Ahmad Sri Paus

Tersebut sedetailnya pidato Sri Paus itu, yang setelah jadi mu’allaf, namanya telah beralih jadi Ahmad Sri Paus (supaya umatnya tidaklah sangat kaget, jadi Ahmad Sri Paus tidak mengatakan salam terlebih dulu memulai pidatonya) :

Seorang kawan di grup WA mengirim link berita tentang Paus Yohanes Paulus II yang menjadi mualaf. Wah, sebetulnya ini berita basi menurutku. Malah setahuku bukan Paus Yohanes II tapi justru Paus Benedict πŸ˜…

Silakan klik quote link di atas jika kau ingin membacanya, Kawan. Tapi bukan itu sih yang membuatku ingin memosting sampah ini. Tapi nama “Ahmad Sri Paus”nya itu, lhoo πŸ˜‚ Asli, bikin ngakak sampai mual-mual (gaak … gak hamil, kok) πŸ˜‚πŸ˜†

Gini lho, “Sri Paus” itu kan, panggilan di tanah air kita tercinta. Orang seberang menyebutnya “Pope” yang berasal dari kata “pappas” atau “papa”. Lalu di Vatikan sendiri sering disebut Bishop of Rome atau Uskup Agung atau Supreme Pontiff. CMIIW.

Makaaa, jika beliau merubah namanya tentu bukanlah “Ahmad Sri Paus” (apalagi pakai Sri) πŸ˜‚ melainkan “Ahmad John Paul” atau “Ahmad Karol JΓ²zef Wojtyla”. Emangnye beliau tahu “Sri”? πŸ˜‚ Kalau “his holiness” sih, pasti tahu πŸ˜†

Udah gitu, si kawan tadi ngeshare baru kemarin dengan judul heboh, “tadi pagi bla … bla …”. Hellooo … setahuku Paus Yohanes ini sudah almarhum, dwehh πŸ˜† Pas kubaca, owhh ternyata berita itu dibagikan 15 th lalu. Ehh, pas baca sumbernya di bawah postingan, lhoo … Juni 2016? Mbuhlah, ra mudeng πŸ˜…

Intinya, jika kau ingin membagikan berita heboh nan dahsyat, hendaklah dicek dulu kebenarannya. Setidaknya googling dululaahh hehehe … πŸ˜‰

Maap lahir batin yaak πŸ€—

Ramuan Pembasmi Kecoax

Sampai dengan saat ini, aku masih menyatakan permusuhan dengan mahkluk bernama kecoa! Hewan yang hingga kini belum kuketahui kegunaannya. Eh, tapi setiap ciptaan Tuhan pasti ada maksudnya, ya? Hihihihi … ampuni hambaMu ini πŸ™‚

Tapi jika di masa-masa lampau aku belum tahu cara jitu membasmi kecoa, sekarang aku sudah tahu hahahaha 😈 Mau tahu rahasia ramuan yang diajarkan oleh kekasihku ini? Hahaha … baiklah, ini dia RAMUAN PEMBASMI KECOAAA (harap dibaca dengan suara Doraemon) …

Bahan-bahan:

  1. Shampoo secukupnya
  2. Air segayung

Cara pakai:

  1. Campurkan shampoo ke dalam air
  2. Aduk hingga merata, cepet-cepet aja keburu kecoanya kabur
  3. Siramkan ke tubuh kecoa dengan seksama, jangan panik bila dia mengejarmu, sebab kalau ramuanmu pas, kecoa akan langsung terbalik dan wafat tanpa sempat mengejar
  4. Hitung 1 – 24, dijamin belum selesai menghitung kecoa sudah terbujur kaku

Nah, seiring berjalannya waktu, kutemukan kenyataan bahwa ternyata bukan hanya shampoo yang manjur membasmi kecoa. Bisa dengan deterjen, sabun cuci piring, deterjen bubuk, pokoknya apa saja yang mengandung deterjen dan dicampur air! Siapkan ramuan tersebut di kamar mandimu, maka kau akan menikmati hari-harimu di kamar mandi dengan tenang dan nyaman πŸ˜€

Semoga bermanfaat! πŸ˜† πŸ˜›

(Kami sampai punya shampoo khusus untuk ramuan pembasmi kecoa. Mereknya? Rahasiaaaaa, dooongg … πŸ˜› πŸ˜† )

 

Tujuh Hari, Cukupkah?

