Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 20 (revised edition)

Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelambatan penulisan Lukisan Cinta ini 😀 Tulisan yang ini selain untuk mengingatkan kisah sebelumnya, juga untuk menunjukkan penambahan kisah yang sebelumnya belum ada 😀 Monggo silakan dinikmati 😉

BAB LIMA
KARANG

“Sesungguhnya karang marah pada samudera
Mengapa selalu mengempas dan mengikis?
Menyisakan bilur-bilur pedih siksa dera?
Namun karang menerima takdirnya tanpa tangis”

    Rini bersimpuh di depan tanah merah penuh bunga itu dengan mati rasa. Pelayat terakhir baru saja berlalu dengan sedu sedannya. Rini bahkan tak tahu lagi, siapa yang datang, siapa yang memeluknya, siapa yang terus menerus membisikkan kata penghiburan. Semua bagaikan dengungan lebah di telinganya, mengganggu namun tak bisa diusir. Ia hanya ingin berdua saja dengan Elang, meski bocah kecil itu tak lagi tampak mata.

   Elang, Elang, di mana kau, Nak? Mengapa tak kau jawab panggilan Mama? Gelapkah di dalam sana, Nak? Takutkah kau, Nak? Dinginkah? Jangan takut, Sayang, Mama di sini. Mama selalu ada untukmu, Sayang. Boboklah nyenyak, Nak, Mama sayang sekali sama Elang. Elang…Elang…

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 20 (revised edition)”