Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Cinta Pertama

Sebentar lagi, ia akan lewat di depanku, persis seperti sebulan belakangan ini sejak ia pindah di dekatku. Biasanya, jantungku yang telah lama mati rasa akan kembali berdegup. Kadang aku takut jika degup ini terdengar olehnya, atau pendar-pendar di dadaku akan menyilaukannya. Atau sesekali aku cemas, jika kilau di mataku -yang entah sejak kapan kembali padaku- akan mengalahkan bintang di atas sana. Sesungguhnya aku ingin dia tahu sekaligus aku tak mau ia tahu. Ah, rumit!

Nah, aroma wangi itu mulai menguar, tanda gadis cantik pujaan hatiku telah semakin dekat. Cepat kusembunyikan detak jantungku. Kutata wajahku agar sedikit lebih menarik. Malam ini, kuputuskan untuk menegurnya. Itu dia! Seperti biasa, jalan tanpa suara dengan wajah tertunduk. Rambutnya panjang berkibaran tertiup angin. Cantik luar biasa!

“Hhh…hai,” sapaku gagap. Ia berhenti, melirikku sekejap lalu tertunduk lagi.

“Hai,” sahutnya lirih. Nyaris jantungku terlompat sampai ke bulan. Suaranya merdu sekali, meski hanya berkata “hai”?

“Mau ke mana? Bolehkah kutemani?” tanyaku semakin berani. Ia hanya mengangguk lalu meneruskan jalannya yang tanpa suara. Tanpa sadar aku melompat kegirangan dan terus melompat mendampinginya.

“Malam ini sepi sekali, ya,” kataku mencoba menjalin cakap.

“Iya,” sahutnya merdu. Tak tahan sekali aku, ingin melamarnya malam ini juga. Hah! Mimpi!

“Boleh aku tahu namamu?”

“Rani.”

“Aku Doni,” kataku tanpa mengulurkan tangan. Yah, kini ia telah satu langkah di depanku. Tertatih aku mencoba mengimbanginya.

“Rani, bolehkah aku mengatakan sesuatu?” tanyaku semakin berani. Biar andai ia marah, aku hanya ingin menyatakan cinta untuk pertama kalinya.

“Katakan saja,” jawabnya lalu berhenti dan berbalik menghadapku. Wajahnya tengadah, cantik yang tak terlukiskan, meski wajahnya sedikit pucat dan senyumnya tipis bergetar. Lagi-lagi jantungku melompat-lompat tak mau diam.

“Ehh…sepertinya err…aku jatuh cinta padamu, Ran,” bisikku. Sesaat Rani terlihat kaget, tapi lalu tertawa kecil.

“Mengapa? Sedangkan kita baru saja berkenalan?”

“Entahlah, kamu sangat cantik,” jawabku parau. Apapun jawabannya, aku siap.

Senyumnya yang tipis mengembang. Sempat kulihat rona merah jambu di pipinya.

“Maukah kau menerima cintaku?” tanyaku nekat luar biasa. Rani memandangiku dengan sedih.

“Maaf, Doni. Saat ini, aku pun tengah menunggu cintaku. Dia berjanji akan segera menyusulku dan aku berjanji untuk setia menunggunya,” katanya lirih. Sekilas tangannya menyentuh lenganku lalu pergi, masih tanpa suara.

Ingin aku menangis. Ia menolakku? Oh, sial! Mengapa cinta pertamaku selalu gagal? Bahkan kini, setelah aku mati?

************

Words: 369

Mencoba peruntungan di @RedCarra hehehe….

 

Biar basi tetep lucu · Cintaku · Iseng Aja · Ketawa dulu

Perang Diponegoro

Belajar IPS bersama Cantik, menjelang ulangan harian.

Cantik : Bunda, tebakin, dong…

Aku     : Yaaa, sini. Hmm, kapan perang Diponegoro berlangsung?

Cantik : Yaahh, Adek belum sampai situ belajarnya. Yang VOC dulu ajaaa…

Aku     : Ini, kan gampang, Deekk. Perang Diponegoro itu berlangsung pas magrib.

Cantik : Hah? Kok bisaa?? Emang betul, Yah?

Kekasihku : Gak lahh. Perang Diponegoro itu terus-menerus. Ya pas subuh, asar, magrib.

Aku     : Yeee, enggak, pas magrib doang…

Cantik : Bunda jangan ngarang aaahhhh….

Aku     : Bener, Dek. Kan berlangsung delapan belas dua lima sampai delapan belas tiga puluh. Itu kan pas magrib.

Kekasihku : Wahahahha……

Cantik : (Krik…krik…krik…) (laluuu….) wahahahahaha….. Bundaaaaa….iseeeengggg…..

:mrgreen: