Jual BB

image

Selama bulan puasa ini, Yu Minah hanya buka sore hari sekitar jam empat. Di hari Sabtu atau Minggu ramainyaa minta ampun. Mending aku gak beli daripada harus berebut antrian sama ibu-ibu. Terlebih jika melihat Yu Minah dengan goyang ulekannya, hih mending gak, deh! Takut sama “tetesan-tetesannya” 😅

Nah, sore ini kebetulan aku pulang cepat dan langsung bertengger di warung Yu Minah.

“Tumben sepi, Yu?” tanyaku setelah mengucap salam dan duduk di bangku favorit.

“Sampeyan beruntung, Jeng. Sebentar lagi ndak bakal kebagian, lho,” sahutnya. Hih, sombongnyaaa. Tapi betul sih, apa yang dikatakannya. “Ini pesennya biasa, Jeng?”

“Iyaa, rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Bosan melihat ketangkasan Yu Minah mengolah sambal dan mengiris buah yang bak pesilat memainkan jurus “Pedang Sakti Pembelah Langit dan Penggerus Bumi”, aku melihat sekeliling.

Mataku tertumbuk pada sebuah kardus dengan isi yang nyaris tumpah. Botol-botol bekas, bekas bungkus makanan lalu kaleng-kaleng entah bekas apa. Terheran-heran aku menjulurkan leher agar bisa melihat lebih jelas.

“Yu, sampeyan punya kerja sambilan?”

“Hah? Yo ndaklah, Jeng. Keahlian saya ya cuma bikin rujak, ” sahutnya heran. Nanas itu sungguh nyaris lumat dalam pisau saktinya. “Memangnya kenapa?”

“Itu ngumpulin barang bekas? Kukira nyambi jadi pemulung hihihihi ….”

“Sampeyan iniii. Itu kan, idenya Bu RT buat ngumpulin barang bekas, Jeng. Lalu nanti setiap bulan dikumpulkan dan dijual. Uangnya masuk kas buat tambah-tambah biaya piknik RT. Gituuu ….”

“Ooo, dijual ke mana, Yu?”

“Ndak tahu. Sepertinya Bu RT sudah punya langganan pemulung yang suka mbawa gerobak itu.” Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Kalau aku, Yu, gak bakalan mau.”

“Lho, kenapa? Hasilnya lumayan, lho, Jeng! Ditambah lagi, tempat sampah di luar jadi ndak diaduk-aduk pemulung.”

“Nah! Itu … itu kenapa aku gak mau!” ujarku sembari mencari-cari uang pas dalam dompet. “Itu namanya sampeyan menutup rejeki orang, Yuu!”

“Kok nutup rejeki, to? Ah, sampeyan ini aneh!”

“Gini, lho, Yuu. Kalau sampeyan buang barang-barang bekas itu ke tempat sampah, tentu akan menjadi rejeki buat pemulung. Lha kalo dijual, iya sih, mungkin sama-sama ke pemulung yang “bermodal”, mereka yang hidupnya dari mengais sampah tentu gak bisa mendapat jatah. Sementara apalah artinya receh itu buat ibu-ibu kompleks, apalagi pengusaha sukses macam sampeyan ini.”

Yu Minah terdiam, bahkan sepertinya tidak sadar dengan sindiranku 😆

“Iya ya, Jeng. Kasihan juga mereka yang tiap hari mengais sampah lalu ndak menemukan barang yang mereka harapkan. Kok tumben sampeyan bijak banget gini, Jeng? Pasti pengaruh bualan puasa, ya?” Sial! 😬

“Ehh, tapiii … nanti sampahnya berantakan lagi, Jeng!” Ujarnya lagi sembari mengangsurkan rujak padaku.

“Halah, Yuuu … ya tinggal disapu, itung-itung olah raga biar langsingan dikit gitu, lhooo …!”

“Wheladhalaaahhh, Jeeeeng, lha wong ngulek saja kan, sudah olah ragaaaa!”

😆

Iklan

(Ini)(sial)

Siang antara mendung dan panas membara. Seperti udara panas yang terjebak dalam toples dengan aku berada di dalamnya. Halah … halah … mau beli rujak ke warung Yu Minah aja pake panjang lebar! Yah, sebetulnya bukannya aku gak pernah ke warung Yu Minah. Aku hanya gak menceritakan obrolanku saja. Makin hari Yu Minah makin lebay, sih. Segala macam berita dilahapnya lalu diceritakan kembali dengan semena-mena menurut versinya. Memang yang nonton atau baca berita cuma dia? Sebab itulah aku jarang menceritakannya kembali. Murni opini Yu Minah yang berlagak macam pengamat politik saja. Hahaha.

