Rahasia Perempuan Itu dan Bayinya

Baik akan kuceritakan sebuah kisah sewaktu aku kecil dulu. Umurku kira-kira tujuh menjelang delapan tahun. Ayahku pegawai kantor kabupaten sementara ibuku mengurus rumah saja. Sehari-hari sepulang sekolah kerjaku bermain kelereng atau layang-layang seperti umumnya anak-anak laki-laki. Namun ada satu pekerjaan yang sering kulakukan bersama Kelik, sahabatku yang lebih tua dua tahun. Pekerjaan yang bila ibuku tahu aku pasti akan dihukum berat, yang tak kuasa kubayangkan seperti apa hukumannya.

Sebelumnya, mari kuceritakan tentang Surtini. Dia perempuan sangat cantik yang kata orang-orang dewasa kembang desa. Banyak yang sudah melamar tapi ia selalu menolak. Aku tidak terlalu mengerti apa artinya. Tapi sebagai kanak-kanak aku melihat Yu Sur -begitu aku memanggilnya- memang cantik,  melebihi cantik ibu yang kuanggap perempuan paling cantik sedunia. Karena miskin, Yu Sur bekerja pada ibu untuk menjaga adik perempuanku yang masih kecil juga tentu membantuku sekali-sekali untuk makan atau mandi. Orangnya ramah dan baik. Aku kasih padanya. Tembangnya pun selalu indah melantun-lantun membuat mata mengantuk. Aku senang tidur siang dibuai olehnya. Sesekali ia juga berkisah tentang Yuyu Kangkang sembari menembang, atau tentang Rama Sinta. Sampai suatu ketika Yu Sur dikawinkan dengan seorang pemuda karena perutnya besar.

“Mengapa perut Yu Sur besar, Ibu?” tanyaku suatu kali.

“Dia sakit.”

“Kata orang-orang dia hamil, Ibu.”

“Husy! Tahu apa engkau soal itu? Sudah, pergilah main sana!”

“Kembalikah Yu Sur nanti jika sudah sembuh?” tanyaku tak puas.

“Tentu tidak. Ia sudah pula kawin, tentu harus mengurus keluarganya sendiri.”

“Bolehkah sekali-sekali aku ke rumahnya, Ibu?”

“Tidak!” Aku terkejut. Jawaban Ibu terlalu keras menurutku, mataku berkaca-kaca menahan tangis. Kulihat mata ibu membulat besar dan mulutnya menipis, tanda-tanda jika ibu murka. Namun sebentar kemudian ibu mengelus kepalaku dan berlembut-lembut padaku.

“Nak, Yu Sur itu sudah tidak lagi bekerja untuk kita, sudah pula putus hubungan. Tak baik jika engkau main-main ke sana, nanti suaminya marah. Lagipula ia sudah ikut lakinya pergi. Nah, sudah sore pergilah mandi.”

Itu sudah lama berlalu. Aku tak pernah lagi menanyakan soal Yu Sur sampai suatu ketika aku berjumpa dengannya ketika sedang bermain bersama Kelik. Wajahnya sudah berubah, nyaris aku tak mengenali jika ia tak memanggilku duluan.

“Den Bagus?” panggilnya. Senyumnya mengembang lebar sampai-sampai terlihat seluruh giginya. Aku diam saja. Perempuan itu samar kukenali tapi tak juga kuingat namanya. Ia menggendong bayi dalam selendang batiknya yang kumal.

“Ini Yu Sur. Den Bagus masih ingat?” tanyanya ceria. Hampir aku tak percaya, karena Yu Sur yang kukenal sangat cantik bahkan melebihi ibu. Sementara perempuan ini kumal, ada garis-garis di dahinya dan badannya sangat kurus. Tapi suaranya betul suara Yu Sur. Aku masih diam.

“Ah, engkau lupa rupanya. Mari ikut ke rumah, nanti Den Bagus akan ingat,” ajaknya. Aku memandang pada Kelik dan Kelik memandang padaku. Seperti dihipnotis kami berdua mengikuti Yu Sur di belakang. Larangan ibu sudah lagi tak kuingat.

Sepanjang jalan Yu Sur berdendang membuai bayinya, meski sebenarnya bayinya sudah tidur karena tak kudengar suaranya sejak tadi. Tak berapa lama kami sampai di pondoknya yang sepi. Pondoknya nyaris terpencil jauh dari tetangga kiri dan kanan, tertutup rumpun bambu di sekelilingnya yang mendesau atau sesekali bersuling riuh tertiup angin. Seingatku dulu ada emak, ibu Yu Sur.

“Ke mana emak?” tanyaku takut-takut. Aku tidak takut pada Yu Sur atau emak atau lakinya Yu Sur, tapi takut kepada ibu. Bagaimana jika ibu tahu aku datang kemari?

“Oh, engkau tak ingat, Den? Emak sudah dikubur setahun lalu.” Samar kuingat memang ada penguburan, tapi ibu tak melayat hanya ayah saja yang pergi. Aku melongok ke dalam pondoknya yang pengap dan gelap.

