Dongeng insomnia

Lukisan Cinta, Episode 20

Maap, kelamaan hihihihihi…. baca yang lalu dulu yaaa 😉

BAB LIMA

KARANG

“Sesungguhnya karang marah pada samudera

Mengapa selalu mengempas dan mengikis?

Menyisakan bilur-bilur pedih siksa dera?

Dan karang menerima takdirnya tanpa tangis”

karang

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 20”

Cari Solusi · Cintaku · Nimbrung Mikir

ABC OTW ABG

Tanggal 27 Juni lalu malaikatku, Jendral G, ulang tahun yang kesebelas. Waahh, dari ABC menuju ABG nih! Maka sesuai kesepakatan antara Jendral G dan kami, liburan kenaikan kelas ini akan di…sunat! Gyahahahaha….. Sebetulnya sejak tahun lalu kami sudah menawarkan Jendral G untuk sunat, tapi dia belum mau. Sudah kukatakan bahwa semakin besar nanti semakin alot, jadi sunatnya harus direbus dulu biar empuk Memang Jendral G sempat ketakutan tapi tetap gak mau juga :mrgreen: Akhirnya ketika dijelaskan ayahnya bahwa setiap anak laki muslim mesti disunat bla…bla…bla… akhirnya malaikatku mau. Terjadilah kesepakatan itu, libur kenaikan kelas enam harus sunat 😀

Maka tanggal 6 Juli lalu jadilah malaikatku ini disunat. Pada awalnya kami sempat bingung mau sunat di mana. Survey ke beberapa RS besar di Bekasi ternyataaaa muahal rek! Karena dilakukan oleh neurologist. Sebetulnya sih bisa saja dengan dokter umum, tapi kami lebih memilih dengan dokter ahli saja. Belum lagi menurut kekasihku dokternya haruslah seorang muslim, karena sunat bukanlah sekedar sirkumsisi belaka. Sempat terpikir untuk dilakukan di Rumah Sunatan, secara setiap hari berangkat dan pulang kantor aku selalu melewati tempat ini. Namun lagi-lagi ragu, siapa yang mengerjakan? Dokter atau bukan? Akhirnya kekasihku survey ke websitenya. Akupun menelepon juga untuk lebih mantap.

Ternyata sunat di sana ada dua katagori, katagori anak kurus dan anak gemuk. Jika anak kurus, cukup dilakukan dengan metode smart klamp. Sedangkan untuk anak gemuk dengan electric cauter. Jika anak kurus dilakukan oleh dokter umum maka untuk anak gemuk dilakukan oleh dokter spesialis (owner Rumah Sunatan sendiri). Untuk memastikan katagori yang manakah anak kita maka disarankan untuk konsul lebih dahulu. Dan itulah yang kami lakukan. Jendral G kami konsulkan, dijelaskan dengan sangat mendetail dan jelas sekali oleh dokter umum (lupa namanya tapi ganteng deh ashamed0002 Free Emoticons   Shame ) (digebuk kekasihku 😛 )

Dan ternyata…Jendral G termasuk anak gemuk huwaaa…. bagaimana tidak, dengan tinggi 154 cm dan berat 59 kg? Ck..ck..ck.. aku dulu lulus kuliah aja cuma 60 kg lho! Itu pun sudah termasuk montok bin endut 😳 Sebetulnya bisa saja dengan smart klamp, namun menurut dokter karena terganjal oleh segitiga bawah perutnya yang montok itu takutnya nanti hasil tidak sempurna. Aku jadi cemas, lalu kutanya ke dokternya. Sebetulnya ukuran anak saya ini normal gak, Dok? Waahh, normal banget, Bu! Ukurannya mantep nih, coba lihat! Lalu Pak Dokter menunjukkan besarnya punya Guanteng hihihihihi…. malu aku diketawain dokternya. Habisnya dibilang anak gemuk kan aku jadi takut gak imbang, meski sebetulnya sih memang kelihatan tak masalah punya Guanteng 😛 :mrgreen: (lagi-lagi aku digebuk bojoku 😛 ) Andai saja Jendral G mau disunat tahun lalu ketika belom gemuk, tentu takkan serepot ini. Hehehehe…gak papa, Nak. Memang butuh kesiapan mental bukan?

