Ahmad Sri Paus

Tersebut sedetailnya pidato Sri Paus itu, yang setelah jadi mu’allaf, namanya telah beralih jadi Ahmad Sri Paus (supaya umatnya tidaklah sangat kaget, jadi Ahmad Sri Paus tidak mengatakan salam terlebih dulu memulai pidatonya) :

Seorang kawan di grup WA mengirim link berita tentang Paus Yohanes Paulus II yang menjadi mualaf. Wah, sebetulnya ini berita basi menurutku. Malah setahuku bukan Paus Yohanes II tapi justru Paus Benedict 😅

Silakan klik quote link di atas jika kau ingin membacanya, Kawan. Tapi bukan itu sih yang membuatku ingin memosting sampah ini. Tapi nama “Ahmad Sri Paus”nya itu, lhoo 😂 Asli, bikin ngakak sampai mual-mual (gaak … gak hamil, kok) 😂😆

Gini lho, “Sri Paus” itu kan, panggilan di tanah air kita tercinta. Orang seberang menyebutnya “Pope” yang berasal dari kata “pappas” atau “papa”. Lalu di Vatikan sendiri sering disebut Bishop of Rome atau Uskup Agung atau Supreme Pontiff. CMIIW.

Makaaa, jika beliau merubah namanya tentu bukanlah “Ahmad Sri Paus” (apalagi pakai Sri) 😂 melainkan “Ahmad John Paul” atau “Ahmad Karol Jòzef Wojtyla”. Emangnye beliau tahu “Sri”? 😂 Kalau “his holiness” sih, pasti tahu 😆

Udah gitu, si kawan tadi ngeshare baru kemarin dengan judul heboh, “tadi pagi bla … bla …”. Hellooo … setahuku Paus Yohanes ini sudah almarhum, dwehh 😆 Pas kubaca, owhh ternyata berita itu dibagikan 15 th lalu. Ehh, pas baca sumbernya di bawah postingan, lhoo … Juni 2016? Mbuhlah, ra mudeng 😅

Intinya, jika kau ingin membagikan berita heboh nan dahsyat, hendaklah dicek dulu kebenarannya. Setidaknya googling dululaahh hehehe … 😉

Maap lahir batin yaak 🤗

Iklan

Anomali

Duluuuu sekali aku adalah seorang anak manis, dalam artian anak yang penurut, tidak pernah melawan orang tua, meski sempat dibilang judes ketika kecil tetep aja anak manis 😀 Yeah, jika sewaktu SMP pernah dipanggil guru gara-gara iseng di kelas, atau ketika SMA pernah membuat guru matematika menangis, tetap saja aku berstatus anak manis hahahaha 😛

Tapi terbukti, kok! Ketika almarhum Papa tidak menyetujui pilihan teman hidupku, aku menurut meski tentu saja sudah ada cadangan dulu, dooong :mrgreen: Mungkin mulai dianggap tidak manis ketika teman pilihan hidup kedua kuajukan. Beda agama, budaya, suku bangsa, tapiii Papa merestui, kok. Berarti aku tetap anak manis, yaah at least di depan Papa. Duh, aku rindu sekali padamu, Pa sad0118 Free Sad Emoticons Selain Papa selalu menganggapku anak manis, beliaulah tempat aku bertanya tentang politik dan perkembangan kepemimpinan di Indonesia. Beliaulah kiblatku 😦

Sekarang, kembali aku menjadi anak tidak manis, ketika pilihan capresku berbeda dari yang lain 😀 Ketika keluargaku, sahabat-sahabatku, teman-teman kantorku, bersatupadu mendukung capres mereka, aku punya pilihan sendiri 😛 Bahkan kekasihku dengan semena-mena menyebutku domba yang sesat karena tidak mengikuti gembalanya sad0049 Free Sad EmoticonsLha, kepriben, wong aku gak sreg, jeh! Padahal sejak pertamakali boleh memilih, aku tak pernah lepas dari partai yang mendukung capres itu. Meski dulu Papa harus dan wajib memilih partai yang ono 😆 Namun, sejak 10 th lalu, aku pindah ke lain hati. Boleh dong, karena aku sudah tidak punya kepercayaan lagi dengan mereka. Dan jika kini aku berpindah lagi ke lain hati, sah-sah saja, kan?

