Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

Rinai telah berganti gerimis, menyisakan udara lembap yang menggantung, khas iklim tropis. Namun lelaki renta itu tak peduli, meski basah bajunya karena hujan dan keringat, ia kembali menuntun sepedanya yang sarat dengan rumput. Senyum terukir di wajahnya, semakin mempertegas keriput yang merata di seluruh wajah, seperti ombak yang menjilat bibir pantai. Teringat celoteh cucunya yang selalu menerbitkan bahagia.

“Aku pasti cantik pakai baju itu, Mbah Kung*),” cerianya ketika melewati toko baju di pasar. Tangan mungilnya menunjuk baju pink dari bahan kaus, bergambar lima orang putri terkenal dari negeri dongeng.

“Pasti, Nduk,” jawab lelaki renta itu tersenyum.

“Mbah Kung, belikan baju itu buatku, ya.”

“Iya, nanti kalau Mbah Kung dah punya uang, ya.”

“Ya, Mbah.” Percakapan itu seperti kaset rusak yang berhenti pada satu lirik saja, setiap ada pinta selalu ada janji yang tak pernah bisa ditepati. Namun sang cucu tak pernah menuntut kembali. Entah lupa entah mengerti.

Tapi kali ini lelaki renta itu telah menyisihkan pendapatan untuk mewujudkan keinginan cucu semata wayangnya. Hari ini, ia membawa sebanyak mungkin rumput untuk sapi-sapi sang juragan. Setidaknya uang yang didapatnya akan lebih dari biasa. Sedih bila mengingat nasib cucu cantiknya. Ibunya mati ketika melahirkannya. Bapaknya sudah pergi sejak ia masih bayi merah. Hanya lelaki itu dan istrinya yang ada. Tapi setahun lalu istrinya pun telah pergi untuk selamanya.

“Malang nasibmu, Nduk. Mbah Kung akan menjagamu sampai habis umur Mbah mu ini.” Sering ia ucapkan kata itu ketika mengusap dahi cucunya yang lelap di malam hari. Terkadang lelaki itu menangis tanpa air mata.

Semakin berat terasa sepedanya, namun entah mengapa semakin ringan hati membayangkan cucunya bahagia.

“Aku pusing, Mbah Kung,” keluh gadis kecil yang selalu ceria itu seminggu lalu. Lelaki renta itu memegang dahi cucunya.

“Agak panas, Nduk. Kamu ndak usah ikut Mbah Kung, ya. Istirahat saja di rumah.” Cucu penurut itu hanya mengangguk lalu berbaring di atas dipan tanpa kasur. Esoknya gadis kecil itu telah sembuh dari demam, meski dua hari kemudian demam lagi, lalu sembuh lagi.

Mungkin karena ia mendamba baju itu, demikian pemikiran sederhana sang kakek. Baju itu berharga empat puluh lima ribu. Hampir cukup uang ia kumpulkan, esok ia akan mengajak cucunya ke pasar.

“Kamu ingin sekali baju yang di pasar itu, Nduk?” tanyanya tadi pagi sebelum pergi. Demamnya sudah turun tapi masih lemas untuk ikut berkelana mencari rumput.

“Iya, Mbah, tapi udah ndak terlalu, kok. Aku ingin Mbah Kung di rumah saja hari ini, aku bosan sendirian,” keluh sang cucu.

“Mbah Kung harus kerja, Nduk Cah Ayu,” senyum lelaki renta itu penuh rahasia, “besok, kamu ikut Mbah Kung, ya. Nah, nanti makanlah bubur dan kecap di meja.”

Gubuk reyot dekat kandang sapi itu sudah di depan mata. Senyum semakin sumringah, menambah kerut-kerut indah di seluruh wajah. Ia menurunkan rumput di kandang lalu segera menemui juragan. Uang dua puluh ribu ia terima dengan kebahagiaan sepenuh hati.

“Nduk Cah Ayu, Mbah Kung pulang!” Dengan tertatih ia menghambur ke satu-satunya dipan di gubuk itu. Ah, cucunya tentu tertidur, lelah menunggunya.

“Nduk,” panggilnya lembut. Tangan keriputnya meraba pipi halus sang cucu. Dingin.