“Saya sekarang sendiri, Den. Laki saya sudah kabur sejak lama, sekarang cuma tinggal dengan Denok yang cantik menik-menik. Engkau mau melihat, Den?”

Yu Sur melepaskan selendangnya dan membuka bayinya. Seketika aku dan Kelik terpekik melihat bayinya yang ternyata hanyalah boneka plastik bermata biru, berambut cat warna coklat di ujung dahinya. Bajunya pun kumal compang-camping.

“Husy! Jangan berteriak nanti Denok bangun,” tegur Yu Sur lalu kembali menimang bayinya. Tanpa dikomando aku dan Kelik lari lintang pukang, sementara Yu Sur tertawa terkekeh-kekeh.

Semalam-malaman aku tak bisa tidur mengingat kejadian siang itu. Mau bertanya ibu sudah pasti akan murka. Mau bertanya pada ayah, manalah tahu. Ayah selalu pulang malam dan pergi pagi, jarang sekali aku berjumpa. Jika ada pun ayah selalu bermain dengan adik kecil yang kian hari kian menggemaskan.

Lalu aku teringat kata-kata Kelik yang berujar sambil berlari ketakutan.

“Ia sudah gila, Gus!”

“Tapi rupanya tak seperti orang gila, Lik,” bantahku tersengal-sengal.

“Kalau tidak gila mengapa menimang-nimang boneka begitu? Ia kan sudah besar, bukan seperti adikmu yang suka main boneka.”

Aku diam saja. Tapi lalu terbit rasa kasihanku pada Yu Sur. Dari dulu aku memang sayang padanya, karena baik hatinya dan kasih perilakunya.

“Lik, maukah kita ke sana lagi besok?” tanyaku. Kelik mendelik padaku.

“Tidak. Aku takut.”

“Ayolah, nanti kuberi kelerengku satu genggam.”

Kelik masih diam.

“Baiklah, dua genggam.”

Kelik masih diam tapi air mukanya menunjukkan minat.

“Nanti kutambah layang-layangku yang berekor warna-warni.”

Seketika wajah Kelik bersinar. Di kampung kami, hanya aku dan anak Pak Bupati yang mempunyai layang-layang seperti itu.

“Mau apa engkau ke sana, Gus?”

“Entahlah, aku hanya ingin tahu saja mengapa Yu Sur jadi begitu?”

“Baiklah, besok setelah lohor kita ke sana.”

Dan di sinilah kami berdua, setelah semalam-malaman tak memejamkan mata aku dan Kelik berada di halaman rumah Yu Sur. Seperti kemaren, suasana begitu sepi tapi pintu terbuka sebelah. Perlahan kami berdua mendekati pintu dan mengintip ke dalam.

Butuh waktu untuk dapat melihat ke dalam pondok yang gelap setelah mata disinari mentari terik siang hari. Dalam keremangan kami melihat Yu Sur tidur berbaring miring di balai-balai bambu. Kebayanya terbuka, dadanya yang sebelah terlihat besar. Di sampingnya, boneka bayinya dimiringkan kepada dadanya yang terbuka. Persis seperti ibu jika sedang menyusui adik. Entah mengapa tak ada rasa takut dalam hatiku. Kami berpandangan lalu meninggalkan rumah Yu Sur.

Sejak saat itulah kami selalu meyambangi rumah Yu Sur. Aku dan Kelik menyimpan rapat-rapat rahasia ini. Sesekali kami membawa sedikit makanan curian dari dapur. Yu Sur selalu punya beras tapi tak pernah punya lauk. Bukan ia tak punya uang. Aku pernah melihat ada lembaran-lembaran uang kertas dalam kutangnya tapi entah mengapa tak pernah ia belanjakan. Akupun tak pernah bertanya darimana ia dapat uang dan beras itu.

Menurut aku dan Kelik, Yu Sur tidaklah gila betulan. Karena ia masih bisa memasak nasi, memetik dan memasak sayur. Ia masih pandai menembang dan mendongeng. Ia hanya gila karena menganggap boneka itu anaknya. Itu saja. Kami tak pernah takut padanya. Setelah ia menidurkan bayinya, maka giliran kami yang akan didongenginya. Ia bertutur tentang raja-raja Jawa. Jika sedang sedih hatinya ia akan menceritakan asal muasal Denok. Air matanya akan mengalir turun, lalu meluncurlah tembang-tembang merana dari mulutnya. Kisah kasih yang tak pernah bersambut. Di kemudian hari aku baru sadar, bahwa itulah kisah hidupnya sendiri.

Di pelataran Yu Sur kami bermain kelereng, kadang dempu, hanya berdua saja aku dan Kelik. Sesekali jika kelepasan kami berteriak maka Yu Sur akan tergopoh-gopoh keluar dari pondoknya dan menyuruh kami diam, nanti bayinya terbangun.