Banyak usaha dari mereka untuk “membuka mataku” bahwa pilihanku salah, dengan segala cara yang tentunya menurutku termasuk kampanye hitam lah yaa :mrgreen: Menyebarluaskan berita-berita hitam yang isinya ternyata memuat opini pribadi alias tidak ada landasannya sama saja dengan kampanye hitam. Bahkan ada yang dengan teganya mengatakan bahwa aku sudah dicuci otak! Waa, kejaaammm, memangnya kalo berbeda, kalau aneh sendiri itu berarti otakku sudah dicuci? (sik, tadi sih masih kujemur 😆 ) Bagiku, yang sudah terbiasa hidup dalam perbedaan, adalah tidak aneh mempunyai pendirian yang berbeda. Apalagi sebagai orang dewasa yang sudah bisa memilih dan ujungnya akan menanggung segala akibat yang timbul, tidak boleh dipaksa untuk mengikuti yang lain.

Jadi, sahabat-sahabatku, ini cuma pilpres lho, masa iya tega sih persahabatan yang kita bangun sejak masih janin (lebaaayy qiqiqi…) bisa merenggang? Siapapun yang nanti terpilih, itu berarti yang terbaik karena pilihan mayoritas rakyat Indonesia. Jadi gak usah ngotot, menjelek-jelekkan (terutama fisik dan bukan visi misi), apalagi sampai memfitnah. Secara pribadi, aku kasihan lho pada kedua capres ini. Mereka sudah wanti-wanti untuk tidak melakukan kampanye hitam, tapi timses dan para simpatisannya malah melakukannya 😦

Siapapun nanti yang akan memimpin bangsa ini, berarti sudah pilihan Tuhan juga, karena apa yang akan terjadi pada negri ini sudah disuratkan oleh yang Maha Kuasa. Maka, mari berhenti menjelek-jelekkan, mengritik itu berbeda dengan menjelekkan, semua makhluk cerdas di bumi Indonesia ini harus bisa membedakannya. Mari duduk berdampingan, menikmati pesta demokrasi ini dengan sukacita, hentikan permusuhan dan gontok-gontokan. Adu argumen boleh, adu mengamati visi misi ya monggo, tapi tanpa berkata-kata kasar. Tetaplah santun dalam berujar, karena kita adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Jangan kita yang cerdas ini, dengan jabatan-jabatan prestis, tetapi masih berkata-kata dan berperilaku seperti preman pasar. Jika kita siap berdemokrasi, berarti kita siap menerima segala keputusan. Para saudara bersatulah, para sahabat ayo bergandengan tangan kembali. Jadikan perbedaan itu sebagai wawasan untuk memperkaya ilmu dan bukan sebagai anomali. Seribu teman itu terlalu sedikit, namun satu orang musuh itu sudah terlalu banyak.

Rroooaaaarrrr…. Salam Indonesia Bangkit! #eh,keceplosan :mrgreen:

m&m: Menor

M&MMenil  : Nul, Nul, tolong liatin dong, bedakku ketebelan gak? ini lipstiknya terlalu merah gak sih?

Menul : Wuidih, menor banget, Nil! Mau ke mana?

Menil  : Hehehe…mau kencan sama Si Abang. Gimana, ketebelan gak?

Menul : Mmm, dikit sih, eehh gak juga sih.

Menil  : Aduh, yang bener dong, ketebelan gak? Aku kan maluuuu….

Menul : Bentaaarr…

Menil  : Nul? Yeeee, ditanya kok malah ke dapur!

Menul : Nih, tempelin di pipi kamu.

