Dinasti

Girang

Meski libur Idul Adha baru saja dinikmati, tapi raga ini terasa lelah sekali. Masak ketupat? Gaklah, gak bisaaaa hahahaha… Nenekpun sedang pulang ke ranah Minang, tak ada ketupat maupun gulai dan rendang😛 Maka kulangkahkan kaki ke warung Yu Minah, biarlah hari ini aku tidak masuk saja, entah mengapa lutut sebelah kiri ini terasa sakit, bagaimana menginjak kopling nanti?

Libur hari raya Idul Adha

Mestinya makan gulai dan ketupat

Sayang disayang ku tak bisa

Maka rujak Yu Minah saja yang ku dapat

Sudah tentu menjelang siang begini warung Yu Minah sepi. Kuteriakkan saja salam dan langsung mendarat di bangku favorit. Yu Minah pun keluar dengan daster bat wing nya😀

“Ya ampuun Jeng, sampeyan kok jarang kemari akhir-akhir ini? Nah, ini hari Rabu kok santai-santai? Memangnya libur to?”

“Sakit, Yu,” sahutku pendek saja. Kuraih koran langganan Yu Minah.

“Ck…ck…ck…wong baru kemaren libur kok sekarang ndak masuk to? Jangan-jangan Senin juga bolos yaaa?” goda Yu Minah usil. Hih, pengen tak ulek juga nih bakul rujak satu ini.

“Enak aja! Senin kemaren itu malah ada meeting dan presentasi, Yu! Gak sia-sia saya masuk di hari kejepit, dua proyek goal!”

“Alhamdulilah kalo gitu, Jeng. Selamat, deh. Eh, ini mau pesan apa?”

“Biasa, rujak serut pedes tapi gak banget,” jawabku lalu melanjutkan membaca koran. Di halaman muka koran terpampang wajah kinclong Queen Atut, penguasa Banten. Judulnya pun cetar membahana, “Dinasti Queen Atut, Kerajaan Tujuh Turunan.” Walah…walah…provokatif banget nih koran😀

“Baca apa Jeng, kok senyam-senyum?” tanya Yu Minah sementara tangannya sibuk menggerus kacang-kacang tak berdosa itu.

“Ini lho, Yu, berita provokatif tentang dinasti Queen Atut.”

“Hahahaha….yang provokatif kan judulnya, lha kalo beritanya yo memang betul to?”

“Padahal kalo mau jujur, gak cuma dia yang begini ya, Yu?”

“Hohoho… ya jelas saja. Sama saja Jeng, ndak Pak Boss ndak anak buah,  daerah sana sini kalo ada kesempatan ya sikat aja,” ujar Yu Minah gemas.

“Emangnya gak malu apa ya, Yu? Kalo aku kok sungkan ya meski ada kesempatan gitu. Misalnya nih ada keluargaku yang punya jabatan di kantornya, trus punya proyek. Meskipun ditawarin pasti gak mau. Dan biasanya keluargaku gak akan menawarkan ke keluarga, mending keluar sekalian. Kan gak enak tuh nanti disangka KKN atau cari keuntungan. Hiiii ngeriiii. Lha ini malah menguasai sak propinsi!”

“Hahahaha… maap nih Jeng, kalo proyek perusahaan kan ndak seberapa besar. Lha kalo sak propinsi apalagi sak negoro apa ndak menggiurkan itu?” kekeh Yu Minah sinis. Meragukan kesucianku rupanya.

“Terserah, Yu. Buat saya itu udah harga mati. Didikan ayahandaku begitu. Coba dulu kalo beliau mau, waahhh sudah jadi pegawai negri aku ini. Sudah pegang jabatan pula. Dan pasti sudah banyak proyek-proyek dibagi rata ke seluruh keluarga. Kebetulan beliau dulu pejabat bagian “basah”. Tapi boro-boro, malah beliau bilang, ‘gak usah jadi pegawai negri, Nduk, gajinya kecil, wis cari kerja swasta saja, mudah-mudahan bisa bergaji baik.’ Gitu, Yu!” Mendadak mataku berkaca-kaca mengenang ayahanda yang begitu lurus hidupnya, meski menduduki jabatan penting, tapi hanya sederhana hidup kami, bahkan seringkali harus lebih ketat dalam menjalani kehidupan.