Ahaiii, sudah lama banget gak update blog ini hehehe … maklumlah, lagi seneng-senengnya mainan di blog yang lain πŸ˜› Pun sedang ribet berusaha menuntaskan sebuah novel yang sudah selesai di kepala tetapi belum tuntas dituliskan, haiiyahh hahaha …

Di tengah kesibukan yang kadang beneran kadang dibuat-buat, aku dikejutkan oleh kabar bahwa salah seorang teman di kantor lama, suaminya menikah lagi! Padahal anak mereka sudah 4, yang paling kecil baru setahun lebih usianya. Aku tahu banget perjuangan mereka untuk mendapatkan anak, karena sudah bertahun-tahun menikah nggak juga dikaruniai buah hati. Justru ketika temanku memutuskan untuk bekerja malah jadi hamil, bahkan keterusan sampai empat πŸ˜€ Sejak kehamilan yang kedua akhirnya dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Temanku ini pendiam, sabar, saleha, hampir idamanlah πŸ˜› Entah mengapa suaminya memutuskan untuk menikah lagi setahun yang lalu.

Nah, memang sih bukan kapasitasku untuk membahas hal ini. Toh itu hal yang halal untuk dilakukan. Aku cuma bertanya-tanya untuk para lelaki pelaku poligami, mampukah mereka berbuat adil terhadap istri-istrinya? Maksudku gini, Tuhan menciptakan hari sebanyak tujuh buah (ehh? πŸ˜› ) Nah, kalo seseorang beristri dua, maka bagaimana membaginya? Kalau yang satu 4 hari yang lain 3 hari, apakah ini adil?

Terus kalau istrinya tiga, berarti 2 – 2 – 3. Nah, gak adil juga? Sekarang kalau istrinya empat, berarti 2 – 2 – 2 – 1? Ealaahh, pasti yang kebagian satu hari istri yang paling tua 😦 Kasihan banget 😦 Ya nggak papa juga sih, kan udah lebih lama πŸ˜› Jadi, bagaimana konsep adil dalam membagi jumlah hari ini?

Atau mungkin adil yang dimaksud yang seperti contoh ini. Seorang ibu mempunyai 3 telor sedangkan anaknya ada 4. Nah, karena anak yang pertama dan kedua sudah lebih besar, maka mereka cukup mendapat jatah setengah-setengah saja. Sedangkan kedua adiknya yang lebih kecil mendapatkan seorang satu? Secara anak-anak yang lebih kecil tentu membutuhkan gizi yang cukup untuk pertumbuhannya. Kalau betul konsep adil yang demikian, maka dalam hal poligami manakah yang lebih membutuhkan gizi lebih tinggi? Yang tua atau yang muda? Wahahahaha …. kalo menurutku sih, ya yang tua yang membutuhkan! Ada beberapa alasan, 1. Yang tua sudah cukup menderita diduakan atau diempatkan, maka ia lebih membutuhkan curahan kasih sayang. 2. Yang muda itu kan masih anget-angetnya, selalu bergelora, jadi yaa gak ada masalahlah ditunda-tunda dikit ketemuannya, supaya makin hot πŸ˜› 3. Memang sih, yang tua mungkin sudah kurang hot dalam melayani, tapi kan, dia menempati urutan pertama, dia yang selalu ada dalam suka dan duka ketika mulai merintis rumah tangga, layak dong, mendapat perhatian lebih. 4. Nah, yang muda ini kan, tinggal terima enaknya, suami sudah mapan, sudah banyak uang, jadi ya harap maklum kalo suami lebih banyak berkunjung ke istri tua.

Masalahnya, kalau ternyata istri mudanya lebih tua dari istri tuanya. Lhah, piye, dong? Ya biar aja, kan, statusnya tetep istri muda πŸ˜†

Baiklah, sekian ngomongin adil tak adil dalam poligami, cuma pengin tau aja, cukupkah 7 hari dalam seminggu untuk berlaku adil bagi istri tua dan istri muda, baik dua maupun tiga, atau bahkan empat? πŸ˜›

A Self Reflection: Tragedi Bulu

logo1

Ketika berniat menjawab tantangan OmNh tentang tangak-tengok blog sendiri, tiba-tiba aku malah jadi mumet sendiri. Bagaimana tidak, lha ternyata di tahun ke-7 aku ngeblog ini tidak banyak tulisan yang kubuat! Wahahaha … itulah sebab, aku baru tengak-tengok ya menjelang deadline! (itu bahasa diplomatisnya, Kawan, sebenernya sih, karena gak tau tulisan mana yang berkesan : mrgreen: ).

