Lebaran di Rumah Sakit

Mengawali bulan puasa, Papa sempat dirawat di RS. Dirawat selama satu minggu akhirnya Papa sembuh dan boleh pulang. Tentu saja kami semua lega, terlebih aku yang menemani keluarga berpuasa jadi tidak terlalu repot lagi mondar-mandir 😀 Dan kami pun merencanakan untuk berbuka bersama di rumah Papa pada tanggal 17 Agustus lalu. Yah, meski yang berpuasa hanya aku dan keluargaku, tapi Papa ingin sekali berbuka bersama 😀

Tapi apa daya, sebelum rencana terlaksana, Papa kembali masuk RS. Bahkan kali ini harus menjalani operasi ringan. Tentu saja sedih sekali. Jika biasanya setelah kekasihku dan kedua malaikatku shalat Ied dan kami berlebaran di rumah Ibu mertua, aku mengirim ketupat, gulai ayam dan rendang ke rumah Papa, maka kali ini kami tak lakukan itu. Aku hanya membawakan untuk Ibundaku saja untuk makan di rumah 😦 Padahal Papa paling senang ketupat dan gulai buatan Nenek 😀 Apalagi katupek sipuluik 😛

Maka di hari raya, kami juga Nenek menjenguk Papa. Idul Fitri ini tentu saja agak sedih, karena tak bisa berlebaran bersama, saling megunjungi Papa Ibu dan Nenek. Tapi tak apa, saat ini harapan terbesar kami adalah kesembuhan Papa. Agar kami bisa berkumpul lagi di rumah, makan-makan seluruh keluarga, dan tentu saja Ibu jadi tak takut sendirian di rumah 😀

Cepat sembuh ya Pa, doa kami selalu menyertaimu. We love you so much…..

Iklan

Aku Pulang

Sendiri aku menatap langit dari atas bukit. Berjuta bintang atau mungkin bermilyar, tak kuasa aku menghitungnya mengilaukan seluruh angkasa raya. Sementara dari jauh terdengar senandung merdu penuh rindu. Akupun rindu. Akupun sendu. Sebuah bintang jatuh, turun tepat di hadapanku. Kilaunya membutakanku.

“Mengapa kau menatapku terus menerus?” tanya bintang itu padaku.

“Aku…aku mengharap datangnya tanda itu lagi,” jawabku malu. Bintang meredupkan cahyanya dan aku membuka mata. Indahnya!

“Tanda itu selalu ada, meski tak selalu ada padaku,” kata Bintang lembut dan merdu.

“Aku tahu. Dia akan selalu mengundangku meski tanpamu. Tapi… tidakkah Ia juga mengundang orang-orang yang kucintai?” tanyaku lirih.

Bintang sedikit berpendar lalu meredup.

“Bagaimana Ia akan mengundang mereka jika kau pun tak selalu menyambut undanganNya?”

Aku tertegun. Hatiku hampa. Air mata bergulir di pipi dan jiwaku. Pedih mengoyak jantungku, mengiris nadiku. Aku menangis tanpa suara.

“Sudahlah. Cintailah mereka sepenuh hatimu, namun ingat, Ia juga mencintaimu dan keluargamu lebih dari cintamu. Terimalah seluruh curahan cintaNya dan penuhi undanganNya,” hibur Bintang.

“Marahkah Ia padaku?”

“Pernahkan Ia memarahimu? Bukankah segala yang kau pinta diberiNya? Bukankah segala yang kau butuhkan dipenuhiNya? Bukankah sedihmu selalu dihiburNya? Sakitmu selalu disembuhkanNya?” Bintang balik bertanya.

Air mataku jatuh berderai-derai. Dadaku sesak terhimpit beban sebesar gunung.

“Pulanglah. Ia takkan pernah meninggalkanmu meski kau tak selalu penuhi panggilanNya.”

Aku berterimakasih pada Bintang lalu berlari menuruni bukit. Maafkan aku. Tapi aku akan selalu pulang padaMu. Terimakasih atas cintaMu.

