Iseng Aja · Mbuh Ah !

Salju di Indonesiaku

Kawan, kau tentu juga merasakan kalo cuaca kini sungguh tak menentu. Aku sampe bingung, sekarang ini musim panas ato musim ujan sih? Kadang siang terasa begitu panaz, eee… tiba-tiba sorenya ujan deras. Ato kadang siang terang benderang tapi ada hujan. Aneh benar bumiku ini. Kata orang-orang pinter itu sih akibat global warming.

Nah, gara-gara cuaca yang tak menentu ini aku jadi menghayal (halah, hobi kok ngayal!). Mungkin gak ya terjadi pergeseran iklim di bumi ini. Yang tadinya tropis jadi sub tropis, sub tropis jadi sedang. Ato lebih ekstrim lagi yang tropis jadi dingin. Wow, jadi akan ada salju di Indonesia ku tercinta ini. Indahnyaaa….. terbayang salju putih bak kapas melayang-layang di udara, menutupi atap-atap rumah, menyelimuti pepohonan, menaungi bukit-bukit, seperti gambar-gambar di kartu pos. Frosty the Snowman akan ada di tiap halaman rumah. Dan nyenyaknya tidur dengan selimut tebal tanpa perlu AC. Aaahhh…..

Dinginnya? Brrr, pasti dingin sekali. Tapi terbayang indahnya salju rasanya terbayarkan kok dan setelah itu akan tiba musim semi. Bunga-bunga bermekaran di mana-mana, wangi rerumputan yang baru tumbuh, kicau burung-burung yang ramai, lenguhan mamalia yang bangun dari hibernasinya. Oohh, indah bukan? (kebanyakan nonton Nat Geo). Dan suhu panas di bumi tanah airku ini pasti akan turun.

Eeee, tapiii, kasian jugak ya yang juwalan AC pasti jadi gak laku, gitu juga para tunawisma yang kan membeku. Tukang es yang harus segera alih profesi, rumah-rumah yang bocor mesti siap menampung lelehan salju, emak-emak mendadak harus ada budget wat beli baju tebal, sawah-sawah terbenam salju, ladang-ladang jadi mandul, empang membeku. Ternak pun malas menghasilkan. Dan hutanpun berubah menjadi hantu yang menyeramkan. Putih dan putih.

Ah, terpaksa kubuang khayalanku. Ternyata lebih banyak repotnya than happy nya. Soalnya bangsaku ini masih lom sejahtera. Masih banyak orang yang gak punya rumah, dinding sekolah pada ambruk, masih banyak penambang tradisional yang mengandalkan hidup dari mengais tanah, penjaja yang berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Ya sudah, mungkin salju memang milik negara-negara maju sana. Cukuplah dua musim saja di negriku tercinta. Lha wong dua musim aja sudah begitu repotnya. Banjir masih tak tertanggulangi, kekeringan masih menghantui.

Sudahlah, aku masih dan akan selalu mencintai Indonesaku, walo tak punya salju dan masih memelihara banjir yang mengikis. Lagipula kata kekasihku, kalo terjadi pergeseran iklim maka bumi ini akan hancur, kiamat di ambang pintu hiiiyyyyy……. kalo gitu gak usah deh!

PS. Postingan ini efek dari menahan haus yang sangat


Iseng Aja · Ketawa dulu · Mbuh Ah !

Gigi Emas

Kemaren seorang Kawan memberiku oleh-oleh coklat dari Hongkong. Kok tau bener kesukaanku ya? Nah, pas makan coklat ini tiba-tiba timbul keisenganku. Aku gak tau ini keisengan ato gejala suatu penyakit 😆

Bungkus coklat ini berwarna emas, Kawan. Maka segera kuambil compact powder ku dan aku berkaca. Sejurus kemudian kupanggil sobatku. Oya, kami hanya berdua dalam ruang kerja yang lumayan luas ini. Ketika sobatku menoleh, aku tersenyum lebar sambil mengedip-ngedipkan mata. Dan……

KYAAAAAAAAAAAAA…………..

Sobatku berteriak keras sampai kedengeran dari Bank sebelah. Dan aku pun tertawa ampek terguling-guling….