Warungnya tampak sepi dalam cuaca begini. Tapi aku butuh rujak serut untuk didinginkan dalam lemari es. Seperti biasa aku meneriakkan salam dan duduk di bangku favorit.

“Lho, Jeng, ndak ngantor, to?” tanya Yu Minah setelah menjawab salamku.

“Nggak, Yu. Cuti. Buatkan rujak serut ya, seperti biasa pedes tapi gak banget,” jawabku sembari menyambar koran langganan Yu Minah. Wuidih, DL nya masih membahas soal inisial artis-artis yang terlibat prostitusi.

“Media itu curang ya, Jeng?” tanya Yu Minah tiba-tiba. Ulekannya yang menggemparkan meja benar-benar melumat dengan sadis cabai dan kawan-kawannya.

“Curang kenapa, Yu?”

“Lha itu, artis-artis yang diduga terlibat prostitusi itu semuanya pakai inisial nama. Kan, bisa menimbulkan fitnah!”

“Ya kan, masih jadi saksi, Yu, belum terdakwa.”

“Tapi menimbulkan fitnah! Itu yang inisial AA itu, Ahmad Albar, kan?” Hah? Aku terbahak sampai nyaris terguling dari kursi.

“Sampeyan ini, Jeng, kalau diajak bicara mesti gitu, ndak pernah serius. Lucunya di mana, coba?” omel Yu Minah. Jurus “Dewi Gunung Menebas Rumpun Bambu” membuat buah-buahan itu teriris menjadi batang-batang lembut. Ngeri juga.

“Sampeyan ya aneh kok, Yu! Masak iya Ahmad Albar?”

“Itu maksud saya, Jeng. Ngapain pakai inisial? Coba sampeyan perhatikan, kalau kasus korupsi, prostitusi artis, pasti nama diinisialkan. Mestinya sebutkan saja, supaya masyarakat jelas, ndak nuduh macam-macam pada orang yang mirip namanya. Jangan sampai nanti ada yang inisialnya sama malah ke-GR-an terus pakai nuntut-nuntut media. Nambah kisruh to? Hanya karena mau numpang ngetop? Dan lagi kan, bisa membuat efek malu. Wong keduanya memang memalukan!” Nah, kalau sudah ngomel begitu, aku memilih diam. Pura-pura baca.

“Gini lho, Jeng, kemarin itu ada juga berita dari Aceh. Sepasang kekasih terlihat berduaan atau bermesraan, ndak tahu mana yang benar, dijatuhi hukum cambuk. Tahu, nggak …?”

“Nggaaak …,” potongku hihihihi.

“Makanya saya beri tahu! Nama keduanya disebutkan dengan jelas tanpa I-N-I-S-I-A-L! Nah!” Yu Minah mulai mengaduk rujak serutku. Sumpah, aku kuatir! Semburannya itu lho, moga-moga gak masuk ke rujakku.

“Mungkin karena sudah terbukti bersalah, Yu.”

“Ah, saya ndak setuju. Kalau soal nama sebutkan saja, toh masyarakat pasti juga menebak-nebak. Apalagi sudah tertangkap tangan. Kalau di bawah umur sih, silakan saja disamarkan. Masa giliran pesohor, pejabat, pengusaha nama diinisialkan. Giliran rakyat biasa, maling ayam, nama dijembreng sepanjang rel sepur!”

Fiuh, untunglah rujakku sudah mulai dibungkus. Kalau gak, bisa sampai sore mendengar Yu Minah ngoceh. Aku meletakkan koran untuk mengambil uang. Tapi …

“Lho, Yu, ini ada inisial YM, kira-kira siapa, ya?”

“YM? Ah, ndak pernah dengar ada artis namanya gitu,” sahut Yu Minah sambil mengangsurkan bungkus rujak padaku.

“Ini lho, beritanya. Nih, tak bacain, ya. Tertangkap lagi seorang mucikari berinisial YM. Sehari-hari beroperas di warung rujak di daerah Bogor.”

“Wheeelhaadaaalllaaahhhh, sampeyan iniii, Jeeeeengg, ndak sopaaaannn!”