Menil  : Hah? Apa ini?

Menul : Ini biji kacang ijo. Tempelin aja di pipi kamu, kalo numbuh jadi toge yaaa berarti ketebelan bedaknyaa….

Menil  : Dezigh! Dezigh! &)&*^&%^*_  😡

Menul : Aaaaawwww…..

Kulering

Kumpulan Lelucon Garing :mrgreen:

Suster Ngesot

“Iiiihhh, kok aku merinding ya masuk sini? Kabarnya di rumah sakit ini ada suster ngesot ya?”

“Tenang aja, maren dah disumbang kursi roda kok, jadi gak ngesot lagi.”

**********************************************************************

Sablonan Kaos

Dua orang jomblo galau sedang mengamati lalu lintas di malam minggu yang kelabu.

“Busyet tuh cewek, bonceng motor ampek nempel banget gitu. Persis kayak tas ransel, huahahahaha….”

“Bukan ransel, Bro, kayak gambar sablon kaos, wkakakakakaka….”

**********************************************************************

Amnesia

Sebuah penyidikan.

“Jadi Ibu ada di mana tanggal 20 Desember kemaren?”

“Gak ingat, Pak. Saya ini siapa aja gak ingat.”

“Jangan pura-pura, ya! Ini di dompet Anda ditemukan bon belanja tas Hermes, dompet LV, gaun Dior. Semua merujuk ke alamat di Singapura!”

“Oh, waktu itu lagi ada sale, Pak. Sampe 70% lho. Tadinya saya mau beli D&G juga tapi lagi gak sale, trus…upss!”

“Grrrr!!!”

********************************************************************

Labil

“Mbak, es jeruknya satu ya. Eh, jeruk anget aja, deh! Mmm, eeh kasih es dikiiiit aja. Eh, gak usah deh, anget aja. Mmmm, es teh manis aja deh, Mbak!”

********************************************************************

Kriuk…kriuk….krik…krik… 😛 :mrgreen:

Supporter Bayaran

Dukung Indonesia!

Sudah seminggu gak menikmati rujak Yu Minah, maka sepulang kantor aku mampir ke warungnya. Kelebihan Yu Minah adalah membuka warungnya hingga malam, jadi perempuan sok berkarir kayak aku ni masih bisa menikmati rujaknya sepulang kerja. Seperti biasa setelah mengucap salam aku segera bertengger di bangku favorit. Yu Minah segera menutup korannya melihat aku datang.

“Wah, sudah lama ndak main sini to, Jeng. Mau pesan apa nih?” tanya Yu Minah manis.

“Rujak serut aja, Yu. Pedesnya sedeng aja. Barusan baca berita apa, Yu?” tanyaku iseng lalu mengambil koran yang barusan dibaca Yu Minah.

“Itu lho, Jeng, berita SEA Games. Soal supporter itu, saya baru tau kok ada anak sekolah yang dibayar buat mendukung negara-negara yang lagi bertanding itu.”

“Maksudnya? Mendukung Indonesa to? Ya memang harus gitu to, Yu? Di mana salahnya?”

“Wee, mbok dibaca yang bener, nih yang ini beritanya. Dah, sampeyan mbaca dulu baru nanti komentar.”

Maka sementara Yu Minah bergoyang hot yang terkenal dengan julukan “Goyang Ulekan“, aku membaca berita yang ditunjuknya tadi. Sebentar saja alisku sudah bertaut dan pipiku mengerut serta mulutku mengerucut. Sementara Yu Minah mulai menyerut.

“Ediyan, bener, Yu! Jadi rupanya anak-anak SMP dan SMA itu diuutus oleh sekolahnya untuk mendukung negara-negara yang sedang bertanding. Dikasih kaos Maleysa, Thailand ato negara-negara lainnya, bendera, trus dikasih duit 20 ribu sama makan. Brangkat disewain bus segala. Lha piye to ini?” tanyaku tak mengerti.