HUWAHAHAHAHAHAHAHAHA………………

Sementara sobatku geleng-geleng kepala. Gimana gak teriak wong gigi depanku tak lapisin kertas emas hahahaha….. bak penjuwal duren di pinggir kota hahahahaha……

Tapi memang gigi emas ini pernah ngetop pada jaman dulu bukan? Dulu ketika kecil aku pernah takjub melihat seorang pedagang di pasar tersenyum memamerkan gigi emasnya yang berkilat-kilat.. tring…tring….

Hmm, sekarang masih ada gak ya? Hahahahaha…… aku masih geli setengah mati…..

Bagus juga namanya yaa darkChoco...

Iseng Aja · Mbuh Ah !

Paul The Octopus Vs Dedi Corbuzier

Aku sih gak ngikutin acaranya Om Dedi Corbuzier yang nebak-nebak itu. Tapi semalem sempet liat waktu dia mbukak kotak yang katanya dah disimpan selama sebulan itu. Hasilnya Belanda : Spanyol 0 : 2 1. Wah, huebaaattt, tebakannya benar ampek seakurat itu! 😆

Tapi menurutku kepiawaian Om Dedi masih kalah sama Om Paul The Octopus. Lha, kalo Om Paul nebak sebelum pertandingan mulai, nek Om Dedi kan beraninya mbukak pas dah ketahuan hasilnya. Cobak, hebat yang mana? :mrgreen:

Aniwei, tanpa terpengaruh ramalan Om Paul, aku mang dah jagoin Spanyol. Abisnya kekasihku jagoin Belanda jadi ya aku pilih Spanyol, dong. Pokoke waton ora akur :mrgreen:

Dengan kemenangan Spanyol ini juga meruntuhkan anggapan bahwa Piala Emas ini secara bergantian dipegang oleh negara dari benua Amerika dan Eropa. Nyatanya 4 th lalu dipegang Eropa skarang Eropa lagi 😀

Selamat atas kehebatan Spanyol. Dan semoga Belanda diberi ketabahan 😀 Apapun sama-sama lom pernah mbawa pulang itu piala sih 🙂

Ketawa dulu · Mbuh Ah !

Kekalahan Inggris

Kekalahan Inggris dari Jerman rupanya membuat para supporternya sangat kecewa. Khususnya para penduduk Inggris sendiri. Maka kepulangan timnas Inggris yang lebih awal ini membuat mereka marah-marah. Setiap ada pemain Inggris yang nampak di jalanan dilempari tomat dan telur. Bahakan David Beckham yang gak ikut main pun turut menjadi sasaran. Maka setiap kali Beckham hendak bepergian terpaksa dia menyamar menjadi seorang nyonya agar tidak celaka.

Pada suatu hari, Beckham pergi ke kantor pos dengan gaunnya. Tiba-tiba seorang gadis menyapanya.

Gadis         : Hei, kamu David Beckham, ya?

Beckham : Ah, bukan!

Lalu Beckham terbirit-birit meninggalkan kantor pos. Dan pada suatu hari kembali Beckham harus ke luar rumah. Kali ini dia ke stasiun. Dan entah darimana munculnya, gadis yang dulu kembali menegurnya.

Gadis         : Hei, kamu David Beckham, kan?

Beckham : Ah, bukan!

Dan lagi Beckham melarikan diri dengan terbirit-birit. Eh, lha kok dasar sial. Pada suatu hari yang lain saat Beckham pergi ke ATM, gadis yang sama datang lagi menegurnya.

Gadis         : Hei, kamu David Beckham, kan? Ngaku aja, deh!

Karena kesal sambil celingukan Beckham menjawab.

Beckham : Kok kamu tau sih kalo aku David Beckham?

Gadis itu juga tengok kiri dan kanan sebelum menjawab.

Gadis        : Pssst, aku Rooney!

Waaaakkkzzz????

PS. Terinspirasi dari ceritanya M. Rafiq 😀

Iseng Aja · Mbuh Ah ! · Tak Enak

Kaset Rusak

Kalo sekarang sih lebih cocok dibilang CD rusak. Tentunya kau pernah mengalaminya, Kawan. Lagi asyik dengerin lagu tau-tau kok gak maju-maju, muternya di situuuu aja berulang-ulang. Jadi gak abis-abis brenti en berulang-ulang di tengah satu lagu. Paling males bukan klo mengalami hal ini?