Aku terbirit-birit :mrgreen:

Yu_Minah_1
YM

Lukisan Cinta, Episode 20 (revised edition)

Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelambatan penulisan Lukisan Cinta ini 😀 Tulisan yang ini selain untuk mengingatkan kisah sebelumnya, juga untuk menunjukkan penambahan kisah yang sebelumnya belum ada 😀 Monggo silakan dinikmati 😉

BAB LIMA
KARANG

“Sesungguhnya karang marah pada samudera
Mengapa selalu mengempas dan mengikis?
Menyisakan bilur-bilur pedih siksa dera?
Namun karang menerima takdirnya tanpa tangis”

    Rini bersimpuh di depan tanah merah penuh bunga itu dengan mati rasa. Pelayat terakhir baru saja berlalu dengan sedu sedannya. Rini bahkan tak tahu lagi, siapa yang datang, siapa yang memeluknya, siapa yang terus menerus membisikkan kata penghiburan. Semua bagaikan dengungan lebah di telinganya, mengganggu namun tak bisa diusir. Ia hanya ingin berdua saja dengan Elang, meski bocah kecil itu tak lagi tampak mata.

   Elang, Elang, di mana kau, Nak? Mengapa tak kau jawab panggilan Mama? Gelapkah di dalam sana, Nak? Takutkah kau, Nak? Dinginkah? Jangan takut, Sayang, Mama di sini. Mama selalu ada untukmu, Sayang. Boboklah nyenyak, Nak, Mama sayang sekali sama Elang. Elang…Elang…

Baca lebih lanjut

Kutukan Eiffel

Berada di Paris adalah mimpi dalam mimpiku. Tidak terbayang sama sekali! Aku harus berterimakasih pada Adrian, putra mahkota pemilik jaringan rumah sakit besar tempat aku bekerja. Hanya karena asistennya tidak jadi ikut, maka aku yang harus mendampinginya menghadiri konferensi dokter bedah kosmetik seluruh dunia. Sayangnya, Adrian ini selain tampan, kaya raya, namun sombongnya tidak tahan! Sepanjang konferensi aku selalu menghindarinya, lebih baik berteman dengan para dokter dari seluruh belahan dunia, meski aku hanyalah dokter umum baru lulus.

Sayangnya, malam ini aku tidak bisa menghindarinya.

“Ini malam terakhir, aku mau kau ikut aku,” ujarnya. Ini bukan mengajak, tetapi bersabda.

“Ke mana, Dok?” tanyaku berusaha sesopan mungkin.

“Eiffel, tentu saja! Kau belum ke Paris kalau belum mengunjungi Eiffel!”

Yeah, siapa juga yang menolak? Setelah siang kemarin kami dan beberapa dokter kabur dari konferensi dan berjalan-jalan menyusuri Champ-Elysee, hingga ke Arc de Triomphe, setelah sebelumnya mengagumi senyum Monalisa di Museum Louvre.  Dan petangnya memandangi Katedral Notre Dame yang bergaya Gothic dengan Si Bongkok nya yang melegenda. Rupanya, Eiffel, tempat terindah ini menjadi destinasi kami di malam terakhir di Paris.

“Baiklah,” sahutku berusaha menyembunyikan gairah yang meletup-letup. Eiffel, I’m coming!

Dan malamnya, tak mampu aku berkata-kata melihat keindahan Eiffel. Menara besi itu seperti berselubung cahaya. Sungguh, ini tempat kaum pencinta.

“Mira, tahukah kau, mengapa kau yang kuajak ke mari?” bisiknya. Dingin menggigit, namun tiba-tiba pipiku memanas. Aku menggeleng lalu menatap matanya.

“Karena aku cinta kamu.” Jantungku melompat sampai puncak Eiffel!

“Maukah kau menjadi istriku?”

Aku tertunduk lalu mengangguk. Biarlah, meski harus menjadi yang kedua.

******

Words: 250, ikut giveaway Pesta Flash Fiction @NBC_IPB & @novellinaapsari

Kartu Sakti

Mendung menggantung sejak siang tadi, tapi hujan gak turun juga. Wah, sumuk nian. Kalo cuaca begini memang paling seger menyantap rujak serut Yu Minah yang sudah didinginkan 😋 Maka aku membuka kulkas, tapi sayang ternyata persediaan rujakku sudah habis 😢 Aku pun meluncur ke warung Yu Minah, semoga tidak sedang ramai.

Ah, untunglah tidak ramai. Tepat berpapasan dengan dua orang ibu yang berlalu membawa bungkusan rujak Yu Minah. Wajah mereka nampak keruh bahkan terlihat kesal. Mengapa, ya?