Merry Christmas

God always bless you 🙂

Selamat Jalan Pak Lukito

Setelah kehilangan sosok guru beberapa waktu lalu, maka Jumat 21 Oct 2011 lalu kembali aku kehilangan sosok guru SMP yang baik dan bijak. Beliau adalah Pak F.X. Lukito. Beliau bukan cuma seorang guru bagiku atau Kepala Sekolah yang disegani, Kawan. Karena beliau juga eyangku, adik bungsu almarhum Mbah Kakung 😦

Sosok Pak Lukito adalah orang yang berjasa bagi keluarga kami. Menurut cerita Ibunda, puluhan tahun lalu ketika Papa dan Ibu baru pindah dari Yogya dengan kakakku yang baru berumur beberapa bulan, Pak Lukito dan Bu Lukito inilah yang sering membantu keluarga kami. Beliau sering mengirim telur ayam kampung setiap hari untuk kakakku (makanya mbakayune jadi orang pinter 😀 ). Atau seringkali menjenguk dengan membawa ini itu, maklumlah orang tua kami ketika itu adalah pasangan muda yang masih merintis 🙂

Pak Lukito ini, Kawan, selain Kepala Sekolah juga mengajar Fisika (pelajaran yang paling aku benci, ‘coz kecerdasanku yang sangat pas pasan 😦 ). Sedangkan ibu Lukito adalah guru matematika yang sangat pintar memberikan trik-trik mudah menyelesaikan soal matematika 😀 Tapiiiiiii, jangan salah. Itu tidak berarti nilaiku bagus di mapel itu 😦 (Kalo matematika masih mendingan sih 😀 ). Bukan karena aku cucunya maka serta merta aku dipermudah. Hohohoho…. boro-boro, Kawan. Bahkan memberikan les pun mereka tidak mau. Mereka tidak mau dianggap tidak adil atau KKN. Maka kami, cucu-cucunya pun berjuang sendiri, malu kalo dapat nilai jelek 😀 Sungguh patut dihargai prinsip mereka berdua.

Selama seminggu Pak Lukito dirawat hanya didampingi istri tercinta. Lima orang putra-putri Pak Lukita tersebar di Jawa, Sumatra, dan bahkan ada yang sedang menuntut ilmu di Jepang. Sehingga hanya sekali menengok orang tua tercinta mereka. Untunglah Pak Lukito dirawat di RS yang dipimpin oleh Mbakyu saya sehingga ada yang mengurus.

Sedih, kaget, terharu, sekaligus tak berdaya ketika mendengar berita itu. Tak berdaya karena aku tak bisa datang ke sana (kedua malaikatku sedang ujian). Tapi doa akan selalu ku kirim. Semoga segala dosa diampuni dan amal ibadah diterima di sisi Allah. Untuk Bu Lukito, yang kehilangan belahan jiwanya, yang kini harus sendiri menghabiskan sisa hidup 😦 , semoga diberi ketabahan.

Selamat jalan Pak Lukito, guruku, mbahku tersayang. Doa kami mengiringi kepergianmu…..

SMS

Suatu malam aku ber sms dengan mantan staff rumah tanggaku. Begini sms nya.

Aku          : Gimana kabarnya, Mbak?

Eks mbak : Ooh, baik, Bu.

Aku          : Mbak, barangkali ada temen yang mau ikut aku, dong

Eks mbak : Lho, mmg mbaknya ke mn, Bu?

Aku          : Ah, minta lbur mulu. Skrg lg pulkam.

(Gak dibalas. Lama kemudian)

Eks mbak : Bu, kl sy balik lg gmn?

(Aku berteriak kegirangan, tapi pura-pura nanya lagi)

Aku          : Lho, bkn km dah kawin, Mbak? Suamimu gmn nanti?

Eks mbak : Sy dah putus, Bu. Gak jd nikah.

Aku          : Walaaah, yo wis kpn mo dtg?

Eks mbak : Hr minggu yach

Aku          : Yo wis, tak tunggu ya, mbak.

Eks mbak : Ya, Bu.

Sayang sungguh sayang…. kau ada yang punyaaaa.… ini hanya sms imajinasi, alias khayalanku saja. Mengharap mbak tak jadi kawin kembali setelah yang baru tak ada yang setiaaa 😥 hiks….hiks….hiks….

 

Catatan: Maaf, postingan tak bermutu blaz! ‘Coz ini ingin sekali kulakukan tapi takut akan jawabannya 😦

(Opo to yoooo??? Mbuh ah! Mumet dewek!)