Tapi ternyata, metode kaset rusak adalah salah satu terapi mujarab untuk melupakan satu peristiwa traumatis ato peristiwa yang ingin kita hapus dari memori. Lho? Kok malah diulang-ulang? Iya, dengan membicarakannya terus-menerus dan berulang-ulang kayak kaset rusak justru mempercepat kesembuhan.

Contoh soal, seseorang yang dikhianati pasangannya. Tentunya sedih tak tertanggungkan sekalipun si pasangan sudah menyesal dan minta maaf. Alangkah baiknya kalo pasangan tersebut membicarakan masalah itu sampai tuntas. Tentu saja menyakitkan buat yang dikhianati dan memalukan buat si pengkhianat. Tapi dengan membicarakannya terus-menerus ternyata mampu meringankan beban si yang dikhianati. ‘Coz dengan membicarakannya si korban akan merasa lebih ringan, lebih lega, dan lama-lama akan terbiasa dan kemudian pada akhirnya akan melupakan kejadian gak enak itu.

Ato korban pelecehan.  Awalnya mungkin berat ato malu untuk menceritakannya. Tapi kalo dipendam terus, gakkan bisa sembuh. Bisa menimbulkan depresi berkepanjangan. Coba klo diarahkan untuk menceritakan terus-menerus. Tapi tergantung cara ngajak bicaranya juga. Mesti pelan-pelan, sabar, dan harus seorang pendengar yang baik. Masa kesembuhan sih tergantung masing-masing pribadi dan penanganannya. Pribadi yang introvert tentu akan lebih lama membuka diri.

Halah, sok taunya diriku 😀 Tapi aku pernah mendengarnya ato membacanya entah di mana 😀 Kalo terapi ini gak berhasil yaaaa coba aja konsultasi pada ahlinya. Mungkin dengan konsultasi yang per jamnya sekian ratus ribu itu bisa mempercepat kesembuhan. Nek lama-lama makin mahal soale, jadi mendingan cepet sembuh aja :mrgreen:

Iseng Aja · Mbuh Ah ! · Nimbrung Mikir · Tak Enak

“Maha”siswa

“Maha”siswa, tak semua pemuda bisa menyandang gelar bergengsi itu
Susah payah sang ayah, berkeringat darah dan berairmata empedu
Namun tiap orang tua ingin sang anak terus maju
Kelak kau kan berjubah dan bertoga, dengan senyum semanis madu

Ah, tak taukah kau “Maha”siswa?
Betapa ibumu menangis melihat kau di jalan raya
Melempar batu merusak segala yang ada
Tak taukah kau “Maha”siswa?
Segala yang kau rusak itu ibumu juga yang punya?
Ayahmu yang membayar dengan cucuran peluh di dahinya?
Rakyat papa ini tak punya lagi apapun tuk menanggungnya
Mengapa pula mesti kau binasakan?

Kaum intelektual bukan julukanmu? Yang cerdas dan santun
Tapi kulihat, lagu anarkis yang terlantun
Caci maki, sumpah serapah yang kutangkap, itukah santun?
Sekali lagi kuingatkan, “Maha”siswa, Adikku
Tengoklah ke belakang bahumu
Ibu tercintamu meratap menangis pilu
Berharap tak sesuatu yang buruk terjadi padamu
Adikmu memang mengelukanmu, mengagumimu
Namun taukah kau apa yang tersimpan di benaknya yang lugu?
Oh, itulah “Maha”siswa, Ibu, kelak aku mau seperti itu
Berlari berkejaran, boleh melempar batu ke segala penjuru
Boleh menjungkirbalikkan kendaraan, boleh membakar hingga mengabu
Boleh memukul orang tanpa ragu

Kini kutanya padamu, “Maha”siswa, Adikku
Kelak kalau kau telah jadi sang pemimpin, sang penguasa
Mampukah kau jaga apa yang telah kau perjuangkan
Terjaminkah kelak kau kan jadi yang adil bijaksana
Cobalah sedikit kau renungkan
Tidakkah kau lihat sebagian pemimpin sekarang
Dulu melakukan apa yang kau lakukan, menyuarakan mimpi-mimpi
Tapi tengoklah kerja mereka, bukankah tetap berkorupsi?
Sungguh aku sangat kawatir, Adikku, “Maha”siswa
Kini kau terbawa emosi dan kehilangan makna perjuangan
Aku kawatir kelak kau kan berubah mengikuti arus jaman
Bukankah harta dan tahta tetap menggiurkan?

