Ha Na Ca Ra Ka

Minggu sore kemaren aku bertandang ke warung Yu Minah. Sebetulnya bukannya aku gak pernah ke sana, bahkan hampir tiap minggu pasti ke sana. Hanya saja obrolannya gak ku posting karena amat sangat sensitif😛 Sekedar tahu saja, Kawan, Yu Minah tak lagi jadi penggemar daster kotak-kotak! Hahahaha…sebagai gantinya dasternya sekarang adalah daster putih empat saku!😆

“Lho, hati kan boleh berpindah, Jeng. Memang dulu saya memuja daster kotak-kotak, tapi kalo buat jabatan yang lebih penting ya boleh, donngg, pindah ke lain hati! Menurut saya kotak-kotak belum mampu!” Begitu kilahnya waktu aku tanya. Hihihihihi… tentu saja aku hanya tertawa kecil mengingat betapa menggebunya dia dulu pada segala yang bermotif kotak-kotak😛

Baiklah, itu sekedar cuplikan obrolan panas yang akhir-akhir ini melanda Yu Minah. Setelah meneriakkan salam, aku segera duduk di bangku favorit.

“Ehh, bentar ya, Jeng, bentaaaar lagi, saya lagi Whats App sama Tole,” sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Wuiihhh, sekarang dia menggunakan ponsel pintar baru. Jari jemari Yu Minah yang montok itu tampak gagap melenggok di layar sentuh. Sebentar kemudian dia meletakkan ponselnya.

“Pesen berapa, Jeng? Duh, Si Tole itu, masa saya dikasih hape canggih gitu malah mumet saya. Salah mencet terus, lha wong jari saya kan ndak selentik sampeyan.”

“Lho, kok aku dibawa-bawa to, Yu? Buatkan dua ya, pedes tapi gak banget. Memangnya ada yang penting Yu, sama Si Tole?” tanyaku sambil lalu, padahal sih kepo tingkat dewa hahahaha…  Habis, gak biasanya Yu Minah mengesampingkan pelanggan gitu.

“Itu Jeng, Si Tole mau ngasih les bahasa Inggris buat anak SD. Ceritanya, kan ibu kosnya punya anak SD dua orang. Saya bilang kalau gak mengganggu kuliahnya ya gak papa, tapi kalau menyita waktu ya ndak boleh,” jawabnya sembari mulai menggerus rombongan cabai, trasi, kacang, dan gula merah dengan tenaganya yang hot.

“Wah, bagus itu, Yu. Apalagi rencananya pelajaran bahasa Inggris buat anak SD mau ditiadakan, lho!”

“Heh? Mosok iya to, Jeng? Memangnya kenapa?”

“Gak tahu, Yu. Katanya sih gak terlalu penting, lebih baik diganti dengan muatan lokal aja, gitu.”

“Whelhaa… sebetulnya paling baik anak segitu belajar bahasa yo, Jeng? Katanya anak-anak umur segitu paling cepat menyerap bahasa, jadi lebih gampang ngajarnya daripada kalo udah gede,” ujar Yu Minah sok analitik. Lengannya yang montok bergetar saat mengiris buah dengan kecepatan seorang samurai. Bener, merinding kalau lihat gaya Yu Minah mengiris buah.

“Gak cuma bahasa Inggris sih, Yu. Pelajaran komputer dan olah raga juga ditiadakan.”

“Kalo komputer sih, biar aja. Wong kata Bu RT malah bikin repot. Anaknya dapat PR suruh jelaskan apa arti internet, apa itu CPU, lha ibunya malah mumet hihihihihi….. Tapi kalo bahasa Inggris ya penting. Sekarang banyak informasi di mana-mana pakai bahasa Inggris, to?”

“Ya begitulah, Yu. Kurikulum gonta-ganti buat kita udah biasalah. Ganti mentri ganti kebijakan, ganti presiden yo sah-sah saja ganti lagi.”

“Mendingan diganti pelajaran basa Jawa saja yo, Jeng. Pasti Pak Presiden setuju, deh, hihihihihi….” Nah, mulai deh ide-ide jahil yang seringkali membuatku malas memosting obrolan ini.

“Emangnya Indonesia ini cuma Jawa, Yu? Sampeyan ini jangan bikin kisruh, lahh!”

