Bullying di Mobil Jemputan

Beberapa minggu lalu, di suatu Senin yang basah, aku menyaksikan peristiwa yang membuat hatiku tergayuti mendung hitam, yang akhirnya menyeruak hingga mataku bergerimis sad0049 Free Sad Emoticons (ngopo to yo?)

Jadi ceritanya, hari Selasa aku selalu berangkat lebih pagi dari biasanya. Tetapi karena hujan sejak malam, jalanan keluar kompleks luar biasa macet. Nah, di depanku ada mobil jemputan. Entah dari sekolah mana, karena tidak ada nama sekolah maupun alamat. Sepertinya jemputan yang dikelola oleh pribadi bukan oleh sekolah. Seperti umumnya jemputan, mobil ini sudah dimodifikasi sehingga bangku penumpang dibuat berhadapan seperti mikrolet. Duduk paling mentok belakang, adalah seorang anak laki-laki yang tampangnya ganteng, badan pun cukup proporsional, sebut saja namanya Boy. Sepertinya anak SMP atau SD kelas VI. Di seberangnya ada anak-anak yang lebih besar badannya.

Baca lebih lanjut

PIM: Senja

oldman on wheelchair

“Sudah petang, Pak, masuk yuk?”

“Ndak, Bu. Siapa tahu mereka kena macet.”

“Tunggu di dalam saja, anginnya dingin lho, Pak.”

“Biar, aku kangen banget sama cucu-cucu,” sahutnya dengan bibir tersenyum dan pendar mata penuh rindu. Istrinya menghela napas lalu masuk.

Sejam berlalu.

“Bu, bawa aku masuk,” pintanya lesu. Istrinya mendorong kursi roda kembali ke kamar.

“Kalau bisa, aku yang berkunjung,” keluhnya. Istrinya berkaca-kaca.

banner-kontes-unggulan-63-300x214

 

PIM: Soulmate

Hari ini adalah peringatan 100 hari meninggalnya Papa tercinta. Sayangnya, hanya Ibu dan Mbakyune yang bisa nyekar ke Yogya. Namun kami, adik-adik mengadakan sembahyangan di rumah Papa. Juga ujub misa di beberapa gereja untuk mohon doa bagi Papa. Aku ingin menulis mengenai Ibu di postingan kali ini. Ibu, belahan jiwa Papa.

Sejak kepergian Papa, Ibu seringkali sakit-sakitan. Ibu memang punya DM, namun terkontrol dan tak pernah terlambat berobat. Namun belakangan Ibu sering mengeluh pusing dan tensi pun lumayan tinggi. Ibu juga sering mengeluh tak bisa tidur jika malam tiba. Sempat tertidur tapi lalu terbangun tengah malam dan gak bisa bobok sampai menjelang subuh. Hingga akhirnya Mbakayune menyarankan Ibu untuk general medical check up. Kalo gak salah yang utamanya pengecekan cardiovascular. Ternyata hasil semua baik, kecuali gula sedikit tinggi. Jadi kemungkinan besar adalah karena pikiran 😦

Hari Minggu lalu aku sempat ngobrol dengan Ibunda. Dan Ibunda pun curhat bahwa meski sudah ikhlas, namun Ibunda masih kepikiran Papa terus. Ibu merasa kesepian dan sangat kehilangan. Aku sangat mengerti, sudah sangat lama mereka berdua tak terpisahkan. Dan terutama, ternyata Ibu takut tanpa Papa! Ibu merasa tidak aman, merasa tidak ada lagi yang melindungi, merasa tidak ada lagi yang mengayomi. Hiks…dan aku sangat mengerti itu.

Ibu lalu bercerita. Dulu, sewaktu masih di Semarang, dengan rumah yang sangat luas dan hanya mereka berdua, Ibu tak pernah merasa takut. Bahkan suatu kali pernah tengah malam, hujan deras dan geludug besar tiba-tiba lampu mati. Maka hanya dengan lampu senter, Ibu turun ke garasi untuk mengecek sekering. Namun sebelumnya Ibu meminta Papa untuk menemani. Papa, dengan segala keterbatasannya, hanya bisa menunggui Ibu di ujung tangga. Tapi Ibu tidak takut turun dan merasa aman, meski Papa hanya berdiri di atas, di ujung tangga. Dan benarlah, ternyata setelah dibetulkan lampu kembali menyala.

Lalu pernah sekali waktu, di kebun samping, masih di rumah Semarang juga, Ibu menemukan ular kecil di dekat mesin cuci. Di atas rumah Papa memang ada rumah lama yang tidak dihuni dan semaknya luar biasa penuh. Kebetulan di daerah situ memang pembangunan rumahnya mengikuti kontur tanah. Sehingga ada yang di atas ada yang di bawah 🙂

Nah, Ibu lalu meminta tolong Papa karena Ibu takut. Papa dengan heroiknya, meski tertatih-tatih, mengusir ular itu dengan tongkatnya tanpa rasa takut sedikitpun. Lalu ular itu dibuang ke kebun bawah dan kabur keluar. Itu hanya beberapa contoh kecil. Namun dari situ aku tahu, bahwa Ibu dan Papa saling bergantung karena mereka hanya berdua saja. Papa, dengan stroke nya selalu berusaha menjadi lelaki kuat sandaran kekasihnya. Dan Ibu, dalam hal-hal tertentu sangat mengandalkan Papa sebagai pahlawannya. Hiks… (I’m crying, my friend 😥 )

Maka aku sangat mengerti ketakutan Ibu sekarang. Karena separuh jiwa Ibu telah berpulang. Separuh hidupnya telah kosong. Tak ada yang bisa menggantikan kehadiran Papa, meski kami anak dan cucu selalu mengunjungi Ibu di setiap kesempatan. Ibu juga bercerita, setiap malam ketika terbangun untuk pipis, Ibu selalu menengok kamar Papa. Dulu selalu ada Papa yang sedang menonton bola, selalu ada Papa yang sedang lelap. Ibu tak pernah takut. Tak pernah sepi meski hanya berdua.

