Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Bisul

sumber

“Pokoknya akhir bulan ini bantaran sungai itu harus sudah bersih! Jangan jadi bisul di tengah kota!” Pak Kada berteriak-teriak di ruang kerjanya. Seluruh staf ketakutan.

“Tapi, Pak…rusun tak bisa menampung mereka lagi,” kata seorang di antaranya.

“Kasih duit aja buat pulang kampung! Atur, dong!”

***************

Akhirnya, cita-cita Pak Kada menjadikan bantaran sungai menjadi seindah San Antonio River Walk terwujud. Para investor pendukung memujinya. Pembangunan apartemen mewah di sekitar sungailah tujuan utama. Apapun, Pak Kada sukses. Seluruh media cetak dan elektronik memujanya.

Dan pagi ini, Bu Kada berteriak histeris melihat suaminya terbaring penuh bisul di sekujur tubuhnya. Merah, besar dan bernanah!

****************

Words: 100

Yuuk, ikutan MFF Prompt #67: On the Riverside 😉

Dongeng insomnia · Serial Yu Minah

Ksatria Kuda Putih

Jika kau berkantor di Jakarta, Kawan, maka sebaiknya hari ini gak usah ngantor dulu. Karena hari ini adalah hari besar bangsa Indonesia. Kau tahu, kan? Wong aku saja yang berkantor di Jababeka ikutan gak masuk hahahaha… 😛

Daripada bengong di rumah, dan kebetulan sehubungan dengan acara dietku yang gak makan nasi, maka aku ngabur ke warung Yu Minah. Panas-panas gini enaknya nyruput rujak serut 😀

Setelah meneriakkan salam, aku langsung memilih bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede Gaban itu.

“Lho, tumben ndak ngantor, Jeng?” tanya Yu Minah setelah membalas salamku.

“Mau ikut pesta rakyat, Yu. Biasa ya, buatkan rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Lanjutkan membaca “Ksatria Kuda Putih”

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

Rinai telah berganti gerimis, menyisakan udara lembap yang menggantung, khas iklim tropis. Namun lelaki renta itu tak peduli, meski basah bajunya karena hujan dan keringat, ia kembali menuntun sepedanya yang sarat dengan rumput. Senyum terukir di wajahnya, semakin mempertegas keriput yang merata di seluruh wajah, seperti ombak yang menjilat bibir pantai. Teringat celoteh cucunya yang selalu menerbitkan bahagia.

“Aku pasti cantik pakai baju itu, Mbah Kung*),” cerianya ketika melewati toko baju di pasar. Tangan mungilnya menunjuk baju pink dari bahan kaus, bergambar lima orang putri terkenal dari negeri dongeng.

“Pasti, Nduk,” jawab lelaki renta itu tersenyum.

“Mbah Kung, belikan baju itu buatku, ya.”

“Iya, nanti kalau Mbah Kung dah punya uang, ya.”

“Ya, Mbah.” Percakapan itu seperti kaset rusak yang berhenti pada satu lirik saja, setiap ada pinta selalu ada janji yang tak pernah bisa ditepati. Namun sang cucu tak pernah menuntut kembali. Entah lupa entah mengerti.

Tapi kali ini lelaki renta itu telah menyisihkan pendapatan untuk mewujudkan keinginan cucu semata wayangnya. Hari ini, ia membawa sebanyak mungkin rumput untuk sapi-sapi sang juragan. Setidaknya uang yang didapatnya akan lebih dari biasa. Sedih bila mengingat nasib cucu cantiknya. Ibunya mati ketika melahirkannya. Bapaknya sudah pergi sejak ia masih bayi merah. Hanya lelaki itu dan istrinya yang ada. Tapi setahun lalu istrinya pun telah pergi untuk selamanya.

“Malang nasibmu, Nduk. Mbah Kung akan menjagamu sampai habis umur Mbah mu ini.” Sering ia ucapkan kata itu ketika mengusap dahi cucunya yang lelap di malam hari. Terkadang lelaki itu menangis tanpa air mata.

Semakin berat terasa sepedanya, namun entah mengapa semakin ringan hati membayangkan cucunya bahagia.

“Aku pusing, Mbah Kung,” keluh gadis kecil yang selalu ceria itu seminggu lalu. Lelaki renta itu memegang dahi cucunya.

“Agak panas, Nduk. Kamu ndak usah ikut Mbah Kung, ya. Istirahat saja di rumah.” Cucu penurut itu hanya mengangguk lalu berbaring di atas dipan tanpa kasur. Esoknya gadis kecil itu telah sembuh dari demam, meski dua hari kemudian demam lagi, lalu sembuh lagi.

