Selimut vs Sarung

Sampai usiaku dua ratus tahun beberapa bulan lalu, aku belum pernah bobok mengenakan sarung! (so what?) Karena bagiku sarung identik dengan kaum pria, sesuatu yang maskulin. Meski di beberapa daerah, kain sarung juga dikenakan oleh wanita siy😀 Jadi selama ini kalo bobok aku lebih senang berselimutkan selimut beneran atau kain jarik (basa Indonesanya apa ya?). Si Cantik malah sudah lebih dulu mengenakan kain sarung untuk selimut sejak lebaran tahun lalu, ketika aku membeli sarung Palembang hehehehe…

Pada suatu ketika, ketika sedang mengunjungi Ibunda, Jendral G hendak melaksanakan shalat magrib. Oleh Ibunda dipinjami sarung milik almarhum Papa. Oh ya, Papa dulu senang sekali mengenakan sarung ketika masih sehat😀 Setelah selesai, Jendral G hendak mengembalikan.

“Bawa aja, G. Punya Yangkung masih banyak kok, kalau G mau lagi nanti Yangtie ambilkan.”

Nah, akhirnya sarung itu kami bawa pulang. Sebuah sarung kotak-kotak berwarna merah lembut campur putih dan biru, berbahan sejuk. Sampai di rumah, sarung itu tergeletak di tempat tidur begitu saja😀 Malamnya ketika mau bobok, ternyata selimutku belum kering dicuci. Maka dengan agak malas, kukenakan sarung Papa itu. Yah, sembari mengobati rindu mengenang Papa tersayang😥

Ternyata, Kawan! Apa yang terjadi? (mbuhhh) Ternyata…ternyata…ohh…ya ampoon… (GUBRAKK). Ternyata…bobok pakai sarung itu enak!!! Wakakaka…lebay ya? Eh, tapi bener, lho! Mengingat baru kali ini aku berhubungan dengan sarung:mrgreen: Jika kau memakai selimut, betul seluruh tubuh akan tertutup, dari dada sampai ujung kaki. Tetapi ketika kau hendak ganti posisi miring, maka kau akan repot membenahi selimut agar juga menutupi bagian tubuh belakang, kalo gak nanti semriwing dingin, kan?😆

Bagaimana dengan sarung? Mau ganti posisi miring kanan kek, miring kiri kek, tengkurap kek, telungkup kek, si sarung ini akan tetap memelukmu, menyelubungimu dengan kehangatan dan kemesraan😆 Tetap ada kekurangannya siiy, karena ukuran sarung yang pendek, maka tidak bisa menjangkau sampai menutup kaki. Maka kau harus memilih Kawan, mau tarik sampai bahu maka kaki terbuka, demikian sebaliknya😀

Sejak saat itulah, aku gak pernah lagi lepas dari sarung. Kalau mau bobok ya cari sarung. Dan sarung Papa ini sudah 1,5 bulan belum tak cuci hihihihihi…:mrgreen:

Kalau kau lebih senang mana, Kawan? Bobok dengan selimut, jarik atau sarung?😉 Yang belum pernah mengenakan sarung, cobalah rasakan sensasinya😆

7 thoughts on “Selimut vs Sarung

  1. ysalma Juni 13, 2014 / 12:47 pm

    Dua-duanya saya suka. Soalnya ga bisa tidur kalau ga ada selimut,
    Kalau pakai sarung enaknya tidur ngeringkel, kayak kucing tidur 😀

    Hahaha….iya Jeng, angeettt….😀 Kalo aku gak bisa tidur tanpa guling😀

  2. Lidya Juni 13, 2014 / 1:07 pm

    tergantung adanya apa mbak hehehe,kalua di rumah ya apakinya selimut

    Bener Jeng, yang penting anget yaa😀

  3. partnerinvain Juni 13, 2014 / 1:13 pm

    di daerahku kemana-mana selalu bawa sarung entah sarung yg kurung atau yang lembaran sampai naik hajipun dibawa soalnya serba guna, bisa buat handuk, buat sholat (kalo wanita rasanya rok atau celana kotor tinggal dilepas trus sarungan sebelum pake mukena) buat selimut, buat alas tidur darurat kalo sprei yg disediain ngga bersih atau tidur dilantai…hehehe…buat selimut, makanya kalo pengantin baru ditempatku biasanya yg laki yg bini sarungan hihihihi….yang terakhir tentu saja buat nutup jenazah kita makanya nenek-nenek dulu sediain kain sarung selalu.

    Jeng, itu maksudnya pengantin baru dua2nya pake sarung biar praktis dan cepat tanggap ya? Hihihihihi…:mrgreen:

  4. Resep Masakan Indonesia Juni 14, 2014 / 5:39 am

    Tidur tanpa selimut bagaikan tidur tanpa guling, kalo tidak ada guling rasanya ada yang kuling, begitu pula dengan selimut. Tapi intinya mau sarung atau selimut yang penting angeet…he..he

    Iyaa…intinya harus ada yang dipeluk hihihihihi😛

  5. Attar Arya Juni 20, 2014 / 7:52 am

    biasanya sih cuma pake celana pendek aja. gerahh…. :p

    Hahahaha…hati2 nyamuk😛

  6. Orin Juli 5, 2014 / 1:37 am

    aku apa saja boleeeeeh, yg penting ada ‘selimut’, kalo di rumah seringnya pake kain bali gitu lho buCho😀

    Wuihh, sejuk tuh😀

  7. prih Juli 13, 2014 / 7:23 pm

    selimut sarung ok jarik pun ok Jeng, yang utama kaki tertutup….
    Sarung YangKung selalu jadi rebutan cucu ya

    Idem, Mbakyuu, badan terbuka gpp asalkan dlamakan tertutup hahahaha….😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s