Baiklah, setelah tersentil dengan peringatan Si Om tentang “dead liner” dan “super dead liner” maka kuputuskan untuk memilih salah satu tulisanku, “TRAGEDI BULU” hahahaha … (mendadak ingat suara Doraemon). Tulisan ini ku publish pada bulan Februari 2014 lalu. Mengapa aku memilih tulisan ini? Karena meski bernuansa tragedi (haiyah) tetapi ini selalu menjadi topik yang lucu bila diingat-ingat. Bahkan setelah kutayangkan tulisan itu di blog dan kubagikan di grup keluarga, langsung bertebaran emoji ngakak sampai nangis! Apalagi tersangka utama alias Mbakayune tak bisa menghentikan tawanya, padahal dia sedang rapat koordinasi! Tentu saja menimbulkan keheranan dan ketakjuban di antara peserta rapat. Yeah, topik ini selalu menjadi pembicaraan yang menimbulkan tawa saat kami sekeluarga berkumpul di rumah Ibunda innocent0009 Free Emoticons   Innocent

Menayangkan tulisan itu bukannya tanpa pergulatan batin, Kawan (haiyah lagii), karena mau tidak mau supaya tidak dianggap hoax, harus ada bukti gambar, kan? Hahahaha … maka muncullah gambar bulu mataku yang mengenaskan itu ashamed0004 Free Emoticons   Shame Maaf bagi Kawan yang tidak beruntung karena sempat melihat gambar itu. Semoga tidak ada kejadian buruk yang menimpa setelahnya :mrgreen:

Lalu, apa hikmah dari tulisan konyol itu? Hohohoho … di balik setiap tragedi pasti ada hikmah yang bisa dipetik innocent0007 Free Emoticons   Innocent Yah, tulisan itu semacam peringatan bagi para ibu, tante, kakak, agar tidak melakukan perbuatan eksperimental terhadap anak, adik, keponakan, tanpa referensi yang jelas. Jangan sampai perbuatan yang ditujukan untuk kebaikan ternyata malah menimbulkan penyesalan seumur hidup (ampuun, bahasanyaaa). Tragedi yang kualami itu semoga bisa menjadi pembelajaran bagi pembaca. Berbagi pengalaman seburuk apapun kadang tanpa kita sadari bisa beguna untuk orang lain. Maka Kawan, jangan segan berbagi pengalaman, yang mungkin buruk buatmu tetapi akan menjadi pengetahuan berharga bagi orang lain.

Demikianlah, β€œPostingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

Wish me luck party0010 Free Party Emoticons

Kutukan Eiffel

Berada di Paris adalah mimpi dalam mimpiku. Tidak terbayang sama sekali! Aku harus berterimakasih pada Adrian, putra mahkota pemilik jaringan rumah sakit besar tempat aku bekerja. Hanya karena asistennya tidak jadi ikut, maka aku yang harus mendampinginya menghadiri konferensi dokter bedah kosmetik seluruh dunia. Sayangnya, Adrian ini selain tampan, kaya raya, namun sombongnya tidak tahan! Sepanjang konferensi aku selalu menghindarinya, lebih baik berteman dengan para dokter dari seluruh belahan dunia, meski aku hanyalah dokter umum baru lulus.

Sayangnya, malam ini aku tidak bisa menghindarinya.

“Ini malam terakhir, aku mau kau ikut aku,” ujarnya. Ini bukan mengajak, tetapi bersabda.

“Ke mana, Dok?” tanyaku berusaha sesopan mungkin.

“Eiffel, tentu saja! Kau belum ke Paris kalau belum mengunjungi Eiffel!”

Yeah, siapa juga yang menolak? Setelah siang kemarin kami dan beberapa dokter kabur dari konferensi dan berjalan-jalan menyusuri Champ-Elysee, hingga ke Arc de Triomphe, setelah sebelumnya mengagumi senyum Monalisa di Museum Louvre.Β  Dan petangnya memandangi Katedral Notre Dame yang bergaya Gothic dengan Si Bongkok nya yang melegenda. Rupanya, Eiffel, tempat terindah ini menjadi destinasi kami di malam terakhir di Paris.

“Baiklah,” sahutku berusaha menyembunyikan gairah yang meletup-letup. Eiffel, I’m coming!

Dan malamnya, tak mampu aku berkata-kata melihat keindahan Eiffel. Menara besi itu seperti berselubung cahaya. Sungguh, ini tempat kaum pencinta.

