Confession

sketsa oleh Carolina Ratri
sketsa oleh Carolina Ratri

Kami berlima duduk bergandengan tangan, mengelilingi sebuah meja bundar. Ruangan sangat gelap dan dingin. Satu-satunya penerangan hanya dari cahaya monitor laptop di tengah meja.

Lo yakin mau melakukannya, May?” tanya Devi. Ia yang akan memimpin upacara bertemu arwah ini. Tengkukku mulai meremang dan jantungku berlompatan.

“Batalkan saja, May. Ikhlaskan, biarkan dia tenang di sana,” bisik Anna di sebelahku. Ikhlas? Tentu saja aku ikhlas. Aku hanya tak kuasa menahan rindu yang menusuk ini, menghunjam hingga ke jantung, meracuni setiap hela nafasku, dan sakitnya tak tertahankan.

“Iya, May. Iihh, serem, nih!” Intan berujar dari seberang meja. Kutatap sahabatku satu per satu. Anna, Susan, Intan, Devi. Mereka tidak tahu rasanya ditinggal kekasih dalam keadaan menggantung. Raka kecelakaan setelah kami bertengkar hebat. Mereka tak mengerti penyesalan yang kualami, luar biasa pedih! Aku hanya ingin bertemu Raka, sekali lagi saja. Aku hanya ingin minta maaf telah menuduhnya tanpa ampun. Aku hanya ingin melihat senyumnya, mendengar suaranya, dan mengucapkan selamat tinggal. Setelah itu, aku akan menempatkannya di pojok paling pojok dalam hatiku. Jarak antara kami sudah tak mungkin lagi terjangkau. Namun setidaknya, pertemuan ini akan memusnahkan rinduku.

“Lanjutkan, Dev,” kataku mantap. Kurasakan genggaman Anna mengencang, keringat mulai membasahi telapaknya. Aku pun takut.

Oke, Girls. Pejamkan mata kalian, tetap saling bergandengan. Aku akan merapal beberapa mantra. Jika berhasil, Raka akan muncul dalam monitor. Lo boleh membuka mata, May. Katakan apa yang ingin lo bilang, bisa jadi Raka akan mengerti bisa juga tidak. Biasanya arwah hanya ingin menyapa orang yang paling ingin ditemuinya. Tetap bergandengan, jika terlepas arwah akan lenyap. Ready, Girls?” Hanya aku yang mengangguk. Desahan ngeri para sahabatku tak menyurutkan niatku.

Let’s do it. Pejamkan mata kalian, genggam yang erat.” Devi mulai memimpin upacara ini. Aku merasakan tangan Anna dan Intan bergetar dalam genggamanku. Aku pun sama takutnya dengan mereka. Devi merapal mantra demi mantra, mula-mula lembut, lalu semakin keras dan keras. Kemudian, entah darimana muncul angin yang bertiup menyibak rambut-rambut kami. Sekujur bulu tubuh kami meremang. Lalu, suara bip panjang datang dari laptop. Aku membuka mata. Seketika air mataku menetes, wajah tampan itu muncul di layar. Kabur pada awalnya, tapi lalu tampak nyata. Tatapannya, senyumnya, ia hidup!

“Raka…,” bisikku. Pria itu menatap ke arahku, seperti mendengar panggilku. Tapi, mengapa ia diam?

“Raka…maafkan aku,” bisikku lagi. Raka tetap diam mendengar suaraku. Keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu.

“Aku…aku gak bermaksud menuduhmu, aku menyesal, Sayang.” Aku mulai mengisak tak terkendali. Genggaman Anna terasa mengencang lalu menggigil. Raka masih mengerutkan keningnya.

“Ini aku, Maya, kau mengenaliku, bukan?” Tapi Raka berpaling dariku. Pandangannya beralih ke Intan, lalu ke Anna. Kemudian senyumnya mengembang.

“Anna, aku rindu sekali.” Suara Raka bergaung, menggema ke seluruh ruangan. Aku terpana. Hatiku pecah berantakan.

********

Words: 440

Monday Flash Fiction: Prompt #61: Jarak yang Terkutuk

15 thoughts on “Confession

  1. GloryGrant September 13, 2014 / 9:14 pm

    loh, jadi Anna yang …. Ckckck.😀

    Sungguh therlhalhu…:mrgreen:

  2. linda September 14, 2014 / 12:09 am

    oke, rindu itu kadang bikin nyesel ketika dikatakan #pelajarandaritulisanini

    Tapi jika tidak dikatakan bisa menyebabkan jerawat menahun, Jeng😛

  3. istianasutanti September 14, 2014 / 5:45 am

    hoealaaah.. sakitnya tuh di sinii *sambil nunjuk dada* :3

    Mana…mana…aku obati😀

  4. ysalma September 14, 2014 / 7:20 am

    Duh, kalau sudah usai, tak perlu penasaran lagi dengan urusan rindu, semakin bikin nyesek begitu tau yg sebenarnya *sakitnya di dengkul, lunglai*

    Jadi bukan arwahnya yang penasaran ya, Jeng😀

  5. thundercats7 September 14, 2014 / 10:44 am

    Perlu 5 kali baca baru ngeh siapa yang arwah….

    Waduh, banyak amat, Om? Jadi, siapa dong arwahnya…:mrgreen:

  6. jampang September 14, 2014 / 2:21 pm

    waduh….. ada yang pagar makan tanaman

    Tanamannya bayem, enak disayur😀

  7. Lidya September 14, 2014 / 3:09 pm

    jadi tuduhannya benar dong

    Tuduhlah aakuu….hahahaha iya, Jeng…😀

  8. Rizki Madfia September 14, 2014 / 7:32 pm

    Nah, malah nyesek akhirnya. Ceritanya menarik..🙂

    Nyesel deh, manggil2 arwah😀 makasiy, Jeng…

  9. Pancawarta September 14, 2014 / 9:40 pm

    hancur hatiku.. mengenang dikau

    Jadi keping-keping setelah kau pergiii… (malah nyanyi)

  10. Attar Arya September 15, 2014 / 10:03 am

    Wah, ada ‘peningkatan’ nih. Sekarang manggil arwah bisa lewat laptop! *tendang karung jelangkung😀

    Pasaran boneka jaelangkung kian merosot:mrgreen:

  11. Jual Penjernih Air Maret 10, 2016 / 11:58 am

    Bolehkah ceritanya dilanjutkan? Kali ini aku yang penasaran? Tolong panggil raka kembali..

  12. Jual Filter Air Maret 10, 2016 / 12:07 pm

    Untung gak salah panggil arwah, kalau yg dipanggil raka yang dateng rika gimana ya? hahaha😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s