Setelah mengucapkan salam aku segera duduk di bangku favorit. Yu Minah yang sedang membereskan cobeknya membalas salamku dengan agak jutek juga. Ini kenapa, ya?

“Buatkan rujak serut, Yu, biasa pedes tapi gak banget.”

“Iya Jeng, jangan pesen yang pedes banget kayak ibu-ibu tadi. Wong cabe lagi mahal banget!” gerutu Yu Minah sembari menyiapkan bumbu sambal.

“Lho, memangnya kenapa, Yu?” tanyaku heran.

“Pelanggan itu kadang ndak mau ngerti, Jeng. Minta dibuatkan rujak yang pedes banget. Sudah tak kasih sak genggam cabenya eehh masih minta lagi. Kan saya jadi susah, memangnya ndak tahu apa, kalo cabe harganya lagi selangit?”

“Ooo, urusan cabe, to? Ya gimana lagi, Yu, kalau BBM naik ya pasti semua naik. Jangankan cuma cabe, kangkung aja pasti ikutan naik. Tapi kan, sudah ada kartu sakti, Yu, lumayan lah bisa memperingan hidup,” kataku sembari mengudap potongan bangkuang yang seger. Meski kali ini Yu Minah menggunakan jurus “Angin Topan Menggulung Gemunung”, aku masih bisa mencomot buahnya 😀

“Lhadallahh, kartu sakti yang mana, Jeng? Kartu Indonesia Pintar? Yo saya pasti ndak bakalan dapet, anak sudah kuliah, kok. Ndak tepat kartu yang itu buat saya! Kecuali kalo berlaku sampe anak kuliah juga digratisin. Untung saja Si Tole pinter cari duit tambahan, kalo ndak, bisa mumet saya.”

“Ya klo itu emang gak banyak membantu sih, Yu. Paling gak kan, ada kartu satu lagi, Kartu Indonesia Sehat. Lumayan Yu, bisa berobat gratis!”

“Gratis sih gratis, tapi antrinyaaaaa…ampuuunn… kalo cuma batuk pilek saya mending kerokan, Jeng,” gerutu Yu Minah sembari membungkus rujakku.

“Lha, masih ada satu kartu lagi, Yu. Kartu Keluarga Sejahtera, nah yang ini mungkin paling tepat buat masyarakat, ya?”

“Bisa jadi, tapi ada pakai SIM card segala, Jeng? Lha, kalo yang ndak punya HP, gimana? Mbok ya sekalian dikasih HP nya, ya, biar semakin meringankan. Lha, nanti uang bantuannya malah buat bayar utang beli HP? Hihihi…..”

“Sik..sik..sampeyan kok GR banget to, Yu? Kartu sakti tadi itu cuma buat golongan masyarakat miskin! Sampeyan kan, gak miskin! Masih bisa hidup enak, nguliahin anak!” 🙈

“Hah? Oh iya yaa…hehehe…tapi saya mangkel, Jeng, harga-harga sudah pada naik, padahal BBM aja belum jelas kapan naiknya! Saya jadi susah matok harga!” Yu Minah masih menggerutu sembari mengangsurkan bungkus rujak padaku. Aku segera memberinya uang pas.

“Eh, maaf Jeng, harganya sudah naik,” ujarnya malu-malu.

“Lho? Masa tiap tahun naik, Yu? Mau naik jadi berapa ini?” omelku kaget.

“Cuma nambah dua ribu saja, Jeng.”

“Wah Yu, tahu gak, rujak sampeyan ini rujak paling mahal sak Bogor! Malah mungkin sak Indonesia Raya!” gerutuku kesal sambil mencari-cari uang di dompet.

“Lha, gimana lagi? Kalo harga ndak naik tapi porsi dikurangi, pelanggan ngomel. Kalo harga ndak naik, saya yang rugi, Jeng!” Aku diam saja dan menyerahkan selembar uang dua ribu. Lain kali pikir-pikir deh, mahal banget!

“Jangan cemberut, Jeng. Wis, nanti tak kasih KSYM!”

“Apa itu?” tanyaku masih kesal.

“Kartu Sejahtera Yu Minah, ada banyak diskon di situ. Khusus pelanggan setia kayak sampeyan saya kasih gratis kartunya! Nah, jangan marah lagi yaaa….”