“Mira, tahukah kau, mengapa kau yang kuajak ke mari?” bisiknya. Dingin menggigit, namun tiba-tiba pipiku memanas. Aku menggeleng lalu menatap matanya.

“Karena aku cinta kamu.” Jantungku melompat sampai puncak Eiffel!

“Maukah kau menjadi istriku?”

Aku tertunduk lalu mengangguk. Biarlah, meski harus menjadi yang kedua.

******

Words: 250, ikut giveaway Pesta Flash Fiction @NBC_IPB & @novellinaapsari

Bisul

sumber

“Pokoknya akhir bulan ini bantaran sungai itu harus sudah bersih! Jangan jadi bisul di tengah kota!” Pak Kada berteriak-teriak di ruang kerjanya. Seluruh staf ketakutan.

“Tapi, Pak…rusun tak bisa menampung mereka lagi,” kata seorang di antaranya.

“Kasih duit aja buat pulang kampung! Atur, dong!”

***************

Akhirnya, cita-cita Pak Kada menjadikan bantaran sungai menjadi seindah San Antonio River Walk terwujud. Para investor pendukung memujinya. Pembangunan apartemen mewah di sekitar sungailah tujuan utama. Apapun, Pak Kada sukses. Seluruh media cetak dan elektronik memujanya.

Dan pagi ini, Bu Kada berteriak histeris melihat suaminya terbaring penuh bisul di sekujur tubuhnya. Merah, besar dan bernanah!

****************

Words: 100

Yuuk, ikutan MFF Prompt #67: On the Riverside πŸ˜‰

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

Rinai telah berganti gerimis, menyisakan udara lembap yang menggantung, khas iklim tropis. Namun lelaki renta itu tak peduli, meski basah bajunya karena hujan dan keringat, ia kembali menuntun sepedanya yang sarat dengan rumput. Senyum terukir di wajahnya, semakin mempertegas keriput yang merata di seluruh wajah, seperti ombak yang menjilat bibir pantai. Teringat celoteh cucunya yang selalu menerbitkan bahagia.

β€œAku pasti cantik pakai baju itu, Mbah Kung*),” cerianya ketika melewati toko baju di pasar. Tangan mungilnya menunjuk baju pink dari bahan kaus, bergambar lima orang putri terkenal dari negeri dongeng.

β€œPasti, Nduk,” jawab lelaki renta itu tersenyum.

β€œMbah Kung, belikan baju itu buatku, ya.”

β€œIya, nanti kalau Mbah Kung dah punya uang, ya.”

β€œYa, Mbah.” Percakapan itu seperti kaset rusak yang berhenti pada satu lirik saja, setiap ada pinta selalu ada janji yang tak pernah bisa ditepati. Namun sang cucu tak pernah menuntut kembali. Entah lupa entah mengerti.

Tapi kali ini lelaki renta itu telah menyisihkan pendapatan untuk mewujudkan keinginan cucu semata wayangnya. Hari ini, ia membawa sebanyak mungkin rumput untuk sapi-sapi sang juragan. Setidaknya uang yang didapatnya akan lebih dari biasa. Sedih bila mengingat nasib cucu cantiknya. Ibunya mati ketika melahirkannya. Bapaknya sudah pergi sejak ia masih bayi merah. Hanya lelaki itu dan istrinya yang ada. Tapi setahun lalu istrinya pun telah pergi untuk selamanya.

β€œMalang nasibmu, Nduk. Mbah Kung akan menjagamu sampai habis umur Mbah mu ini.” Sering ia ucapkan kata itu ketika mengusap dahi cucunya yang lelap di malam hari. Terkadang lelaki itu menangis tanpa air mata.

Semakin berat terasa sepedanya, namun entah mengapa semakin ringan hati membayangkan cucunya bahagia.

β€œAku pusing, Mbah Kung,” keluh gadis kecil yang selalu ceria itu seminggu lalu. Lelaki renta itu memegang dahi cucunya.

β€œAgak panas, Nduk. Kamu ndak usah ikut Mbah Kung, ya. Istirahat saja di rumah.” Cucu penurut itu hanya mengangguk lalu berbaring di atas dipan tanpa kasur. Esoknya gadis kecil itu telah sembuh dari demam, meski dua hari kemudian demam lagi, lalu sembuh lagi.

Mungkin karena ia mendamba baju itu, demikian pemikiran sederhana sang kakek. Baju itu berharga empat puluh lima ribu. Hampir cukup uang ia kumpulkan, esok ia akan mengajak cucunya ke pasar.