Akhirnya dokter memberi rujukan untuk dilakukan oleh dokter spesialis. Kami pun kembali ke pendaftaran dan meminta penjelasan. Rupanya dokternya adalah dr. Mahdian Nur Nasution, Sp. BS. Beliau adalah pemilik Rumah Sunatan ini. Akupun bertanya kepada mbaknya, beliau praktek di mana selain mengurus Rumah Sunatan? Ternyata beliau juga berpraktek di RS. Mitra Keluarga Barat dan Timur. Ya sudah, mantaplah kami.

Nah, sekarang mari kita lihat kelebihannya sunat di Rumah Sunatan ini, Kawan. Swear, ini bukan promo, wong aku gak dapat apa-apa kok dari mereka (harusnya dapat diskon nih 😛 ). Aku hanya ingin berbagi, siapa tahu ada yang membutuhkan bukan? (bukaaaaaaaannn)

Ruang tunggu cukup nyaman, anak-anak dibuat santai dengan aneka permainan. Ada PS, Wii, kantin kecil, banyak mainan lah.

Rumah Sunatan
Deg degan :mrgreen:

Konsep sunat di sini memang unik. Anak dibuat santai, sehingga di setiap ruang tindakan disediakan i pad untuk bermain. Bahkan dokter menjelaskan sakitnya suntikan bius dengan memberi contoh cubitan. Kata Jendral G, “Aahh, Dokter, katanya sakitnya seperti dicubit. Ini mah lebih sakiiit.” 😆 Tapi dia hanya berseru kecil “Aaww” ketika suntikan menghunjam penisnya. Malah aku yang keringetan sampe dokternya komentar siapa yang disuntik siapa yang kesakitan ashamed0004 Free Emoticons   Shame

Aku hanya menunggui ketika Guanteng dibius. Ketika tindakan, aku menunggu diluar saja, maaf ya, Nak 😀

Sunatan
Kata Guanteng mainan di ipad kayak anak kecil, main PSP aja deh 😀 Untung bawa. Maka siapkan mainan yang dimaui anak yaaa…

Disain ruangan pun dibuat menarik dengan wall paper yang heroik 😀

wall paper heroik

Setelah sunat, disarankan menggunakan celana khusus yang disediakan, karena tidak diperban sama sekali. Mereka menyebutnya celana batok 😆 Kalo kata Cantik, “Burung Kakak pake gas mask!”

Gas Mask vs celana batok
Celana “batok” vs Gas Mask 😆

Berikut obat-obatan yang dikemas dalam tas mungil, sertifikat (bisa buat nglamar kerja 😆 ). Oh ya, selesai tindakan dokter memberikan hadiah bola 😀 Untuk celana sunat bahannya dari katun jadi cukup adem dan nyaman.

sertifikat3

Selama disunat rupanya Jendral G lebih senang main ponselku daripada main game. Dan inilah ocehannya di grup keluargaku, tentu saja dengan namaku. Budenya pun senang sekali menggoda Guanteng 😆 Sementara aku pun membalasnya dengan G Tab nya Marni :mrgreen: Meski keluarga besar jauh dan tak bisa mendampingi, namun support mereka melalui chatting membuat Jendral G berbesar hati 😀

chit chat
Ndak usah dibaca, abaikan saja 😀

Tips sebelum sunat di Rumah Sunatan:

  1. Sebaiknya konsultasi dulu untuk menentukan katagori manakah Sang Buah Hati
  2. Buat perjanjian seminggu sebelumnya dan datanglah satu jam sebelum jamnya karena cari parkirnya susyaaaahhh, khususnya di musim sunat alias liburan sekolah 😀
  3. Sarapan yang cukup, buat anak santai dan senang
  4. Bawa mainan/game kesukaan anak agar tidak bete dan stress menanti
  5. Tidak perlu semua keluarga besar mengantar, cukup keluarga inti saja plus nenek/eyang agar tidak riuh dan gak kebanyakan mobil parkir 😛
  6. Kenakan celana longgar, jangan pakai jeans. pake sarung juga boleh 😀
  7. Beli celana khusus sunat pada saat pulang konsul, cuci bersih dan dibawa pada saat sunatan nanti. Tidak usah berlebihan, cukup 3-4 saja kecuali ada yang diwarisi 😀
  8. Ayah Bunda silakan mendampingi ketika tindakan, nenek dan adik di luar saja yaaa 😀

