Ksatria Kuda Putih

Jika kau berkantor di Jakarta, Kawan, maka sebaiknya hari ini gak usah ngantor dulu. Karena hari ini adalah hari besar bangsa Indonesia. Kau tahu, kan? Wong aku saja yang berkantor di Jababeka ikutan gak masuk hahahaha…😛

Daripada bengong di rumah, dan kebetulan sehubungan dengan acara dietku yang gak makan nasi, maka aku ngabur ke warung Yu Minah. Panas-panas gini enaknya nyruput rujak serut😀

Setelah meneriakkan salam, aku langsung memilih bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede Gaban itu.

“Lho, tumben ndak ngantor, Jeng?” tanya Yu Minah setelah membalas salamku.

“Mau ikut pesta rakyat, Yu. Biasa ya, buatkan rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Yu Minah yang masih setia dengan daster putih empat sakunya mencibir sedikit menyolok mata.

“Tadi aku ragu lho, Yu, mau ke sini.”

“Kenapa, Jeng?”

“Kukira sampeyan ikut nyumbang pesta rakyat, ngasih rujak gratis,” godaku sambil mencomot potongan kecil nanas.

“Ihhh, memangnya saya ini sekaya apa, Jeng? Wong sekarang apa-apa mahal, kok. Belum saatnya, deh, buat saya nyumbang-nyumbang,” dengusnya agak judes. Aku nyengir, tahu betul bukan itu alasannya, wong aku cuma becanda😛

“Belum ikhlas to, Yu?” tanyaku masih menggoda. Agak ngeri juga sih, menggoda Yu Minah dalam keadaan mengiris buah-buahan gitu. Setara kecepatan seorang samurai memainkan katananya, begitulah kemahiran Yu Minah dengan pisaunya. Apalagi kalau sudah mengeluarkan jurus “Tebasan Satu Jari Membelah Langit“, wuiiihhh…ngeriiii….

“Sampeyan tuh, ngomong apa, to, Jeng?” sahutnya masih judes.

“Hehehehe…. aku tahu sampeyan masih kecewa, Yu. Tapi mbok ya melihat yang sampeyan puja itu. Beliau dengan sikap negarawannya, ksatrianya, berkenan hadir, lho! Mengalahkan segala emosinya, keangkuhan hatinya, kekecewaannya, egonya, dan dengan rendah hati namun tetap gagah dan berkarisma mengesampingkan segala rasa itu. Masa sampeyan yang pengikut setianya gak mau move on?”

Mendengar kata-kataku, pandangan Yu Minah melembut dan melambatkan kecepatan pisaunya. Matanya menerawang, mungkin membayangkan sosok idolanya yang gagah perkasa dengan kuda putihnya.

“Iya, ya, Jeng. Beliau memberi contoh yang sangat baik untuk penerusnya kelak. Memberi contoh berdemokrasi yang sehat. Tidak mau diam ketika dicurangi, namun memilih cara konstitusional untuk memperjuangkannya. Dan ketika kalah pun, beliau tetap adem, sejuk. Ini memberi pelajaran akan arti demokrasi yang sesungguhnya, bukan ngambek-ngambekan. Ahhh…memang harus ditiru sikap demikian ya, Jeng.”

Ciee…ciee… gaya ngomongnya udah kayak pengamat politik bayaran saja! Tapi aku senang, karena pada akhirnya Yu Minah mau menerima dengan baik.

“Iya Yu, kita gak boleh underestimate dengan Bapak yang baru. Beliau memang terlihat gak meyakinkan, tapi ada pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya, Yu.”

“Ahh, itu sudah kuno, Jeng! Si Tole kalo ke toko buku pasti lihat sampulnya dulu, kalo bagus baru dibeli!” Hayah! Kalo dah mulai gak nyambung gini aku sudah siap-siap beranjak. Apalagi Yu Minah juga sudah mulai membungkus rujakku.

“Jeng…Jeng…kira-kira lima tahun lagi nanti, beliau mencalonkan diri lagi, ndak, ya?”

“Gak tahu, Yu!”

“Kalo kepilih, saya mau bagi-bagi rujak gratis, deh!” Nah, mulai ngawur, kan? Aku segera menyerahkan uang untuk membayar rujaknya.

“Jeng…Jeng…beliau suka rujak ndak, to?”

“Lhahhh…gak tahu, Yuu, tanya saja sama asistennya sana.”

“Ehh…Jeng…Jeng…nganu..eh..ihik…ihik…kalo saya nganu…”

“Apaan sih, Yu?”

Nganu…ehh…saya pantes ndak ya, kalo bersanding dengan beliau?” tanya Yu Minah. Pipinya merona merah, bibirnya mengukir senyum manja, matanya mengerling ke kiri ke kanan. Aku nyaris ngakak tak terkendali, tapi niatku menggodanya lebih besar.

“Ya gak pantes, Yuu! Beliau itu pantasnya bersanding denganku.”

“Lhadallaaaahhhh, sampeyan, Jeng, sok-sok ngasih tauuu, ndak taunya naksir jugaaa…!” serunya sambil mengayun-ayunkan ulekannya yang segede palu Thor. Aku segera mengambil langkah dua ribu…

:mrgreen:

“Selamat untuk Pak Presiden yang baru, semoga tidak lupa dengan janji-janjinya.”

8 thoughts on “Ksatria Kuda Putih

  1. jampang Oktober 21, 2014 / 4:15 am

    ternyata ada yang nyatetin 60-an janji presiden baru. semoga amanah dan bisa menepati janjinya

    Wadohh, janjinya banyak amat ya, Bang?

  2. ysalma Oktober 21, 2014 / 5:10 am

    Yups, kita tunggu ‘janji pertama’ Kabinet yang diisi tenaga profesional di bidangnya😀
    *Yu Minah menjadi pengikut fanatik ternyata pemuja terselubung toh, Ksatria kuda putih emang keren ya Yu, hahaha

    Wahh, Yu Minah itu sangat termehek-mehek sama beliaunya, Jeng😆

  3. Lidya Oktober 22, 2014 / 1:51 pm

    jadi Yu minah skr sudah move on dong🙂

    Sepertinya sudah, Jeng. Kemaren sore saya lewat dpn warungnya udah mau lagi pake daster kotak2nya. Lha, punya selusin, jeh😆

  4. Necky Effendy Oktober 30, 2014 / 10:50 pm

    udah berapa lama yah ga mampir disini?? hehehehe, well di pesta rakyat kemarin saya ga semangat banget padahal lewat di depan kantor. BUkan karena ga milih beliau…sesungguhnya kaki yg ga bersahabat dan bodi yang ga delicious. Sementara orang2 berlomba cari makan gratis dan foto2 sedekat mungkin dengan sang presiden….saya malah anteng di depan laptop…..hehehehehe

    Pa kabar, BengNeck😀 Hehehe enakan dalam kantor aja ya, Bang, ademmm😀

  5. Orin Oktober 31, 2014 / 12:51 pm

    Alhamdulillaaaah, akhirnya Yu Minah move on juga yaaa qiqiqiqiqi

    Iyaa Oriin… sudah mau pake dasternya yang lama:mrgreen:

  6. Jual Filter Air Februari 3, 2016 / 9:52 am

    asik, baca ini naikin mood loh, lucu soalnya, makasih ya yu minah sudah menghibur hehehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s