#TributeToPram: Sisi Lain

#TributeToPram. Pertama kali aku mengenal Pramoedya Ananta Toer adalah dalam bukunya Gadis Pantai. Begitu terpesonanya aku dengan gaya bertutur Pram, sehingga ingin tahu lebih banyak tentang sosok Pram sendiri. Selintas aku pernah mendengar tentang Pram yang berhaluan “kiri”. Tapi ketika semua fakta itu aku baca, memang sedikit menerbitkan rasa kecewa sekaligus penasaran yang luar biasa. Aku mulai mencari-cari bukunya. Tetralogi Buru, Kisah Calon Arang, Midah Si Manis Bergigi Emas, Arok Dedes, Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, Larasati, pokoknya buku-buku yang sudah beredar bebas hampir semua kumiliki. Meski belum seluruhnya aku baca, tapi setidaknya aku telah “menyelamatkan” karya-karyanya yang entah mungkin pada suatu waktu nanti akan kembali dilarang😀 Dan tentu saja aku masih penasaran hingga kini dengan buku-bukunya yang dilarang beredar.

Betapa mengerikan bahwa ia pernah mengalami dipenjarakan oleh tiga penguasa yang berbeda. Oleh kolonial Belanda, pemerintahan Sukarno, dan akhirnya pemerintahan Suharto. Sama sekali tak menyurutkan panggilannya untuk terus menulis. Meski karya-karyanya sempat terbit kemudian dilarang dan ditarik kembali, berulang-ulang, namun semangat bercerita dan menulisnya tak padam. Sudahlah, semua tentu tahu kualitas Pram sebagai penulis, meski sempat berbuah kontroversi ketika ia mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award.

Terlepas dari sisi gelapnya yang berhaluan kiri, keganasannya di Lekra, kesadisannya dalam mengkritik tokoh-tokoh yang dianggap musuhnya, aku mengagumi sisi lain Pram yang mengharukan. Semua tentu tahu perseteruan antara Pram dan Buya Hamka. Dua sastrawan besar yang kedua-duanya pun sangat kukagumi (sebatas karya-karya tulisannya). Bagaimana Pram melontarkan tuduhan keji kepada Buya Hamka. Serangan pada karyanya yang dituduh plagiat, juga serangan terhadap pribadinya yang anti komunis. Bolehkah jika keduanya kuanggap bermusuhan?

Permusuhan ini lenyap begitu saja, ketika Pram dengan hati besarnya, mengirim putrinya (Astuti) dan  calon menantunya (Daniel Setiawan) untuk belajar agama pada Buya. Dan tentu dengan hati yang lebih lapang dan luas, Buya menerima penuh haru sepasang kekasih itu untuk belajar agama padanya. Lihatlah, meski Pram menganggap Buya sebagai musuh, namun baginya tak ada orang yang lebih tepat, tak ada ulama yang lebih besar selain Buya Hamka untuk mengajar anak menantunya belajar agama. Betapa dendam pun mencair dalam kehangatan.

Dari sikap Pram itu, akupun mengambil kesimpulan,

Bahkan dari lubuk hati yang paling dalam, sesungguhnya seseorang mengagumi dan menghormati musuhnya. Permusuhan hanyalah ego yang menyeruak, sementara kekaguman adalah sikap hormat yang tersembunyi.

Demikian sisi lain Pram yang membuatku kagum, terlepas dari sisi gelapnya yang lain. Salute untuk Pram!

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway #IWritetoInspire.

Wish me luck😉

5 thoughts on “#TributeToPram: Sisi Lain

  1. Lidya Oktober 14, 2013 / 12:52 pm

    terlalu berat buatku mbak🙂 good luck ya

    Hahahaha….aku bantuin ngangkat, Jeng😛 Makasiy yaa…

  2. ilhammenulis Oktober 15, 2013 / 7:20 am

    saya baru tahu ada hal semacam ini antara Pram dan Buya😀

    Aku juga baru tahu setelah baca “Ayah” yang ditulis Irfan Hamka😀

  3. Orin Oktober 17, 2013 / 12:40 pm

    Aku jadi pengen baca Ayah-nya Irfan Hamka itu buCho, itu artikel atw apa?

    Novel, Say… Yang aku belum nemu justru novel “Ayahku” yang ditulis Buya Hamka untuk ayahnya😀

  4. boemisayekti November 1, 2013 / 9:28 am

    waw, saya jadi tahu kisah antara Pram dan Buya Hamka ini,,,, trims to share…. good luck juga ya…. 🙂

    Sama-sama, Jeng😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s