**********

Words: 499

Catatan:

*) Mbah Kung = Mbah Kakung = Kakek (bahasa Jawa)

Tulisan ini untuk Manday FlashFiction Prompt #65 Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Purnama

sumber

Senja semakin larut, penuh rasa bersalah aku mengikuti Gilang yang berjalan tergesa melewati jalan setapak.

Sorry, Lang, gara-gara aku kita tertinggal rombongan,” ujarku di antara napas memburu.

“Tenang saja,” sahutnya kalem.

Yeah, kami berdelapan bermaksud mendaki Merapi. Seharusnya sesore ini sudah tiba di pos pendakian dan mulai mendaki agar tepat terbit mentari kami sudah tiba di puncak. Tapi gara-gara perutku sakit, terpaksa aku ditinggal ditemani Gilang, kekasihku yang pendiam, ganteng, tapi baik hati. Heii, ini bukan modus! Memang perutku sakit sekali, mana sangka tiba-tiba aku mengalami dysmenorrhea?

Kini, malam benar-benar sempurna. Gilang menyalakan senternya, berusaha menembus malam.

“Untunglah malam ini purnama,” gumamku. Tiba-tiba Gilang menghentikan langkah sehingga aku menabraknya.

“Kita kembali saja, Liz, sudah jauh pula tertinggal,” katanya mengejutkan. Tentu saja aku protes.

“Heii, sudah sepertiga jalan begini. Ayo, ah!” Tanpa mengindahkan Gilang aku memimpin jalan di depan.

“Liz, berbahaya!”

“Apanya yang berbahaya?”

“Purnama!”

“Memangnya kenapa? Kau takut werewolf?” candaku. Dari kejauhan aku melihat tumpukan kayu yang menghalangi jalan. Nah, rupanya teman-teman meninggalkan tanda supaya kami tidak tersesat. Belum sempat melompati tumpukan kayu itu, aku terpana memandang cahaya yang menyerbu melewati pepohonan di atas kami.

Tiba-tiba tubuhku terasa aneh. Mataku tak lagi fokus, jalanku sempoyongan. Tumpukan kayu di depanku seperti berjalan-jalan. Samar, kulihat Gilang menyambar kayu paling besar dalam tumpukan itu.

“Jangan bergerak, Liz!” desisnya. Aku ketakutan. Aku merasa air liurku menetes-netes dan tubuhku panas. Demamkah? Belum sempat berpikir, kulihat Gilang mengayunkan kayu itu ke kepalaku.

“Maafkan aku, Liz.” Sempat kudengar Gilang berbisik sebelum aku jatuh berdebam. Aku merasa tubuhku begitu berat dan berbulu.

*********

Words: 260

Fiuuhh, wajar bila akan menuai kritik :mrgreen:

Yuukk, mareeee Prompt #64 Pile of Wood Stick di Monday FlashFiction 😉

 

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Risalah Cinta

Namanya Nurlela, pindahan dari Batavia. Cantiknya, amboi… tak tahan setiap pemuda dibuatnya. Ke mana-mana selalu membawa kucing lucu bernama Mia. Mengapa tak Si Manis atau Si Belang? Entahlah, coba saja kau tanya padanya. Layaknya pejantan, aku pun terpesona akan moleknya. Tapi seperti pungguk merindukan bulan tentu saja. Coba kau bayangkan, Nurlela begitu cantik, suaranya mendayu bila berkata-kata. Sementara aku bujang lapuk, tak pula bisa bicara. Seringkali aku iri hati pada Mia. Andai saja aku yang dipeluknya, dielusnya, dikecupnya.

Sore ini, seperti biasa kulihat Nurlela dan Mia duduk di beranda. Ragu kudekati pagar rumahnya. Lihat, Nurlela tengah berdendang dengan Mia pada pangkuannya. Iri, sungguh iri hati aku jadinya. Kucoba curi perhatian dengan berdiri pada tengah pagar. Ahai, tak sia-sia! Nurlela mendongak dan berseri wajahnya.

“Rahul, mari singgah,” serunya melagu. Berdebar dadaku namun segera kuhampiri pujaan hatiku. Nurlela menepuk-nepuk sebelahnya, tanda aku boleh duduk di sisinya. Ini yang kutunggu-tunggu, maka tanpa ragu segera aku menerima tawarannya.