Dih! 😤

kartu diskon YM2

Bisul

sumber

“Pokoknya akhir bulan ini bantaran sungai itu harus sudah bersih! Jangan jadi bisul di tengah kota!” Pak Kada berteriak-teriak di ruang kerjanya. Seluruh staf ketakutan.

“Tapi, Pak…rusun tak bisa menampung mereka lagi,” kata seorang di antaranya.

“Kasih duit aja buat pulang kampung! Atur, dong!”

***************

Akhirnya, cita-cita Pak Kada menjadikan bantaran sungai menjadi seindah San Antonio River Walk terwujud. Para investor pendukung memujinya. Pembangunan apartemen mewah di sekitar sungailah tujuan utama. Apapun, Pak Kada sukses. Seluruh media cetak dan elektronik memujanya.

Dan pagi ini, Bu Kada berteriak histeris melihat suaminya terbaring penuh bisul di sekujur tubuhnya. Merah, besar dan bernanah!

****************

Words: 100

Yuuk, ikutan MFF Prompt #67: On the Riverside 😉

Ksatria Kuda Putih

Jika kau berkantor di Jakarta, Kawan, maka sebaiknya hari ini gak usah ngantor dulu. Karena hari ini adalah hari besar bangsa Indonesia. Kau tahu, kan? Wong aku saja yang berkantor di Jababeka ikutan gak masuk hahahaha… 😛

Daripada bengong di rumah, dan kebetulan sehubungan dengan acara dietku yang gak makan nasi, maka aku ngabur ke warung Yu Minah. Panas-panas gini enaknya nyruput rujak serut 😀

Setelah meneriakkan salam, aku langsung memilih bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede Gaban itu.

“Lho, tumben ndak ngantor, Jeng?” tanya Yu Minah setelah membalas salamku.

“Mau ikut pesta rakyat, Yu. Biasa ya, buatkan rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Baca lebih lanjut

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

Rinai telah berganti gerimis, menyisakan udara lembap yang menggantung, khas iklim tropis. Namun lelaki renta itu tak peduli, meski basah bajunya karena hujan dan keringat, ia kembali menuntun sepedanya yang sarat dengan rumput. Senyum terukir di wajahnya, semakin mempertegas keriput yang merata di seluruh wajah, seperti ombak yang menjilat bibir pantai. Teringat celoteh cucunya yang selalu menerbitkan bahagia.

“Aku pasti cantik pakai baju itu, Mbah Kung*),” cerianya ketika melewati toko baju di pasar. Tangan mungilnya menunjuk baju pink dari bahan kaus, bergambar lima orang putri terkenal dari negeri dongeng.

“Pasti, Nduk,” jawab lelaki renta itu tersenyum.

“Mbah Kung, belikan baju itu buatku, ya.”

“Iya, nanti kalau Mbah Kung dah punya uang, ya.”

“Ya, Mbah.” Percakapan itu seperti kaset rusak yang berhenti pada satu lirik saja, setiap ada pinta selalu ada janji yang tak pernah bisa ditepati. Namun sang cucu tak pernah menuntut kembali. Entah lupa entah mengerti.

Tapi kali ini lelaki renta itu telah menyisihkan pendapatan untuk mewujudkan keinginan cucu semata wayangnya. Hari ini, ia membawa sebanyak mungkin rumput untuk sapi-sapi sang juragan. Setidaknya uang yang didapatnya akan lebih dari biasa. Sedih bila mengingat nasib cucu cantiknya. Ibunya mati ketika melahirkannya. Bapaknya sudah pergi sejak ia masih bayi merah. Hanya lelaki itu dan istrinya yang ada. Tapi setahun lalu istrinya pun telah pergi untuk selamanya.

“Malang nasibmu, Nduk. Mbah Kung akan menjagamu sampai habis umur Mbah mu ini.” Sering ia ucapkan kata itu ketika mengusap dahi cucunya yang lelap di malam hari. Terkadang lelaki itu menangis tanpa air mata.

Semakin berat terasa sepedanya, namun entah mengapa semakin ringan hati membayangkan cucunya bahagia.

“Aku pusing, Mbah Kung,” keluh gadis kecil yang selalu ceria itu seminggu lalu. Lelaki renta itu memegang dahi cucunya.

“Agak panas, Nduk. Kamu ndak usah ikut Mbah Kung, ya. Istirahat saja di rumah.” Cucu penurut itu hanya mengangguk lalu berbaring di atas dipan tanpa kasur. Esoknya gadis kecil itu telah sembuh dari demam, meski dua hari kemudian demam lagi, lalu sembuh lagi.