Kini, sekali lagi kutanya, Adikku, “Maha”siswa
Sudahkah kau belajar dengan sungguh-sungguh?
Sudahkah kau berprestasi di kampusmu?
Berapakah “IP” terakhirmu?
Oh, kau boleh jawab “IP” takkan pengaruhi masa depan
Tapi setidaknya itu hasil, bahwa kau sungguh seorang “Maha”siswa
Lihatlah Ayahmu, lihatlah Ibumu
Tak hentinya berdoa dan berusaha demi dirimu
Agar kelak ada seorang “Sarjana” dalam keluarga

Sudahlah, Adikku, “Maha”siswa
Tetap kudukung segala daya upayamu untuk negara ini
Tapi, lakukan dengan elegan, dengarkan hatimu, tanpa anarki
Tolong, jangan buat cemas rakyat yang sudah papa ini
Jangan ciptakan kengerian bagi kami

Satu doaku untukmu Adikku, “Maha”siswa
Semoga semua kau lakukan dengan murni dan nurani
Bukan karena frustrasi atau patah hati
Bukan karena pelampiasan atas ketakpuasan
Perjuangkan segala yang harus kau raih dengan hati
Kelak, kami akan bangga melihatmu
Bertoga dan berjubah, dengan sehelai kertas tergenggam
Dengan senyum semanis madu

Iseng Aja · Mbuh Ah ! · Tak Enak

DPR = Sekolahan = Terminal?

Lha kok bisa? Ha mbuh, wong kenyataannya yang kulihat gitu kok? Semalam Kawan, aku liat di Metro TV rapat DPR itu. Walah, sebelum rapat mereka nyanyi-nyanyi dulu. Persis morning gathering di sekolah malaikatku, sebelum pelajaran  mereka nyanyi mars sekolah lalu meneriakkan yel-yel sekolah trus yel-yel masing-masing kelas. Gak papa sih, untuk memberi semangat! Bahkan ini lebih baik daripada cuman datang, duduk, ngemil, bobok, lalu tereak “setujuuuu”.

Trus kayak terminalnya di mananya dong? Itu lho, wong yang satu masih ngomong, nyang lain dah manggil-manggil “pimpinan”. Ntar nyang satu lagi aja lom dijawab nyang lain dah manggil-manggil jugak. Bukankah itu persis situasi di terminal? Yang satu tereak Lebak Bulus, yang lain teriak Kampung Rambutan, trus Cilandak, Ragunan, halah komplit deh!

Yang lebih mengenaskan, lagi dibacain apa tuh di podium (lupa), lha kok ada yang ngomong manggil “gang” nya pake mikrofon! Ck…ck… bener-bener gak ada penghargaan! Inikah yang disebut “dewan terhormat”? Wakil rakyat yang dihormati, yang santun, yang berpendidikan, yang memegang amanat? Wong kelakuannya aja gak jelas! Aku curiga mereka hanya ingin menonjolkan diri. Ntar makin heboh, makin berani tereak, bakal diwawancara tipi, diundang jadi narasumber, ngetop deh!

Emang sih, mereka rela gak tidur ampek malem, rela meninggalkan keluarganya, apalagi mbak-mbak anggota dewan yang masih punya bayi. Tapi mbok ya yang elegan, santun, klo ngomong gantian, saling menghargai, kan enak. Semua bisa dengar jelas, kita jadi tau apa sih yang mereka perjuangkan. Rakyat makin percaya.