Pernah aku datang ke rumah Ibu petang hari. Kudapati Ibu sedang makan malam. Sendirian di meja makan. Nyaris air mataku tumpah. Biasanya selalu makan dengan Papa, meski kadang Papa lebih memilih terlambat makan, tapi setidaknya Ibu tidak sendiri. Memang Ibu tidak benar-benar sendiri. Ada ART, tapi masih sangat muda sehingga lebih sering berteleponria di kamarnya. Duh, Ibu, aku sangat mengerti kesepianmu.

Sudah ratusan kali, kami meminta Ibu untuk tinggal bersama salah satu dari kami. Terserah mau berapa lama, bergantian Ibu mau tinggal di mana. Tapi Ibu tidak mau. Beliau lebih memilih tinggal di rumah kenangan. Ibu pernah bilang, nanti setelah seribu hari Papa, Ibu mau mempertimbangkan untuk tinggal di salah satu dari kami. Tapi untuk saat ini, Ibu belum mau. Meski hanya sehari dua hari. Karena Ibu takut jika sudah kembali ke rumah perlu beradaptasi lagi.

Ah, Ibuku Sayang, yang kuat ya. Kami semua juga sangat kehilangan Papa, tapi mungkin Ibu yang paling kehilangan. Kami selalu mendoakanmu, Ibu, hanya kau satu-satunya orang tua yang kami miliki sekarang. Kami akan menjagamu sepenuh hati, sekuat kami, semampu kami. Kami semua mencintaimu. Kuatlah untuk kami. Aku cinta padamu, Ibu…

IMG-20130120-WA0003
Selalu berusaha menghibur Yangtie di setiap kesempatan 😀

PiM: Blue Christmas

Meski Natal ini tak sama lagi, dan takkan pernah sama
Tak ada lagi Papa yang lebih dulu rapi dan siap
Tak ada lagi Papa yang ganteng dengan kemeja batiknya
Tak ada lagi kursi roda yang menyempil di barisan umat
Aku akan mencoba bersuka

Apa pun, ini adalah Natal
Selayaknya kita bergita
Kuselipkan ah tidak, bahkan kudaraskan
Doa untukmu, Pa
Agar bahagia menyambutmu di surga

“Selamat Natal bagi Kawan yang merayakan.

Damai dan sukacita beserta kita semua”

Selagi Masih Bisa

Sudah beberapa tulisan kubuat untuk mengenang Papa tercinta. Bukan bermaksud meratapi kepergiannya atau tidak ikhlas melepasnya. Tulisan-tulisan yang kubuat adalah salah satu terapi untuk mengobati rasa kehilanganku. Aku memang sangat dekat dengan Papa. Namun justru menjelang kepulangannya aku malah kurang peka dan tak mengunjunginya.

Kawan, selagi kau masih bisa memeluk orang tuamu, maka peluklah. Selagi kau masih bisa bercanda dengan orang tuamu, maka tertawalah. Selagi kau masih bisa mencium tangannya, maka ciumlah. Dan selagi kau masih bisa mengunjungi mereka, maka kunjungilah. Jika jarak menjadi masalah, maka teleponlah. Karena orang tua kita semakin tua, dan maut datang bagai pencuri. Tak pernah ada yang tahu dan tak pernah ada yang bisa mempersiapkannya.

Ada komentar menarik dari sahabat di beberapa tulisanku mengenang Papa. Ada yang berterimakasih karena mengingatkannya untuk berusaha memahami orang tua. Ada juga yang bercerita mengenai ayah yang over protective. Semua itu pun aku sudah alami. Aku bersyukur, sekeras apapun ayahku mendidikku, beliau tak pernah menggunakan tangannya. Dan rasanya aku memang jarang dimarahi Papa, baik sewaktu kecil apalagi setelah dewasa. Maka rasanya tak ada kenangan buruk tentang Papa.

Namun tentu tak semua keluarga mengalami hal demikian. Ada juga kekurangharmonisan antara ayah dan anak, atau ibu dan anak. Maka Kawan, sebelum segalanya terlambat aku berbagi kepadamu.

Jika orang tuamu berlaku keras padamu, pahamilah. Kelak setelah menjadi orang tua, kau akan mengerti.

Jika orang tuamu turut andil dalam ketidakbahagiaanmu, maafkanlah. Sebenarnya tujuan mereka hanya kebahagiaanmu.

Jika orang tuamu merasa paling tahu akan hidupmu, mengertilah. Mereka yang membesarkanmu dan tentu lebih berpengalaman darimu.

Jika orang tuamu mengekang langkahmu, ampunilah. Mereka hanya tak ingin kau terjerumus dalam kesusahan.

Jika orang tuamu mengatur kehidupanmu, maklumilah. Bagi mereka, kau akan selamanya menjadi anak tersayangnya.

Jika orang tuamu menyakiti hatimu, bukalah pintu maaf selebar-lebarnya. Mereka hanya tak tahu bagaimana mengungkapkan cinta sesuai keinginanmu.