β€œKamu ingin sekali baju yang di pasar itu, Nduk?” tanyanya tadi pagi sebelum pergi. Demamnya sudah turun tapi masih lemas untuk ikut berkelana mencari rumput.

β€œIya, Mbah, tapi udah ndak terlalu, kok. Aku ingin Mbah Kung di rumah saja hari ini, aku bosan sendirian,” keluh sang cucu.

β€œMbah Kung harus kerja, Nduk Cah Ayu,” senyum lelaki renta itu penuh rahasia, β€œbesok, kamu ikut Mbah Kung, ya. Nah, nanti makanlah bubur dan kecap di meja.”

Gubuk reyot dekat kandang sapi itu sudah di depan mata. Senyum semakin sumringah, menambah kerut-kerut indah di seluruh wajah. Ia menurunkan rumput di kandang lalu segera menemui juragan. Uang dua puluh ribu ia terima dengan kebahagiaan sepenuh hati.

β€œNduk Cah Ayu, Mbah Kung pulang!” Dengan tertatih ia menghambur ke satu-satunya dipan di gubuk itu. Ah, cucunya tentu tertidur, lelah menunggunya.

β€œNduk,” panggilnya lembut. Tangan keriputnya meraba pipi halus sang cucu. Dingin.

**********

Words: 499

Catatan:

*) Mbah Kung = Mbah Kakung = Kakek (bahasa Jawa)

Tulisan ini untuk Manday FlashFiction Prompt #65 Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Purnama

sumber

Senja semakin larut, penuh rasa bersalah aku mengikuti Gilang yang berjalan tergesa melewati jalan setapak.

Sorry, Lang, gara-gara aku kita tertinggal rombongan,” ujarku di antara napas memburu.

“Tenang saja,” sahutnya kalem.

Yeah, kami berdelapan bermaksud mendaki Merapi. Seharusnya sesore ini sudah tiba di pos pendakian dan mulai mendaki agar tepat terbit mentari kami sudah tiba di puncak. Tapi gara-gara perutku sakit, terpaksa aku ditinggal ditemani Gilang, kekasihku yang pendiam, ganteng, tapi baik hati. Heii, ini bukan modus! Memang perutku sakit sekali, mana sangka tiba-tiba aku mengalami dysmenorrhea?

Kini, malam benar-benar sempurna. Gilang menyalakan senternya, berusaha menembus malam.

“Untunglah malam ini purnama,” gumamku. Tiba-tiba Gilang menghentikan langkah sehingga aku menabraknya.

“Kita kembali saja, Liz, sudah jauh pula tertinggal,” katanya mengejutkan. Tentu saja aku protes.

“Heii, sudah sepertiga jalan begini. Ayo, ah!” Tanpa mengindahkan Gilang aku memimpin jalan di depan.

“Liz, berbahaya!”

“Apanya yang berbahaya?”

“Purnama!”

“Memangnya kenapa? Kau takut werewolf?” candaku. Dari kejauhan aku melihat tumpukan kayu yang menghalangi jalan. Nah, rupanya teman-teman meninggalkan tanda supaya kami tidak tersesat. Belum sempat melompati tumpukan kayu itu, aku terpana memandang cahaya yang menyerbu melewati pepohonan di atas kami.

Tiba-tiba tubuhku terasa aneh. Mataku tak lagi fokus, jalanku sempoyongan. Tumpukan kayu di depanku seperti berjalan-jalan. Samar, kulihat Gilang menyambar kayu paling besar dalam tumpukan itu.

“Jangan bergerak, Liz!” desisnya. Aku ketakutan. Aku merasa air liurku menetes-netes dan tubuhku panas. Demamkah? Belum sempat berpikir, kulihat Gilang mengayunkan kayu itu ke kepalaku.

“Maafkan aku, Liz.” Sempat kudengar Gilang berbisik sebelum aku jatuh berdebam. Aku merasa tubuhku begitu berat dan berbulu.

*********

Words: 260

Fiuuhh, wajar bila akan menuai kritik :mrgreen:

Yuukk, mareeee Prompt #64 Pile of Wood Stick di Monday FlashFiction πŸ˜‰

 

Risalah Cinta

Namanya Nurlela, pindahan dari Batavia. Cantiknya, amboi… tak tahan setiap pemuda dibuatnya. Ke mana-mana selalu membawa kucing lucu bernama Mia. Mengapa tak Si Manis atau Si Belang? Entahlah, coba saja kau tanya padanya. Layaknya pejantan, aku pun terpesona akan moleknya. Tapi seperti pungguk merindukan bulan tentu saja. Coba kau bayangkan, Nurlela begitu cantik, suaranya mendayu bila berkata-kata. Sementara aku bujang lapuk, tak pula bisa bicara. Seringkali aku iri hati pada Mia. Andai saja aku yang dipeluknya, dielusnya, dikecupnya.