“Lha ya itu. Rupanya pemerintah setempat memang mengajak kerjasama sekolah-sekolah itu untuk mendukung negara sahabat yang bertanding. Katanya supaya mereka merasa dihargai, tetap bersemangat, dan mengenal negri kita sebagai negri yang ramah dan bersahabat. Toh mereka ini kan “sahabat” Indonesa!” jelas Yu Minah mengutip berita di koran tadi.

“Sik to, menurut saya gak bener itu, Yu. Anak-anak ini kan masih piyik, masih labil-labilnya, lha harusnya kan kita tanamkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Supaya mereka ndak dikit-dikit luar negri dan lebih mencintai negri sendiri. Ini kok malah dibayar untuk mendukung negara lain, lha gimana cara njelasinnya ke anak-anak ini coba?” omelku mulai emosi.

“Itu, sampeyan baca…nah…yang ini. Tuh, anak-anak itu bilang ‘biar mulut mendukung Maleysa tapi hati tetap Indonesa‘. Gitu katanya,” sanggah Yu Minah.

“Halah! Tau apa anak-anak ini. Sekarang aku nanya, kalo sebaliknya kita yang jadi tamu dan bertanding di negara mereka, apa mereka memperlakukan hal yang sama? Anak-anak sana disuruh pakai kaos merah putih, melambaikan bendera kita trus bertepuk tangan untuk kita? Belum tentu, Yuuu.”

“Ya jangan berpikir negatif gitu to, Jeng. Kan kita ndak tau. Sampeyan kan belum pernah ngeliat tim kita bertanding di sana trus dielu-elukan bangsa sana? Sapa tau sambutan di sana malah lebih hangat.”

“Eeeh, ya ndak mungkin, Yu! Orang Indonesa yang di luar negri itu pada kompak. Kalo ada tim kita main di sana, maka orang-orang rantau inilah yang rame-rame mendukung bersorak untuk kita. Ini di negri sendiri kok malah mendukung negara lain. Kalo yang bertanding asing sama asing sih silakan aja mau dukung yang mana. Lah kalo tim kita yang main masa iya mau dukung lawan. Aneh ini!”

“Ya sudah, jangan emosi to, Jeng. Itu kan kebijakan pemda sana, kan dibilang kapan lagi jadi tuan rumah pertandingan bergengsi begini? Ya niat mereka kan baik, menurut saya sih ndak papa, Jeng, selama hati tetap Indonesa berarti masih nasionalis,” ujar Yu Minah sambil membungkus rujakku.

“Huh, ya gak bisa gitu. Masih banyak cara lain untuk menunjukkan pernghargaan kita buat mereka. Bersikap ramah dan sopan, beri service yang ok, jaga mutu dan kebersihan tempat mereka menginap. Masih banyak cara, Yuuu!”

Yu Minah mengulurkan rujaknya padaku. Aku pun segera merogoh tas untuk mencari dompet.

“Wah, tasnya bagus banget, Jeng. Seneng ya kalo perempuan kerja kayak sampeyan, bisa beli tas bagus-bagus gitu,” ujar Yu Minah. Aku tersipu-sipu, tasku ini emang bagus dan sering dipuji teman kantor atau relasi.

“Ooo, ini beli di Italy, Yu, nitip teman yang habis liburan dari sana. Bagus kan?”

“Bagus bangeeet. Mm, kalo pake produk luar itu masih tergolong nasionalis kan, Jeng? Soalnya di Tajur kan banyak yang mirip, buatan lokal dan murah lagi.”

Sial!!! Kesindir terus!!! 😡

PS. Akibat membaca koran di tukang soto tadi pagi, kalo gak salah Warta Kota ya? Lupa 😦

Oh ya, semua gambar diambil dari Google 🙂

Badai di Ujung Negri

Belum terlalu sore ketika aku menyambangi warung Yu Minah. Semoga masih kebagian, karena sore sedikit baisanya sudah habis.

“Rujake masih, Yu? Bikinkan aku rujak serut ya.”