Percayalah Kawan, meski kita takkan pernah tahu kapan maut menjemput, tetapi setidaknya kita tahu bahwa kematian adalah sebuah kepastian. Karenanya, sayangilah orang tuamu, pasanganmu, anak-anakmu, dan sahabat-sahabatmu. Berpikirlah sebelum kau menyakiti hati mereka. Karena, biarlah yang indah saja yang akan menjadi kenangan untuk mereka, ketika pada akhirnya aku, kau, atau mereka yang akan lebih dulu meninggalkan kita.

Pulang nanti, peluklah ayahmu, ibumu, pasanganmu, saudara-saudarimu, dan anak-anakmu. Lupakanlah segala perbuatan yang tak berkenan padamu. Rendahkan hati untuk memaafkan. Maka, hidup ini akan indah dan terasa ringan. Percayalah!

Papa, In Memoriam: Teka-teki

Menjelang dua hari memperingati 7 hari berpulangnya Papa, Ibu mengirim WAM kepada kami. Tulis Ibu: Teka-teki itu terjawab sudah!Tentu saja kami bingung, teka-teki apa yang dimaksud oleh Ibu. Lalu Ibu menjelaskan kepada kami. Dan kami sangat terharu dan berterimakasih.

Kawan, tak seorangpun tentu punya pengalaman kehilangan orang yang dicintai. Jikapun ada yang sudah pernah mengalami kehilangan lebih dari sekali, tetap saja takkan pernah bisa mengurus segala hal. Seperti pernah ditulis oleh OmNH ketika Ayahandanya berpulang, para tetanggalah yang banyak membantu. Itu juga yang kami alami.

Pada hari kepergian Papa, aku tak beranjak dari kamar Papa sampai ada kekasihku dan adikku datang. Begitu mereka datang dan bergantian menjaga Papa, akupun mandi. Dan betapa terkejutnya aku ketika keluar kamar Papa. Di depan rumah Papa tiba-tiba sudah banyak kursi dan sudah pula pasang tenda. Lalu ruang tamu juga sudah ditata agar bisa menerima banyak tamu. Karena kami penganut Katolik, maka dari lingkungan Katolik mempersiapkan bunga, memanggil Romo, memesan peti, dll. Hal yang sama sekali tak terlintas di kepala untuk memikirkan itu semua. Sementara dari tetangga yang muslim, sungguh luar biasa. Inilah yang menjadi teka-teki buat Ibu.

Siang hari, selesai misa atau bahkan sebelumnya, aku gak tahu, tiba-tiba di meja makan sudah terhidang makanan. Ada aneka lauk-pauk yang entah darimana datangnya. Makanan ini dipersiapkan bagi kami dan keluarga yang datang dari jauh, bahkan juga untuk para tamu yang setia mendampingi kami hingga Papa diberangkatkan ke Yogya. Hal yang lagi-lagi tak terpikirkan oleh kami. Bahkan meski begitu banyak hidangan, tak bisa aku menelan. Rupanya aneka hidangan ini disiapkan oleh ibu-ibu dari lingkungan RT. Dimana sebagian besar dari mereka adalah muslim. Darimana kami tahu? Karena mereka mendatangi Ibu dua hari menjelang misa 7 hari untuk Papa. Ibu-ibu yang semuanya berkerudung itu menyerahkan sisa dana dari masak-memasak kepada Ibu. Tak kuasa Ibu menahan tangis. Karena selama ini Ibu bertanya-tanya siapakah yang menyiapkan makanan itu? Bahkan mereka menyerahkan pula dana sisa memasak. Padahal darimana dana itu pun Ibu gak tahu. Sungguh kehidupan bertetangga yang luar biasa.

Demikian juga ketika sore hari Ibu dan kami para anak perempuan mesti bergegas ke bandara. Lalu para anak laki mengiringi jenasah berangkat ke Yogya, siapa yang membereskan segalanya? Para Bapak itulah tentu yang mengkoordinir segala sesuatunya.

Aku melihat betapa indahnya hidup saling berbagi seperti ini. Tanpa memandang agama, suku, semua bersatu membantu yang kesusahan. Para Bapak yang koor, tentu mereka ijin dari kantor untuk bisa mengunjukkan misa bagi Papa. Para Bapak beragama muslim yang dengan setia membantu segala sesuatunya, mereka juga pasti ijin tidak masuk kantor. Para Ibu yang tentu saja meninggalkan kegiatan rumah tangganya demi membantu kami. Dan ketika misa dimulai, kekasihku dan para tamu muslim meminta pamit untuk melaksanakan shalat Jumat karena waktu yang nyaris bersamaan.

Lihatlah, Pah, banyak yang mendoakanmu. Ini tentu buah dari kebaikanmu sejak dulu, yang tak pernah mempermasalahkan siapa beragama apa atau siapa bersuku apa. Bahkan menantu Papa pun beraneka macam bukan? 😀 Sehari-hari kehidupan Papa juga ramah dengan tetangga. Selalu menyapa siapapun yang lewat jika Papa duduk-duduk di teras.

Dulu ketika Papa jatuh dan harus operasi di Bekasi, tetangga pula yang mengantar Papa dengan ambulance, karena tak satupun dari putramu ada di Semarang. Bahkan Pak Sahid yang mengantar Papa jauh lebih sepuh dan lebih dulu pula dipanggil Tuhan. Persahabatan itu indah ya, Pah. Saling setia dan saling mendampingi itulah prinsip yang diajarkan Papa.

Terimakasih Pah, atas pelajaran berharga ini. Kami pun tak pernah mempermasalahkan agama, karena keyakinan adalah hubungan pribadi dengan Tuhan Allah. Tak seorangpun boleh memaksakan kehendak atau saling mengusik.