“Hehehe…ya maap Jeng, hari gini kayaknya ndak ada sih yang masih seidealis sampeyan. Jangankan kakak adik, lha wong sepupu jauh, ipar, saudara tiri, wis pokoke kalo masih ada sangkut pautnya bisa diloloskan mengapa tidak?” ujarnya berretorika sembari memotong buah dengan jurus “Pedang Angin Mengoyak Gemunung”.

“Apa yang salah ya, Yu? Sudah gak punya malukah? Atau gila kekuasaan? Aku kok sedih to mikirnya. Lha kalo lingkarannya keluarga semua apa gak rawan korupsi?” keluhku prihatin.

“Ya selama UU masih membolehkan siapa saja mempunyai posisi di pemerintahan sekalipun itu kerabatnya ya ndak salah, Jeng. Mestinya dibuat saja kayak kalo undian-undian atau sayembara berhadiah itu lho.”

“Maksudnya?”

“Ya kan kalo kita ikut undian misalnya kopi, kan ada peringatannya gini “undian atau sayembara ini tidak berlaku bagi karyawan PT. Anu maupun keluarganya” gitu to? Nah, kalo seseorang sudah menjabat jadi gubernur atau walikota atau bupati ya berati keluarganya ndak boleh ikutan jadi apa ajaaa di pemerintahan situ.”

Aku tertawa geli. Sembarangan Yu Minah ini, meski ada betulnya juga sih. Aku mengeluarkan dompet melihat Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Yu…Yu… kalo sampeyan nyaleg pasti tak pilih deh. Idenya itu cerdas banget,” godaku.

“Woo, ndak bisa Jeng, wong Pakde saya itu bupati jeh.”

“Hah? Masa iya, Yu? Bupati mana?”

“Bupati ketoprak di kampung sana bhuahahahahaha…..”

Sial! Kirain beneran!😡

6 thoughts on “Dinasti

  1. Lidya Oktober 16, 2013 / 5:35 pm

    seneng banget aku ada temennya yang gak bisa masak ketupat🙂

    Belajar bersama yuk, Jeng😀

  2. Orin Oktober 17, 2013 / 12:37 pm

    qeqeqeqe…emang nih Yu Minah pancen oye pisaaaan😛

    Kadang-kadang doang, Orin😀

  3. Emanuel Setio Dewo Oktober 17, 2013 / 2:06 pm

    Seperti Jokowi saja, pakai lelang jabatan, harus lolos test dulu baru bisa ikut lelang.

    Lelang terbuka ya biar fair😀

  4. Gusti 'ajo' Ramli Oktober 17, 2013 / 3:14 pm

    Yang membuat sy heran, kenapa masyarakat mau memilih keluarga dinasti si queen utk jd pemimpin. Apakah ada yg salah dalam proses seleksinya…

    Saya juga heran Jo, ini yang salah yang milih apaaa….duitnya yang dipilih yaa..oops….:mrgreen:
    (terdengar paduan suara: tuduhlah aakuuu sepuas hatimuuu….😆 )

  5. Idah Ceris Oktober 17, 2013 / 4:08 pm

    Hahahaha. .
    Saya dukuuung Yu Minah menjadi Queen Rujaks.😆

    BTW, saya juga baca Dinasti itu. Gak malu apa merka, ya?🙂

    Kekuasaan mengalahkan kemaluan, Idah😀

  6. prih November 3, 2013 / 12:39 pm

    Malah jadi ingat tayangan “Dinasti” yang bertabur bintang keren dengan aneka intriknya Jeng. Salam

    Joan Collins kalo ndak salah ya, Mbakyuu😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s