“Weh, tumben sore gini? Ndak kerja to, Jeng?”

“Hehehehe…..kerja, Yu. Tapi ngabur tadi, nonton bioskop.”

“Wee lhadalah, memangnya nonton apa?” Yu Minah yang usil itu sudah mulai meracik bumbu.

“Badai di Ujung Negri, Yu. Film tentang prajurit marinir kita yang menjaga perbatasan.”

“Wah, bagus dong?”

“Yah, lumayan meski awal cerita alurnya agak lambat. Pemainnya ganteng lagi ihik…ihik… Eh, tapi bukan itu masalahnya. Aku kok kasihan ya pada tentara-tentara kita yang bertugas di perbatasan itu. Aku gak tau bener apa tidak, tapi di film itu kok diceritakan umumnya mereka tidak diterima oleh masyarakat sana ya?”

“Masa iya to?” Yu Minah sudah mulai mengulek sambel dengan goyangannya yang khas itu.

“Iya, mereka dianggap beban. Tapi bukan itu masalahnya.”

“Lho, kok bukan lagi? Jadi apa dong, masalahnya?”

“Peralatan perang kita, Yu. Udah tua semua. Kapalnya aja bekas, ndak isa lari kencang. Kalo ada apa-apa gimana?”

“Iya, Jeng. Padahal prajurit kita itu terkenal pemberani lho. Apalagi pasukan elit itu.”

“Tapi kalo ndak ditunjang peralatan yang canggih ya timpang to, Yu? Masa sama negara tetangga kita yang lebih kecil aja kalah canggih.”

Keringat mulai menetes-netes di dahi Yu Minah. Dengan deg degan aku mengawasi tetesan-tetesan itu. Kuatir nyemplung ke rujak nan lezat buatannya.

“Itulah Jeng, peralatan tempur kita emang banyak yang sudah ndak memadai. Sekalinya beli baru ee kesangkut masalah. Edan to?”

“Kapaan ya, Yu, negara kita ini bebas korupsi. Di samping supaya rakyat sejahtera kan kita bisa melengkapi alutsista kita dengan yang canggih. Wong negara kita ini begitu kaya dan indah. Kalo sampai pulau-pulau kecil itu tak terjaga dengan baik lalu dirampas orang kan sayang. Belum lagi kekayaan laut yang dengan semena-mena dirampok tetangga-tetangga yang tak bertanggung jawab itu. Huh!”

Yu Minah mulai membungkus rujakku.

“Gimana korupsi ini mau hilang kalo sampeyan aja masih korupsi gitu.” Weits? Tenang dan tanpa dosa ia mengatakan itu.

“Lho. korupsi apa? Saya ini paling ndak pernah ngutak-atik uang kantor kok? Pegang juga ndak? Jangan sembarangan, Yu!” sahutku meradang.

“Lha, ini? Pulang sebelum waktunya, malah nonton? Apa ini bukan korupsi? Korupsi waktu to?”

Sial!!! 😡

Beruang vs Tak Beruang

Ini bukan beruang grizzly, Kawan ato beruang kutub apalagi beruang madu. Maksud beruang ini adalah ber”uang”, seseorang yang mempunyai uang. Kau tau Kawan, betapa enaknya menjadi orang yang beruang banyak. Lihat saja contoh ini.

Bila kau beruang dan sekaligus seorang pesakitan…….

Maka kau bisa masuk keluar penjara kapanpun kau mau. Jangankan cuma pulang ke rumah, wisata ke Raja Ampat pun bukan masalah. Coba kalo kau tak beruang? Yah, nikmati saja hidupmu dalam bui. Boro-boro mo keluar pagar, baru liat pintu saja sudah dicurigai.

Bila kau beruang dan sekaligus pemain cinta ulung……..