“Ahai, Rahul…Rahul, mengapa engkau bernama demikian? Lucu nian terdengar di telinga, seperti orang India,” kikiknya geli. Biar saja, aku tak tersinggung justru senang membuatnya gembira. Andai aku bisa bicara. Melihatnya begitu riang, aku dekatkan tubuhku padanya sehingga sedikit menyentuh lengannya yang halus laksana sutera. Terdengar Mia menggerung marah. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan? Sedikit kugeser tubuhku dengan kesal. Mengapa Mia marah sementara Nurlela tak keberatan?

“Mengapa engkau menggeram, Mia? Dia Rahul, kita sering jumpa dengannya, kan?” rayu Nurlela pada Mia. Kesal sekali aku dibuatnya. Mia memejam-mejamkan matanya nikmat karena elusan tangan Nurlela. Baiklah, aku harus bergerak cepat. Malam nanti, aku akan melagukan risalah cinta untuk Nurlela, tentu saja di bawah jendela kamar tidurnya, seperti kulihat Bang Zulham merayu Soraya. Dan kau, Mia, bersiaplah untuk menjadi yang kedua!

**********

Maka Kawan, seperti janjiku, malam ini aku mendatangi rumah Nurlela. Biar aku tak pandai bicara, tapi aku masih bisa bersuara. Setelah berdehem, aku mulai melagukan risalah cinta untuk Nurlela.

Aduhai, Nurlela kekasihku
Elok parasmu, elok budi bahasamu
Membuatku mabuk kepayang, jatuh hati tiada kepalang
Sudikah engkau menerima cintaku
Yang setinggi gunung dan seluas angkasa?
Aduhai…

 Belum selesai aku melagu, sepasang sandal jepit melayang, diiringi sumpah serapah.

“Husy! Pergi kau, Kucing Garong! Suaramu buruk tak terkira!” Ayah Nurlela berteriak dari jendela.

*****

Words: 370

Tulisan ini untuk Monday FlashFiction Prompt #63 Si Mata Hijau

😉

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Confession

sketsa oleh Carolina Ratri
sketsa oleh Carolina Ratri

Kami berlima duduk bergandengan tangan, mengelilingi sebuah meja bundar. Ruangan sangat gelap dan dingin. Satu-satunya penerangan hanya dari cahaya monitor laptop di tengah meja.

Lo yakin mau melakukannya, May?” tanya Devi. Ia yang akan memimpin upacara bertemu arwah ini. Tengkukku mulai meremang dan jantungku berlompatan.

“Batalkan saja, May. Ikhlaskan, biarkan dia tenang di sana,” bisik Anna di sebelahku. Ikhlas? Tentu saja aku ikhlas. Aku hanya tak kuasa menahan rindu yang menusuk ini, menghunjam hingga ke jantung, meracuni setiap hela nafasku, dan sakitnya tak tertahankan.

“Iya, May. Iihh, serem, nih!” Intan berujar dari seberang meja. Kutatap sahabatku satu per satu. Anna, Susan, Intan, Devi. Mereka tidak tahu rasanya ditinggal kekasih dalam keadaan menggantung. Raka kecelakaan setelah kami bertengkar hebat. Mereka tak mengerti penyesalan yang kualami, luar biasa pedih! Aku hanya ingin bertemu Raka, sekali lagi saja. Aku hanya ingin minta maaf telah menuduhnya tanpa ampun. Aku hanya ingin melihat senyumnya, mendengar suaranya, dan mengucapkan selamat tinggal. Setelah itu, aku akan menempatkannya di pojok paling pojok dalam hatiku. Jarak antara kami sudah tak mungkin lagi terjangkau. Namun setidaknya, pertemuan ini akan memusnahkan rinduku.

“Lanjutkan, Dev,” kataku mantap. Kurasakan genggaman Anna mengencang, keringat mulai membasahi telapaknya. Aku pun takut.

Oke, Girls. Pejamkan mata kalian, tetap saling bergandengan. Aku akan merapal beberapa mantra. Jika berhasil, Raka akan muncul dalam monitor. Lo boleh membuka mata, May. Katakan apa yang ingin lo bilang, bisa jadi Raka akan mengerti bisa juga tidak. Biasanya arwah hanya ingin menyapa orang yang paling ingin ditemuinya. Tetap bergandengan, jika terlepas arwah akan lenyap. Ready, Girls?” Hanya aku yang mengangguk. Desahan ngeri para sahabatku tak menyurutkan niatku.