Maka, kami sekeluarga sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu melancarkan kepergian Papa. Ibu dan kami tak sempat juga menyampaikan rasa terimakasih satu per satu. Namun, kami berdoa bagi semua agar Tuhan membalas kebaikan Bapak Ibu dan seluruh pihak. Dan semoga persahabatan ini abadi hingga maut memisahkan. Terimakasih. Rest in peace, Pah.

Papa, In Memoriam: Peka

Papa adalah pribadi yang sangat peka, terutama bila menyangkut istri, anak, dan cucu. Peka dalam artian tahu apa yang kami rasakan. Sedang sedihkah, sakitkah, marahkah, bahkan jika sedang gak punya uang 🙂

Ada satu atau bahkan banyak cerita lucu menyangkut kepekaan Papa ini. Pernah suatu kali aku datang ke rumah Papa seperti biasa. Oh ya, aku sering menunggui Papa seharian di hari Sabtu. Atau setengah hari di hari Minggu. Nah, pada saat itu kok ya penggajian dari kantorku terlambat, yang seharusnya Jumat tetapi aku belum terima gaji. Masih ada siy sebetulnya kalo hanya untuk bertahan hidup 😛 Tetapi gak enak juga kan pegang uang pas-pasan 😀

Siang itu Papa minta antar ke ATM. Papa memang pada dasarnya senang berjalan-jalan, meski cuma isi bensin, cuci mobil atau sekedar putar-putar dengan mobil tua kesayangannya. Maka aku pun pergi mengantar Papa. Tentu saja aku yang mengambilkan, karena stroke Papa sudah susah beraktifitas. Apalagi usianya yang sudah sepuh. Selesai ambil uang, masih di dalam mobil tiba-tiba Papa memberiku sebagian uang itu. Tentu saja aku menolak. Tapi Papa memaksa, kata Papa untuk jajan sama anak-anak. Padahal lumayan banyak lho 😀

Ya ampuuuun, aku terharu sekali. Kok Papa tahu ya aku lagi bokek? Apakah tercermin di wajahku? Maka dengan penuh terimakasih dan suka cita aku terima uang pemberian Papa meski hati ini agak gak rela. Bukankah seharusnya aku yang selalu memberi Papa? Bahkan Papa berkata,

Nek kowe butuh, ora usah sungkan matur Papah. Wong Papah iki seneng banget nek iso mbantu anak-anak.” Papa berkata demikian sambil mengelus-elus kepalaku.

Duh, nangis gak sih? Dengan memberi, Papa masih merasa dibutuhkan, masih merasa dihargai. Memang Papa terkena stroke ketika masih berada di puncak karir, bahkan sudah dipromosikan oleh senior Papa sebagai Asisten Gubernur. Karenanya Papa sempat lama depresi, merasa tak berguna karena tak bisa lagi memanjakan keluarganya. Padahal Pah, lihatlah, dengan pensiunmu dan tabunganmu, kami berempat bisa menyelesaikan kuliah. Apalagi Mbakayune yang sudah lebih dulu mentas dengan tulus ikhlas membantu kami adik-adiknya yang masih banyak butuh biaya sekolah. Tentu saja kekompakan ini berkat didikan Papa dan Ibu kan?

Lain kisah, suatu kali aku hendak meminjam mobil Papa untuk ke kantor. Lagi-lagi aku hanya membawa uang pas-pasan. (Kok kalo dipikir-pikir aku sering pas-pasan gini ya?). Lha kok Papa malah memberiku uang untuk beli bensin dan makan siang. Aku bilang biar saja aku yang beli bensin wong aku yang pakai kok. Tapi seperti biasa Papa memaksa. Ya sudah, aku terima dengan sukacita. Bukankah Papa pernah berkata senang jika bisa membantu anak-anak? Tapi, swear, aku gak menjadikan ini modus lho! 😀 Papa emang murah hati kok. Wong kadang-kadang aku lagi gak ngapa-ngapain dan masih punya uang juga dikasih kok sama Papa kalo pamitan 😀 Atau lagi-lagi karena wajahku agak-agak memelas gitu ya? Ah, Papaaa, baiknya engkau.

Namun kepekaan terbesar Papa adalah ketika memutuskan siapa boleh menjadi pasangan hidupku. Dulu aku sempat berpacaran dengan seseorang bertahun lamanya. Mulai dari kuliah (aku kuliah di Yogya) sampai aku kerja (di Jakarta). Kebanyakan LDR siy, maka jika pulang ke Semarang kumanfaatkan untuk bertemu. Tentu saja di rumah sambil menemani Papa nonton TV. Wis, pokoke sepertinya gak ada masalah. Ketika keluarga X melamarku, Papa menerima dengan baik, namun mengatakan bahwa X boleh menikahiku asalkan mau menyelesaikan kuliah dulu. Oh ya, X sudah bekerja dan tak menamatkan kuliahnya. Maka X pun melanjutkan kuliah.

Tapi ternyata dari Ibu aku tahu bahwa Papa sebetulnya tidak sreg dengan X. Ya ampun, padahal sudah seiman, sama-sama orang Jawa, usia lebih tua 3 th dariku. Aku sempat sedih sekali bahkan sempat marah pada Papa. Menurut pendapat Papa, X kurang prospek, kurang ambisius sehingga kelak takkan bisa memenuhi semua keinginanku. Papa memang tahu banget aku. Meski aku marah tapi aku menurut. Eee, tapi gak langsung putusin X dong. Mesti cari cadangan dulu 😛

Kembali ke Jakarta, tiba-tiba ada anak baru di kantorku. Dan dia naksir berat padaku (qiqiqiqiqi…huweeekk… :mrgreen: ). Singkat cerita, kami pun memproklamasikan sebagai pasangan kekasih, tepat ketika Si X menanyakan kelanjutan hubungan. Berhubung aku sudah punya gantinya maka akupun menyudahinya 😛 Lha gimana lagi, dia juga gak jadi nerusin kuliah kok. Padahal kan itu syarat utama dari Papa.