Mungkin karena ia mendamba baju itu, demikian pemikiran sederhana sang kakek. Baju itu berharga empat puluh lima ribu. Hampir cukup uang ia kumpulkan, esok ia akan mengajak cucunya ke pasar.

“Kamu ingin sekali baju yang di pasar itu, Nduk?” tanyanya tadi pagi sebelum pergi. Demamnya sudah turun tapi masih lemas untuk ikut berkelana mencari rumput.

“Iya, Mbah, tapi udah ndak terlalu, kok. Aku ingin Mbah Kung di rumah saja hari ini, aku bosan sendirian,” keluh sang cucu.

“Mbah Kung harus kerja, Nduk Cah Ayu,” senyum lelaki renta itu penuh rahasia, “besok, kamu ikut Mbah Kung, ya. Nah, nanti makanlah bubur dan kecap di meja.”

Gubuk reyot dekat kandang sapi itu sudah di depan mata. Senyum semakin sumringah, menambah kerut-kerut indah di seluruh wajah. Ia menurunkan rumput di kandang lalu segera menemui juragan. Uang dua puluh ribu ia terima dengan kebahagiaan sepenuh hati.

“Nduk Cah Ayu, Mbah Kung pulang!” Dengan tertatih ia menghambur ke satu-satunya dipan di gubuk itu. Ah, cucunya tentu tertidur, lelah menunggunya.

“Nduk,” panggilnya lembut. Tangan keriputnya meraba pipi halus sang cucu. Dingin.

**********

Words: 499

Catatan:

*) Mbah Kung = Mbah Kakung = Kakek (bahasa Jawa)

Tulisan ini untuk Manday FlashFiction Prompt #65 Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Purnama

sumber

Senja semakin larut, penuh rasa bersalah aku mengikuti Gilang yang berjalan tergesa melewati jalan setapak.

Sorry, Lang, gara-gara aku kita tertinggal rombongan,” ujarku di antara napas memburu.

“Tenang saja,” sahutnya kalem.

Yeah, kami berdelapan bermaksud mendaki Merapi. Seharusnya sesore ini sudah tiba di pos pendakian dan mulai mendaki agar tepat terbit mentari kami sudah tiba di puncak. Tapi gara-gara perutku sakit, terpaksa aku ditinggal ditemani Gilang, kekasihku yang pendiam, ganteng, tapi baik hati. Heii, ini bukan modus! Memang perutku sakit sekali, mana sangka tiba-tiba aku mengalami dysmenorrhea?

Kini, malam benar-benar sempurna. Gilang menyalakan senternya, berusaha menembus malam.

“Untunglah malam ini purnama,” gumamku. Tiba-tiba Gilang menghentikan langkah sehingga aku menabraknya.

“Kita kembali saja, Liz, sudah jauh pula tertinggal,” katanya mengejutkan. Tentu saja aku protes.

“Heii, sudah sepertiga jalan begini. Ayo, ah!” Tanpa mengindahkan Gilang aku memimpin jalan di depan.

“Liz, berbahaya!”

“Apanya yang berbahaya?”

“Purnama!”

“Memangnya kenapa? Kau takut werewolf?” candaku. Dari kejauhan aku melihat tumpukan kayu yang menghalangi jalan. Nah, rupanya teman-teman meninggalkan tanda supaya kami tidak tersesat. Belum sempat melompati tumpukan kayu itu, aku terpana memandang cahaya yang menyerbu melewati pepohonan di atas kami.

Tiba-tiba tubuhku terasa aneh. Mataku tak lagi fokus, jalanku sempoyongan. Tumpukan kayu di depanku seperti berjalan-jalan. Samar, kulihat Gilang menyambar kayu paling besar dalam tumpukan itu.

“Jangan bergerak, Liz!” desisnya. Aku ketakutan. Aku merasa air liurku menetes-netes dan tubuhku panas. Demamkah? Belum sempat berpikir, kulihat Gilang mengayunkan kayu itu ke kepalaku.

“Maafkan aku, Liz.” Sempat kudengar Gilang berbisik sebelum aku jatuh berdebam. Aku merasa tubuhku begitu berat dan berbulu.

*********

Words: 260

Fiuuhh, wajar bila akan menuai kritik :mrgreen:

Yuukk, mareeee Prompt #64 Pile of Wood Stick di Monday FlashFiction 😉