Maka kau akan aman bercinta di hotel bintang lima. Tak seorangpun berani mengetuk pintumu walo hanya sekadar mengantar koran pagi. Coba kalo kau tak beruang? Yah, nikmati saja permainan cintamu di hotel melati. Dan siap-siaplah digrebek aparat setiap saat. Karena kau hanya warga kelas tiga.

Bila kau beruang dan sekaligus politikus…….

Maka kau akan dikelilingi orang-orang yang tiba-tiba selalu ada untukmu. Melayanimu dengan harapan kelak kau akan ingat padanya dan memberinya “cipratan” kekuasaan. Coba kalo kau tak beruang? Ohh, nyamuk pun enggan menghinggapimu!

Bila kau beruang dan karenanya jadi anggota dewan…….

Maka kau bisa wisata ke dalam negri, ke luar negri tanpa harus keluar biaya sepeserpun. Toh sudah kau peras orang-orang dari golongan tak beruang itu untuk membiayai perjalanan wisatamu bukan? Coba kalo kau tak beruang, hahaha….. ke Taman Mini sajalah, lewat pintu yang tak dijaga petugas, gratis!

Bila kau beruang dan sekaligus pengusaha besar (tentu saja kau beruang!)…….

Maka tak perlu pusing membayar pajak. Tidurlah dengan nyenyak. Sudah ada  “tukang sulap”, sehingga kekayaanmu bahkan takkan berkurang satu persenpun. Coba kalo kau tak beruang. Oohh, siap-siap saja telingamu dijejali dengan jargon-jargon pajak. Bayarlah pajak! Dengan membayar pajak berarti bla…bla…bla…

Bila kau beruang dan sekaligus pejabat (haruskah pejabat beruang? Ato beruang setelah menjadi pejabat?)……..

Maka kau bisa menandatangani cek pengeluaran-pengeluaran fiktif tanpa harus ada buktinya sedikitpun. Cek perjalanan dinas, walo kau tak kemana-mana. Pembangunan taman kota, walo hanya sekedar lahan kecil ditanami rumput Jepang dan sansivera. Coba kalo kau tak beruang? Tentu saja kau takkan jadi pejabat, bodoh!

Tapi tak usah sedih, Kawan kalo kau masuk golongan tak beruang. Karena uang itu godaan. Berbahagialah kau bila hidupmu pas-pasan tapi kau jujur, ikhlas dan selalu berikhtiar. Karena sesungguhnya kerajaan surga dekat padamu.  Dan bagi orang-orang yang beruang namun didapat dengan keculasan, kecurangan, dan dengan menindas orang lain maka nerakalah yang menanti (ahaiiii, suit….suit….) 😀 Sok tauuuuuu………. 😆

Sang Penari

Tak lelo lelo lelo ledung, cup menenga aja pijer nangis anakku sing ayu rupane….

Alunan kendang mengentak semakin keras. Lelaki-lelaki itupun semakin beringas laksana kuda jantan menahan berahi. Sang Penari berusaha terus mengimbangi, sementara batin pun semakin lantang melagukan buaian. Dengarlah, dengarlah, anakku, Ibu kan terus membuaimu, tidurlah lelap, hentikan tangismu Nduk Cah Ayu. Tidurlah … tidurlah lelap.

Tak gadang bisa urip mulyo, dadiyo wanito utomo, ngluhurke asmane wong tua

Senyum menggoda tersungging, kerling mengundang mengerjap dan sampur pun terlempar. Sang Penari menggelinjang, dengusan kuda jantan membuatnya melengos. Oh, memuakkan, menjijikkan, menggelikan. Namun senyum tetap merayu, kerling tetap mengundang. Sang Primadona telah kembali! Penari paling cantik, penari paling menggairahkan, penari paling menggoda. Dan sanubari pun kian lantang melagu. Lelaplah Anakku, cepat besar Cah Ayu, kelak kau kan jadi wanita mulia. Biarlah Ibumu jadi bunga layu, namun kau kelak kan semerbak dan terhormat. Tidurlah…tidurlah lelap.