Setahun kemudian aku memperkenalkan Kekasihku pada Papa. Heran sungguh heran, meski keluarga lain agak-agak menentang dan banyak menasehatiku, Papa malah merestui. Entah sih aku gak tahu bagaimana hati Papa sebenarnya, tapi Papa mengijinkan. Bayangkan, Kekasihku itu beda suku dan agama bahkan usia lebih muda 2 th dariku. Tapi memang dia lebih macho dan lebih prospek daripada X 😳

Ternyata restumu gak salah, Pa. Meski banyak ombak dan badai seperti layaknya orang membina rumah tangga, tapi kami tetap bahagia. Apalagi dikaruniai kedua malaikat lucu yang sangat kau sayangi. Terimakasih, Pa. Kepekaanmu adalah radar untuk kebahagiaan kami semua. I miss you, Pah. Rest in peace.

Papa, In Memoriam: Wasiat

Aku lupa kapan tepatnya, mungkin akhir tahun lalu atau justru awal-awal tahun ini. Suatu siang, Papah memanggilku untuk ngobrol di teras. Sambil memegang lenganku Papa berkata,

Papa      : Pit, nanti kalo Papah meninggal…

Aku langsung memotong perkataan Papa.

Aku       : Papah ini bicara apa sih? Aku gak mau ngomongin itu!

Papa     : Iki wasiat. Kowe rungokno wae, nek perlu dicatet. Mung kowe sing tak percoyo njalanke iki.

Aku nyaris menangis, hati menyangkal. Semua orang pasti akan kembali padaNya. Namun bagiku, Papa masih akan hidup 1000 tahun lagi. Aku gak mau kehilangan Papa. Namun karena Papa begitu serius, maka aku mendengarkan.

Papa     : Nek Papa dipanggil Tuhan, usahakan Papa dikubur ning Yojo (Yogya), ning Sagan. Kuwi ono dana ning ATM nya Papah. Kanggo ambulance, biaya pemakaman, kiro-kiro sekian juta cukup to?

Waktu itu aku sedih banget. Papah, masa sih sampai mikir biaya segala? Masih ada kami, anak-anakmu. Lalu Papah masih bicara lagi tentang mobil, rumah, dan lain-lainnya. Yang sayangnya aku sudah lupa semua. Yang kuingat hanya keinginan Papa untuk dimakamkan di Yogya. Siang itu juga aku langung share di BBM keluarga. Mbakayune bahkan langsung menghubungi keluarga Yogya (sepupu) untuk memesan tempat untuk Papa di Sagan. Ternyata sudah penuh, tak ada lagi tempat. Tapi kami tak memberitahukan Papa, karena meskipun kami tahu semua orang akan kembali padaNya, tapi buat kami Papa masih akan lama sekali menunggui kami. Penyangkalan ini membuat kami tak serius menanggapi wasiat Papah. Ditambah lagi BB ku kemudian rusak. Nanti akan kucoba buka memorinya, semoga masih bisa terbaca.

Dan ketika saatnya tiba, di tengah kebingungan dan kepanikan, tiba-tiba ada pertanyaan, “Bapak mau disareke (dimakamkan) di mana?”

Yang kuingat hanya Yogya! Saat itu aku masih sendiri bersama Ibu. Mbakayune masih dalam perjalanan dengan kereta dari Tegal. Aku bilang ke Ibu, bahwa keinginan Papah terakhir adalah Sagan. Maka Ibu segera menelepon sepupuku untuk bisa diupayakan. Saat itu Om meneleponku, menasehatiku bahwa sebaiknya Papa dimakamkan dekat saja, supaya Ibu, anak-anak, dan cucu-cucu bisa kapan saja nyekar dan ziarah. Nyaris aku tergoda. Demikian juga Omku yang lain juga menyarankan, bahkan akan mengusahakan agar Papa dimakamkan di Bogor. Ada satu tempat seperti San Diego tapi khusus untuk PNS. Begitu dekatnya. Om juga menawarkan boleh memakai tempat Om dulu (yang sudah memesan sepasang).

Rasa cintaku pada Papa justru membuatku ingin menerima saran mereka. Setidaknya seminggu sekali aku tetap bisa mengurus dan mengunjungi makam Papa. Bahkan Mbakayune juga mengijinkan. Tapi, sudah bertahun-tahun Papa ingin pulang ke Yogya. Tak satupun dari kami mau mengantar Papa. Selain menimbang kesehatan Papa juga menimbang kesehatan Ibu. Bisa saja naik pesawat, tetapi di sana bagaimana? Dan toh ternyata pada akhirnya kami semua mengantar Papa ke Yogya, untuk terakhir kalinya. Hiks…maafkan kami, Pah 😥 Kini aku tahu mengapa Papa hanya mengatakan wasiat itu padaku seorang. Karena Papa yakin, aku akan memperjuangkan dan mengusahakan keinginan Papa.