Sore ini, seperti biasa kulihat Nurlela dan Mia duduk di beranda. Ragu kudekati pagar rumahnya. Lihat, Nurlela tengah berdendang dengan Mia pada pangkuannya. Iri, sungguh iri hati aku jadinya. Kucoba curi perhatian dengan berdiri pada tengah pagar. Ahai, tak sia-sia! Nurlela mendongak dan berseri wajahnya.

“Rahul, mari singgah,” serunya melagu. Berdebar dadaku namun segera kuhampiri pujaan hatiku. Nurlela menepuk-nepuk sebelahnya, tanda aku boleh duduk di sisinya. Ini yang kutunggu-tunggu, maka tanpa ragu segera aku menerima tawarannya.

“Ahai, Rahul…Rahul, mengapa engkau bernama demikian? Lucu nian terdengar di telinga, seperti orang India,” kikiknya geli. Biar saja, aku tak tersinggung justru senang membuatnya gembira. Andai aku bisa bicara. Melihatnya begitu riang, aku dekatkan tubuhku padanya sehingga sedikit menyentuh lengannya yang halus laksana sutera. Terdengar Mia menggerung marah. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan? Sedikit kugeser tubuhku dengan kesal. Mengapa Mia marah sementara Nurlela tak keberatan?

“Mengapa engkau menggeram, Mia? Dia Rahul, kita sering jumpa dengannya, kan?” rayu Nurlela pada Mia. Kesal sekali aku dibuatnya. Mia memejam-mejamkan matanya nikmat karena elusan tangan Nurlela. Baiklah, aku harus bergerak cepat. Malam nanti, aku akan melagukan risalah cinta untuk Nurlela, tentu saja di bawah jendela kamar tidurnya, seperti kulihat Bang Zulham merayu Soraya. Dan kau, Mia, bersiaplah untuk menjadi yang kedua!

**********

Maka Kawan, seperti janjiku, malam ini aku mendatangi rumah Nurlela. Biar aku tak pandai bicara, tapi aku masih bisa bersuara. Setelah berdehem, aku mulai melagukan risalah cinta untuk Nurlela.

Aduhai, Nurlela kekasihku
Elok parasmu, elok budi bahasamu
Membuatku mabuk kepayang, jatuh hati tiada kepalang
Sudikah engkau menerima cintaku
Yang setinggi gunung dan seluas angkasa?
Aduhai…

Β Belum selesai aku melagu, sepasang sandal jepit melayang, diiringi sumpah serapah.

“Husy! Pergi kau, Kucing Garong! Suaramu buruk tak terkira!” Ayah Nurlela berteriak dari jendela.

*****

Words: 370

Tulisan ini untuk Monday FlashFiction Prompt #63 Si Mata Hijau

πŸ˜‰

The Wedding

Prompt 62“Segera ganti gaunmu, Nat,” ujar Carol, pengiring pengantin yang paling muda.

“Biarkan sebentar, dia kan baru saja menikah,” gumam Jane, pengiring pengantin yang paling tua dari ketiganya. Natasha -sang pengantin- mendesah lirih.

“Mereka curiga tidak?” bisiknya.

“Gak akan! Usianya sudah delapan puluh tahun lebih, wajar kena serangan jantung!” gusar Carol, “segeralah ganti gaunmu dengan yang hitam!”

“Besok, setelah pemakaman, akan ada pembacaan wasiat. Kau yakin, aku ahli waris tunggal?” tanyanya.

“Seyakin jantung Paul sudah berhenti berdetak. Minggu lalu aku tidur dengan pengacaranya.” Jane mengikik geli.

“Baiklah, ayo kita ganti baju, Sisters!”

Setelah menarik napas panjang, Natasha membuang pot kecil yang tadinya berisi serbuk sianida ke sungai deras di bawah mereka.

 

********************

Words: 110

Edited (tanpa mengubah jumlah words) atas saran Vanda Kemala, thank youuu ^-^

Tulisan ini untuk Monday FlasFiction: Prompt #62: Hey Girls!

Sumber gambar: Monday FlashFiction