobil. Sejenak ia berdiri menatap jalan sempit yang ada di depannya, mencoba menata nyalinya. Tangannya mengerudungkan scarf Yves Saint Laurent di atas kepalanya, kemudian memakai kacamata hitam bermerk sama. Seperti teringat sesuatu, ia merogoh tas Hermes nya, memastikan keberadaan sebuah kotak kecil berlapis beludru. Oh, masih ada, batinnya lega.

Siang yang membara, bahkan angin pun enggan bertiup. Jalan kampung begini sepi, mungkin penghuninya lebih senang mendekam di dalam rumah menghindari panas dan debu. Ia merasa lega karenanya, tak perlu seorang pun tahu akan keberadaannya.

Langkahnya kemudian terhenti pada sebuah rumah kecil yang catnya nyaris mengelupas semua. Pintunya setengah terbuka, seperti mengharap embusan angin untuk meredakan panas yang membakar. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk dan mendapati seorang perempuan paruh baya sedang tiduran di dipan lapuk, menonton televisi tua yang telah buram.

“Ibu…,” panggilnya lirih. Air matanya nyaris tumpah. Lima tahun ia pergi tanpa pamit, tanpa pernah berkabar. Ingatkah sang bunda padanya? Ia menurunkan kerudung dan membuka kacamatanya.

Perempuan tua itu bangkit, memandang terkejut pada wanita mewah di hadapannya.

“Ini aku, Bu,” katanya dengan suara tercekat. Segera ia bersimpuh dan menangis di pangkuan ibunya. Perempuan itu terpana, sesaat kemudian iapun turut menangis bersama anaknya.

“Maafkan aku, Ibu,” tangisnya menyayat. Ibunya tak mampu berkata-kata selain mengelus rambut anaknya dengan takut-takut. Rambut sehalus sutra dan seharum melati.

Setelah reda tangisnya, ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Membukanya dan mengeluarkan sebentuk cincin emas belah rotan tua, emas pasar dengan kadar paling rendah.

“Ini Bu, cincin yang…yang pernah aku curi,” isaknya. Ia mengambil tangan ibunya, menyusupkan cincin itu ke jari manisnya. Cincin yang pernah ia gadaikan untuk ongkos merantau ke ibukota, yang hanya seharga satu kali tiket bus dan dua kali makan di Jakarta.

Sang Ibu menatap haru anaknya, memandangi jari manisnya yang kini berhias satu-satunya perhiasan yang pernah ia miliki seumur hidupnya.

Namun kemudian matanya nanar menatap pesawat televisi. Sosok wajah cantik yang sejak tadi disiarkan itu mirip sekali dengan anaknya. Wanita yang dikabarkan menjadi simpanan seorang politikus.

“Kau sudah bosan hidup susah, Nak?” Bisiknya nelangsa.

****************

Words: 363

Gambar pinjam Google😉

10 thoughts on “[BeraniCerita #11]: Kembalinya Cincin Ibu

  1. Lidya Mei 15, 2013 / 10:34 am

    si anak sudah jadi simpanan ternyata ya mbak

    Iya Jeng, sungguh sembarangan. Orang kok disimpan:mrgreen:

  2. celoteh .:tt:. Mei 15, 2013 / 1:31 pm

    anaknya inisialnya VS bukan Jeung?😛

    Weelhadalaah, yang ini VS nya beda lhoo… Vegah Syusyah:mrgreen:

  3. Wong Cilik Mei 15, 2013 / 6:08 pm

    ah, jadi bingung mo komen bijimane …

    Mengapa, MasWong? Ndak sampai hati yaa😛

  4. eksak Mei 15, 2013 / 8:10 pm

    Twister you are! Mantap! Pasti bang patonah! Bhahaha

    Hush! Aku ndak nyebut nama lhoooo….
    (Nuduh kok pas! Tengok kiri kanan, ngumpet aahhh:mrgreen: )

  5. Miss Rochma Mei 16, 2013 / 10:22 am

    wah, twistnya ini lho, bagus!

    Waaahh, makasiyy, Miss, jadi malyuu😳

  6. evakasih Mei 16, 2013 / 10:22 am

    aset yang paling berharga dalam diri kita adalah karakter kita

  7. Orin Mei 17, 2013 / 10:45 am

    duh…bosen hidup nelangsa tuh emang berbahaya bgt ya bu Cho..

    Bahaya lahir batin, Orin:mrgreen:

  8. ndazhou Mei 21, 2013 / 8:06 am

    wah ngehits banget ini isinya..
    dapet aja idenya.. keren!🙂

    Hahahha…mumpung lagi trend:mrgreen:

  9. Imelda Mei 28, 2013 / 8:35 am

    passsss!!! timely!!!! hahahaha

    Ngepas-ngepasin, BuEm😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s