Maka akupun kembali bertahan untuk memakamkan Papa di Yogya. Kabar dari Yogya sangat kunantikan. Sementara itu aku terus mengatakan bahwa keinginan Papa terakhir adalah Yogya, tanah kelahiran Papa. Puji Tuhan, keajaiban itu datang. Pukul 9 an kami mendapat kepastian bahwa ada tempat untuk Papa di Sagan, tidak bisa di dalam pagar makam Mbah Kung dan Mbah Tie, tetapi di luarnya. Ini luar biasa. Papah mendapat tempat persis di depan makam ayahandanya dan dekat dengan ibundanya. Di sampingnya malah makam kakak iparnya. Sungguh Tuhan memberi kemudahan untuk segalanya. Bahkan di kemudian hari kami mengetahui bahwa makam Papah sangat bersih. Tak ditemukan hambatan apapun selama penggalian. Juga tak ditemukan sedikitpun tulang dari sebelah-sebelahnya. Padahal biasanya mereka menemukan sisa-sisa tulang. Betapa Papah diberi kemudahan luar biasa. Terimakasih, Tuhan.

Lihat Pah, begitu banyak tamu dan kerabat yang menjengukmu, mendoakanmu. Misa berjalan penuh keharuan, didukung lagu-lagu yang dibawakan oleh koor membuat hatiku sedih luar biasa. Selepas misa requiem kami mempersiapkan semuanya. Aku, Ibu, Netty dan Cantik naik pesawat. Sementara para pria mengiringi ambulance. Mbakayune juga naik mobil karena anaknya yang paling kecil takut naik pesawat.

Pukul 3 dini hari Papa tiba di Yogya, di rumah masa kecilnya. Dan luar biasa, di sana semua sudah disiapkan. Bunga, lilin, kursi, semua, semua sudah siap. Karangan bunga begitu banyaknya. Lihatlah Pah, semua sudah menunggu kedatanganmu. Dan meski keluarga Papa muslim, tetapi kami diijinkan mengadakan misa di sana.

Yang melayat luar biasa banyak. Begitu banyak yang mendoakanmu, Pah. Justru di saat kau tak butuh lagi siapa-siapa, begitu banyak yang menengokmu. Betapa banyak yang mengasihimu. Tamu mengalir tiada habisnya. Papa bahagia kan, Pah?

Terus aku menyalahkan diriku. Mengapa tak kuantar Papah ke Yogya dulu-dulu? Sejak pindah ke Bogor, Papah belum pernah lagi pulang ke Yogya. Dan kini justru pulang untuk selama-selamanya. Maafkan aku, Pah. Bagaimana caraku agar kau mau memaafkanku? Aku menyesal. Aku kangen Papah 😥

Papa, In Memoriam: Mie Rebus dan Laron

14 November 2012

Belum terlalu sore, mendung luar biasa hitam. Aku pulang cepat, dan membelokkan mobil ke jalan rumah Papah. Aku memang mau mampir karena ada perlu dengan Ibu. Begitu surprise Papah melihatku yang datang di luar hari biasanya. Papah tertawa senang lalu minta diambilkan koran hari ini. Ternyata Papah mau lihat tanggal dan hari. Papah lupa bahwa ini baru hari Kamis, dikira Papah besok adalah Sabtu.

Hujan mulai turun dengan deras. Aku duduk nonton TV di luar, tepat di hadapan pintu kamar Papah. Lalu Papa menengok dan memandangiku.

Papa   : Pit, kono nek arep nggawe mie, maem sik.

Aku    : Belum lapar kok Pah, nanti aja maem di rumah.

Papa   : Oo yooo…

Aku    : Atau Papah kerso mie? Aku buatin ya.

Papa   : Yo keno

Aku    : Goreng atau kuah, Pah?

Papa   : Sak karepmu, opo wae manut

Aku    : Kuah aja ya, Pah, anget hujan-hujan gini

Papa   : Boleh, tapi kuahe ojo okeh-okeh yaa mengko ndak ora ono rasane

Maka sementara Ibu mandi sore, dengan suka cita aku memasak mie instan untuk Papah. Mie kesukaan Papah adalah mie yang direbus sampai lama hingga empuk banget. Tumben-tumbenan aku sabar sekali menunggui di depan kompor. Biasanya kutinggal untuk melakukan hal-hal lain. Selesai langsung kuhidangkan, rupanya agak terlalu asin sehingga Papah minta nasi sedikit. Papa makan dengan lahap. Mie buatan anak wedok, meki bumbu instan pastiiii rasanya beda. Karena ada banyak cinta ketika merebus.

Karena hari sudah menjelang maghrib, maka aku pamit pulang sebelum Papa selesai makan. Padahal entah mengapa, hari itu aku ingin berlama-lama di rumah Papah. Meski hanya duduk di luar kamar, tapi aku bisa memandangi Papah. Tidak seperti sekarang, Papah gak ada di kurinya 😥

Kebahagiaan Papah sangat sederhana, hanya meihat anak dan cucunya aja. Apalagi jika dilayani, diajak ngobrol, disapa. Maafkan aku, Pah.

15 November 2012

Aku gak datang ke rumah Papah. Padahal libur 😥 Hanya pagi mengantar lontong sayur padang untuk Papah. Meski kesiangan karena Papah sudah sarapan. Tapi siang hari aku WA Ibu, lonsay tetap didahar untuk siang 🙂 Ibu juga mengabarkan kalo dada kiri Papah sakit tapi sudah digosok minyak kayu putih.

17 November 2012

Sore aku datang ke rumah Papah. Membawakan nasi padang yang tumben-tumbenan Papah mau pakai rendang. Padahal ini lauk yang paling dihindari karena gigi Papah sudah otw habis. Papah hanya makan nasi dan sayurnya dan meninggalkan rendangnya dengan sedikit nasi. Kuhabiskan saja. Menjelang malam aku pulang karena Guanteng sudah minta pulang. Aku berpamitan. Papah sedang menonton bola kalo gak salah Ina vs Khamerun?