Halah, tau apa aku ini? Wong cuma emak-emak ra mudeng. Tapi aku yakin, apa yang kupikirkan ini mewakili perasaan emak-emak lain ato bahkan mungkin rakyat sing sama gak mudengnya ma diriku (ato cuma diriku nyang gak mudeng?). Tapi Kawan, sungguh aku sudah muak melihat semua ini! Maafkan aku, tapi inilah yang ada di benakku saat ini 😦

Iseng Aja · Mbuh Ah ! · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Menyalahkan Tuhan

Akhir-akhir ini Kawan, kalo kau menyaksikan berita-berita di TV, terutama infotainmen (halah, dasar emak-emak, tontonane…. ck….ck…ck…), kau akan melihat bahwa seriiiing banget Tuhan itu dipersalahkan. Betul, Kawan, Tuhan dipersalahkan dalam masalah yang notebene mereka buat sendiri.

Contoh kasus, seorang artis cantik nan sexy yang rela menjadi istri kedua ato ketiga ato keempat seorang konglo ato pejabat ato pengacara kondang dan jelas-jelas menyakiti hati perempuan pendahulunya, ketika ditanya wartawan mereka akan jawab begini, “Aduh, siapa sih yang mau jadi istri kedua, Mbak? Ini sudah KEHENDAK YANG DI ATAS, aku cuma bisa pasrah. Ya sudah, jalani saja.”

Ato pasangan selebritis ngetop yang sudah menjalani perkawinan belasan ato puluhan tahun tiba-tiba bercerai, dia akan membuat statmen begini, “Yaaah, mo gimana lagi. Ini sudah KEHENDAK YANG DI ATAS, kita cuma bisa ikhlas menerimanya.”

Ada lagi, Kawan, ketika seorang ngetop lainnya ditahan karena narkoba ato kasus kejahatan lainnya dan harus menjalani hidup di penjara, pastiiiii dia akan ngomong gini, “Ini cobaan dari YANG DI ATAS dan SUDAH MENJADI KEHENDAKNYA. Saya akan terima dan mencoba untuk tabah, doaian ya teman-teman wartawan…

Sudah? Itu aja? Gaaak, masih ada lagi. Ketika seorang ngetop lainnya yang bukan dari dunia hiburan yang jelas-jelas melakukan korupsi ato kejahatan lainnya, tapi kali ini yang diwawancara istrinya. Kau pasti tau Kawan, gimana istri-istri yang turut menikmati kemewahan itu akan berkata. “Saya hanya berdoa untuk Bapak. Bagaimanapun itu SUDAH KEHENDAK YANG DI ATAS. Saya akan terus mendukung suami saya.”

Oooohhhh, muaknya aku mendengar kata KEHENDAK YANG DI ATAS! Memangnya sapa sih yang di atas? Awan? Langit? Bulan? Bintang? Sesungguhnya aku tau maksud mereka, Kawan. Sedih hatiku betapa Tuhan Allah selalu dipersalahkan. Tak taukah mereka bahwa hidup itu PILIHAN? Bahwa YANG DI ATAS itu memberi kebebasan mutlak kepada kita untuk boleh memilih? Memilih untuk menjadi istri kesekian ato cari kekasih lain yang masih bebas tak terikat? Memilih untuk tidak bercerai namun mencari solusi? Memilih untuk tidak ngedrug tapi minum susu aja? Memilih untuk menjadi koruptor ato hidup sederhana namun bersih?

Memang, hidup kita telah disuratkan. Namun Tuhan pun memberi kita nurani untuk selalu didengar, untuk menuntun langkah kita. Maukah kita mendengar nurani kita? Kawan, bahkan bencana lapindo pun pilihan!

Selamat tahun baru 2010.

Semoga segala yang kita inginkan tercapai. Dan tak lagi kita menyalahkan Tuhan. Karena semua pilihan. Berdoalah agar Tuhan yang Maha Baik itu membantu kita untuk menentukan pilihan.

P.S. Infoteinmen mo dihapus??? Hmmm, setuju sajalaaah 😀

Iseng Aja · Mbuh Ah ! · Nimbrung Mikir

Perlukah Perempuan Bekerja?

Hohohoho….. tentu saja pertanyaanku ini tidak berlaku bagi para pria. Terutama pria ejaan lama yang tidak setuju istrinya bekerja. Pertanyaan ini kutujukan untuk perempuan ato setidaknya diriku sendirilah. Mengapa perempuan mesti kerja? Banyak alasan bisa diajukan tapi hanya satu alasan bagiku.