Biaya-biaya:

  1. Konsultasi Rp. 50,000
  2. Sunat dengan smart klamp Rp. 1,050,000
  3. Sunat dengan spesialis (khusus katagori gemuk) Rp. 1,950,000
  4. Kontrol hari ketiga dan ketujuh tidak dikenakan biaya (dilakukan oleh perawat)
  5. Buka klamp kayaknya gak bayar juga deh
  6. Celana sunat Rp. 30,000
  7. Washlap antiseptik Rp. 15,000/isi 4 –> katagori gemuk tidak boleh mandi selama 7 hari
  8. Arem-arem Rp. 3,000 enak boo

Nah, semoga artikel ini bermanfaat khususnya bagi orangtua yang hendak menyunatkan anaknya 😀 Rumah Sunatan ini sudah banyak cabangnya, hanya saja kabarnya untuk sunat khusus anak gemuk hanya bisa dilakukan di Rumah Sunatan Jati Asih. Untuk informasi lebih lanjut silakan buka website nya yaa….

Cintaku · Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Panjang Umur

Minggu depan sudah puasa, sudah pasti selama seminggu Yu Minah bakalan tutup. Mumpung masih tanggal muda, aku bermaksud menimbun rujak Yu Minah hiihihihi…. Karena kalo bulan puasa itu berbukanya pengen yang heboh, dan biasanya justru pengen makan yang lagi gak ada :mrgreen: Maka meski gerimis mengundang, aku menyambangi warung Yu Minah.

Memasuki pelataran rumah Yu Minah yang sejuk itu kulihat Tole sedang mencuci motornya.

“Lho, gak kuliah, Le?” tanyaku. Pemuda yang baru aja gede itu tersenyum manis. Heran, Yu Minah wajahnya gitu-gitu aja tapi kok Si Tole ini bisa ganteng ya? evilgrin0039 Free Emoticons   Evil  Mungkin warisan dari Bapaknya.

“Masih libur, Tante. Kebetulan Ibuk hari ini ulang tahun dan masuk angin pula, jadi ya saya pulang.”

Wiets, bisa dipalakin nih 😈 Akupun segera berseru meneriakkan salam. Yu Minah tergopoh-gopoh menuju teras jualannya. Syal di lehernya melambai-lambai tertiup angin.

“Waah, tumben Jeng.”

“Iya Yu, mau nimbun buat puasa besok. Oh ya, selamat ulang tahun ya Yuuu, panjang umur, sehat selalu dan murah rejeki,” ujarku sambil menyodorkan tangan bersalaman. Dasar Yu Minah, yang ada malah menubrukku dan mendaratkan cipika cipikinya yang lembab itu ke pipiku. Kali ini pake anget pula karena dia sedang sakit. Haduh!

“Makasih lho, Jeng. Pasti tahu dari Tole ya? Ah, kamu itu Le, wong sudah tua gini kok ya masih diulangtahunin. Itu, Si Tole pake mbeliin saya kue, Jeng.”

“Yo gak papa to, Yu, namanya anak kan pengen menyenangkan orang tuanya. Buatkan dua ya, Yu. Satu serut satu ulek, pedes tapi gak banget.”

Yu Minah mulai menyiapkan bahan-bahan sambel.

“Iya ya, Jeng. Tole juga mendoakan saya biar panjang umur, sehat, murah rejeki. Tapiii….saya gak mau punya umur panjang-panjang, Jeng.”

Wah, tentu saja aku kaget.

“Kenapa, Yu?”

“Yaa kalo bisa saya itu pengen meninggal di saat masih sehat, Jeng. Masih bisa berwudhu suci dari hadas, masih bisa shalat, masih jernih pikiran. Lha kalo umur berlebih tapi ndak bisa berbuat semua itu buat apa?” Santai sekali Yu Minah mengatakan itu, sembari memotong-motong buah dengan jurus “Menumpas Kebatilan” whet…whet…whet…. ngeri deh lihatnya.

“Kalo orang sehat mana bisa meninggal, Yu?”

“Lho, ya bisa saja. Meninggal itu Jeng, ndak harus karena sakit atau kecelakaan. Kalo sudah ajal biar lagi ngulek gini bisa saja tiba-tiba saya “dut”!”