Edelweiss dari dan untuk Pak Louis…

Edelweiss….. edelweiss…

Every morning you greet me

Small and white, clean and bright

You look happy to meet me

 

Blossom of snow may you bloom and grow

Bloom and grow forever

Edelweiss…edelweiss….

Bless my homeland forever

Aku masih ingat lagu itu, Pak Louis, lagu yang kau ajarkan. Aku pun sering menyanyikannya untuk kedua malaikatku. Film “The Sound of Music” yang kau tunjukkan. Menangis, menangis kala aku menyaksikan  film itu. Dan sekarang aku kembali menangis, karena kau telah pergi untuk selamanya.

Terimakasih Guruku, berkat engkau, bahasa Inggrisku selalu mendapat nilai terbaik. Bahkan kau pernah memintaku untuk tidak tunjuk tangan setiap kali ada pertanyaan dalam bahasa Inggris kau ajukan (sayangnya kini aku hanya pengguna pasif 😦 ) .  Dan terimakasih, karena kau juga memberiku kesempatan untuk ikut lomba paduan suara tingkat propinsi…. solasih… solasih solandono…. Belum lagi keterlibatanku pada choir yang luar biasa indah di bawah pimpinanmu. Haec dies quam fecit atau silent night atau gloria in exelcis deo… Ah, Pak Guru yang bersuara merdu.

Aku beruntung, karena masih sempat mengunjungi engkau di masa dewasaku. Bapak begitu kurus dan sepuh. Dan sekali lagi kita bertemu di rumah sakit. Betapa bahagianya engkau melihat bekas muridmu ini. Bagi seorang guru, hal yang membahagiakan tentu ketika bertemu lagi dengan para murid dalam keadaan berbeda di masa dewasanya.

Kau bukanlah hanya sekedar guru buat kami, namun sudah seperti saudara, keluarga layaknya.

Terimakasih, Pak Louis. Selamat jalan. Doa kami menyertai kepergianmu, semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi Bapa. Selamat jalan, we loves you…. 😥

Baca lebih lanjut

Mrs. John Travolta

Vani asyik menjelajah dunia maya di sela-sela jam makan siangnya. Dan sebentar kemudian matanya berbinar-binar melihat idolanya terpampang di layar 10 inch itu.

“Wuidiiiihhh, guanteng buanget sih!” gumamnya. Wina yang sedang mengunyah paha bebek itu langsung menoleh.

“Siapa, Mbak?” tanyanya dengan mulut setengah penuh, pipi chubby nya makin menggelembung. Vani langsung memelototinya.

“Telen dulu, napa? Ini, Mas John Travolta. Duh, ini orang kok bisa ya guanteng puoll begini?”

“Wah, aku juga ngefans berat ma dia, Mbak. Dia itu keren abiz kalo maen pelem. Mo jadi penjahat, keren, mo jadi orang baik, cool bener. Duh, pokoke bikin mumet, deh!” cerocos Wina.

“Hmm, gimana rasanya ya klo jadi Mrs. John Travolta?” Vani semakin ngayal. Wina meletakkan paha bebek di piringnya. Matanya langsung menerawang jauh.

“Kalo aku jadi Mrs. John Travolta, aku pasti gak mau bobok ama dia,” desahnya lirih. Vani melongo.

“Lho, emang napa?” tanyanya heran. Wina senyam-senyum dengan pipi memerah.

“Soalnya aku malu, Mbak. Grogi, pasti deg degan terus,” ujarnya malu-malu. Vani langsung ngakak di tempat.

“Adduuuh, Mbak, jangankan sekamar ama dia, baru denger dia panggil namaku aja pasti langsung ngumpet,” lanjut Wina. Vani makin terbahak-bahak.

“Lha kan dah kawin, kok malu sih, Win?” tanyanya di sela-sela tawanya.

“Lha iya, Mbak, wong gantenge gak ketulungan gitu. Ih, baru denger pager rumah dibuka aja aku pasti langsung  terbirit-birit ngumpet di kolong.”

“Wuahahaha…. emang pagermu? Di rumah Mas JohnTra sana mbukak pager pake remote, Win. Dah gitu emang rumah RSS, pager dibuka langsung kedengeran?”

“Ah, pokoknya kalo aku jadi istrinya, aku pasti ngumpet mulu.”

“Trus kalo kamu ngumpet di kolong, Mas JohnTra nya mergokin kamu sambil bilang “cilukba” gitu? Huahahahaha….”