Mungkin karena ia mendamba baju itu, demikian pemikiran sederhana sang kakek. Baju itu berharga empat puluh lima ribu. Hampir cukup uang ia kumpulkan, esok ia akan mengajak cucunya ke pasar.

“Kamu ingin sekali baju yang di pasar itu, Nduk?” tanyanya tadi pagi sebelum pergi. Demamnya sudah turun tapi masih lemas untuk ikut berkelana mencari rumput.

“Iya, Mbah, tapi udah ndak terlalu, kok. Aku ingin Mbah Kung di rumah saja hari ini, aku bosan sendirian,” keluh sang cucu.

“Mbah Kung harus kerja, Nduk Cah Ayu,” senyum lelaki renta itu penuh rahasia, “besok, kamu ikut Mbah Kung, ya. Nah, nanti makanlah bubur dan kecap di meja.”

Gubuk reyot dekat kandang sapi itu sudah di depan mata. Senyum semakin sumringah, menambah kerut-kerut indah di seluruh wajah. Ia menurunkan rumput di kandang lalu segera menemui juragan. Uang dua puluh ribu ia terima dengan kebahagiaan sepenuh hati.

“Nduk Cah Ayu, Mbah Kung pulang!” Dengan tertatih ia menghambur ke satu-satunya dipan di gubuk itu. Ah, cucunya tentu tertidur, lelah menunggunya.

“Nduk,” panggilnya lembut. Tangan keriputnya meraba pipi halus sang cucu. Dingin.

**********

Words: 499

Catatan:

*) Mbah Kung = Mbah Kakung = Kakek (bahasa Jawa)

Tulisan ini untuk Manday FlashFiction Prompt #65 Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Purnama

sumber

Senja semakin larut, penuh rasa bersalah aku mengikuti Gilang yang berjalan tergesa melewati jalan setapak.

Sorry, Lang, gara-gara aku kita tertinggal rombongan,” ujarku di antara napas memburu.

“Tenang saja,” sahutnya kalem.

Yeah, kami berdelapan bermaksud mendaki Merapi. Seharusnya sesore ini sudah tiba di pos pendakian dan mulai mendaki agar tepat terbit mentari kami sudah tiba di puncak. Tapi gara-gara perutku sakit, terpaksa aku ditinggal ditemani Gilang, kekasihku yang pendiam, ganteng, tapi baik hati. Heii, ini bukan modus! Memang perutku sakit sekali, mana sangka tiba-tiba aku mengalami dysmenorrhea?

Kini, malam benar-benar sempurna. Gilang menyalakan senternya, berusaha menembus malam.

“Untunglah malam ini purnama,” gumamku. Tiba-tiba Gilang menghentikan langkah sehingga aku menabraknya.

“Kita kembali saja, Liz, sudah jauh pula tertinggal,” katanya mengejutkan. Tentu saja aku protes.

“Heii, sudah sepertiga jalan begini. Ayo, ah!” Tanpa mengindahkan Gilang aku memimpin jalan di depan.

“Liz, berbahaya!”

“Apanya yang berbahaya?”

“Purnama!”

“Memangnya kenapa? Kau takut werewolf?” candaku. Dari kejauhan aku melihat tumpukan kayu yang menghalangi jalan. Nah, rupanya teman-teman meninggalkan tanda supaya kami tidak tersesat. Belum sempat melompati tumpukan kayu itu, aku terpana memandang cahaya yang menyerbu melewati pepohonan di atas kami.

Tiba-tiba tubuhku terasa aneh. Mataku tak lagi fokus, jalanku sempoyongan. Tumpukan kayu di depanku seperti berjalan-jalan. Samar, kulihat Gilang menyambar kayu paling besar dalam tumpukan itu.

“Jangan bergerak, Liz!” desisnya. Aku ketakutan. Aku merasa air liurku menetes-netes dan tubuhku panas. Demamkah? Belum sempat berpikir, kulihat Gilang mengayunkan kayu itu ke kepalaku.

“Maafkan aku, Liz.” Sempat kudengar Gilang berbisik sebelum aku jatuh berdebam. Aku merasa tubuhku begitu berat dan berbulu.

*********

Words: 260

Fiuuhh, wajar bila akan menuai kritik :mrgreen:

Yuukk, mareeee Prompt #64 Pile of Wood Stick di Monday FlashFiction 😉