“Hush! Sampeyan nih Yu, kalo ada malaikat lewat gimana?” tegurku.

“Ya biar aja lewat, haaiiii…” Ediyan, sembrono sekali Yu Minah ini. Gak biasa-biasanya.

“Kalo dunia medis mungkin bilangnya serangan jantung, kalo jaman dulu orang bilang kena “angin duduk”. Tapi intinya ya itu, sudah tiba ajalnya. Tuhan berkehendak mati ya kita mati. Malaikat datang menjemput ya kita harus ikut. Nah, saya pengennya nanti kalo meninggal ya kena angin duduk itu saja, Jeng,” lanjut Yu Minah. Ini… ini… berat ini, kalo sudah begini aku gak ngerti. Tapi kalo gak ngeyel ama Yu Minah itu gak seru jadinya :mrgreen:

“Ah, itu namanya sampeyan egois, Yu!”

“Lho, egois gimana to, Jeng?”

“Sampeyan kan punya Tole, tentunya Tole pengen ditungguin sampai bisa punya kerja bagus, sampai berkeluarga. Dan namanya anak pasti pengen lah ditungguin orang tua, Yu. Paling gak Tole masih membutuhkan sampeyan sampe umur 80 an gitu!”

“Lhadalah, Jeng. Kalo urusan anak, saya titipkan saja pada Tuhan. Kan sudah saya bilang, daripada saya nanti pikun gak bisa lagi shalat, lupa urut-urutan wudhu kan malah ndak ada artinya to? Rasulullah saja ndak sampai segitu kok,” tukasnya sambil mulai membungkus rujakku.

“Tapi kan pasti Tole ingin membalas merawat sampeyan, nyeneng-nyenengin sampeyan, malah aku yakin Tole pasti pengen menghajikan sampeyan. Ya kan, Le?” tanyaku pada Tole yang sejak tadi senyam-senyum mendengarkan obrolan kami.

“Ya jelas, Tante. Tapi apa kata Ibuk sajalah,” sahut Tole pasrah.

“Memangnya sampeyan dah siap, Yu?” tanyaku menyerah.

Apa yang dikatakannya ada benarnya juga, meski aku sesungguhnya paling takut membicarakan kematian. Selama ini kan aku berdoanya agar diberi panjang umur agar bisa menimang cucu. Kalo begitu mulai nanti malam akan kutambah doaku, agar diberi panjang umur dan diberi sehat serta pikiran jernih :mrgreen: Bagaimanapun aku ingin mendampingi kedua malaikatku sampai mereka tak membutuhkanku lagi. Tapi sampai kapan? Bahkan sampai saat ini pun aku masih membutuhkan Ibundaku. Jika aku merasa sakit, Ibundaku yang selalu kutelpon. Ah, aku akan selalu membutuhkannya love0085 Free Emoticons   Love

“Kalo nunggu siap ya ndak pernah siap, Jeng,” sahutnya enteng sambil menyerahkan rujakku. Aku pun mendekatinya dan menarik lepas syal yang ngubet-ubet leher Yu Minah.

“Lho, lho, mau diapakan ini, Jeng?”

“Katanya pengen kena angin duduuuuukk?”

“Weee lhadalaaaah, yo nanti to Jeeeeeng, saya kan belum 50 tahun? Nanti kalo sudah enam limaaaaa!”

:mrgreen:

Buat kekasihku, happy birthday. Semoga sehat selalu, semakin bijak, diberi kemurahan rejeki dan selalu dalam lindungan Nya. Amien love0083 Free Emoticons   Love

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · I feel blue · Nimbrung Mikir

PIM: Senja

oldman on wheelchair

“Sudah petang, Pak, masuk yuk?”

“Ndak, Bu. Siapa tahu mereka kena macet.”

“Tunggu di dalam saja, anginnya dingin lho, Pak.”

“Biar, aku kangen banget sama cucu-cucu,” sahutnya dengan bibir tersenyum dan pendar mata penuh rindu. Istrinya menghela napas lalu masuk.

Sejam berlalu.

“Bu, bawa aku masuk,” pintanya lesu. Istrinya mendorong kursi roda kembali ke kamar.

“Kalau bisa, aku yang berkunjung,” keluhnya. Istrinya berkaca-kaca.

banner-kontes-unggulan-63-300x214