Let’s do it. Pejamkan mata kalian, genggam yang erat.” Devi mulai memimpin upacara ini. Aku merasakan tangan Anna dan Intan bergetar dalam genggamanku. Aku pun sama takutnya dengan mereka. Devi merapal mantra demi mantra, mula-mula lembut, lalu semakin keras dan keras. Kemudian, entah darimana muncul angin yang bertiup menyibak rambut-rambut kami. Sekujur bulu tubuh kami meremang. Lalu, suara bip panjang datang dari laptop. Aku membuka mata. Seketika air mataku menetes, wajah tampan itu muncul di layar. Kabur pada awalnya, tapi lalu tampak nyata. Tatapannya, senyumnya, ia hidup!

“Raka…,” bisikku. Pria itu menatap ke arahku, seperti mendengar panggilku. Tapi, mengapa ia diam?

“Raka…maafkan aku,” bisikku lagi. Raka tetap diam mendengar suaraku. Keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu.

“Aku…aku gak bermaksud menuduhmu, aku menyesal, Sayang.” Aku mulai mengisak tak terkendali. Genggaman Anna terasa mengencang lalu menggigil. Raka masih mengerutkan keningnya.

“Ini aku, Maya, kau mengenaliku, bukan?” Tapi Raka berpaling dariku. Pandangannya beralih ke Intan, lalu ke Anna. Kemudian senyumnya mengembang.

“Anna, aku rindu sekali.” Suara Raka bergaung, menggema ke seluruh ruangan. Aku terpana. Hatiku pecah berantakan.

********

Words: 440

Monday Flash Fiction: Prompt #61: Jarak yang Terkutuk

Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Cinta Pertama

Sebentar lagi, ia akan lewat di depanku, persis seperti sebulan belakangan ini sejak ia pindah di dekatku. Biasanya, jantungku yang telah lama mati rasa akan kembali berdegup. Kadang aku takut jika degup ini terdengar olehnya, atau pendar-pendar di dadaku akan menyilaukannya. Atau sesekali aku cemas, jika kilau di mataku -yang entah sejak kapan kembali padaku- akan mengalahkan bintang di atas sana. Sesungguhnya aku ingin dia tahu sekaligus aku tak mau ia tahu. Ah, rumit!

Nah, aroma wangi itu mulai menguar, tanda gadis cantik pujaan hatiku telah semakin dekat. Cepat kusembunyikan detak jantungku. Kutata wajahku agar sedikit lebih menarik. Malam ini, kuputuskan untuk menegurnya. Itu dia! Seperti biasa, jalan tanpa suara dengan wajah tertunduk. Rambutnya panjang berkibaran tertiup angin. Cantik luar biasa!

“Hhh…hai,” sapaku gagap. Ia berhenti, melirikku sekejap lalu tertunduk lagi.

“Hai,” sahutnya lirih. Nyaris jantungku terlompat sampai ke bulan. Suaranya merdu sekali, meski hanya berkata “hai”?

“Mau ke mana? Bolehkah kutemani?” tanyaku semakin berani. Ia hanya mengangguk lalu meneruskan jalannya yang tanpa suara. Tanpa sadar aku melompat kegirangan dan terus melompat mendampinginya.

“Malam ini sepi sekali, ya,” kataku mencoba menjalin cakap.

“Iya,” sahutnya merdu. Tak tahan sekali aku, ingin melamarnya malam ini juga. Hah! Mimpi!

“Boleh aku tahu namamu?”

“Rani.”

“Aku Doni,” kataku tanpa mengulurkan tangan. Yah, kini ia telah satu langkah di depanku. Tertatih aku mencoba mengimbanginya.

“Rani, bolehkah aku mengatakan sesuatu?” tanyaku semakin berani. Biar andai ia marah, aku hanya ingin menyatakan cinta untuk pertama kalinya.

“Katakan saja,” jawabnya lalu berhenti dan berbalik menghadapku. Wajahnya tengadah, cantik yang tak terlukiskan, meski wajahnya sedikit pucat dan senyumnya tipis bergetar. Lagi-lagi jantungku melompat-lompat tak mau diam.