“Iya, Mbak, aku pasti main cilukba terus, abis grogi banget!”

Vani tertawa terguling-guling sampe nabrak meja sebelah. Orang-orang melihat mereka dengan wajah maklum. Emang duo gila!

 

Hihihihihi……. klo jadi Mrs. Travolta aku pasti kayak Wina, ngumpet mulu 😆

Kapan terakhir kita merasa deg degan berhadapan dengan pasangan? Hmm….. pada awal-awal pernikahan dulu pastinya. Semakin ke sini tentu semakin terbiasa. Gak ada jaim-jaimnya lagi yaa 😀

Tapiiii tentu berbeda kalo lama ditinggal pasangan tugas keluar kota, misalnya. Gak usah lama-lama deh, dua hari aja pasti dah deg degan kalo baru ketemu lagi. Apalagi kalo dah tinggal berduaan 😳

Ah, aku sedang merindukan kekasihku…… 😳

 

 

Gambar Mas John Travolta diculik dari sini (nanyak Google).

Today

Aku bahagia karena masih bisa menikmati hidup dan menikmati kemudahan hingga hari ini. Karena masih dikelilingi orang-orang yang mencintaiku.

Tapi hari ini aku juga sedih ‘coz waktuku semakin dekat dan hidupku semakin pendek.

Aku hanya ingin diberi kesehatan dan umur panjang agar bisa mendampingi kedua malaikatku hingga mereka tak membutuhkanku lagi.

God, bless me….

Derita Filicium

Angin murka lagi
Guntur menggelegar kembali
Sudah kucoba meliukkan tubuhku
Tuk mengimbangi amarah sang bayu
Telah kuayunkan dedaunanku
Tuk coba meredam gemuruh seram itu

Dahsyat… mengerikan…
Tak tahukah mereka
Aku ini hanya sebatang filicium
Betul akarku kokoh menembus bumi
Betul batangku tegak menopang rimbunku
Namun hempasan itu mampu meluruhkanku
Tamparan itu tega mematahkanku

Angin…guntur…
Hentikan amarahmu
Ijinkan aku tetap hidup
Tuk meneruskan keturunanku
Tuk melestarikan hijauku
Dan….
Untuk terus menaungi dari panas dan gersang
Sepotong kata yang sesungguhnya tak bermakna untukku
MANUSIA!

Pedih seluruh tubuhku
Angin, hentikan murkamu
Mentari, sibaklah gelap ini

Dilema

Hiks…hiks… aku menangis, Kawan… sungguh aku mewek 😥

Sudah delapan hari aku gak masuk kerja sejak libur Lebaran lalu. Masalahnya klasik dan membosankan. Pembantu tak pulang, padahal janjinya mo balik. Hari ini aku masuk tapi akibatnya kedua malaikatku bolos sekolah dan kutitipkan Yang Tie. Terpaksa, ‘coz hari ini ada tender bernilai lumayan besar.

Hiks…hiks… aku menangis, Kawan. Besok aku bolos lagi, karena anak-anak harus masuk sekolah. Jumat nanti aku kembali kerja dan anak-anak bolos. Aku terjebak dalam dilema. Haruskah aku memilih? Sebetulnya untuk apa sih aku kerja? Untuk keluarga? Untuk anak-anak? Tapi apa artinya jika akhirnya keluarga terbengkelai? Anak-anak terabaikan?

Hiks…hiks… aku menangis, Kawan. Oke, jujur, sebagian aku kerja memang untuk diriku sendiri. Aku masih punya ambisi yang ingin kukejar. Aku masih punya mimpi yang ingin kuwujudkan. Aku masih punya cita-cita yang ingin kuraih. Haruskah aku berhenti sampai di sini?

Hiks…hiks… aku menangis, Kawan. Aku tak bisa memilih. Apa yang harus kulakukan? Mengapa hidupku begitu tergantung pada pembantu? Aku sebal! Aku benci! Tapi aku bisa apa? Memang begitu adanya. Haruskah aku berhenti sampai di sini? Haruskah kupendam ambisiku? Haruskah kubangun dari mimpiku? Haruskah  kukubur cita-citaku?

Hiks…hiks… sungguh aku menangis, Kawan. Aku tak tau harus bagaimana 😥  😥  😥