Untuk membantu perekonomian keluarga? Ah, terlalu klise walopun ada benarnya. Sebetulnya kalo mau hidup apa adanya, gak banyak tuntutan, gak banyak keinginan ini itu gaji suami sudah lebih dari cukup kok. Lihat saja mereka yang bergaji UMR masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga kok, walopun pas-pasan.

Mmm, untuk menambah wawasan? Halah, gak usah kerja juga bisa kok. Rajin nonton berita, jangan sinetron mulu! Baca koran (bukan tabloid gosip, lhoo), buka internet (ngeblog juga gak papa kok 😀 ) Bukankah sekarang dunia bisa dilihat dan dikunjungi tanpa meninggalkan rumah?

Trus apa, dong? Oh, mengamalkan ilmu yang didapat di sekolah? Waah, yang ini bo’ong banget! Aku ini Kawan, seorang lulusan pertanian. Tapi apa kerjaku sekarang? Hehehehe, gak ada hubungannya babar blaz sama tumbuh-tumbuhan! Tapi benar sih, ortu sudah mencurahkan segala daya upayanya untuk menyekolahkan kita, kalo gak diamalkan ya sia-sia dong. Walopun sebetulnya gak usah dengan bekerja secara formil juga bisa sih.

Masih banyak alasan lain. Dan itu hanya sedikit alasan dari yang banyak. Alasan aku kerja hanya untuk “berjaga-jaga“. What??? Berjaga-jaga dari apa? Dari banyak hal, Kawan. Perempuan itu pada dasarnya makhluk lemah (eh, aku doang kali yang begini?) tapi sekaligus makhluk terkuat (bukan fisiknya lhooo). Ada contoh kasus. Temanku, seorang dokter cantik, pandai dan terampil. Hidupnya berkecukupan dan enak. Namun tiba-tiba langit runtuh menimpanya. Suaminya tanpa kabar berita meninggalkannya bahkan meninggalkan setumpuk hutang yang harus dilunasinya. Oh, God. Tragis bukan? Pada awalnya temanku cukup down, namun segera bangkit kembali untuk menata hidupnya dan gadis kecilnya. Untunglah pekerjaannya cukup mapan dan dia pun semakin giat bekerja. Coba kalo dia gak kerja?

Lalu seorang temanku yang lain. Suaminya menderita sakit cukup lama dan akhirnya meninggal dunia. Temanku ini mempunyai dua anak gadis usia sekolah menengah yang tentu saja sedang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Coba kalo dia gak kerja?

Tapi aku gak punya teman yang ditinggal kawin lagi ma suaminya. Ini juga contoh bukan? Kalo dia gak mo dimadu berarti harus bercerai, berarti harus hidup sendiri, berarti harus mencukupi kebutuhannya sendiri. Coba kalo dia gak kerja?

Hiiiyyy, mudah-mudahan itu semua tidak menimpaku. Tapi bila SANG SUTRADARA berkehendak lain? Memang sih seolah-olah kok gak percaya akan pemeliharaanNya. Padahal burung pipit yang tak menanam pun bisa terus hidup  (eh, gimana tuh cuplikan Kitab Suci?). Tapi kita kan gak bisa meratapi nasib, harus bangkit kembali bukan? Kalo perempuan yang mewarisi kekayaan ampek tujuh turunan sih gak masalah. Seperti ku posting sebelumnya, keluargaku jugak kaya tujuh turunan. Sayangnya aku keturunan yang kedelapan. So, aku mesti kerja untuk berjaga-jaga bukan?

So, itulah alasanku (rada dibuat-buat sih 😀 ) untuk terus bekerja. Untuk berjaga-jaga. Di samping aku juga menyukai pekerjaanku 😀

Iseng Aja · Mbuh Ah !

Cita-citaku

Lho, masih punya cita-cita to? Lha iya, wong cita-citaku jadi dokter lom kesampaian. Hehehe… tentu saja bukan cita-cita seperti itu, Kawan. ‘Coz yang begitu dah gak mungkin deh! Apa sih tepatnya ya, impian mungkin ato keinginan ato obsesi? Ah, apa sajalah bagiku ini tetap cita-cita yang ingin kuwujudkan.