“Ehh…sepertinya err…aku jatuh cinta padamu, Ran,” bisikku. Sesaat Rani terlihat kaget, tapi lalu tertawa kecil.

“Mengapa? Sedangkan kita baru saja berkenalan?”

“Entahlah, kamu sangat cantik,” jawabku parau. Apapun jawabannya, aku siap.

Senyumnya yang tipis mengembang. Sempat kulihat rona merah jambu di pipinya.

“Maukah kau menerima cintaku?” tanyaku nekat luar biasa. Rani memandangiku dengan sedih.

“Maaf, Doni. Saat ini, aku pun tengah menunggu cintaku. Dia berjanji akan segera menyusulku dan aku berjanji untuk setia menunggunya,” katanya lirih. Sekilas tangannya menyentuh lenganku lalu pergi, masih tanpa suara.

Ingin aku menangis. Ia menolakku? Oh, sial! Mengapa cinta pertamaku selalu gagal? Bahkan kini, setelah aku mati?

************

Words: 369

Mencoba peruntungan di @RedCarra hehehe….

 

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Ketawa dulu

m&m: Cantik atau Kaya?

M&MMenil : Nul, kalo dikasih kesempatan mengulang hidup, kamu pilih mana, jadi kaya atau cantik?

Menul : Hmm, jadi kaya aja, deh! Kan kalo kaya bisa bikin cantik. Bisa operasi body jadi kayak barbie, muka bisa disamain ama Jennifer Dunn, hehehe…

Menil : Huuuu, dosa tau operasi-operasiaaan! Kalo aku sih mending jadi cantik, karena kalo cantik kan bisa dapet orang kayaaaa… weekkk….

Menul : Huuuuu, samaaaa….  dosa juga tauuuu!

Menil  : Lha, kok bisa? Darimana dosanya?

Menul : Lha iyaa, dapet orang kaya, dibeliin mobil mewah, transfer tiap bulan ratusan juta, kalo udah ditangkap KPK wakakaka…. 😆

Menil  : Huh! 😡

JenDunn
Mbaknya diculik dari Google :mrgreen:

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Ketawa dulu

m&m: Di Rumah Sakit

M&MMenil  : Nul, bilang dokter dong, infusnya dicabut aja. Pegel, nih…hikss….

Menul : Sabar, Nil. Kamu kan lagi sakit, mana gak mau makan pula. Ini buat pengganti asupan nutrisi.

Menil  : Hiks… bosen dan pegel nih, lagian isinya cuma cairan doanggg…hiks…

Menul : Ehh, itu kan bukan sembarang cairan. Gini deh, biar kamu gak bosen, nanti aku minta dokter infus rasa rendang yaaa….

Menil  : Huwaaaaa….. sad0144 Free Sad Emoticons

Menul : Lho, kok malah nangis kenceng?

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja · Ketawa dulu

m&m: Mencari Kehangatan

M&M Menil  : Brrr… hujan-hujan gini enaknya makan yang anget-anget kali ya, Nul?

Menul  : Yooiii, anget dan seger…

Menil   : Makan bakso aja, yuuk!

Menul  : Hayuukk….

Di warung bakso langganan yang enaaakk, baksonya gede-gede, kuahnya seger, yang jual dermawan suka nambahin baksonya, krupuknya renyaahh… (Narator! Shut up!!!)

Menil   : Bakso dua, Pak, gak pake mie yaa. Kamu mo minum apa, Nul?”

Menul  : Es teler anget, deh!

Menil   : Haahh??

Menul  : Kan mau yang anget-anget segerrrr?

Menil   : Kamu kali yang anget! 😡

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Ketawa dulu

m&m: Kredit

M&MMenul : Nil, ada tas bagus-bagus, nih! Aku ambil dari Vina, dari Italy katanya.

Menil  : Waahh, bagus-bagus yaa, tapi kok mahal amat?

Menul : Yee, namanya juga dari luwar negri!

Menil  : Bisa kredit gak, nih?

Menul : Bisaaa, tenang ajaaa.

Menil  : Asyeek! Berapa kali bayar, Nul?

Menul : Mmm, ya terserah sih, mo bayar berapa kali, yang penting ntar sore lunas!

Menil  : Gubrak!!! (&&^%%&^$%&^(*+)(&(*