18 November 2012

Entah mengapa, hari itu aku malas sekali hendak ke Villa (rumah Papah). Dan Papah pun tumben tak meneleponku seperti biasa jika aku gak datang-datang. Eh sore Papah menelepon jam 15.51 menanyakan aku datang atau tidak. Menjelang maghrib aku baru tiba. Hujan sedikit. Laron beterbangan di mana-mana. Sejak kecil Guanteng memang takut laron. Maka gada setengah jam aku berpamitan. Andai aku tahu itu terakhir aku melihat Papa, maka aku akan berlama-lama. Papa hanya tertawa mendengar alasanku berpamitan, karena Guanteng takut laron. Aku bahkan gak mencium Papah seperti biasanya karena Gaunteng udah nangis. Aku hanya melambaikan tangan tanpa masuk kamar Papah. Maafkan aku, Pah 😦 Andai aku tahu…. , terakhir melihat wajah tampan Papah 😦

22 November 2012

Pukul 19.41 Papah meneleponku untuk yang terakhir. Pembicaraan hanya 55 detik. Hiks… maaf ya, Pah..

Kulihat di log HP ku, ternyata aku sering sekali mengabaikan telepon dari Papah. Karena kadang Papah menelepon di saat aku sedang meeting atau bertemu orang/klien. Seharusnya aku menelepon balik, tapi jarang sekali kulakukan.

Kini, gak ada lagi Papah yang selalu mengingatkanku untuk makan siang. Gak ada lagi Papah yang merindukanku. Seperti inikah rasanya jika Papah menantikan kehadiran kami anak-anaknya? Ternyata sakit ya, Pa. Aku bahkan tak kuat menanggungnya. Aku tak setabah engkau, Pah. Aku rindu 😥

Aku Tak Akan Pernah Siap

22 November 2012

15.30 Aku pulang lebih cepat dari biasa, karena ada meeting di Bekasi. Mendung sangat gelap. Ketika dekat jalan ke rumah Papah aku sempat berfikir untuk mampir sejenak. Karena sejak kemaren Papah agak demam dan batuk. Namun kuurungkan karena kedua malaikatku mau latihan taekwondo dan aku sudah sangat ingin bertemu mereka. Maka jalan menuju rumah Papah pun aku lewati.

19.3. Kekasihku menyuruhku ke rumah Papah karena dengar Papah sakit. Hujan masih cukup rinai.

Kekasihku           : Kamu tengok Papah gih. Kasihan, lagi sakit kan?

Aku                : Iya, tapi kemaren sudah dikonsulin ke dokter sama Mas Tinon dan udah dikasih obat kok.

Kekasihku           : Ooo.

19.41 Aku sedang mandi ketika kekasihku memberikan telpon padaku. Papah menelepon.

Papa                      : Hallo, Pipit. Piye kabarmu? Apik-apik wae to? Anak-anak piye?

Aku                     : Hallo, Papah. Iya Pah, aku baik-baik aja kok, anak-anak semua juga baik-baik. Papah gerah ya? Udah mendingan kan, Pah?

Papa                      : Iyo, wis mendingan.

Aku                        : Oh syukurlah. Aku ke sananya Sabtu ya, Pah.

Papah hanya diam lalu telepon terputus. Aku tahu Papah pasti kecewa. Belum-belum aku sudah bilang akan datang Sabtu. Mungkin memang Papah ingin aku datang.

Kekasihku           : Tuh kan dicariin. Ke sana gih.

Aku                        : Besok Kakak ulangan 2, Adek juga ulangan.

Kekasihku           : Gak papa, sebentar aja.

Aku                  : Nanti Sabtu aja deh. Kan tahu sendiri anak-anak kalo gak ada aku gak belajar.

Maka aku meneruskan aktifitas seperti biasa.

23 November 2012

05.49 Aku sedang menyuapi Ganteng sereal, kekasihku sedang mandi. Ibu menelepon.

Ibu                         : Pipit, Papah sepertinya sudah gak ada.

Aku                        : Gak ada? Gak ada gimana? Maksud Ibu apa? (aku berteriak)

Ibu                         : Sudah gak ada. Papah sudah dipanggil Tuhan.

Aku                        : Gak mungkin! Ibu salah, Papah semalam masih nelpon aku. Gak mungkin!

Ibu                         : Kamu ke sini ya, sekarang.

Aku masih shock. Gak mungkin, Ibu pasti salah. Semalam aku masih mendengar suara Papah. Meski semalam Papah tak menyuruhku datang tapi aku tahu Papah ingin aku datang. Oh Pah, andai aku tahu, andai waktu bisa diputar kembali, andai aku mau mendengar saran kekasihku.

Maka akupun ke rumah Papah. Kekasihku akan menyusulku bersama kedua malaikatku. Sepanjang jalan aku menyesali keputusanku untuk tidak ke rumah Papah kemaren. Kurekam terus kata-kata terakhir Papah di telpon. Kuulang, kuulang, kuulang isi pembicaran singkat itu. Oh Pah, maafkan aku. Aku menyesal. Aku menyesal. Aku kangen Papah.