Kami juga tahu pada setiap tanggal dua akan ada bapak-bapak berpeci putih, bersepeda membocengkan sekarung beras. Mula-mula kami ketakutan, namun ketika bapak itu hanya mendengus melihat kami, lama-lama tak peduli lagi kami. Ia akan memikul karung beras itu pada bahunya lalu membawanya ke dalam pondok. Tak ada salam, tak ada kata-kata. Pada akhirnya kami tak peduli lagi akan kehadirannya. Lalu kami juga tahu kebiasaan Yu Sur yang lain. Setiap tanggal lima, ia akan ke alun-alun dekat kabupaten dan pulang membawa uang. Sesekali dibelikannya kami penganan. Kami tak pernah bertanya.

Hingga aku berumur lebih tua dua tahun, kebiasaan-kebiasaan ini terus berlangsung. Denok pun tak besar-besar, masih bayi saja. Hanya catnya mengelupas di sana-sini. Rahasia tetap terpegang. Sampai aku dan Kelik tak bisa lagi mencuri penganan dari dapur. Jangankan memberi untuk Yu Sur, untuk kami makan saja susah sekali. Kiriman beras Yu Sur sudah dihentikan. Dan ia tak pernah lagi pergi ke alun-alun. Tentara di mana-mana. Malam-malam menjadi mencekam. Tiba-tiba saja esok akan ada berita pak ini hilang, pak itu diciduk, pak anu ditangkap. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi. Ayah selalu pulang lebih cepat lalu mengunci pintu rapat-rapat kemudian mendengarkan radio dari ibukota. Aku masih tak mengerti apa yang terjadi. Yang mengherankan kini susah sekali mencari beras mesti mengantri panjang-panjang.

Yang membuatku sedih aku dan Kelik tak lagi bisa mengunjungi Yu Sur. Ibu melarangku keluar rumah. Maka aku tak tahu lagi keadaan Yu Sur hingga lama sekali. Terlebih ketika kami semua pindah ke Semarang.

************

Kini umurku sudah dua puluh tahun lebih tua. Segala kenangan tentang kampung kembali menguak. Sekali waktu kukunjungi kubur Yu Sur di samping kuburan emaknya. Kusiangi rumput dan kutabur sedikit mawar di atasnya. Aku tak tahu bagaimana ia mati. Menurut cerita Kelik ia mati begitu saja. Mungkin kelaparan mungkin pula sakit. Ia mati membawa rahasia, yang sudah bukan rahasia bagiku dan Kelik, meski butuh waktu hingga dua puluh tahun untuk dapat mencernanya.

Aku tahu darimana beras-beras itu berasal, juga uang-uang pada kutangnya. Hanya aku dan Kelik, bahkan ibu pun tak tahu. Atau jika tahu pura-pura tidak tahu, bahwa Denok boneka plastik itu adalah anak dari ayahku.

****************

words: 1491

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway #IWritetoInspire.

9 thoughts on “Rahasia Perempuan Itu dan Bayinya

  1. monda Oktober 13, 2013 / 6:11 am

    lain dengan tipe fiksi biasanya mbak,
    tapi tetap saja jempolan

    Hahaha…sedang mencoba menulis dengan gaya dan latar tempo doeloe, BuMon😀
    Maturnuwun jempolnya ^-^

  2. niken kusumowardhani Oktober 13, 2013 / 8:14 pm

    Keren fiksinya. Saya membaca cermat dari awal sampai akhir. Semoga menang.

    Maturnuwun, Bun atas doa dan kesabaran membaca kisah yang panjaaaaaang ini😀

  3. Lidya Oktober 14, 2013 / 12:02 pm

    nah ini fiksi lain dari yang lain ya mbak. good luck ya mbak chocho

    Iya Jeng, mencoba menulis a la PAT😀 Makasiy yaaa….

  4. umielaine Oktober 16, 2013 / 1:00 pm

    bapak yg bawa beras itu siapa? uang2nya darimana? denok mati kenapa? aku gak dong ih mbak. jelaskan, jelaskan🙂. heheheh

    Waduh, Umii datang-datang kok memberondong pertanyaan hahaha😀
    Bapak yg bawa beras itu suruhannya Bapaknya Denok, trus uang dari bapaknya Denok juga tapi gak boleh dititipin ke bapak2 yang bawa beras😀 Lha Denok itu dulu meninggal waktu masih di perut, gara-gara kurang gizi, gak keurus😛 Hahaha….
    Harusnya Yu Sur dikubur di sebelah kuburan emaknya dan kuburan Denok ya? Tapi wis kadung jeh, bisa direvisi ndak yaa?:mrgreen:

  5. Orin Oktober 17, 2013 / 12:53 pm

    wuiiih…terasa bgt lho buCho ‘PAT’nya, jempoooool, kandidat pemenang😉

    Waahhh, itu kan kalo jurinya Orin😛 hehehe…. Makasiy ya….😀

  6. Teguh Puja November 13, 2013 / 12:26 am

    Mbak, nanti aku minta data ya untuk hadiah giveaway.😀
    Bisa dikirim ke teguhpuja@gmail.com, alamat beserta no kontak.😉

    Horeeeeeeee……. makasiy, MasGuh… yippiiiee…
    Eeetapii pengumumannya di mana ya, Mas? Kok ku ndak liat to?😳

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s