Tak lelo lelo lelo ledung, cup menenga anakku cah ayu, tak emban slendang batik kawung

Sampur jingga berpindah. Mengalungi leher kuda terbaik. Ringkikan dan dengusan berputar-putar seirama kendang. Iri hati dan ejekan menguar di udara. Bunyi gamelan dan pekikan sinden semakin menggila. Sang Penari mengernyit, dadanya membengkak sakit, membeku. Air kehidupan mulai merembes menembus kemben hijaunya. Gemulainya mengejang, pinggulnya tersendat. Oohh, jangan menangis Cah Ayu, sebentar Ibu kan datang. Lelaplah Sayang, biar Ibu selesaikan malam nista ini, segera Ibu kan menggendongmu, sesaplah air susu sepuasmu. Tidurlah… tidurlah lelap.

Cup menenga anakku kae bulane ndadari kaya ndas butho nggilani agi nggoleki cah nangis

Malam tak kunjung usai, bahkan bulan pun kian mengemas dan awan-awan jauh menyingkir. Keringat dan asap tembakau menodai udara. Sang Penari semakin sakit. Bahkan kalbunya tak mampu lagi membuai. Kelu, kaku, bisu. Terbayang derita sang buah hati nun jauh di sana, sendiri hanya berteman nenek tuanya. Tergambar tangisan sang bayi, yang lapar air kehidupan, rindu menyesap air susu nan melimpah. Ditariknya sampur jingga dari leher kuda jantan terbaik. Teriakan dan cercaan mengiringi langkahnya. Hinaan dan cacian mempercepat larinya. Ibu pulang Anakku, biarlah tak membawa uang, biarlah tak membawa beras, hanya air susu ini yang kau butuhkan bukan? Jangan lelap Anakku… Ibu datang.

Tak lelo lelo lelo ledung cup menenga aja pijer nangis anakku sing ayu rupane

Deras air mata mengalir, jatuh di kening sang buah hati yang menyesap dengan rakus sari manis kehidupan. Tamat sudah primadona ronggeng ini. Kuda jantan terbaik itu telah memakinya, meneriakinya, artinya tamat sudah! Oh, Nduk Cah Ayu, andai dia tahu, andai kau tahu, pejantan itulah Bapakmu! Semoga kau pun serupawan dia, namun Ibu berdoa agar kau tak mewarisi bejatnya! Tidurlah… tidurlah lelap, Cah Ayu. Malam kan segera berlalu, biarlah kesusahan esok untuk esok saja, cukup sudah untuk hari ini.

Senior

Kata sobatku, senioritas seorang kenek bisa dilihat dari caranya ngenek (halah, opo to yo?). Kalo kenek masih baru, dia akan berteriak begini:

“Cililitan…. Cililitan…. Kampung Rambutan…. Kampung Rambutan……”

Ato:

“Cilodong…. Cilodong…. Cibionong…. Cibinong….”

Nha, kalo kenek dah senior gak gitu teriaknya. Tapi gini:

“Litan…. Litan…. Rambutan…. Rambutan….”

Ato:

“Lodong….. Lodong…. Binong… Binong….”

Antara percaya dan tidak sih. Tapi berhubung dia yang sudah sejak bayi jebrot ada di Jakarta ya percaya ajah. Ee tapi, aku masih penasaran. Maka aku bertanya, “Trus kalo kenek yang dah mo pensiun teriaknya gini ya:

“Tan…. Tan….. Mbutan….. Mbutan…..”

Ato:

“Dong…. dong…. Nong…. Nong….”

gitu ya?”

Lah wong cuma ngomong gitu aja kami berdua bisa cekakakan ampek merem,  ampek mulez, ampek mo nabrak kerucut oranye itu? Ngebayangin calon penumpang bis bingung diteriakin kayak gitu. Ha malah menimbulkan pertanyaan 😆 😆

Ck…ck…ck… padahal obrolan ra mutu blaz!!! Kadang-kadang kita bedua mang suka korslet 😦