Sesampai di rumah Papah aku langsung menuju kamarnya. Tuh kan Ibu salah, Papah masih tidur. Tidurnya sangat pulas dengan wajah tenang, seperti biasanya kalo Papah tidur. Maka kugoyangkan Papah dengan lembut. Pah, bangun Pah, aku datang. Tapi Papah diam saja. Tuhan, mengapa Papah diam saja? Biasanya sepulas apapun Papah tidur, kalo mendengar suaraku pasti terbangun. Maka kupeluk Papah, kucium pipinya, dahinya, hangat, tubuhnya hangat seperti biasa. Aku tak kuasa lagi berkata apa-apa. Ibu gak salah. Maafkan aku, Pah. Papaah…

Aku menangis seperti orang tak beriman. Namun aku punya banyak waktu dengan Papah. Ibu sedang mandi, Mas Tinon segera mengurus ini itu begitu aku datang. Tetangga belum ada yang tahu. Kakak adikku belum ada yang datang. Maka aku memeluk Papah. Membisikkan permohonan maaf, mengatakan bahwa aku ada di sisi Papah, aku bicara apa saja. Aku tak tahu Papah mendengar atau tidak. Tapi aku terus bicara dan bicara. Bahkan aku lupa untuk berdoa. Aku hanya ingin Papah tahu, bahwa aku ada di sisinya. Aku minta maaf pada Papah semalam gak datang, aku minta maaf pada Papah jika sering mengecewakan Papah, aku minta maaf pada Papah jika tak bisa selalu membahagiakan Papah.

Tangan Papah yang hangat terkulai di samping tubuhnya. Kulihat kuku Papah sudah panjang. Maka seperti biasa, seperti yang Papah selalu minta aku lakukan, aku memotong kuku Papah. Tangan, kaki, kubersihkan kuku-kuku itu. Sudah bersih Pah, kugenggam terus tangan Papah. Aku gak mau kehilangan kehangatannya.

Lalu Ibu masuk kamar. Isak kami pecah. Ibu bercerita, tadi pagi jam 4 Ibu terbangun. Lalu melihat Papah masih tidur. Ibu ke kamar mandi dan tidur kembali. Sekitar pukul 4.30 Ibu terbangun lagi karena memang Ibu biasa bangun jam segitu kemudian berdoa di kamar. Sekitar pukul 5.30 barulah Ibu kembali mengengok Papah. Tapi Ibu mendapati Papah dalam posisi kaki ternjuntai ke bawah, seperti hendak turun dari tempat tidur. Ibu lalu membetulkan posisi Papah sembari bertanya, “Papah mau duduk atau mau tiduran?” Papah tidak menjawab. Namun karena mata Papah terpejam dan wajah seperti tidur, Ibu hanya membetulkan posisi kaki Papah saja. Sepertinya Ibu mendapati hal aneh. Seperti kukatakan, sepulas apapun Papah tidur jika dibangunkan atau disapa Papah pasti terbangun. Ibu hanya berkata, “Kok Papah ditanya diam saja to?”

Barulah Ibu meraba pergelangan tangan Papah. Tak ada pulse. Ibu segera menelepon Mas Tinon, suami kakak tertua yang tinggal sangat dekat. Ternyata Papah memang sudah pergi. Secepat itu Pah? Dan sendirian, tak ada yang mendampingi saat-saat terakhir Papah? Aku sedih Pah. Aku kangen Papah. Aku sudah merencanakan Jumat pulang cepat lalu mau ke rumah Papah. Mengapa Papah gak mau menungguku? Atau karena Papah lelah menungguku? Maafkan aku, Pah.

Tetangga mulai berdatangan. Aku tak beranjak dari sisi Papah. Ini Papaku, aku yang harus selalu ada di sampingnya. Lalu dokter datang dan menyatakan Papah memang sudah pergi. Aku lalu menyuruh ART untuk menyiapkan air hangat untuk mandi Papa. Pah, seperti dulu selalu kau lakukan ketika aku kecil, maka sekarang ini yang akan kulakukan untukmu. Aku akan memandikan Papa, semampuku, sebisaku, dengan air hangat berampur air mata. Kucukur jenggot dan kumis Papa yang mulai panjang. Aku ingat, Mbakayune yang sering melakukan ini. Biar kali ini aku yang melakukan. Kuusap dahi Papah lembut, sayang Pah, kau tak lagi merasakan usapan tanganku. Selesai mandi, Papah mengenakan baju batik kesayangannya, yang dibelikan Netty adikku. Papah tampan sekali. Kusisir rambutnya yang telah memutih semua. Mengapa Papah diam saja? Tubuhnya masih hangat hingga ke ujung kakinya. Tapi mengapa Papah diam saja? Mengapa matanya selalu tertutup? Tidakkah kau merasakan pelukanku, Pah?

Aku sedih, sangat kehilangan, terutama sangat kecewa karena tak bisa mendampingi Papah di saat terakhir. Bahkan ketika tulisan ini kuselesaikan hari ini di rumah Papah, aku masih tak percaya jika Papah sudah gak ada. Kemaren kurapikan kamarnya ku charge HP nya, kulap kacamatanya. Tapi hingga hari ini, kamar itu masih kosong. Aku gak melihat Papah di kursinya atau di tempat tidurnya. Aku tak mendengar suara TV nya. Aku merasa sepi, hampa. Tentu kau sudah di surga ya, Pah?

Purna sudah tugasmu sebagai suami dan ayah. Kini saatnya Papah isitrahat. Meski hidup ini takkan pernah sama lagi tanpamu, Pah, tapi kenangan akan cintamu akan terus hidup. Aku akan tetap ke sini tiap Sabtu atau Minggu, aku akan tetap berpamitan setiap hendak pulang ke rumah. Dan aku akan menjaga Ibu, cinta pertama dan terakhirmu. Aku kangen sekali, Pah. Aku kangen….