Nimbrung Mikir · Tak Enak

A Self Reflection: Tragedi Bulu

logo1

Ketika berniat menjawab tantangan OmNh tentang tangak-tengok blog sendiri, tiba-tiba aku malah jadi mumet sendiri. Bagaimana tidak, lha ternyata di tahun ke-7 aku ngeblog ini tidak banyak tulisan yang kubuat! Wahahaha … itulah sebab, aku baru tengak-tengok ya menjelang deadline! (itu bahasa diplomatisnya, Kawan, sebenernya sih, karena gak tau tulisan mana yang berkesan : mrgreen: ).

Baiklah, setelah tersentil dengan peringatan Si Om tentang “dead liner” dan “super dead liner” maka kuputuskan untuk memilih salah satu tulisanku, “TRAGEDI BULU” hahahaha … (mendadak ingat suara Doraemon). Tulisan ini ku publish pada bulan Februari 2014 lalu. Mengapa aku memilih tulisan ini? Karena meski bernuansa tragedi (haiyah) tetapi ini selalu menjadi topik yang lucu bila diingat-ingat. Bahkan setelah kutayangkan tulisan itu di blog dan kubagikan di grup keluarga, langsung bertebaran emoji ngakak sampai nangis! Apalagi tersangka utama alias Mbakayune tak bisa menghentikan tawanya, padahal dia sedang rapat koordinasi! Tentu saja menimbulkan keheranan dan ketakjuban di antara peserta rapat. Yeah, topik ini selalu menjadi pembicaraan yang menimbulkan tawa saat kami sekeluarga berkumpul di rumah Ibunda innocent0009 Free Emoticons   Innocent

Menayangkan tulisan itu bukannya tanpa pergulatan batin, Kawan (haiyah lagii), karena mau tidak mau supaya tidak dianggap hoax, harus ada bukti gambar, kan? Hahahaha … maka muncullah gambar bulu mataku yang mengenaskan itu ashamed0004 Free Emoticons   Shame Maaf bagi Kawan yang tidak beruntung karena sempat melihat gambar itu. Semoga tidak ada kejadian buruk yang menimpa setelahnya :mrgreen:

Lalu, apa hikmah dari tulisan konyol itu? Hohohoho … di balik setiap tragedi pasti ada hikmah yang bisa dipetik innocent0007 Free Emoticons   Innocent Yah, tulisan itu semacam peringatan bagi para ibu, tante, kakak, agar tidak melakukan perbuatan eksperimental terhadap anak, adik, keponakan, tanpa referensi yang jelas. Jangan sampai perbuatan yang ditujukan untuk kebaikan ternyata malah menimbulkan penyesalan seumur hidup (ampuun, bahasanyaaa). Tragedi yang kualami itu semoga bisa menjadi pembelajaran bagi pembaca. Berbagi pengalaman seburuk apapun kadang tanpa kita sadari bisa beguna untuk orang lain. Maka Kawan, jangan segan berbagi pengalaman, yang mungkin buruk buatmu tetapi akan menjadi pengetahuan berharga bagi orang lain.

Demikianlah, “Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

Wish me luck party0010 Free Party Emoticons

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 20 (revised edition)

Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelambatan penulisan Lukisan Cinta ini 😀 Tulisan yang ini selain untuk mengingatkan kisah sebelumnya, juga untuk menunjukkan penambahan kisah yang sebelumnya belum ada 😀 Monggo silakan dinikmati 😉

BAB LIMA
KARANG

“Sesungguhnya karang marah pada samudera
Mengapa selalu mengempas dan mengikis?
Menyisakan bilur-bilur pedih siksa dera?
Namun karang menerima takdirnya tanpa tangis”

    Rini bersimpuh di depan tanah merah penuh bunga itu dengan mati rasa. Pelayat terakhir baru saja berlalu dengan sedu sedannya. Rini bahkan tak tahu lagi, siapa yang datang, siapa yang memeluknya, siapa yang terus menerus membisikkan kata penghiburan. Semua bagaikan dengungan lebah di telinganya, mengganggu namun tak bisa diusir. Ia hanya ingin berdua saja dengan Elang, meski bocah kecil itu tak lagi tampak mata.

   Elang, Elang, di mana kau, Nak? Mengapa tak kau jawab panggilan Mama? Gelapkah di dalam sana, Nak? Takutkah kau, Nak? Dinginkah? Jangan takut, Sayang, Mama di sini. Mama selalu ada untukmu, Sayang. Boboklah nyenyak, Nak, Mama sayang sekali sama Elang. Elang…Elang…

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 20 (revised edition)”