“Lho, kan cuma usulan, Jeng. Apalagi kalo hurufnya pake ha na ca ra ka, wuihhh pasti keren, deh! Kita bisa bersaing dengan India, Thailand, Jepang, Tiongkok, mana lagi? Emangnya mereka doang yang punya huruf cantik?” ujarnya sambil mulai membungkus rujakku. Kalo udah korslet gini, males nanggepin obrolannya. Aku diam saja.

“Eh, tapi kasihan juga ya, huruf itu kan susah banget. Dulu aja kalo pelajaran nulis Jawa nilai saya paling bagus cuma enam. Angel banget, Jeng! Ada pepet, paten-patenan segala, halahhh mumet!” Tuh kan, usul sendiri kalo udah mumet sendiri😈 Aku masih diam.

“Tapi gak papa ding, kalo pelajaran bahasa Inggris ditiadakan. Si Tole bisa dapat banyak obyekan yo, Jeng? Hihihihihi….” Nah…nah… begitulah Yu Minah, segala urusan dihitung berdasarkan untung rugi.

“Sampeyan kok diam saja, Jeng? Jadinya setuju pelajaran bahasa Inggris dihilangkan atau tidak?” tanyanya sambil menyerahkan bungkus rujak. Aku mencari-cari uang pas dalam dompetku.

“Jeng?”

“Jeng?”

“Ehh… apa, Yu?” sahutku sembari menyerahkan uang.

“Wheladalaaaaahhhh… jadi daritadi sampeyan gak ndengerin saya ngomongg?”

“Eh, ndengerin, kok!”

“Kalo gitu apa pendapat sampeyan?”

“Pendapat mengenai apa ya, Yu?”

“Lhadallaaahhhhh…..capek sayaaa….!”

Qiqiqiqiqi…:mrgreen: Wong aku lagi males ngomong yang sensitif, jehh…😛

 

8 thoughts on “Ha Na Ca Ra Ka

  1. Ryan Agustus 28, 2014 / 4:49 pm

    beneran bahasa inggris dihilangkan? agak sayang sih kalau dihapus dari kurikulum.

    Entahlah, aku juga menyayangkan😦 Bukankah ini satu kemundurun? Tak semua orang tua mampu mengursuskan anaknya di lembaga bahasa, bukan?

  2. Lidya Agustus 28, 2014 / 5:43 pm

    di skeolah pascal masih tetep ada bahasa inggris

    Sepertinya bertahap, Jeng, mulai dari kelas SD kecil dulu sampai nantinya habis di th. 2016/2017.

  3. partnerinvain Agustus 28, 2014 / 6:39 pm

    ngga ngerti juga padahal Bahasa Inggris dan komputer itu penting dizaman sekarang ini, kurikulum 2013 ini walaupun secara materi lebih mudah tapi teknik dan cara mengajarnya lebih tinggi masak anak-anak dibiarkan begitu saja mencari jawaban, apalagi matematika bukannya diberi penjelasan dulu? trus masak anak kelas 2 SD disuruh menyimpulkan bukankah itu urutan berpikir paling tinggi, kalau menirukan, mengulang kembali paling banter menceritakan dengan bahasa sendiri, menyimpulkan? arti m,enyimpulkan saja mereka tidak mengerti?

    Sepertinya makin berat malah ya, Jeng? Dan orang tua makin ketinggalan, makin gak bisa ngajarin😦 Kedua malaiaktku aja lebih sering nanya google. Tapi kalo MTK ya gak bisalah jalan sendiri, tetap harus diajarin dulu, ya…

  4. ysalma Agustus 28, 2014 / 9:54 pm

    Setuju dengan komen diatas,
    Disekolah anakku sudah diterapkan dari tahun 2013, yg ngedumel kalau ada PR justru emaknya, lha bahannya harus dicari. Bagus sih anak dilatih berpikir, tapi kalau ada perpustakaan yang mendukung, dan anak rajin baca.

    Nah, untuk mencari jawaban pasti banyakan nanya google ya, Jeng?😀

  5. Orin Agustus 29, 2014 / 12:15 pm

    walaahhh….kurikulum yg aneh..

    Iyaa Orin, semoga anak-anak mudah menyesuaikan yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s