Sederhana saja cita-citaku ini. Mungkin bagi banyak orang bukan cita-cita tapi malah dah bagian hidup sehari-hari. Iya, iya, tapi apa cita-citanya? Mbulet aja dari tadi.  Sederhana saja…… Halah! Diulang lagi? Ya…ya… kali ini serius.

Aku ingin punya ruangan pribadi dalam rumahku. Ruang pribadi ini akan kujadikan perpustakaan dan ruang kerja. Perpustakaan? Apa saja koleksimu? Bukankah hanya fiksi dan fiksi? Hei, jangan kau rendahkan fiksi, Kawan! Hidup ini sudah sangat berat, kalo harus membaca yang berat-berat juga bukankah menambah stress? Kau mau tau koleksiku? Memang sebagian besar fiksi, namun ada juga yang setengah fiksi, ato fiksi berlatar belakang sejarah, ato fiksi berlatar belakang kisah nyata. Yaaa tetap aja fiksi! Dengan membaca kisah-kisah ini kau akan menjelajah dunia. Kau akan lihat Paris, New York, London, bahkan Banyumas ato Papua. Itu aku tau, lalu siapa aja pengarang yang kau sukai? Oo, banyak! Dari Enid Blyton sampai Sidney Sheldon, dari Ahmad Tohari sampai Eiji Yoshikawa, dari Mira W ampek Pramoedya Ananta Toer, Alfred Hitchcock ampek JK Rowling, S Mara GD ampek Agatha Christie, banyak lagi deh! Pokoke kalo kubaca ringkasannya bagus ya pasti kubaca. Sayangnya banyak buku yang kukoleksi sejak masih SD hilang. Dipinjam tak kembali ato tercecer sewaktu pindah 😦 Sedih bukan? Padahal sebagian besar dari buku itu tak lagi mudah dicari saat ini.

Trus, cuma itu cita-citamu? Oh, gak. Kan kubilang tadi perpustakaan sekaligus ruang kerja. Ah, mau kerja apa kau? Bukankah pekerjaanmu sekarang saja sudah merepotkan? Hohoho, bukan pekerjaan yang ini, Kawan! Kalau hidupku tlah mapan, kedua malaikatku dah besar, dan ruang perpustakaanku sudah tewujud, aku akan keluar dari pekerjaanku ini. Lho, jadi buat apa ruang kerja dan perpustakaan itu? Menulis, Kawan! Menulis! Itulah cita-citaku. Wuahahaha, menulis? Gak salah? Mau menulis apa? Kau bisa menulis? Hei, jangan dulu kau patahkan semangatku! Kau tau Kawan, dalam seumur hidupku sudah tiga kali naskahku dimuat di malajah. Pertama puisi di majalah anak, lalu cerpen di majalah remaja. Semua dapat honor, Kawan! Sekalipun semua itu kukerjakan ratusan tahun silam. Okay, lalu apa yang mau kau tulis? Laku di pasaran gak? Oh, aku akan menulis apa saja. Entah itu menghasilkan uang ato tidak. Karena cita-citaku ini lebih untuk kepuasan batinku. Tentu saja aku harus banyak belajar. Gak harus selalu dipublikasikan bukan?

Kau tau, Kawan, sering kubayangkan begini. Setelah kekasih dan kedua malaikatku memulai aktifitasnya, maka aku akan segera memasuki ruang pribadiku. Di situ aku akan membaca atau menulis. Hei, tentu saja aku gak mau direpotkan dengan urusan mengepel, jemur baju, ato menyetrika. Itu semua tetap dilakukan Mbak, so kukatakan tadi jika aku sudah mapan. Nah, setelah puas dan lelah, aku akan bersiap ke toko buku lalu menjemput malaikatku. Setelah seluruh belahan jiwaku pulang tentu aku takkan mengurung diri di perpustakaan. Aku akan kembali menemani dan mengurus mereka. Lalu setiap Sabtu dan Minggu aku juga libur, tak perlu menulis ato membaca. Demikian berulang. Enak to?

Tapiii, membosankan tidak ya? Entahlah. Jawaban itu akan kudapat setelah kugapai cita-citaku. Kalo bosan ya cari cita-cita yang lain. Belajar mbangun jembatan ato bikin kue talam sajalah 😀